
Pernah berfikir jika semua akan berjalan sesuai keinginan ku, hingga aku sering berfikir semua itu sangatlah mudah. Kadang kalah cinta, karier, dan kehidupan kita itu indah dalam ekpektasi di dalam otak. Tapi dalam kenyataan semua salah besar, alias nol.
New Zealand, negara dimana tempat yang di takuti oleh Andre selain di Italia. Karena masa lalu Andre yang selalu kabur dan pergi keberbagai negara hanya untuk bersembunyi, itu juga dia harus kehilangan pengasuh kesayangan saat perang saudara di new Zealand.
Itulah yang di rasakan oleh Andre. Pagi-pagi sekali setelah tahu lokasi keberadaan tempat yang akan di tujuh nanti andre semakin gelisah, tidak merasa tenang sedikitpun. Tempat yang di beri tahu kan oleh adik iparnya, tak lama Andre juga langsung pergi ke New Zealand bersama papahnya. Tanpa Elisa, oleh karena itu Andre cukup tegang seperti tidak bawa jimat keberuntungannya yang menangkan dirinya. Karena selama ini Elisa adalah alasan dia bisa kuat dan bertahan, tanpa Elisa. Andre tidak tahu bisa mengendalikan dirinya atau tidak.
Setelah mendarat di lapangan yang cukup luas, pesawat pribadi milik arafif telah sampai. Dibawa sudah banyak orang yang sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan andre dan arafif.
"Andre? kamu baik-baik saja nak? dari tadi kamu tampak kurang baik, kau tampak gelisah dan seperti panik begitu?" ujar arafif yang kebinggungan dengan ekspresi dan tingkah andre yang agak aneh, tidak seperti biasanya.
"Pah, sebenarnya kita mau ngapain sih datang kesini ada tujuan apa? lebih baik kita pulang saja yuk! papah tahukan jika keadaan mamah saat ini sedang kurang baik" ujar andre untuk mengalihkan perhatian.
"Nak! kita sudah sampai loh disini, masa iya mau balik lagi. Kasihan pilot dan yang lainnya, biarkan mereka istirahat dulu" ujar arafif yang menangkan kondisi andre yang kurang stabil.
"Pah ku mohon, andre... andre tidak bisa melanjutkannya" ujar andre yang saat ini sangat panik dan tidak jelas apa yang sedang ia rasakan.
"Sudah ayo masuk dulu nak, kita bicarakan di dalam mobil saja" ujar arafif mendorong andre agar cepat masuk kedalam mobil yang sudah terbuka pintunya.
Setelah berada di dalam mobil andre meremas kedua lututnya dan dengan mata yang ia pejamkan, terlintas dalam hatinya nama elisa.
"Tenanglah nak! kita hanya tiga hari disini jika pertemuan ini lancar, kamu tidak usah khawatir" ujar arafif yang memberi penjelasan.
Tak ada jawaban dalam hatinya selalu bersenandung, menyebut nama ALLAH dan NABI-NYA. andre tak kamu mendengar apapun lagi dari mulut papahnya, tapi hatinya seketika tenang saat mendengar adzan bunyi dari hp miliknya.
"Hmmm- di indonesia mungkin sudah isya, kamu mau sholat dulu nak!" ujar arafif yang mengerti kondisi anaknya.
"Iya pah, tapi dimana?" ujar andre yang kebinggungan.
"Pah, waktu di indonesia dengan di new zealand kan berbeda" ujar andre dengan lirikan tajam kepada papahnya.
__ADS_1
"Lalu ada apa dengan dirimu nak? sepertinya kamu tidak tenang?" tanya Arafif yang tidak tahu rasa trauma Andre yang masih berkepanjangan.
"Hmm- Andre seperti kekurangan sesuatu pah, tapi tidak mungkin Andre bawa" ujar andre yang membuat teka-teki, tapi untungnya papahnya langsung faham dengan apa yang di maksudkan oleh andre.
Arafif tersenyum simpul, dengan yang dia dengar dari putranya.
"Nak! papah tahu kok, kamu sangat menyukainya, hingga tidak mau berpisah jauh darinya. Tapi, semua ini kan tidak ada hubungannya dengan orang lainnya, jadi kamu harus belajar untuk bertanggung jawab"
"Iya pah, aku akan bertanggung jawab kok. Tapi pah, andre khawatir" ujar andre yang reflek melanjutkan.
"Elisa kan? sedang menjaga monika, jadi kamu harus belajar untuk berjauhan dulu, jadi tidak bisa kah jauh sebentar saja darinya. Nak kita hanya pergi ke kota dimana kamu di besarkan dulu, jangan khawatir semua akan baik-baik saja" ujar arafif seraya menepuk punggung andre pelan-pelan.
"Pah, sebenarnya kita mau apa si datang kesana. Ada tujuan apa, dan akan membahas soal apa?" ujar andre yang penuh dengan pertanyaan.
"Andre, kau akan tau setelah kita sampai. Jadi, hilangkan rasa trauma, panik dan khawatiran mu itu. Nak, tenang lah" ujar arafif yang terus saja menenangkan andre yang semakin gelisah.
"Baiklah pah, tapi jangan lama-lama yah kita di sana" ucap Andre yang sudah memperingatkan papahnya.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di sebuah tempat dimana di sana terlihat halaman yang cukup luas untuk main golf, dan kolam ikan yang cukup luas.
"Kita sudah sampai, ayo nak kita turun" ujar Arafif yang menepuk pundak Andre.
Hanya senyuman kecil yang di tujukan Andre, lalu mengikuti papah yang sudah keluar dari mobil. Di halaman depan Andre terdiam sejenak saat melihat tingginya bangunan, dan ada Burung foniks emas. Melambangkan kejayaan, dan kekayaan.
"Ini gadung apa sih pah?" ucap Andre yang kebinggungan.
"Udah nanti kamu akan tahu setelah kamu masuk dan menemui seseorang yang sudah lama menunggu mu datang" ucap arafif yang langsung menarik tangan Andre.
"Hmmm baiklah" ujar Andre yang pasrah saja dengan apa yang di lakukan papahnya.
__ADS_1
"Indah bukan, ayo masuk" saat berjalan menelusuri sekeliling tempat tersebut, banyak sekali patung dan miniatur dan lukisan, karya seni dan lainnya.
Gedung itu seperti museum bagi yang melihatnya, tapi gadung itu adalah tempat tinggal bagi anggota kerajaan ANDRILOS.
ARAFIF : Tetua, saya telah sampai, dan datang kemari sesuai janji saya. Alzam, putra Brandon cucu pewaris dari tuan Andriano telah saya bawa kemari.
GEORGE : Black, bawa dia masuk. Aku ingin melihat ya.
ARAFIF : Baiklah, saya akan membawa dia masuk.
Arafif melihat kebelakang, Andre yang masih sibuk mengamati sekeliling tempat, masih agak asing dengan tempat tersebut.
"Andre, cepat sini masuk. Papah akan kenalkan kamu dengan pemilik mansion ini, beliau adalah kakek George. Beri salam" ucap arafif yang menyuruh Andre memberikan hormat.
"Tidak mau, aku tidak kenal dengannya untuk apa aku memberi salam pada orang asing" ucap Andre yang menolak mentah-mentah.
Andre yang penurut manjadi membantah seketika membuat Arafif kaget, Brandon yang menegaskan untuk menerangkan kepada Arafif.
"Wajar jika Andre menolak Arafif, dia kan putraku walau dia didik oleh mu, tapi George itu bawahan ayahku, dan seharusnya George yang hormat pada kami, bukan sebaliknya" ucap Brandon.
"Aaah! aku lupa, maafkan aku. Mungkin faktor usia jadi aku lupa siapa Andre, maafkan aku" ucap arafif merasa bersalah kepada Andre.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
__ADS_1
Kamis, 04 Agustus 2022.