PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
181. Kembalinya Elisa.


__ADS_3

"Kalau masih ada yang sakit kamu bilang ya sayang, jangan kamu diam saja." ucap Andre yang khawatir.


"Iya mas, kamu gak usah khawatir, aku baik-baik saja kok!" Elisa menenangkan pikiran Andre.


Keesokan paginya, Elisa melihat banyak anak buah Andre yang sedang sibuk dengan masing-masing tugas mereka, ada yang sedang merapikannya banyak perlengkapan. Ada juga sedang merapikan tenda, dan masih banyak lagi karena mereka akan kembali ke markas.


"Elisa. Kamu sudah jalan-jalan saja, bagaimana kondisi kamu?" tanya Zever seraya berjalan mendekati Elisa.


"Sudah agak membaik kok kak!" Jawab Elisa singkat.


"Hmph, Andre mana?" Celingukan mencari Andre.


"Nggak tahu, dari pagi aku sedang mencari dirinya tapi malah tidak ketemu juga." jawab Elisa


"Hmph! gitu yah, yaudah mungkin dia sedang keliling kali." ucap Zever.


"Iya. Ouh, iya kak. Soal Fando bagaimana?" tanya Elisa sangat penasaran.


"Kamu gak usah khawatir soal dia. Karena sekarang sudah dibawa ke markas pusat, dan akan di amankan." penjelasan Zever.


"Baguslah kalau gitu. Para pelayan di rumah itu gimana?" tanya Elisa yang masih banyak sekali pertanyaan.


"Mareka juga segera diamankan, semua yang ada di sana semua telah di selesaikan Elisa. Ada apa? kamu punya kenangan baik disana, atau kamu... Sudah berpaling dari Andre makanya menanyakan hal itu, aku tahu kamu juga semakin jenu dan bosankan sama pria kaku itu." ucap Zever menggoda Elisa.


BLUG!


Pukulan punggung dari belakang, Andre yang menepuk pundak zever agak keras. "Aduh, Andre. Apa-apa sih, main pukul saja." ucap Zever yang meringis kesakitan.


Andre hanya menatap dingin, lalu melihat Elisa yang tersenyum lebar di depannya. "Kamu sudah makan?" tanya Andre pada Elisa.


Elisa menggelengkan kepala yah. "Belum, mas Andre dari mana?" tanya Elisa.


"Jalan-jalan patroli, ayo kita makan." ucap Andre yang mengandeng tangan Elisa.


"Iya, kak Zever aku duluan yah." ucap Elisa yang melambai tangannya, seraya mengikuti langkah kaki Andre.


"Huh! Dasar pria bucin, gitu kalau Singa ketemu pawangnya. Suka aneh, tapi syukurlah jika Elisa yang bisa jadi pawang bagi Andre. Dia gak akan jadi singa lagi, langsung jadi kucing peliharaan." dumal Zever saat melihat kedua pasangan itu pergi meninggal tempat.


...----------------...


Beberapa hari setelah itu, Andre yang membawa Elisa kembali pulang ke Indonesia, karena sudah di khawatirkan oleh dua keluarga, juga tak bisa di tenangkan dengan mudah. Akhirnya Andre pulang ke rumah orang tua Elisa, karena di larang oleh ayah dan ibu untuk tinggal di rumah besar lagi.


"Udah mulai sekarang kalian gak usah bolak balik ke sini dan rumah besar. Kalian berdua menatap saja disini, kalau teteh ngotot mau pergi, jangan harap ibu anggap anak lagi." ancaman sang ibu.


"Loh kok gitu si bu ancaman, gak seru banget. Bikin Elisa takut saja, kan Elisa kadang kangen ke rumah besar nemenin mamah." ucap Elisa yang membela dirinya sendiri.


Tekanan ibu membuat Andre dan Elisa agak takut, karena itu emang ke hal yang wajar, karena firasat seorang ibu akan lebih peka, sensitif dan lebih khawatiran yang berlebihan. Apa lagi usia ibunya gak lagi muda, jadi mereka berdua bisa memaklumi akan hal itu.


"Udahlah yang. Kita turuti saja apa yang di katakan ibu, karena ucapan ibu lebih baik kita langsung iya kan saja." ucap Andre yang berbisik pada Elisa.


"Kamu bener mas, dari pada ibu tambah marah." Ujar Elisa yang langsung mengiyakan saja.


"Yaudah gantian sana kamu mandi duluan, aku akan nyusul." ucap Andre.


"Nyusul kemana? kekamar mandi, kita mandi bersama gitu?" Elisa yang agak bersemangat.


"Iya gak lah! Aku hanya bilang kamu duluan saja masuk ke kamar, mas kan akan ambil barang-barang dulu di mobil." ucap Andre.


"Ouh... kirain mau mandi bareng, Elisa udah membayangkan. Eh cuman hoax aja, mas Andre suka prank nih." ucap Elisa yang agak Kesel sama Andre.


Akhirnya Elisa masuk begitu saja ke kamar, tanpa sepatah kata pun. Andre sadar jika istrinya agak kecewa, lalu ia keluar rumah begitu saja.


Orang tua Elisa agak trauma, walau sudah di jelaskan dan diberitahukan tapi mereka tetap tak bisa percaya. Alhasil Elisa pasrah, dan Andre juga tak bisa menolak apa yang dikatakan oleh mertuanya.


"Akhirnya kalian akan menginap lagi disini. Ibu marah yah mas?" ucap Azril yang baru datang dari Empang.


"Iya. Ibu marah besar, bahkan ayah gak keluar-keluar dari kamar." ucap Andre yang agak kecewa.


"Mereka beneran marah sama mas Andre." ucap Azril yang menekan.

__ADS_1


"Emangnya itu salahku apa? Hah, iya sih aku sadar semua itu adalah kesalahan dariku." ucap Andre merasa bersalah.


"Sudahlah mas, tak usah disesali lagi pula teteh dan mas Andre sekarang baik-baik saja. Kalian juga pulang dengan selamat kan, ibu dan ayah hanya merasa cemas saja kok." ucap Azril yang menegaskan, seraya membantu kakak iparnya membawa barang-barang kebutuhan..


...----------------...


Dua hari setelah pulang dari luar negeri, hari ini Elisa ingin berangkat ke kampus lagi, karena sudah lama dia tidak absen. Dia sudah banyak kehilangan materi, jadi kali ini dia memutuskan untuk berangkat.


"Mau kemana teh?" tanya Azril saat melihat tetehnya sudah sangat rapih.


"Ngampus." jawab Elisa sambil menutup pintu kamar.


"Ciusan mau ngampus, kan teteh di larang ibu sama ayah keluar rumah." ucap Azril yang saat ini mengingatkan.


"Hmph! Tapi, teteh sudah kehilangan banyak materi zril. Aduh gimana minta izin sama ibu dan ayah zril, apakah diizinkan gak yah?" ucap Elisa yang khawatir.


"Iya juga sih. Yaudah, minta izin dulu saja sama ibu dan ayah. Teh, terus teteh jelaskan." ucap Azril.


"Iya, nanti deh!" ucap Elisa yang langsung akan pergi saja.


"Sekarang teteh! Kalau nanti-nanti, pas teteh pulangnya teteh akan kena marah lagi." ucap Azril yang mengingatkan.


"Iya iya iya dasar bawel." ucap Elisa yang mencari ibunya di dalam rumah.


"Teteh mau kemana?" tanya Azril yang saat ini mencegah tetehnya pergi.


"Ke ibu sama ayah?" jawab elisa seraya jalan ke dapur.


"Ayah gak ada di dalam, ibu lagi ke warung mpo lelah." jawab Azril.


"Aduh gimana ini zril teteh nanti telat ngampus ini. Cariin dong!" ucap Elisa yang meminta tolong adiknya.


"Iya udah, nanti tunggu bentar.!" ucap Azril yang bangkit dari sofa.


Azril yang langsung pergi mencari ibunya yang lagi di warung. Elisa menunggu di luar rumah, seraya merapihkan barang-barang yah. Lalu ia menelpon suaminya untuk minta izin dia berangkat ke kampus, karena Andre belum tahu.


"Assalamualaikum... Mas, aku boleh berangkat ke kampus gak!... Iya, aku sudah lama kan gak berangkat... Tapi, ibu sama ayah takut gak ngizinin aku buat berangkat... Kamu tahu sendiri gimana ibu, dan ayah kan... Azril lagi jemput ibu... Eh, ibu dah dateng." panggilan itu tidak ia matikan.


"Ngampus bu. Teteh udah lama gak ngampus, bolehkan teteh berangkat." tanya Elisa yang langsung meminta izin.


"Boleh. Tapi, kalau kamu di kawal sama ibu sampai kampus." ucap Siti yang sudah memberikan belanjaannya pada Azril.


"Eh. Tapi Bu, teteh mau..." ucapan Elisa terhenti.


"Udah gak ada tapian. Ayah juga sudah di hubungi, nanti berangkat sama ibu dan ayah." ucap Siti yang kekeh.


"Udah teh, iya in aja dari pada teteh gak berangkat-berangkat loh." bisikkan Azril.


Akhirnya Elisa di antar Yusman dan Bu Siti naik mobil dengan supir pak Sofyan, menuju tempat universitas. Bahkan Elisa juga sampai di antar sampai di depan fakultasnya, dan Yusman sampai masih melihat putrinya yang sudah menjauh.


Sesampainya di kampus, dia disambut oleh banyaknya temannya, hingga Rizki juga menemui dirinya, saking pada khawatir sama Elisa. Temen di kelas juga semua khawatir pada Elisa, hingga bel di bunyikan semua masuk, masing-masing kelas mereka.


"Elisa, kamu sudah berangkat lagi yah!" ucap Rizki yang saat senang karena melihat Elisa.


"Iya aku sudah berangkat, makasih kak." ucap Elisa yang langsung menatap Rizki.


"Elisa kita kangen kamu." Nacly langsung meluk Elisa.


"Aku juga kangen kamu." Resti juga langsung meluk Elisa, di susul Diana juga ikutan.


Elisa langsung duduk dengan temen-temen geng, semua anak-anak lainnya juga sangat senang karena Elisa telah kembali.


"Btw, kok bisa sih kamu juga di culik. Hmph! Apakah mereka juga mencari orang yang sama. Yaitu nyonya ANDRILOS?" Tebakan Diana.


"El, tapi kamu baik-baik saja kan." Resti yang khawatir.


"Iya, kalian gak usah khawatir gitu. Buktinya nih aku bisa berangkat lagi, dan ketemu dengan kalian." ucap Elisa menyakinkan.


"Iya kamu bener. So, aku baru tahu jika si Fando itu adalah orang jahat. Aku juga sempat curiga karena dia tiba-tiba deket saja sama kamu. Eh ternyata ada udang di balik batu ya El." ucap Nacly.

__ADS_1


"Bukannya kamu yang paling semangat buat jodohin Elisa sama si Fando Nacly." sahut Diana.


"Eh aku. Nggaklah, aku kan nyuruh Elisa gak deket-deket sama dia." ngeles pembelaan diri Nacly.


"Hmm... Dasar kamu mau menyembunyikan kesalahan yah." ucap Diana.


"Hahaha udah-udah kalian jangan berdebat gitu ah! Lagian aku sekarang udah gak apa-apa kok, Fando hanya kurang di perhatikan saja dan kurangnya cinta." penjelasan Elisa.


"Tapi kamu gak di apa-apain kan sama dia." ucap Nacly yang khawatir.


"Nggak kok." ucap Elisa bohong agar mereka tidak terlalu besar khawatir yah.


"Tahu gak kak Rizki, sampai panik banget loh. Dia juga ikut bantu cari kamu sama polisi, bahkan ketua geng Joker juga." ucap Resti.


"Geng Joker?" Elisa agak bingung sama apa yang dikatakan oleh Resti.


"Kamu gak tahu soal geng Joker el? geng yang sangat terkenal itu." ucap Resti.


"Nggak!" jawab Elisa yang polos.


"Dasar kamu ini yah, Elisa mana tahu. Diakan baru aja di culik, gimana sih kamu." ucap Nacly yang menegur Resti.


"Ouh iya yah. Maaf ya el, aku kadang suka lupa." ucap Resti.


"Iya gak apa-apa. Santuy saja, yaudah. Ini kok Bu Susan gak masuk-masuk yah, biasanya jam segini sudah masuk." ucap elisa yang heran.


"Ouh ibu susan sudah hampir seminggu cuti El. Kan perut sudah besar banget tuh, kayak dia mau menghadapi melahirkan deh!" ucap Diana yang memberi tahu.


"Ouh. Jadi Bu Susan gak masuk nih, terus belum ada pengganti Bu Susan."


"Ku harap jangan pak killer lagi deh! Kesel aku, pas dia ngajar materi Bu Susan. Nggak ada materi semua tugas-tugas, sampai pala aku mau pecah." ucap Resti yang protes.


"Iyakah, jadi pak Heru yang selama ini ngajar, haha seru dong! Tetiba kelas jadi angker, karena semua pasti pada diem kan." ucap Elisa membayangkan bagaimana rasanya.


"Iya kamu bener banget. Aduh lucu deh!" ucap Resti.


...----------------...


Di sebuah ruangan dimana tempat itu ada beberapa orang yang sedang berdiskusi, lalu terlihat sepasang sepatu pantofel hitam. Celana bahan warga hitam, dan kemeja biru laut, dengan jam tangan mewah. Tangan agak berurat, dan sangat kekar. Tampak sangat rapih, dan rambut juga ditata dengan rapih.


"Baiklah pak, selamat bergabung di universitas kami. Jadi anda akan mengajar 10 kelas yah. 5 kelas kedokteran, dan 5 Farmasi. Dengan waktu 2 hari. Jadwal untuk 5 kelas kedokteran Jumat, dan 5 kelas farmasi hari Sabtu jam mengajar bisa bergantian." ucap penjelasan untuk rekomendasi.


"Baiklah pak, saya akan ikuti. Terimakasih telah menerima saya disini, Jadi besok saya sudah mulai mengajar, dikelas kedokteran yah kan besok hari Jumat. Karena sekarang saya masih ada kerjaan di RS, maaf saya belum bisa meninggalkan pekerjaan utama saya." ucap si pria.


"Iya tidak apa-apa, itukan profesi anda. Menjadi pengajar disini itu adalah permintaan dari kita, anda menerima saja saya sungguh sangat senang." ucap si ketua universitas.


"Dengan senang hati, saya akan semaksimal mungkin menjadi pembimbing bagi generasi muda. Terimakasih pak, sudah merekomendasikan saya sebagai pengajar." ucapnya dengan senyuman mengembang.


Elisa yang punya kepekaan terkuat, merasakan ke hadiran sang suami. Saat ia akan berjalan ke leb, ia merasakan langkah kaki sang suami.


"Ada apa El, kok kamu tiba-tiba berhenti. Kamu sakit?" tanya Nacly.


"Ah nggak apa-apa kok! Hanya saja aku merasa ada yang... Sudahlah yuk!" ucap Elisa.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju leb. Sesampainya ditempat tujuan dia melihat, kelas kedokteran 1, juga ada di sana. Rombongan dari Kelas ya Rizki, melihat rombongan kelas Elisa, mata Rizki selalu menanti kehadiran Elisa.


Setelah dia menemukan apa yang dia tuju, lalu ia tersenyum lebar. Langsung mendekati Elisa, yang saat ini bersama dengan temen-temen yah itu.


"Hai Elisa. Bagaimana kabarmu?" Tanya Rizki.


"Baik kak. Kakak sendiri gimana?" tanya balik Elisa dengan senyuman.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Selasa 21 MARET 2023


__ADS_2