
Ujian kali ini, kenapa bukan test tulis lebih dulu seperti pada umumnya karena ini sudah kebijakan dari perusahaan, agar penampilan bakat lebih dahulu di tampilkan, karena yang akan di tunjukkan adalah bakat-bakat dan keahlian skill yang akan di pergunakan.
Elisa tampak sangat gugup dengan test tulis saat ini, semuanya juga terlihat sangat tegang, ini adalah tahap ke dua dan akan ada tahap ketiga. Test ini hasilnya akan di umumkan nanti malam, jadi Elisa harus benar-benar menjawab dengan benar.
"Aduh aku kok deg-degan ya berasa kayak ujian nasional aja nih, tapi akukan gak bodoh-bodoh banget buktinya aku pernah masuk 10 besar Saat SD dan SMK, aku pasti bisa. Ayo Elisa, kamu pasti bisa. Hummm, mas Andre seandainya kamu pinjamkan kejeniusan mu sedikit saja padaku saat ini, tapi IQ ku gak oot banget kok ya standar lah. Tapi, aku pengen banget jenius kayak mas Andre yang gak pernah gagal dalam ujian apapun?" ucap Elisa dumalnya.
Terlihat satu persatu kursi yang kosong juga sudah terisi, Elisa sibuk makan saat ini untuk mengisi nutrisi di otaknya karena dia akan berfikir lebih keras lagi nantinya.
"Otak kerja sama dengan baiknya kan sudah aku isi dengan makanan, jadi jangan buat masalah oke! Ya Allah bantu hamba mu ini semoga lolos ujian seleksi di dunia ini, loloskan hamba mu ini agar aku bisa membantu suami hamba" Duamal Elisa.
Disisi lainnya Andre yang sedang di sibukkan dengan berbagai pertemuan dengan banyaknya orang, karena untuk mempromosikan dirinya agar lebih dekat dengan para tokoh masyarakat, agar tahu siapa Andre sebenarnya bisa di bilang sedang cari dukungan, Andre sebenarnya lebih suka melakukan penyuluhan kesehatan di lingkungan masyarakat dari pada seperti ini, seperti penjilat.
Hari ini adalah ujian seleksi ya? apakah Elisa lolos, tahap pertama? aku khawatir apakah dia bisa melewati semua tahapan itu, dia gak ada kabar apapun. Semoga saja dia lolos sampai finis, aku hanya bisa mendoakan kamu sayang. Maaf, aku tidak ada disampingmu saat ini. Tuhan yang akan membantu mu, ya sayang. Dalam hati Andre yang juga ikut khawatir.
Ujian tertulis akhirnya di mulai, masing-masing soal berbeda-beda Elisa mendapatkan soal paket G, syukurlah semua adalah pengetahuan tentang pengalaman yang Elisa berdoa agar bisa lewati ujian itu dan jawabnya semua bener.
Semuanya sangat fokus mengerjakan tugas mereka masing-masing, Elisa dengan sangat hati-hati untuk menjawab semua pertanyaan itu, walaupun jawabnya tidak urut.
"Syukurlah aku masih ingat materinya adalah pengalaman yang penting bagaimana cara aku memilih kata subjek dalam bahasa aja nih yang bagus tepat dan akurat, aduh... Aku masih belum fasih lagi menggunakan kata-kata Verb" Dumalan Elisa yang masih sibuk memikirkan matang-matang jawabannya.
1 Jam telah berlalu, akhirnya test pun selesai dengan baik. Elisa menyesali karena dari 20 soal ada 3 soal yang tidak dia jawab karena binggung apa yang akan Elisa tulis di sana.
Saat akan kembali ke apartemen, karena pengumuman nilai lulus atau tidak akan di umumkan lewat pesan di phonsel. Jadi semua peserta di harapkan untuk istirahat dahulu, di tambah karena hari juga sudah malam, jam makan malam pun ditiadakan, karena mereka harus bersiap-siap untuk langsung beristirahat.
Peserta yang tidak lolos tahap awal tadi sudah di suruh pulang, dan peserta tahap kedua masih harus menunggu pengumuman muncul. Makanya belum ada pulang, mereka semua akan bersiap untuk tidur.
Elisa yang akan masuk ke dalam apartemen malah di tarik oleh seseorang, dia adalah Azalea yang menyamar menjadi pelayan disana. Kaget bukan main saat melihat Azalea yang datang, karena ada yang ingin dia sampaikan.
"Aaah! Alea, apa-apa sih. Kok kamu ada disini? apa yang sedang kamu lakukan?" ucap Elisa yang syok.
"Itu tidaklah penting. Dengarkan aku, kak Elisa harus waspada jika identitas kak Elisa terbongkar maka mereka pasti akan melakukan hal-hal yang tidak baik pada kak Elisa, jadi kak Elisa harus lebih hati-hati lagi. Sekarang aku harus pergi, ada orang yang akan datang. Kak Elisa nanti besok kita ketemu di toilet di lantai bawa jam 8 pagi" ucap Azalea karena ada orang akan keluar dari lift agar tidak di curigai, buru-buru Azalea pergi dari sana.
Badan sudah rasanya di remuk-remuk Elisa membanting tubuhnya di ranjang, merai hp-nya langsung menelpon suaminya.
"Assalamualaikum mas... Semua lancar, sekarang tinggal nunggu hasil dari tes hari ini... Belum, Elisa belum makan... Katanya jam makan malam di tiadakan karena kami harus diet untuk hari esok... Elisa laper banget tapi gak bisa keluar, karena semua sudah di tutup tidak di perbolehkan keluar jika diperlukan banget... Cemilan? tunggu aku cek lemari pakaian dulu... Sudah gak ada mas, udah habis... Oke, sebentar ada orang yang datang... Kenapa? tidak boleh di buka... Orang jahat? coba Elisa cek deh!... Mas itu Emily, aku buka deh!"
Elisa melihat kelayar di dekat pintu, ternyata itu adalah Emily, dengan gerakan cepat Elisa membuka pintu tidak menunggu lama.
"Hai Emily kenapa malem-malem kamu kesini? apakah ada masalah" Ucap Elisa yang khawatir pada Emily karena dia melihat gerak-gerik Emily yang tidak stabil.
"Nyonya, ini mantel anda yang di laundry sudah saya ambilkan" ucap Emily yang memberikan sekantong tas yang berisi mantel di atasnya.
Saat Elisa menerima tas yang isinya mantel, tapi terasa berat dia pegang membuat Elisa rasa kebingungan, Emily langsung mengedipkan mata memberi kode apa yang ada di dalam tas tersebut.
"Ya ampun kamu ini sampai repot-repot, kan bisa besok kamu berikan, yaudah terimakasih yah" Ucap Elisa yang ikuti sandiwara Emily.
__ADS_1
"Aku khawatir nyonya akan akan kedinginan, karena nyonya gampang sekali merasa dingin, yaudah nyonya langsung di pakai ya mantelnya agar tidurnya nyenyak dan merasa hangat. Selamat malam nyonya, saya permisi."
Emily langsung pergi meninggalkan tempat, di karena kan tidak mau terlalu berlama-lama di sana, karena jam malam akan diadakan dan akan ada patroli malam yang dilakukan oleh keamanan di gedung apartemen.
"Iya, juga kamu hati-hati" Ucap Elisa yang melihat Emily langsung masuk ke dalam lift.
Elisa langsung saja masuk ke dalam apartemennya dan langsung melihat isi di dalam tas yang diberikan oleh Emily tersebut ternyata adalah sekotak makanan yang berisi sandwich dan susu kotak hingga botol air mineral untuk Elisa.
"Ya ampun Emily pengertian banget, tau aja kalau lagi laper. Terimakasih ya Emily, kamu emang the bast friend" Elisa sangat senang karena memiliki teman seperti Emily yang mengerti tentang Elisa.
Elisa langsung memakan semuanya untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan dari tadi sore, karena tenaganya sudah terkuras habis hari ini setelah membersihkan diri dan menunaikan ibadah, Elisa langsung istirahat, Elisa tidur dengan sangat nyenyak.
Keesokan paginya pukul 07.30 Elisa sudah bersiap-siap menggunakan gaun terbaiknya yang dikirimkan oleh sang suami tadi pagi subuh. Karena Dia teringat janjinya dengan Azalea, Elisa langsung buru-buru merias diri. Setelah dia selesai, dia langsung turun menuju toilet yang ada di lantai 1 sesuai dengan janjinya.
Azalea yang melihat Elisa baru turun dari apartemen, segera mengikuti Elisa dari belakang, setelah mereka masuk Azalea mengambil plang pengumuman jika didalam toilet tersebut sedang diperbaiki. Padahal di dalamnya ada Azalea dan Elisa yang ingin mengobrol secara rahasia, karena tempat tersebut satu-satunya tempat aman di mana tidak akan di awasi oleh kamera CCTV atau alat perekam lainnya.
"Apakah ada masalah serius Azalea, sampai harus seperti ini" ucap Elisa yang panik, langsung di tahan oleh Azalea agar tidak meninggikan suaranya.
"Ssssssttt! kecilkan suaramu, jangan sampai ada yang mendengar percakapan kita karena ini sangat rahasia, cepat kak Elisa gunakan benda ini" Azalea memberikan sebuah alat kepada Elisa.
"Hmm? benda apa ini dan fungsinya buat apa?" Elisa tambah kebingungan dengan benda kecil seperti tahi lalat sedikit agak tipis menyerupai tompel.
"Sudah jangan banyak tanya, tinggal kakak gunakan saja benda itu di tubuh kak Elisa, letakkan di bagian telingamu, bukan di situ tapi di daun telinga, karena alat itu seperti earphone atau kalian bisa menyebutnya handset mini, gimana? apakah bisa mendengar suaraku dari sana?" Ucap Azalea.
"Iya aku sudah bisa mendengar suaramu" ucap Elisa yang menunjukkan jika benda itu berfungsi dengan baik, lalu Azalea memberikan satu laginya.
"Iya oke! aku mengerti." Ucap Elisa yang langsung menatap wajah Azalea faham.
"Jika begitu, agar tidak ada yang curiga pada kita, maka lakukan tugas kita masing-masing."
Azalea mulai mengepel dan membersihkan tempat tersebut sedangkan Elisa langsung keluar dari tempat, tanpa harus menoleh ke belakang lagi dan pergi menuju tempat aula seleksi selanjutnya.
"Dengarkan aku, kak Elisa harus lebih hati-hati lagi, karena pesaingan sangat di perketat dan di perkuat, karena mereka semua sedang berlomba mengambil perhatian khusus para pemimpin besar, seperti ANDRILOS yang akan jadi incaran utama mereka, itu pasti akan mempersulit misi kak Elisa untuk menuju menjadi pendamping bagi kak Andre, dan menargetkan sudah akan pasti menandai kak Andre, sebagai tujuan utama mereka. Jadi kak Elisa harus bisa bertahan di posisi kakak, tapi kak Elisa tak usah menonjolkan diri, cukup bermain trik cantik dan jadilah pemain yang terbaik agar menjadi pemenannya, kak Elisa yang pertama-tama sekarang harus mencari umpannya dulu agar bisa mengalahkan pesaing kakak yaitu para gadis-gadis itu, agar tidak tertarik pada ANDRILOS, atau pemimpin yah?"
"Hmm- bagaimana caranya? aku gak faham" ucap Elisa yang kebinggungan.
"Kak Elisa puji-puji saja ketua grup lainnya, dan buat kak Andre tidak menarik maka saingan kak Elisa akan berkurang. Hmmm- aku gak bisa bantu, jadi hanya itu saja saran dariku lakukan sebisa kak Elisa, hanya mengurangi jumlah peserta pesaingnya yang akan memilih pemimpin ANDRILOS."
"Kak Elisa pasti bisa, ini demi kak Andre. Lakukan yang terbaik, jangan buat kesalahan. Karena kesalahan sekecil apapun akan berakibat sangat fatal pada akhirnya nanti, jadi harus lebih hati-hati lagi."
"Azalea aku tak mengerti bagaimana caranya, aku sangat binggung" ucap Elisa yang tak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Pertama-tama kita harus targetkan cari umpan dulu. Ketemu, kak Elisa lihat ke arah jam 4 di belakang kak Elisa ada 2 wanita, kak Elisa pura-pura menabraknya, dan ambil nomer urutnya." ucap Azalea yang membuat Elisa sedikit agak gugup.
"Oke! baiklah, akan ku coba yang terbaik. Sebentar aku atur nafasku dulu" ucap Elisa yang menarik nafas.
__ADS_1
"Ini demi kak Andre, jangan mudah menyerah kak. Ayo semangat Kak Elisa, kamu pasti bisa."
Elisa melakukan apa yang diperintahkan oleh Azalea untuk menabrak dua gadis yang sedang mengobrol, tanpa basa-basi lagi Elisa memperagakan gerakan ala-ala pemain sinetron yang coba ia praktekkan. Apa yang di pelajari dari nonton di sinetron, menabrak dengan gaya membuat benda-benda yang di bawa gadis itu berjatuhan.
BIANCA : Aduuh! kamu kenapa? menabrak kita, apakah kau punya masalah.
ELISA : Tidak! ini karena sepatu heels yang aku gunakan, aku sungguh minta maaf. Aku tidak sengaja, sungguh seperti aku salah pakai sepatu hak tinggi, karena ini terlalu licin. Maafkan ya, biar aku bantu mengambilnya semua barang-barang mu yang terjatuh.
Elisa membantu memunguti barang-barang milik Bianca yang berserakan di lantai, lalu ia melihat nomer urut milik Bianca, dan ternyata nomor urutnya 70.
ELISA : Wah, kamu nomor urut 70.
BIANCA : Iya kenapa, sini berikan.
Langsung mengambil dengan kasar Elisa sedikit kesal karena tidak ada sopan-sopannya.
"Kak Elisa, apakah dia memiliki nomor urutnya berapa tadi 70 ya, kak Elisa cepat minta nomer itu, kalian bisa menukar punya Kak Elisa dengan punya gadis itu, udah pokoknya semaksimal mungkin kakak tidak boleh menunjukkan jati diri kakak, jangan sampai kakak menonjolkan bahwa kakak itu adalah istri sah dari kak Andre, cepat kayaknya jika kalian harus bertukar nomor, itu bisa membantu kakak, cepet pikiran alasan yang lebih masuk akal kak. Katakan padanya untuk menukar tempat duduk biarkan dia duduk di tempat Kak Elisa."
"Baiklah akan aku coba membujuknya." ucap Elisa yang sudah merancang di otaknya.
ELISA : Hmm- nomer sangat jauh apakah kamu akan bisa melihat para pemimpin dari jarak itu?.
BIANCA : Kenapa apakah kamu akan menertawakan ku, sudahlah jangan urusi masalah orang lain, pergi sana.
ELISA : Seperti anda salah faham, saya tidak bermaksud untuk menertawakan dirimu, tapi... bengini, bolehkah aku meminta bantuan mu, ini mungkin bisa saling menguntungkan kita berdua, saya ingin menukar nomor urut mu dengan milikku.
GYFA : Apa maksudmu, Jangan bercanda di sini, kamu ingin menukar nomer urut mu emang berapa nomer urutan jangan-jangan dapat yang paling akhir nanti.
BIANCA : Coba kau tunjukan berapa nomor urutan mu itu, hingga mau kau tukar dengan milikku.
ELISA : Nomer urut ku 07, saya bagian barusan utama. Tapi jika kamu mau menukar dengan ku maka aku sangat berterima kasih sekali, karena telah membantu ku.
GYFA : Kenapa kamu ingin menukarnya dengan milik Bianca, bukankah kamu di bagian VIP.
ELISA : Itu di karena kan, aku punya sedikit masalah dengan penglihatan jika aku terkena sinar matahari atau terkena cahaya lampu yang begitu terang, maka mataku sedikit agak sensitif. Jadi apakah aku boleh duduk di tempat duduk mu yang agak ke belakang tersebut.
BIANCA : Apa kamu yakin ingin menukar tempat dudukmu dengan milik ku.
ELISA : Iya, itu juga jika kamu mengizinkan.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Jumat 28 Oktober 2022.