PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
127. Di Goda Janda.


__ADS_3

Siti dan Yusman baru saja pulang dari pengajian melihat sebuah mobil biru dongker terparkir di depan rumah mereka membuat mereka kebingungan, karena tidak tahu mobil milik siapa.


"Loh Bu, ini mobil siapa ya kok parkir di depan rumah?" ucap Yusman yang kebingungan, tidak tahu jika itu milik menantunya, saking banyaknya koleksi mobil Andre sampai mertuanya tidak mengetahui mobilnya.


"Punya pak Solikin kayaknya" jawab sang istri yang positif, karena dirasa tidak punya tamu.


"Eh bukan deh bu, kan punya pak Solikin warna putih" ucap Yusman mengingat mobil tetangganya.


"Ya mungkin tamu pak Solikin, atau kerabatnya bisa aja kan" ucap siti yang tidak punya pikiran itu mobil menantu yah.


"Iya juga yah, yasudahlah yang penting gak ganggu jalan masuk ke rumah kan." ucap Yusman yang langsung mengiyakan saja apa yang di katakan oleh istrinya.


"Bu Siti- Pak Yusman, kalian baru pulang yah! Itu tadi ada yang mencari kalian, kayaknya itu keluarga anda" ucap tetangga sebelah.


"Ouh iya kah? ya Allah siapa tamunya, maaf bu Maryam tahu tidak siapa?" ucap Siti yang sangat penasaran dengan siapa tamu yang mencari mereka.


"Itu, ada dua orang sepasang yang pernah tinggal di rumah bu Siti yang itu, kakak Azril mas ya ganteng kayak bule" ucap tetangga.


"Kayaknya itu si teteh sama nak Andre. Berarti ini mobil punya nak Andre, tamu kita Bu. Bukan tamunya pak Solikin, kok gak ngomong ya si teteh kalau mau datang" ucap Yusman yang baru ngeh.


"Kayak si teteh buru-buru, ayah kayak gak tahu teteh saja. Kan suka datang dadakan, yaudah bu Maryam makasih atas pemberitahuan ya. Kira-kira ibu Maryam tahu tidak pergi kemana mereka?" tanya Siti yang sangat penasaran.


"Wah kurang tahu tuh bu, tadi sih saya lihat mereka jalan ke depan gak tahu mau kemana?" jawab Maryam yang tidak tanya mereka pergi kemana.


"Walah gitu toh, kayaknya nyariin kita deh! Ayah coba di telfon nak Andre ya ada dimana gitu, takutnya malah kesasar lagi" ucap Siti yang menyuruh suaminya menelfon anak menantunya.


"Iya, ini mau ayah telfon" ucap Yusman mengambil hp di saku bajunya.


"Hallo nak... Walaikumsalam... Nak Andre, apa tadi kerumah?... Ouh, gitu... Ini ayah sama ibu sudah pulang, ada dimana sekarang?... Yaudah, ati-ati. Di tunggu di rumah yah, assalamualaikum..." ucap yusman yang langsung mematikan panggilan tersebut.


"Gimana ayah! Apa kata nak Andre?" ucap Siti yang sangat penasaran.


"Katanya lagi ke minimarket dulu, lagi beli jajan" ucap Yusman.


"Eh, kok beli jajan di minimarket. Itu namanya belanja ayah bukan jajan, ih si ayah gimana sih. Yaudah kalau beneran si teteh sama Andre? ibu kayaknya gak jadi beli soto ini mah, harus masak" ucap Bu Siti.


"Iya bener Bu, yaudah ibu masuk aja dulu bikin makanan buat nanti kalau mereka pulang" ucap Yusman yang menyuruh istrinya masuk.


"Iya ayah, ibu masuk dulu" ujar Siti yang langsung masuk kedalam rumah.


Sedangkan Yusman menunggu di depan rumah karena melihat mobil Andre tidak di kunci, jadi Yusman harus menunggu di depan rumahnya. Agak lama Andre dan Elisa baru kembali dengan membawa 2 kantong plastik besar, isinya berbagai macam cemilan dan keperluan dapur.


"Assalamualaikum, ayah" ucap Elisa dan Andre yang bersama-sama mengucapkan salam, sambil mencium tangan yusman bergantian.


"Walaikumsalam, kalian datang" ucap Yusman yang melihat menantunya kerepotan.


"Kok ayah ada di depan, lagi ngapain sih bukanya masuk di dalam" ucap Elisa yang merangkul lengan ayahnya.


"Nungguin kalian, nih mobil gak di kunci nak?" ucap Yusman yang membuka pintu mobil.


"Ouh iya lupa, yaudah ayah masuk duluan sama Elisa aku mau kunci mobil dulu." ucap Andre.


"Langsung bawa masuk saja mobil dulu kesini nak, kalian akan nginep kan?" ucap Yusman.


"Eh, gak ayah kita cuman mampir doang kok, iyakan mas?" ucap Elisa yang menoleh ke belakang tapi suami malah sedang ambil barang di mobil.


"Ouh, gitu yaudah ayo masuk dulu, sengaja ayah nungguin di luar, takut kalian kesasar" candaan Yusman.


"Hahaha ayah bisa aja, masa kesasar. Elisa juga tahu jalan kali ayah," ujar Elisa yang geli mendengar lelucon ayahnya.


"Itu agak berat nak, sini satuan sama ayah" ucap Yusman yang melihat menantu sangat kerepotan.

__ADS_1


"Nggak usah ayah, ini cuman makanan ringan sama perbekalan buat perang Elisa nanti malam, kalau gak ada mereka nanti sasarannya Andre yang di makan" ucap Andre yang meletakan 2 kantong plastik itu di atas meja ruang tamu.


"Perang, perang kemana?" tanya ayah yang khawatir.


"Itu kalau nonton terus gak ada cemilannya, suka ngomel-ngomel" penjelasan Andre.


"Ayah, mana ibu?" celingukan mencari ibunya.


"Ada di dalam, lagi di dapur" jawab Yusman yang menujuk dengan wajahnya.


Didalam rumah Elisa langsung menghampiri Siti yang sedang sibuk di dapur, dengan sangat senang ia sampai memeluk ibunya dari belakang.


"Assalamualaikum ibu" ucap Elisa yang antusias.


"Walaikumsalam, eh si teteh." ucap Siti yang juga sangat senang.


"Ini apa bu? Kok ibu masak, kan di bilang jangan repot-repot kayak orang lain aja deh!" ucap Elisa yang tidak enak membuat ibunya harus menyiapkan makanan.


"Iya buat makan malam, lah kan ayah kamu belum teh. Kalian berdua udah makan malam?" tanya Bu Siti.


"Udah, itu si mas Andre dateng-dateng minta makan malam. Ibu sama ayah belum makan malam?" tanya Elisa yang langsung membantu ibunya.


"Ya belum lah teh, kan tadi ke pengajian dulu. Tapi teteh beneran sama nak Andre sudah makan."


"Iya ibu tersayang, aku sudah makan dengan baik tadi di warung makan janda genit, tuh si mas Andre minta makan disitu." ujar Elisa yang mengeraskan suara agar kedengaran sama Andre yang ada di ruang tengah.


Disisi lain, Andre yang sedang duduk dengan ayahnya setelah memasukkan mobil di dalam agar jangan di depan halaman.


"Kalian akan menginapkan?" tanya ayah yang bertanya pada menantunya.


"Iya ayah, lagian kalau pulang juga udah kemalaman" ujar Andre yang langsung diprotes sama Elisa.


"Loh, mas kamu gak bilang loh akan nginap di sini?" ujar Elisa.


"Iya teteh, udah kamu itu nurut deh sama suami, bantah aja apa kata nak andre" ucap Yusman yang membela Andre.


"Ih ayah dia itu gak bilang loh kalau mau nginap, Elisa kan nggak bawa baju ganti mas" ucap Elisa yang teringat.


"Kamu ini kan ada baju yang kamu tinggal di sini teh, tuh di lemari ibu banyak baju-baju. Udahlah kamu ini bisa aja ngeles cari masalah sama nak Andre, kasihan selalu di salahkan terus" ucap ibu yang baru keluar dari dapur.


"Iiih kok ibu sama ayah jadi marah sama Elisa sih, ini yang anak ibu sama ayah siapa? kok kayak Elisa anak tiri yah?" ucap Elisa spontan membuat ibunya mencubit pipinya.


"Dasar kamu anak nakal, udah ah- kalau debat sama kamu gak akan ada ujungnya. Sini nak Andre kita makan sama-sama" ucap Siti yang menyiapkan makan malam di meja.


"Iya Bu. Tadi Andre sudah makan, jadi ini masih kenyang" Jawab Andre yang sedang duduk dengan ayahnya.


"Iya kamu kenyang kan karena lihat kebohayannya Mpok Lita, mauan aja di godain sama dia. Kamu seneng kan di godaain kayak gitu, sama janda secantik seperti itu" ucap Elisa dengan nada sinis.


"Adududuh... Ada apa ini, teteh kok kamu ngomong ya gitu" ucap Siti yang melihat Elisa yang jutek pada Andre.


"Gak tahu tuh bu, dari tadi jutek terus sama Andre" ucap Andre yang memprovokasi mertuanya.


"Aduh, kayaknya ada kebakaran nih, ayah siap-siap kain lap basa sama air satu ember deh!" godaan sang ibu pada putrinya itu.


"Iya Bu, kayak gak akan padam ini mah, nak Andre sekalian telfon pemadam kebakaran aja."


"Iiiii ayah- ibu kok malah di bercandaan sih, senang banget kayak yah." Elisa yang kesel sendiri jadinya.


"Teh, Mpok Lita emang kayak gitu orang yah. Nak Andre itu, diem aja karena dia udah tahu. Mpok Lita, anaknya itu di rawat di rumah sakit nak Andre, gak tahu karena sakit apa ya ibu lupa." ucap Siti yang menarik kursi di meja makan.


"Kelumpuhan saraf Bu, jadi semacam kayak struk pada bagian penggerak jadi harus di rawat dan terapi secara teratur" jawab Andre yang membawa semua barang ke kamar biasa mereka tidur.

__ADS_1


"Bodo amat aku gak peduli, toh apa harus godain suami orang kayak gitu. Terus apa hubungannya anaknya sakit sama genit ke kamu, kan itu gak masuk akal."


"Kamu ini kenapa sih, dari siang marah-marah terus. Sensitif banget yang sabar napa. Banyak istighfar." ucap andre yang baru keluar dari kamar.


"Ya kamu nyebelin, coba kalau kamu gak nyebelin aku gak akan marah-marah, gak peka juga." ucap Elisa yang malah jadi kesel pada suaminya.


"Ih kok nyebelin, salahku apa? dari tadi siang loh kamu kayak gini, nyalahin mamah karena beli barang yang gak penting, nyalahin Alea karena baju kecilan."


"Tahu ah kesel aku" ucap Elisa yang mengambil hp miliknya dan meluruskan kakinya di sofa.


"Udah nak biarin aja, mungkin sih teteh lagi PMS. Makanya begitu kalau moodnya gak baik, suka gak beraturan" ucap Siti yang menenangkan Andre.


"Emang bener bu, dia lagi PMS baru tadi siang makanya muka udah bete, jutek kayak gitu" ucap Andre yang membenarkan.


"Huala gitu toh, pantesan itulah penyebabnya. Nak sini makan dulu, bareng-bareng" ucap Siti yang sedang menuang nasi ke piring suaminya.


"Udah makan bu tadi, di warungnya Lita. Andre numpang sholat isya bu, tadi belum sempat sholat karena kesini tadi habis magrib jadi belum sempet sholat isya."


"Ouh gitu, sok atuh kalau mau sholat, nak Andre jangan pakai WC di kamar. Karena gak jalan airnya, ini si ayah belum di perbaiki, jadi pakai WC belakang aja nak" ucap bu siti.


Malam harinya, Andre baru saja masuk kedalam kamar selesai menemani ayahnya nonton bola. Melihat istrinya juga masih asik nonton drama kesukaannya, Andre yang merebahkan diri di samping Elisa.


"Udah selesai nonton bolanya, kayaknya seruh bangetnya nonton bareng sama ayah. Suara kalian udah seperti geng satu tim, siapa yang menang" tanya Elisa yang sedang merebahkan diri di kasur.


"Jagoan ya ayah lah, iya mau gimana lagi ayah minta di temenin masa aku nolak" ucap Andre yang merai hp juga.


"Mas, soal toko roti gimana?" ucap Elisa yang kepikiran sama toko rotinya, seraya menyenderkan kepala ke tubuh Andre dan memeluknya.


"Kita lihat dulu seberapa parah bekasnya, lalu kita total deh! Udah mendingan kamu tidur sekarang, besok kita akan beresin toko roti."


"Orang yang tega ngelakuin itu siapa ya mas, kira-kira punya masalah apa ya sama kita. Padahal aku gak mau punya musuh yang melibatkan orang lain kayak gini, kasihan para pekerja aku" ucap Elisa yang merasa bersalah.


"Kamu udah telfon yang terluka itu gimana sekarang keadaannya gimana, terus apakah parah atau gak?" tanya Andre.


"Udah, katanya sih sudah pulang kerumah masing-masing. Aku jadi gak enak mas, kasihan mereka" ucap elisa yang tidak tega.


"Yaudah, besok kita cek ke toko dulu terus nengokin semua pekerja kamu, sekalian minta maaf atas kejadian itu. Kasih kompensasi, karena ini kan kecelakaan kerja" ucap Andre yang memperjelas.


"Iya deh! Apa kata kamu aja, aku mau kartu toko aku dong mas, jangan pakai uang pribadi. Inikan masalahnya soal toko, bukan masalah pribadi jadi aku butuh banget kartu ATM itu" ucap Elisa yang memohon agar kartu di kembali kan.


"Yah ada di rumah sayang, gak mas bawa" ucap Andre yang mengingat kan.


"Karena masalah ini Elisa jadi banyak banget yang Elisa pikirkan, Elisa gak becus banget ya jadi majikan. Kayaknya Elisa gak cocok deh, jadi majikan kayak gini" ucap elisa yang frustasi.


Mendengar hal itu Andre meletakkan hp di tempat semula, dan memeluk Elisa seraya memberikan penjelasan dan penguat untuk Elisa yang lagi tidak stabil pemikiran yah.


"Sayang, jangan ngomong kayak gitu! Tahu gak kamu itu wanita yang kuat loh, yah ada kalahnya kita belajar dari pengalaman, dan kejadian. Kamu ingat gak, waktu kamu awal-awal merintis semua ini dari awal, gak ada yang baik. Susah seneng kan kamu alami, dari kue yang gagal. Pekerja yang tambah banyak orderan gak ada, terus kue kurang enak dan banyak lagi masalah yang timbul. Ini udah 5 bulan loh toko kue kamu berjalan, kan beda dua bulan dari kita menikah kamu langsung bikin toko kue itu" ucap Andre yang mengingatkan suka duka perjalannya toko itu buka.


"Iya juga mas, kayak aku yang terlalu frustasi. Kayaknya aku harus lebih-lebih bekerja keras, dan lebih kuat lagi" ucap Elisa yang mulai bangkit kembali.


"Nah gitu dong! ini baru Elisa yang dulu, tekun, ulet dan pantang menyerah" ucap Andre seraya mengecup puncak kepala Elisa.


"Makasih ya mas, udah jadi penyemangat aku dan selalu support aku. Kamu is the best deh!" ucap Elisa yang senang banget.


"Sama-sama sayang" ucap Andre.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


MINGGU 18 Desember 2022


__ADS_2