PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
15. New Zealand.


__ADS_3

Elisa langsung menghampiri suaminya yang baru datang, kaget saat melihat Monika terbaring tak sadarkan diri di kamarnya, sambil memanggil nama Andre-Andre, saking penasarannya Andre langsung mendatangi kamar di mana ada Monika yang terbaring tak sadarkan diri, Andre sangat kebingungan.


"Mas Andre, kamu akhirnya datang juga, cepat kamu temui mamah. Lihatlah mamah, aku gak tahu harus bagaimana lagi?" ucap Elisa yang menarik tangan Andre.


"Ada apa ini?... mamah kok bisa seperti ini, memang mamah tadi habis ngapain?" pertanyaan itu yang muncul di fikiran Andre yang sedang kebingungan.


"Elisa juga gak tahu, mamah pulang-pulang sudah begini, coba tanyakan pada ibu soal itu" ucap Elisa yang langsung mengekor di belakang.


"Assalamualaikum, bu" ucap Andre yang langsung mencium tangan ibu Siti.


"Walaikumsalam warohmatulwo hiwabatokatu, nak Andre!" Siti kaget tapi cepat atau lambat Andre juga harus tahu kan.


"Ini kenapa Bu, kok mamah bisa seperti ini? apa yang terjadi" ucap Andre yang sangat penasaran.


"Nak Andre, Bu Monika sudah mengetahui Semuanya—" ucap Siti yang tidak melanjutkan ucapannya.


"Soal apa?" Andre tak mengerti apa yang di maksud.


"Ini, Bu Monika membaca surat ini dan langsung ambruk tak sadarkan diri. Tadi di klinik beliau mau pulang, tapi sampai rumah malah kayak gini lagi" ucap Monika.


"Kok bisa, memang ini apa Bu?" tanya Andre yang masih tak bisa mengerti.


"Coba saja nak Andre baca sendiri, ibu juga tidak faham" ucap Siti yang kebinggungan untuk menjelaskan.


"Huh? inikan" Andre kaget bukan main, ternyata surat yang di berikan adalah suatu hal yang tidak boleh Monika tahu, tapi mau gimana lagi semua sudah terjadi, Monika sudah tahu.


"Tadi pagi Bu Monika meminta ibu untuk menemaninya ke suatu tempat, ibu pikir Bu Monika itu sakit apa? jadi ibu hanya ikuti saja, ternyata Bu Monika malah datang ke spesialis DNA" Penjelasan Siti.


Andre menarik nafas dalam-dalam yang cukup panjang, terdiam sejenak memikirkan matang-matang perbuatannya Monika yang cukup penasaran dengan keinginan tahuannya.


"Huffft, nggak apa-apa Bu. Mamah kalau sudah penasaran pasti begitu, tak akan ada yang bisa mengehentikan ke ingin tahuannya itu, kadang kalah mamah memang menyakiti dirinya sendiri seperti ini" ucap Andre yang menjelaskan.


"Jadi ini gimana? mas. Masa iya kamu diamkan mamah tak sadarkan diri begini?" Elisa yang panik.


"Kamu tenang saja, kamu sama ibu tunggu di luar saja, biar aku yang jelaskan semuanya pada mamah" ucap Andre yang sudah duduk di kursi samping ranjang.


"Hmmm- baiklah, yuk bu" ucap Elisa yang mengandeng tangan ibunya untuk melihat dari luar kamar.


"Kita serahkan saja pada nak Andre, karena hanya nak Andre yang bisa mengetahui apa yang di rasakan Bu monika" ucap Siti.


"Ibu benar, yaudah Bu kita siapkan makan malam aja buat mamah dan mungkin nanti ayah juga datang, Azril juga akan pulang sekolah sebentar lagi" ucap Elisa yang memiliki ide agar tak mengganggu waktu Andre bersama Monika.


Elisa dan Siti meninggalkan Andre yang saat ini, sedang menatap monita yang berbaring dengan mengigau nama Andre-andre.


"Mah, mamah... Bangun ini, lihat ini Andre... Coba mamah bangun dulu, ini Andre di sini" ucapnya yang terputus-putus, seraya membangunkan monita yang belum juga bangun.


Tapi Monika tak kunjung membuka matanya hanya merai tangan Andre dalam dekapannya, Andre terdiam betapa khawatir Andre terhadap Monika, rasa sayang Andre kepada ibu angkatnya itu tak bisa ia gantikan dengan rasa cinta kepada orang lainnya.

__ADS_1


Di dapur, Elisa terdiam sejenak sambil tangannya sibuk mencuci piring.


"Teh, kok malah ngelamun?" Siti menepuk pundak Elisa pelan.


"Aku kepikiran Bu, mas Andre pasti kebinggungan sekali. Kenapa keluarganya ini bikin Elisa binggung juga, ada keluarga ini ada keluarga itu" penjelasan Elisa saat tersadar dari lamunannya.


"Jujur teh, ibu mau tanya sama teteh. Apakah teteh sudah tahu semua ini, jika nak Andre itu bukan anak kandung pak Arafif dan Bu monika" tanya siti yang sangat penasaran dengan semua yang tejadi saat ini, karena saat di beri tau siti tadi elisa bersikap biasa saja, malah agak marah saat ibunya mengantar monika ke klinik tersebut.


"Elisa juga baru tahu akhir-akhir ini Bu, saat perayaan pernikahan di New York dua bulan lalu, saat tahu Daddy adalah ayah kandung mas Andre" penjelasan elisa kepada ibunya.


"Hmm- gitu. Nak Andre pasti syok ya kan teh. Pasti binggung juga dengan keadaan ini?" ujar siti yang juga sangat prihatin dengan keadaan andre saat ini.


"Entahlah Bu, aku juga gak tahu harus bagaimana lagi" ucap Elisa yang kebinggungan.


Tak lama saat hidangan satu persatu tersaji di atas meja, andre juga baru keluar dari kamar dimana monika sekarang sudah tertidur dengan nyenyak tidak merintih dan mengigau memanggil nama andre lagi.


"Mas. Mamah gimana?" tanya elisa saat melihat suaminya keluar dari tempat.


"Alhamdulillah, mama sudah tidur. Azril belum pulang bu?" tanya andre menanyakan adik iparnya.


"Ada tuh! baru pulang, lagi sholat isya." ujar siti yang menjawab.


"Ouh gitu! kirain belum pulang" andre yang langsung mencari adiknya yang belum terlihat dari dia pulang tadi.


"Emang kenapa sih nyariin azril?" tanya elisa yang ingin tahu.


"Ya gak biasanya aja gitu, kalau dia nyariin kamu pasti ada sesuatu yang mau kalian bahas iya kan" tebak elisa yang tidak pernah meleset.


"YEEEH! suka-suka kita lah teh" ujar azril yang meledek tetehnya.


"Kalau ayah dimana bu?" tanya andre yang mengabsen anggota keluarganya.


"Biasa ada di pos ronda, kan jatah ayah jaga hari ini" ujar ibu.


"Ouh gitu, yaudah bu, Andre tinggal ke belakang dulu" ujar andre yang berjalan kebelakang.


Seraya menarik tangan elisa agar mengikutinya. "Eeeeh kok tangan elisa malah di tarik, mau di ajak kemana sih?" ujar elisa yang binggungan.


"Zril tunggu mas yah, mas mau ke belakang dulu" ujar andre pada adik iparnya.


"Iya mas, nyantai aja" ujar azril yang sudah tahu mas-nya itu ingin apa darinya.


"Ada apa sih mas?" ujar elisa setelah sudah berada diruang belakang.


"Sayang, mas dan papah besok mau ke New Zealand, ada urusan yang harus kita lakukan di sana, tapi... Gimana keadaan mamah? aku tak tega harus meninggalnya" ucap Andre.


"Tunggu sebentar? tadi kamu bilang apa? Pergi ke New Zealand, sama papah? apakah telinga ku gak salah denger?" Tanya Elisa yang syok.

__ADS_1


"Iya nggak sayang, aku beneran mau ke sana sama papah, kenapa emangnya" tanya Andre binggung.


"Nggak apa-apa soal kamu ke sana, yang jadi pertanyaan ku kapan kamu ketemu Papah, dan sekarang papah ada dimana? kenapa kamu tidak ajak papah pulang" ucap Elisa yang syok berat.


"Tadi siang, saat pulang dari RS. papah, tidak mau pulang sebelum menyelesaikan tugasnya, maka besok aku dan papah akan sama-sama menyelesaikan tugas terakhir papah ini sayang! tapi gimana dengan mamah?" ucap Andre yang khawatir dan gak bisa memilih antara keduanya.


"Udah kamu gak usah khawatir soal mamah, gini aja. Kamu fokus saja sama papah, biar aku sama mamah. Kita bagi tugas, kamu gak usah khawatir yah" ucap Elisa yang memiliki jalur tengah.


Di sisi lainnya, di tempat dimana Arafif sedang duduk si kursi pijat datanglah kaki tangan yang selalu mengekor dan mengawasi pergerakan Monika.


"Tuan," ucapnya berdiri di belakang Arafif.


"Bagaimana? info apa yang kamu bawa hari ini?" ucap arafif yang sangat penasaran.


"Tuan, nyonya Monika mendatangi Hans hari ini bersama besannya. Tapi, saat keluar dari tempat. Nyonya Monika tidak sadar diri, jadi..." ucapnya tak sempat memperpanjang ucapnya, karena tangan Arafif sudah mengangkat.


"Cukup! hanya itu yang ingin aku tahu. Sudah ku duga, Monika pasti sangatlah penasaran dengan semua itu" ucap arafif yang langsung bangkit dari kursi pijat.


"Jadi saya harus gimana lagi tuan, apakah saya harus mengikuti beliau lagi" ucapnya.


"Yasudah, tolong tetap awasi saja mereka. Monika cukup sensitif, jadi pakai jarah jauh saja jika ingin memantau pergerakan Monika, dan hati-hati dengan menantuku, dia jago beladiri" ucap Arafif memperingati bawahannya.


"Siap Tuan, saya mohon diri" ucapnya langsung pergi kembali.


Di tempat lainnya, New Zealand. Seorang pria sudah lanjut usia, sedang duduk di sebuah kursinya sambil melihat foto Andre dan kakeknya saat masih mudah.


GEORGE : Black, sudah mengkonfirmasi semua hal ini jika Alzam akan datang ke sini, apakah itu benar?


BRANDON : Anda tidak tahu putraku, dia cukup keras kepala dengan semua ini.


GEORGE : Ha-ha-ha, dia sangat mirip dengan kakeknya. Andriano juga sangatlah keras kepala, hahaha tapi anaknya cukup lemah


BRANDON : Maafkan aku, paman...


GEORGE : Sudahlah, terus bikin dia ingin menduduki kursi. Aku sudah tak sanggup lagi, mengemban tugas ini dan amanat dari Andriano


BRANDON : Baiklah.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Senin, 01 Agustus 2022.

__ADS_1


__ADS_2