PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
169. Bestieku Hilang.


__ADS_3

Berada di ruang kelas, terlihat Nacly yang saat ini berwajah sangat khawatir dan sangat panik. Elisa yang baru datang, langsung ditarik oleh Nacly. Seraya menangis, jadi membuat Elisa panik.


"Elisa..." teriakan panggilan Nacly yang sangat nyaring di telinga.


"Eh, iya ada apa sih, Diana ada apa?" ucap Elisa yang langsung memeluk Nacly.


"Apa..kah ka..mu tahu, Resti..dia..dia gak pulang kerumah?" ucap Nacly yang sesegukan.


"Hah? Resti gak pulang kerumah, maksudnya apa?" ucap Elisa yang agak kebingungan sama apa yang dikatakan oleh Nacly.


"Kamu gak di telfon sama nyokap nya?" tanya Nacly.


"Nggak! Emangnya tadi Resti kemana? sampai gak pulang, mungkin lagi main sama temennya kali." ucap Elisa.


"Nggak mungkin El, kata nyokapnya bilang dia pamitnya pergi ke festival malam itu, tapi sekarang dia belum juga pulang kerumahnya, orang tuanya sampai khawatir." ucap Nacly sesegukan.


"Mungkin dia pergi sama pacarnya, atau mungkin sama temen yang lainnya." ucap Elisa yang masih positif.


"Pacarnya, bilang mereka sudah lama putus. Aku hanya tahu pacarnya itu adalah anak fakultas ekonomi, si Iyan." ucap Nacly yang panik.


"Hah! Terus kemana tuh anak, coba deh aku hubungi adekku dulu untuk melacaknya." ucap Elisa yang langsung menelfon adiknya.


"Emang bisa yah di lacak?" tanya Nacly yang kebingungan.


"Kan mencobanya, kamu masuk saja dulu aku akan hubungi dia. Sapa tahu ada kabar, kamu rileks pikirkan kamu dulu yah." ucap Elisa yang menenangkan Nacly.


"Semoga bisa ya El." ucap harapan Nacly.


"Iya Aamiin, semoga saja Rere bisa kita temukan." ucap Elisa yang penuh harapan.


Elisa langsung mengambil hp dan menekan tombol panggilan Azril. "Hallo dek... Assalamualaikum, kamu ada dimana sekarang?... Ouh, di rumah... Ada siapa saja?... Mas Andre, terus ada siapa lagi?... Okey, nanti aja bahas itu... masalah agak gawat zril... Kamu bisa lacak temen teteh gak! Mba Resti, yang saat malam festival itu gak jadi datang... Iya, katanya dia belum pulang... Terakhir, dia pamit mau datang ke festival, tapi malah hilang... Eh! zril itu suara siapa sih!... Hah! Mas Andre di urut, kenapa dia... Eh salah urat?... Yaudah nanti aja bahasnya teteh lagi di kampus nih!... Teteh matiin ya panggilan yah... walaikumsalam."


Elisa mematikan panggilan, lalu kembali lagi ke kelas Nacly yang duduk sambil menatap Elisa was-was.


"Gimana El, apa katanya?" ucap Nacly.


"Kamu tenang saja nanti akan di proses, kita hanya nunggu kabar," ucap Elisa yang menenangkan temannya itu.


"Baiklah, semoga segera di temukan." ucap Nacly yang begitu sangat khawatir.


"Kok aku gak melihat Diana, kemana dia?" tanya Elisa yang celingukan mencari.


"Diana lagi ikut orang tua Rere, kan Diana masih saudaraan sama Rere, aku gak tahu kalau mereka masih ada hubungan kerabat." ucap Nacly.


"Jadi gitu, yaudah kamu tenang aja dulu yah, kita fokus kuliah dulu saja." ucap Elisa yang menenangkan Nacly.


"Niatnya aku hari ini mau bolos kuliah, karena mau ikutan nyari Rere." ucap Nacly.


"Eh jangan dong! Nacly, kamu tenang saja yah. Nanti Rere juga ketemu kok, kamu gak usah khawatir" ucap Elisa yang menenangkan Nacly.


Aduh aku juga sebenarnya khawatir, kok bisa yah Rere seperti itu, gak mungkin dia kabur sama cowok lainnya kan. Eh, tunggu cowok lain. Malam itu juga Fando gak datang, apakah Rere sama fando? Tapi, aku gak boleh seudhon dulu sama dia. Dalam hati Elisa yang kepikiran soal itu.


...----------------...


Elisa akhirnya menyelesaikan kuliah hari ini walau tidak terlalu fokus, karena Nacly juga masih kepikiran tidak tenang. Sesampainya dirumah, melihat suaminya lagi tidur siang di kamar, terlihat dia sangat kecapean.


"Teh, baru pulang?" ucap zril yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya zril, gimana kamu sudah menemukan sesuatu gak?" ucap Elisa yang sangat penasaran sama hasil penemuan.


"Hmph, belum teh. Teteh punya nomer KTP atau nomer induk mahasiswa ya gak buat buka kode."


"Iya bentar, kayak ada di buku deh! Kalau nomer induk mahasiswa, kalau nomer telepon cari aja di hp teteh zril." Elisa sibuk mencari-cari buku catatan kecilnya.

__ADS_1


"Okey, teteh tadi pulang naik apa? Mas Andre gak bisa jemput, dia kayak kecapean habis di pijat, sama mang Sudirman, temennya ayah." ucap Azril yang menjelaskan.


"Lah kok bisa sih Zril, mas Andre di pijat. Tapi dia malah kecapean, kan seharusnya yang memijat yang kecapean." ucap Elisa agak bercanda.


"Teteh, kan yang buat mas Andre sampai ke kilir, terus kata ayah di urut aja. Pas di panggil orangnya kerumah, eh mas Andre kayak orang kesurupan. Teriak-teriak mulu, ya wajar kalau kecapean lah teh."


"Hehehe, itu mungkin karena mas Andre nggak terbiasa aja dek buat di pijat, makanya dia teriak-teriak. Pantesan tidurnya plong benget kayak gak ada beban." ucap Elisa yang melihat suaminya tidur pules.


"Tapi lucu deh mas Andre, masa dia teriak-teriak manggil nama teteh terus loh, terus bilang ampun-ampunan." ucap Azril yang menjelaskan.


"Iiiih... Pasti lucu banget deh! Aku mau lihat zril, kamu gak rekam aksi itu. Teteh mau lihat, dia disiksa kayak gitu." ucap Elisa yang sangat penasaran.


"Ada teh, tenang aja. Nanti saja nonton yah, kalau mas Andre gak ada di rumah. Nanti sebagai hiburan, biar teteh kalau di tinggal mas Andre jauh gak kesepian." ucap Azril.


"Okey deh! Zril dia gak kemana-mana kan seharian ini?" ucap Elisa yang menanyakan aktivitas Andre seharian.


"Tadi pagi habis ngater teteh, langsung ke Empang terus jadi supir pribadi buat ayah ngaterin pesenan, terus pulang dari lokasi, mas Andre langsung diurut deh! 2 jam teh lumayan lama, Alhamdulillaah langsung tidur aja tuh, langsung tepar." penjelasan singkat Azril.


"Malem ya pasti dia bergadang lagi nih, kalau tidur siangnya lama. Dari jam berapa dia tidur?" tanya Elisa melihat suaminya yang seperti orang kelelahan itu.


Apa lagi semalam habis bekerja keras, dan kerja lembur dengan Elisa. Bikin dedek, jadi tepar yah double.


"Dari jam 1an, terus sampai sekarang." ucap Azril tangannya masih sibuk di keyboard leptop nya.


"Ya Allah, udah hampir 3 jam dek! Hmm inimah nanti teteh jadi korban jahilnya dia." ucap Elisa yang panik, karena kalau dirinya tidur Elisa suka di gangguin.


"Iya gak apa-apa teh, sekali-kali bergadang nemenin mas Andre, lagian teteh besok juga libur kan, sapa tahu aja kalau bergadang bareng besoknya ada kabar baik." ucap Azril yang melirik sedikit.


"Kabar baik apa nih? Curiga teteh ada maksud yang lain dari kata-kata mu itu." ucap Elisa yang menyipitkan matanya penuh dengan curiga.


"Ih apa sih teh, maksudnya ada kabar baik ketemunya mba Resti gitu loh, iih prasangka buruk aja sama Azril." ucap Azril yang saat ini mengalihkan pembicaraan.


"Masa sih, kok teteh dengernya bukan gitu yah, teteh gak percaya ah! Sama ucapan kamu, pasti punya pikiran lain ini mah! Pasti ada udang di balik batu iyakan. Udah ngaku aja, apa maksudnya kamu bilang kayak gitu." ucap Elisa yang langsung menatap sinis.


"Apa-apa sih teh, beneran kok Azril nggak ada niat lainnya, Tetehku." ucap Azril yang menyakinkan tetehnya.


...----------------...


...BAHASA ENGLISH...


"Mereka adalah orang-orang yang katanya pernah, dekat dan bertemu dengan nyonya Andrilos." seseorang yang mendatangi temannya yang sendang berjaga.


"Apakah nyonya Andrilos sebanyak ini, sepertinya tuan ANDRILOS bener-bener membuat Harem di berbagai negara. Tapi, menurut informasi jika nyonya Andrilos hanya satu dan tinggal di Indonesia." ucap penjaga lainnya.


"Entahlah. Kita tunggu boss saja dulu, diantara mereka siapa tahu nyonya Andrilos sesungguhnya. Pasti diantara wanita-wanita ini ada yang pernah melihat nyonya Andrilos, tidak mungkin tak ada yang tahu soal nyonya Andrilos ternama itu." ucap penjaga.


"Ku harap, dari banyaknya wanita ini ada nyonya ANDRILOS, agar kita tidak mencari lagi. Tapi, kenapa harus di tahan disini, bukannya disini adalah tempat tuan ANDRILOS tinggal yah!" salah satunya agak khawatir.


"Dasar penakut jika kita bisa menahan wanitanya, maka kita bisa mempermainkan dia, dan Tuan Andrilos itu tidak ada apa-apa. Jadi jangan takut, dia hanya seorang pengecut yang takut pada wanita." ucapnya seraya menjelaskan dan mengolok-olok.


...----------------...


Berada di kediaman rumah Yusman, Azril yang masih berusaha untuk melacak keberadaan Resti, sangat fokus sekali di layar leptop miliknya.


"Bagaimana zril apakah ketemu." ucap Elisa yang sangat penasaran dengan perkembangannya.


"Belum ada teh, sabar. Butuh waktu, karena melacak seperti ini butuh proses, kita juga tidak menemukan titik koordinat yang tepat." penjelasan singkat Azril.


"Ya ampun, sebenarnya kamu dimana sih re, jangan buat orang khawatir." ucap Elisa yang sangat frustasi dibuatnya.


Andre yang sudah bangun melihat istrinya dan adik ipar sedang sibuk, berjalan keluar menuju ruang utama.


"Kalian sedang apa?" tanya Andre.

__ADS_1


"Ouh, kamu sudah bangun mas. Aku lagi nyari temenku." ucap Elisa matanya kembali fokus ke layar leptop.


"Emangnya ada di leptop. Emang muat dek?" ucap Andre yang masih setengah sadar.


"Kayaknya mas Andre masih belum sepenuhnya tersadarkan, kita nyari pakai sistem pelacakan, jadi agak lama." ucap Azril.


"Ouh, iya yah. Pakai B71 Control 6 zril, kalau mau cari orang, pakai punya mas sana." ucap Andre yang menawarkan.


"Nah, iya pakai laptop mas Andre, bener. Aku pinjam dulu yah mas, dimana?" ucap Azril yang sangat antusias.


"Tanya tetehmu, karena dia yang nyimpan semuanya." ucap Andre.


"Bentar teteh cari dulu," ucap Elisa yang langsung masuk ke dalam kamar.


Mencari di lemari, dan ditempat yang mungkin dia letakan. "Ini dia, leptopnya." ucap Elisa.


Azril langsung mengotak-atik laptop, dan langsung menemukan titik terakhir phonsel Resti dinyalakan. "Ketemu teh!" ucap Azril yang antusias.


"Mana, itu dimana?" tanya Elisa yang sangat penasaran.


"Sebentar, Azril zoom dulu. Ini, di daerah Jayakara teh! Gedung pabrik tepung di sana." ucap Azril.


Elisa yang sudah akan bersiap-siap pergi, tapi tangannya langsung ditahan oleh Andre dan Azril.


"Kamu mau kemana?" ucapnya Andre yang bersamaan dengan apa yang dikatakan oleh Azril.


"Teteh mau kemana?" ucap Azril yang kompak mengatakan percis seperti yang dikatakan oleh Andre.


"Aku mau pergi, menemukan Rere." ucap Elisa yang langsung dapat tatapan tak enak dari dua pria beda usia itu.


"Nggak boleh!" tegas Azril yang sangat marah.


"Diam saja dirumah, biar aku saja yang pergi, kamu tetap disini. Jangan kemana-mana, dan jangan sampai keluar dari rumah ini sesentipun. Apakah dapat di mengerti, Kamu yang nurut sama aku, zril jagain teteh bentar." ucap Andre yang bangkit dari kursi.


...----------------...


Andre yang sudah sampai dengan Maura dan pasukan elit lainnya, walau sudah di pantau beberapa jam, tapi masih tidak ada pergerakan dari dalam sana.


"Apakah kamu yakin, ini markas besar mereka. Kumu sekali, tak sama seperti tempat sebelumnya, sebenarnya kamu cari siapa disini." ucap Maura.


"Beberapa wanita dari berbagai negara telah hilang dari rumah mereka, aku juga sudah mencurigai adanya hubungan, dengan mereka yang menjadi komplotan pedangan manusia." ucap Andre yang langsung meneropong jauh kedepannya.


"Hmph, apakah mereka sedang mencari Elisa, makanya mereka menculik banyak wanita?" tebakan Maura yang tepat.


"Bisa jadi begitu, tapi bisa saja bukan. Maura, berapa pasukan yang ada pada kelompok tim mu disini?" ucap Andre yang melihat Maura.


"Hmmm- sekitar 70 sampai 100 orang kepala, memang kenapa?"


"Tidak apa, hanya bertanya. Karena kita tidak tahu hal terburuknya apa, yang nantinya kita hadapin selanjutnya. Jadi kamu juga harus bersiap-siap, kita juga harus menyusun strategi dan rencana dulu, coba kamu bantu aku berfikir untuk buat rencana dan strategi." ucap Andre yang membuat Maura melongo.


Andre masih bisa melawak disaat genting, membuat Maura tersenyum tipis. "Pak, anda yang mengatakan jika kita harus susun rencana dan strategi, tapi kenapa anda malah menyerahkan tugas itu padaku, apakah anda sedang bercanda." ucap Maura.


"Ha-ha-ha, agar kamu tidak tegang. Lagi pula, aku memang tidak punya rencana dan strategi. Aku selalu merencanakan secara alami dan otodidak, jadi aku akan berfikir keras saat 100 banding 1 per detik di atas kematianku, baru aku akan bisa berfikir jerni."


Maura hanya tersenyum geli mendengar penjelasan Andre itu." Anda memang pria teraneh dan misterius, tapi juga kocak dan humoris yah pak." ucap Maura.


"Yah, ini virus yang ditularkan langsung oleh Elisa, wibawaku sudah jatuh sebagai jendral tempur dan dokter terbaik, bertangan dewa sudah hancur juga. Bukan hanya itu, gelarku sebagai King Devil Angel, juga sudah lenyap. Jika langsung berhadapan dengannya, aku tak berdaya." penjelasan singkat Andre.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan didaftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Rabu 22 February 2023


__ADS_2