
Setelah di mobil Andre masih tampak kesal, sedangkan Elisa malah khawatir dengan Andre, takut Andre belum kenyang makannya.
"Mas, kamu masih laper?" tanya Elisa yang melihat Andre menyetir dengan raut wajah masih kesal.
"Udah kenyang" jawab ketus.
"Perasaan kamu baru makan deh? kok dah kenyang. Makan apa?" tanya Elisa.
"Aku sudah kenyang, kamu nggak liat aku sudah habiskan satu mangkuk soto" ucap Andre yang masih fokus.
"Hah? Habis dari mana! Perasaan tadi aku lihat masih ada, masih banyak lagi" bantahan Elisa.
"Itu perasaan kamu aja, orang udah aku makan, tadi yang kamu lihat itu tinggal beberapa lontong saja tidak aku habisin" ucap Andre membela diri sendiri.
"Emang kamu sudah beneran kenyang? Gak mungkinlah, hanya makan beberapa potong lontong itu, tadi kamu gak habisin makanan yah loh, jadi mubazir tuh soto" ucap Elisa yang membalikan ucapan Andre.
"Iya mau gimana lagi ada angin topan yang datang tiba-tiba, tidak bisa di prediksi. Jadi langsung aja kenyang, apa lagi sudah ngeliat badai besar di depan mata" ucap Andre yang menyamakan.
"Hmmm- bilang aja kamu tuh kenyang karena sudah puas lihat buah da-danya tuh cewek, iya kan!" asal tebak Elisa.
"Apa sih Yang, nggak lah. Lagian tuh bentuk juga gak bagus-bagus amet sama aja, iya standar lah. Eh! maksudnya itu bukan ukurannya itu emang masih standar, ibu-ibu yang sedang menyusui anak. Gitu maksudnya, jangan salah faham dulu" Andre gelagapan untuk menjelaskan tentang ucapnya ambigunya.
"Iya-iya-iya, terus apa lagi. Jujur saja mas, bilang aja ke Elisa. Sebenarnya kamu sukakan tadi ngeliatin itu cewek, kan gede tuh" ucap Elisa yang mancing-mancing.
"Khemm- soal itu, iya wajarlah kalau manusiawi kan yang punya mata, pasti akan bisa melihat. Lagi pula aku juga gak ngeliatin bentuknya terlalu detail, dan fikiran aku malah itu sama aja, da-da cewek apa cowok. Bagi aku mah netral saja, kamu lupa aku ini siapa. Dokter bedah, sering aku juga operasi pengangkatan tumor payuda-ra dan megang-megang kayak gitu.... Eeeh! maksudnya itu bedah organ dalamnya, aaah... bukan. Itu maksudnya Operasi.... Ah sudahlah lupakan itu, susah jelasinnya. Mas lagi fokus nyetir nih, bisa gak jangan di tanyain macam-macam, gagal fokus nanti" pembelaan diri.
Elisa tampak bahagia karena andre yang gelagapan untuk menjelaskan. "Hahaha... kamu ini lucu banget sih, suaminya siapa?" ucap Elisa yang menggoda Andre.
"Apa sih Yang, jangan seperti inilah. Bikin aku takut saja, jangan buat aku panik" ucap Andre yang khawatir.
"Mas Andre tau nggak, ekspresi wajah cewek yang mencoba menggoda mu" ucap Elisa.
"Mana mas tahu, udah kesel duluan jadi mas kan tadi jalan duluan di depan" ucap Andre yang emang tidak menoleh kebelakang lagi setelah bayar soto tadi.
"Justru karena itu, dia tampak kesal wajahnya tadi seperti keripik singkong yang gosong, kasihan pasti sekarang nyalinya sudah ciut. Dia bukan tipe suhu, mental juga masih cemen menyen buat hadapi Petapa gunung miyoboku ini, harus dengan trik yang cukup tinggi" ucap Elisa yang menjelaskan.
"Apa? Petapa miyoboku?" ucap Andre yang kebinggungan.
"Ha-ha-ha, sudahlah" ucap Elisa yang tidak mau memperpanjang urusan.
"Tapi, emang ada gunung itu" ucap Andre yang masih sangat penasaran.
"Sudah lupakan, fokus aja nyetirnya" ucap Elisa yang mengencangkan sabuk pengaman.
"Nggak, aku masih penasaran soal itu. Coba jelaskan, apa itu? dan dimana tempatnya, apakah jauh?" ucap Andre
"Hmmm- kamu ini kayak anak kecil deh! tadi aku hanya bercanda. Iya-iya aku percaya sama kamu, nggak akan tertarik sama cewe lainnya, secantik apapun tuh cewek atau semontok dan sesemok gimanapun bentuk tubuhnya, kamu orang tidak terlalu memandang fisik, tidak mudah tertarik dengan wanita seksi. Lagian sudah ada buktinya, yah contohnya saja aku yang jadi korbanya. Sudah 7 bulan di nikahi oleh dokter atasanku, aku belum di apa-apain atau mencoba seperti pasangan lainnya, misalnya malam pertama. Kalau orang lainnya menikah terus malam langsung gol, lah aku boro-boro gitu" ucap Elisa yang agak iri dengan cewek lainnya.
"Gol? emangnya kita lagi ada di pertandingan bola, itu butuh keberanian sayang" ucap Andre yang membela diri sendiri.
"Iya-iya, kamu emang butuh waktu dan perencanaan yang lebih matang lagi" ucap Elisa yang menenangkan Andre, untuk membuat Andre merasa di dukung.
"Nah itu kamu tahu, kalau soal itu nanti aja kita pikirkan ulang, karena aku tahu kamu belum siap. Melakukan hal itu sakit, aku belum sanggup buat nyakitin kamu" ucap Andre yang gak mau Elisa terluka.
__ADS_1
"Jadi menurut kamu kapan aku akan siap, dan kapan kamu bisa sanggup? Elisa harus menunggu berapa lama lagi" Elisa yang ngotot.
"Apanya?" ucap Andre yang gagal fokus karena fikiran harus terbagi.
"Mas Andre kapan kamu bisa dan kapan aku siap. Gimana soal malam pertama kitalah. Mas kapan akan melakukan yah?" ucap Elisa yang salalu mendesak Andre.
"Hmmm- sayang, bisa gak itu kita bahas nanti, jangan di bicara saat ini karena waktunya gak tepat" ucap Andre yang agak kesel.
"Gitu, kamu jijik ya sama aku? hingga pembahasan ini aja kamu bilang nanti, dan banyak alasan lainnya seperti ini, kamu juga ogah-ogahan buat membicarakan ya" Asal dugaan Elisa.
"Sayang, aku lagi nyetir! Aku gak mau ada apa-apa sama kita. Plis- jangan seperti ini. Jika waktunya tepat, kita akan obrolin lagi. Kamu bisa membahas ya sepuasmu, entah itu soal kapan kita akan bulan madu berdua atau apa lah silakan saja, kita bahas. Tapi, nanti saat kondisi dan keadaan yang tepat gitu loh sayang" penjelasan Andre.
"Terus kapan dong, kita akan bahas. Kapan kita punya baby, kalau kamunya kayak gini terus, semua soal rencana aja kapan melakukannya" ucap Elisa yang udah ngebet banget.
"Iya-iya kan aku udah janji, nanti kita akan ngelakuin hal itu, asal kamu sabar aja" ucap Andre yang menenangkan Elisa.
"Kapan mas harus ada jadwal. Nanti Elisa keburu tua. Ouh! Iya, Elisa faham. Jika Elisa sudah menopause terus, aku nggak bisa melakukannya denganmu karena gak bisa hamil lagi gitu kan maksudnya mas Andre, terus kamu cari cewek yang lebih muda lagi, buat nerusin keturunan kamu yang lainnya. Iya gitu kan pikiran kamu hanya nunggu waktu yang tepat untuk nungguin buat aku tua, iyakan" pemikiran Elisa jelek dan prasangka buruk terhadap suaminya tersebut.
Andre menarik nafas dalam-dalam, agar tidak tersulut emosi amarah karena elisa yang membuat naik darah. Hingga frustasi binggung mau jelasin gimana lagi sama istrinya itu. Andre diam sejak, sambil memikirkan matang-matang jawabannya yang terbaik, agar Elisa faham juga nantinya.
"Istriku sayang, janganlah kamu punya pikiran negatif seperti itu padaku, sumpah demi ibu dan ayah, aku gak punya pikiran begitu. Rencana aku itu mau mendidik mamahnya dulu, baru anak-anak kita. Jadi kita bikin anak nanti aja kalau mamahnya sudah punya bekal, sekarang kita fokus dulu sama prosesnya. Oke! Kita fikirkan satu-satu dulu, jika mau anak kita berkualitas mamahnya harus punya pengalaman pengaruh dan pendidikan. Jangan langsung minta secara bersamaan kepala ku pusing jika kamu minta ini-ini-ini, jadi maukan kerja sama dengan baik sebagai rekan satu tim? maka kita harus bertukar pikiran dengan baik, oke sayang" ucap Andre yang bicara lemah lembut untuk menjelaskan semua tentang masa depan yang ideal bagi keluarganya nanti.
"Cih, kamu ini emang pria yang membosankan, kenapa sih kamu selalu kayak gitu. Kapan kamu itu punya pikiran sepenuhnya setuju denganku, selalu aja ada yang kamu tolak kamu bantah" ucap Elisa yang tidak terlalu suka.
"Iya nanti, karena perjalanan waktunya masih panjang sayang. Anak itu juga adalah titipan, jika di kasih cepat ya Alhamdulillah kalau lama itu belum rezeki kita saja, ayo pikirkan lagi ya. Sekarang kamu fokus dulu cari Universitas. Buat kamu jadi ibu yang berkualitas, terus kamu mau daftar kemana agar baik dan kamu menjalani kehidupan di kampus juga enjoy santai dan dengan senang hati, udah Mas cuma punya pikiran kayak gitu doang sama kamu" ucap Andre yang langsung menatap wajah Elisa yang saat ini masih jengkel.
"Iya deh, elisa nurut apa kata kamu saja" ujar elisa yang agak kurang suka sama apa yang di pemikiran andre tersebut.
Mereka akhirnya sampai di suatu universitas negeri, tempatnya sungguh masih asri sekali, banyak sekali pepohonan yang sangat rindang. Tempat tesebut adalah unversitas dimana Arafif berkuliah, dan Medina juga alumni di universitas tersebut.
"Hanya ada dua, fakultas kedokteran dan farmasi" ujar andre yang to the point, andre banyak memasukan mahasiswa baru di univ tersebut.
Seorang satpam yang terlihat dari kejauhan, andre langsung menghampirinya. "Assalamualaikum, pak Tiyo, apa kabar?" ujar andre yang menghampiri pria separuh baya.
"Walaikumsalam, ini... Ya ALLAH, ini pak dokter andre yah?" ucapnya.
Mereka saling bersalaman dan sangat senang bisa bertemu kembali, Andre langsung di bawa ke ruang rektorat dimana disana ada teman papahnya dan orang-orang lain yang sudah kenal akrab dengan Andre.
Elisa yang hanya mengekor di belakang hanya bisa diam, sambil sesekali tersenyum saat di sapa. Tapi tak ada yang berani untuk menayakan siapa Elisa, hingga datang seorang pria dan wanita yang baru masuk ruangan.
"Bu Dian, Pak Indra coba lihat. Kita kedatangan tamu siapa?" ucap pak Yunus kepala rektorat.
"Ouh my God. Pak Andre, cowok gantengku. Sudah lama ya, anda gak pernah mampir lagi kesini? apa kabar" ucap Dian yang sangat senang.
"Alhamdulillah baik, Bu dian gimana? katanya kemarin– apakah lancar?" ucap Andre yang terpotong itu karena Bu Dian memberikan kode dengan gelengan kepala, agar Andre tidak membocorkan jika Bu Dian beberapa hari lalu saat Andre di New York, ternyata Bu Dian kena wajahnya melepuh kena makeup kurang cocok makanya mendatangi rumah sakit Andre.
"Alhamdulillah sudah membaik, pelayanannya di sana sangat cepat dan tepat" puji Bu Dian.
"Emang Bu dian sakit apa?" tanya pak Yunus yang sangat penasaran.
"Hmm- sakit biasa pak, tapi Alhamdulillah sekarang udah membaik karena di tangani dengan cepat" ucap Bu Dian.
"Ouh gitu syukurlah, tapi sekarang udah gak apa-apa kan bu" ucap pak Yunus kembali karena khawatir.
__ADS_1
"Iya pak, tenang saja" jawab Bu Dian yang tidak mau memperpanjang.
"Alhamdulillah syukurlah deh kalau gitu" ucap Andre yang tidak mau membahas tentang hal itu terlalu dalam.
"Oh oh! anda bawa siapa ini?" Ucap Bu Dian yang mengalihkan pembicaraan.
"Ouh, dia istri saya" ucap Andre yang memperkenalkan Elisa.
"Eh kok baru bilang pak, kalau ini istri anda? kapan anda menikah kok tidak undang kami" ucap Uwais.
"Saya menikah di New York, jadi ya banyak yang tidak saya undang" ngeles Andre, ribet nanti urusannya kalau dibicarakan.
Elisa dan Andre keliling-keliling universitas, melihat berapa orang yang datang ke kampus karena mereka melihat mahasiswa yang datang karena ada urusan dengan dosen atau lainnya.
"Masih sepi pak, karena masih libur panjang dan masih harus menunggu banyak mahasiswa baru" ucap pak Uwais.
"Hmmm- iya gitu. Ada gedung baru ya, itu buat apa?" tanya Andre.
"Itu, buat praktek dan laboratorium" ucap Uwais.
"Lalu apakah ada penambahan kelas lagi atau ruangan?"
"Iya ada, itu sebelah sana. Angkatan 3 agak ada peningkatan, banyak yang masuk ke sini jadi kami butuh 1 sampai 2 ruang untuk menampung semua mahasiswa fakultas kedokteran" ucap Uwais.
"Cukup banyak ya, peminat kedokteran"
"Ha-ha-ha itu mah semata-mata hanya mau melihat seseorang, anak angkatan tahun lalu"
"Maksudnya gimana?"
"Susah pak buat menjelaskannya, intinya mereka masuk kedokteran karena seseorang, anak itu cukup populer dan sangat di sukai dan di cintai banyak orang" ucap Uwais.
Andre langsung faham Apa yang diucapkan oleh Uwais. Karena dirinya pernah merasakan di posisi seperti itu, banyak mahasiswa baru ataupun lama, yang selalu datang ke ruangan yang tidak semestinya, bukan kelas mereka tapi malah datang hanya untuk melihat Andre.
"Oke-oke aku paham dengan apa yang di bicarakan itu Pak Uwais, di setiap tahun pasti akan ada anak yang cukup menonjol, entah itu dari fisik ataupun dia itu dia sangat pintar atau cerdas. Pasti akan ada lah anak yang cukup populer seperti itu yang mungkin pemicu bagi mahasiswa lain buat gabung ke kelas yang tidak semestinya, betul tidak pak" ucap Andre yang memberikan penjelasan.
"Iya begitulah Pak Andre, sudah mengerti kondisinya, sebenarnya ada untung dan ada ruginya juga bagi kita. Ada yang mengatakan kampus kita ini tidak sesuai dengan gelar dan akreditasinya, karena banyak Dokter-dokter yang lulusan dari sini itu pengangguran atau salah praktik, padahal kami di sini mengajar sesuai dengan kurikulum dan pembelajaran yang standar. Hmmm- ada juga yang mengatakan jikalau Universitas ini hanya mengandalkan fisik, atau mungkin karena penampilan luar untuk di terima. Tapi, sungguh tidak ada niatkan kami untuk membedakan hal seperti itu, apa lagi kita melakukan bisnis, gak tega menyeleweng kan tugas kita sebagai pengajar yang semestinya, kami semaksimal mungkin untuk membuat para mahasiswa itu untuk belajar, bukan mengejar apa lagi untuk main-main ataupun hanya untuk melihat popularitas seorang mahasiswa yang mungkin lebih menonjol yang seperti apa dikatakan oleh anda tadi pak" penjelasan kali lebar Uwais.
"Ya Sudahlah. Itu semua sudah bukan rahasia lagi, karena pembahasan anak muda tak akan selesai di situ saja, jadi aku tidak terlalu kaget. Tapi, ngomong-ngomong soal biaya untuk masuk ke sini berapa ya pak? apakah masih sama atau ditambah" tanya Andre yang langsung tutup poin karena kalau di lanjutkan pak uwais ini bisa membeberkan semua kelemahan lainnya dari universitas ini, dan akan menjatuhkan populer kampus.
"Emangnya Anda ingin memasukkan siapa lagi Pak ke Universitas ini" ucap Uwais, yang saat ini agak kebinggungan.
"Hanya tanya saja, gimana? apakah anda tahu rinciannya" tanya Andre.
"Ouh! ada pak di ruangan saya, nanti saya ambilkan semua rinciannya" ucap Uwais.
"Baiklah pak" jawab Andre singkat.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Senin 3 Oktober 2022