
Sesampainya di rumah Andre bersihkan diri sendiri, dan bergantian dengan Elisa yang juga akan mandi. Setelah itu mereka berdua menunaikan ibadah sholat bersama, Elisa yang terduduk di sofa setelah selesai sholat. Andre juga ikutan duduk di sebelah Elisa yang saat ini dengan wajah yang sangat kebinggungan.
"Ada apa sayang? kamu kok mukanya di tekuk gitu! Ada masalah" tanya Andre yang khawatir.
"Mas. Elisa hanya sedang binggung saja" ujar Elisa yang tidak sampai selesai.
"Binggung kenapa?" Andre mengerutkan keningnya.
"ANDRILOS, ini tentang itu" ujar Elisa yang melihat berita di TV pas pulang tadi, karena menunggu Andre mandi, Elisa sempatkan untuk nonton TV. Berita terkait dengan pemilihan kepemimpinan grup malah di bahas di TV, itulah yang membuat Elisa juga kepikiran.
"Kenapa dengan ANDRILOS?" tanya Andre yang tak kalah binggung dari Elisa yang tidak tahu apa yang sedang ada di otaknya.
"Mas Andre tahu, semenjak kita meninggalkan tempat itu. Mereka tidak pernah menghubungi kita lagi, apakah mereka sudah menemukan pengganti?" tebak Elisa yang sudah mulai curiga.
"Hmmm- aku tidak tahu soal itu, Sayang. lebih baik kamu jangan pikirkan tentang ANDRILOS yah, dari pada itu mending kamu pikiran mau kuliah di universitas mana?" ujar Andre mengalihkan pembicaraan Elisa agar istrinya kembali memikirkan matang-matang jawabannya.
"Iya baiklah, tapi ini aneh sekali yah? aku tidak bisa berpikir jernih saat ini mas, gimana kalau mereka benar-benar menemukan seseorang, lalu orang tersebut seperti Juno atau Zever. Hancur sudah nanti Keturunan ANDRILOS, coba mas. Kamu cari informasi ANDRILOS, atau terkait hal tersebut yah mas" rengekan Elisa yang meminta Andre untuk mendapatkan info.
"Iya, baiklah" jawab singkat Andre.
Elisa tidak diam begitu saja, lalu dia punya niatan besok akan menemui adiknya untuk melacak soal perkembangan selanjutnya tentang ANDRILOS, karena itu cukup mencurigakan bagi Elisa yang sangat khawatir.
Andre langsung mengalihkan perhatian Elisa agar tidak terlalu memikirkan soal ANDRILOS, karena belum waktunya Elisa memikirkan tentang itu.
"Sayang, dari pada kamu mikirin soal ANDRILOS lebih baik kamu pikirin dimana universitas yang mau kamu pilih? sudah ada gambaran gak?" ucap Andre yang menatap penuh agar mendapatkan jawabannya.
"Hmmm- Elisa mah sudah ada pemikiran, cuman Elisa juga masih agak binggung sama pilihan Elisa saat ini mas" ucap Elisa yang langsung terdiam kembali.
"Jadi kamu sudah putuskan mau kuliah dimana sayang, apakah ada tujuan sekarang. Dari 5 universitas tadi. UJM (Universitas Jaya Merdeka), Unpas (Universitas Pasar Baru), UNI (Universitas Negeri Indah), UMP (Universitas Merpati Putih), dan UGE (Universitas Gajah Emas). Dari semua itu Mana yang akan kamu pilih?" tanya Andre yang menyebutkan semuanya.
"Kayaknya Elisa pilih UGE aja mas, atau UNI, antara dua itu" jawab Elisa yang langsung kepikiran sama dua universitas yang mungkin cukup lengkap dari segi pembelajaran dan teknologi, apa lagi dua universitas itu salah satunya adalah negeri.
"Terus mau ngambil jurusan apa?" Tanya Andre kembali.
"Iya tetap farmasi, kan Elisa sudah bilang mau melanjutkan jurusan yang di SMK mas" jawab Elisa yang penuh dengan ke yakinan.
"Kamu yakin?" Andre mencoba menyakinkan Elisa lebih matang lagi.
"Iya mas. Elisa yakin kok, Elisa janji gak akan ngecewain mas Andre" ucap Elisa yang penuh dengan semangat yang mengembara.
"Oke, baiklah jika itu sudah jadi keputusan kamu, yaudah kamu pikirkan dulu dan mantap pilihanmu sayang" Andre masih menyakinkan Elisa.
"Iya mas. Elisa tinggal pikirkan dua universitas itu aja yang mana Elisa harus pilih" ucap Elisa yang menatap wajah Andre.
"Iya, kalau itu sudah jadi keputusan kamu mas akan dukung. Mau sholat Sunnah gak, buat memantapkan pilihan kamu itu" ajakan Andre.
"Iya mas yuk!" ucap Elisa yang langsung bangkit dengan semangat.
Keesokan paginya, Andre setelah sholat subuh dia langsung ingin jogging rutinitas sehari-hari, sedang Elisa langsung sibuk di dapur untuk mengurus masakannya. Saat di jalan Andre lari untuk jogging, banyak orang yang melihat Andre.
Tapi, Andre tidak terlalu memikirkan malah mengabaikan hal tersebut. Saat duduk di sebuah kursi di taman, sudah ada seorang pria yang duduk disana dengan pakaian olahraga juga, itu adalah Dario. Pengganti Aoda saat posisinya Aoda sedang kosong, kerena masa pemulihan.
"Bagaimana, apakah kamu sudah menyelesaikan misi mu?" ucap Andre seraya minum sebotol air yang dia bawa.
"Tuan, semua sudah beres. Hanya tinggal satu misi lagi yang belum selesai, karena akan sangat sulit untuk menerobos masuk ke benteng pasukan Khusus Reader" jawabnya, pria yang menyamar jadi pengunjung taman juga, tak memperlihatkan dia adalah bodyguard rahasia.
"Lalu apa saja yang telah kau lakukan selama ini, sementara ini Aoda sedang terluka, tak dapat menjalankan tugas. Jadi kau yang akan menggantikan posisinya, satu hal lagi awasi pergerakan seseorang yaitu tuan Forge, dia cukup mencurigakan" ucap Andre.
"Baik Tuan, ada perintah selanjutnya" ucap Dario yang langsung melirik pada tuanya.
"Untuk sementara ini, hanya itu saja perintah dariku, laksanakan. Aku akan hubungi kau lewat email, jika ada tugas lanjutkan seperti biasa" ucap Andre yang langsung bangkit dari bangku dan kembali pulang kerumahnya.
__ADS_1
Di Rumah Arafif kedatangan beberapa orang yang cukup membuat Elisa dan Monika agak tegang, yaitu ketua dari pengurus Pelantikan pemimpin setiap grup. Elisa, dan Monika sekarang merasa kebinggungan karena tak ada papah. Sama-sama tak faham dengan bahasa yang di katakan, karena monika tak bisa berbahasa Spanyol atau English nasional.
"Assalamualaikum," ucap Andre saat masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam, mas Andre" Elisa bangkit dari sofa, melihat suaminya yang baru datang.
"Ada apa ini?" tanya Andre yang kebingungan.
"Mas, aku gak tahu siapa orang ini. Dia pakai bahasa aneh" bisik Elisa yang agak keras, Andre langsung melihat pada pria paruh baya tersebut.
"Hmm gitu, yaudah" ucap Andre yang langsung duduk di samping istrinya.
...BAHASA SPANYOL...
Pria asing itu seketika bangkit dan menyapa Andre dengan bahasanya, Andre terdiam sejenak memperhatikan setiap sudut pria yang berdiri di depannya itu.
EDWARDO : Tuan Alzam, selamat pagi. Maaf mengganggu waktu anda.
ANDRE : Maaf, anda siapa? dan ada perlu apa datang ke mari?
EDWARDO : Perkenalkan saya Edwardo, dari dinas perhubungan komunikasi kebinet terkait dengan pelaksanaan pelantikan pengurus para pemimpin group.
ANDRE : Lalu ada perlu apa datang kediaman kami? apa tujuan anda?
EDWARDO : Kedatangan saya datang tidak lain dan tidak bukan dengan tujuan untuk menjemput anda kembali untuk melaksanakan kegiatan pelantikan pemimpin penerus Grup dari ANDRILOS.
ANDRE : Saya sudah tidak berminat lagi silakan anda cari orang lainnya saja, bilang pada mereka juga.
EDWARDO : Maafkan atas kelancangan saya, ini semua perintah dari yayasan para pemimpin, dan kabinet jika anda menolak ya maka semua akan datang kemari untuk menjemput anda. Makanya biar saya saja menyampaikan sesuatu pesan dari New Zealand, bahwa anda harus di segerakan untuk dilantik.
ANDRE : Hah! dilantik?, Siapa aku? Tidak mau. Jika istriku juga tidak bisa di terima, aku lebih baik mundur.
ANDRE : Tidak akan, apa jaminan ya jika saya naik tahta.
EDWARDO : Sesuai yang anda inginkan, jaminan ya juga sudah anda ketahui.
ANDRE : Tapi tidak seperti itu yang ku terima, mereka juga menentukan calon pemilihan pendamping. Bagaimana jika hal ini berlanjut, aku tak ingin mempertahankan itu. Jadi berikan saja hak ini pada orang lainnya.
EDWARDO : Tuan, bukannya anda memiliki suatu progam untuk membangun sebuah tempat dimana seluruh rakyat di penjuru dunia, mendapatkan kemakmuran dan kesejahteraan, sayang jika itu tidak dilakukan.
ANDRE : Itu sudah tidak berguna lagi, jika pendamping ku tidak di inginkan.
EDWARDO : Tuan! Soal nyonya ANDRILOS, kita bisa bicarakan kembali dengan para tetua. Seraya berjalannya waktu dan pelatihan maka masalah itu tidak akan ada lagi, Nyonya juga harus bisa membagi waktu antara menjadi pemimpin dan pendamping anda. Peran ini memang cukup berat bagi beliau makanya kenapa para para petinggi sangat meragukan Nyonya, karena ini sangatlah sulit. Sedangkan nyonya belum ada bekal apapun, itu yang membawa keraguan bagi para dewan. Tapi, anda tenang saja nyonya bisa di latih secara pelan-pelan untuk selebihnya, kita akan pikirkan lagi. Bagaimana Tuan apakah anda setuju, jangan khawatir soal pendamping nyonya akan di beri pelatihan khusus agar bisa layak menjadi nyonya pendamping anda.
Andre cukup ragu dengan apa yang di katakan orang yang ada di depannya itu, karena ini sangatlah tidak mudah ia fahami. Andre melihat kepada Elisa, tatapan mata kedua wanita itu yang binggung dan penuh dengan tanda tanya.
Andre menarik nafas dalam-dalam dan menatap kearah Edwardo kembali.
ANDRE : Apakah bisa begitu? Jika begitu biar aku bicarakan ini dengan istriku dan anggota keluarga ku lainnya, aku tak mau mengambil keputusan secara sepihak. Takut bertentangan dengan semuanya, jadi aku tak bisa memutuskan ya sekarang.
EDWARDO : Baiklah, tidak apa Tuan. Hubungi kami jika anda sudah memutuskan untuk memilih kembali ke tahta, kami akan suka rela menjemput anda sekeluarga.
ANDRE : Iya, baiklah jika seperti itu kami akan menghubungi kalian kalau kami setujui kesepakatan bersama.
EDWARDO : Baiklah Tuan, saya undur diri. Terimakasih atas waktu yang ada berikan.
ANDRE : Iya sama-sama, aku harus menghubungi siapa jika ingin kembali.
EDWARDO : Ouh iya! Hampir saya lupa, ini kartu nama saya.
Seraya memberikan kartu nama, Andre langsung menerima kertas tersebut dan langsung pamit pergi dari tempat, Andre mengantarkan mereka sampai mobil.
__ADS_1
Setelah mereka jauh, Elisa dan Monika sangat penasaran dengan siapa si orang yang datang tadi. Langsung nongol di ambang pintu masuk, Andre yang ingin masuk harus di interogasi dulu.
"Mas Andre orang tadi siapa? apa tujuannya" ucap Elisa yang kepo ya muncul.
"Iya Dre, mamah kok baru liat tuh orang apakah mereka ingin menuntut kamu soal musyawarah kemarin, karena semua Dewan pada keracunan" sambung Monika.
"Nggak ma, udah kalian tenang saja itu memang ada kaitannya tapi bukan masalah itu" ucap Andre menjawab.
"Terus soal apa?" tanya Monika yang sangat penasaran. Mata elisa juga berbinar-binar ingin minta penjelasan, dari suaminya.
"Soal lainnya, jadi nanti saja aku katakan" ucap Andre yang kebinggungan untuk jalan masuk karena dua wanita itu masih berdiri didepan pintu.
"Ya soal apa Mas!" Elisa yang menimpali ya dengan tatapan yang antusias.
"Addduuuhhh... Minggir dulu dong aku mau masuk, kalau kalian di depan pintu masuk begini gimana aku akan masuk, biarkan otak ini di beri asupan dulu agar bisa berfungsi untuk menceritakan tentang semuanya, boleh" minta Andre yang membuat dua wanita itu tersenyum tipis dan langsung minggir.
Di meja makan, Andre yang sudah ganti baju dengan baju dinasnya setelan kemeja yang di pilih oleh Elisa memang tidak pernah mengecewakan.
"Nih mas Andre, sudah Elisa siapkan" ucap Elisa memperlihatkan sepiring nasi di atas meja.
"Iya terimakasih" jawab Andre pelan seraya sambil menarik kursi.
"Mau pakai apa lauknya? ikan atau..." ucap Elisa yang menawarkan berbagai hidangan di atas meja.
"Biar mas ambil sendiri saja kamu silakan makan" ucap Andre sambil mengambil sayuran.
"Itu kan sudah jadi tugas Elisa untuk melayani suami, biar Elisa dapat pahala" Ucap Elisa yang manja dengan Andre.
"Bisa aja kamu ngelesnya"Andre tersipu malu saat Elisa mengatakan hal itu.
Setelah sarapan Anda langsung berangkat ke rumah sakit untuk pekerja, karena dia sudah banyak meninggalkan pekerjaan yang menumpuk di atas meja kerja.
Suara ketukan pintu membuat Andre yang baru datang langsung menoleh kaget kearah pintu masuk. Ternyata itu adalah Tri yang membawakan sejumlah berkas yang harus ditandatangani oleh Andre, sekaligus laporan dari Madina soal rapat dan seminar kemarin, sesuai permintaan Andre di mana Try Rochman dan Medina membicarakan soal hasil rapat kemarin.
"Dre, kamu sudah datang. Ku pikir kamu akan absen lagi, karena sudah banyak absen mu yang merah. Jadi banyak tugas yang harus kamu selesaikan saat ini juga" ucap Try.
"Apa itu? perasaan ku tidak enak. Sepertinya itu setumpuk berkas yang tidak menyenangkan" ucap Andre seraya menyalakan tombol power komputer.
Try tersenyum angkuh, kesal dengan Andre yang pura-pura lupa. "Kau lupa, bukanya kamu yang meminta ku dan Medina untuk merekap semua apa yang di bahasa saat di rapat dan harus merangkumnya, karena kemarin kamu tidak datang dan harus aku yang menggantikan posisimu. Apakah sekarang kamu ingat, jangan pura-pura amnesia. Kau pergi dengan istrimu untuk berlibur kan?" ucap Try yang memberikan setumpuk berkas itu di atas mejanya.
"Aku bukan berlibur kemarin aku mencarikan tempat kuliah untuk Elisa" pembelaan diri Andre.
"Emang kamu jadi untuk menyekolahkan Elisa?" tanya Try.
"Ya terus harus gimana lagi, itu sudah jadi ketentuan dan sudah jadi niatan aku sejak aku menikahi Elisa. Janji aku sama diriku sendiri, dan janjiku sama ayah" ucap Andre.
"Ouhnya dre! Ada beberapa orang yang datang kemarin" ucap Try yang menyampaikan sesuatu.
"Siapa? Para dewan? dari mana New York? atau New Zealand? atau Italia? atau Spanyol? karena tadi pagi ada orang dari Spanyol datang, memintaku untuk memikirkan matang-matang kembali soal menjadi pemimpin ANDRILOS" Penjelasan Andre.
"Entahlah aku tidak tahu siapa mereka, karena saat aku datang mereka sudah pergi, salah satunya adalah kabinet dari ANDRILOS"
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Rabu 05 Oktober 2022
__ADS_1