PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
134. Jadi Tukang Urut.


__ADS_3

Semua sudah aman dan sedikit demi sedikit banyak yang sudah di pulangkan ke rumah masing-masing, dan pasukan medis dari berbagai negara pasukan Alea dan Andre juga sudah banyak yang sudah kembali ke negara asal mereka. Karena tugas mereka sudah selesai, hingga membuat semua warga banyak yang berterima kasih.


Elisa yang sudah lama di pulangkan karena masalah waktu itu membuat Andre melarang Elisa untuk datang lagi untuk menjenguk, semenjak kejadian itu Elisa sekarang harus duduk di kursi roda untuk beberapa waktu karena cedera yang di alaminya.


Andre yang akan berpamitan pada warga desa dan para tim lainnya, karena tugas mereka juga sudah selesai semua, tak ada yang tega jika Andre kembali begitu cepat karena chemistry diantara mereka cukup kuat.


"Karena ini adalah hari terakhir saya disini, saya pamit ya ibu-ibu, bapak-bapak, mas dan mba, adek-teteh dan akang. Semoga dengannya bantuan kami disini kalian cukup membantu kalian, dan semoga kalian semua sehat-sehat selalu dan selalu dalam lindungan Tuhan yang kuasa. Semua kejadian pasti ada sesuatu hikmah dibaliknya, maka jangan ada yang berputus asa, teruslah berjuang dan berusaha. Kita semua sama-sama bangun kembali setelah kejadian ini, jangan menyerah terus berkembang. Terimakasih, atas kebaikan kalian saat saya tinggal di tempat ini saya mendapatkan pengalaman dan keluarga baru." ucap Andre yang akan berpamitan dengan seluruh rakyat yang akan di pulangkan ke desa-desa mereka.


Pasukan Andre semua langsung kembali, Andre yang langsung pulang kerumah mertuanya karena Elisa masih disana. Karena Andre menitipkan Elisa pada orang tuanya, saat dirinya masih sibuk dengan tugas relawannya.


"Assalamualaikum... Ibu, Ayah. Elisa, kok sepi sih? pada kemana, gak ada yang nyahutin." ucap Andre yang meletakkan tas ranselnya di lantai, didepan pintu Andre kebingungan karena tak ada yang menyahuti salamnya.


"Walah mas ganteng, nyariin Bu Siti sama istrinya? Itu lagi ada di lapangan lagi ada wayang golek, coba saja kesana." ucap seseorang yang mendatangi Andre dan memberitahu keberadaan keluarga Yusman.


Andre menuggu mereka kembali hingga terduduk di kursi sambil memainkan hp miliknya, Andre yang melihat data resume diagram grafik pertumbuhan di rumah sakit.


Panggil dari Gulftaf di New York, yah Andre yang meninggal pekerjaan sebagai pemimpin penerus ANDRILOS kepada Gulftaf, padahal dia baru saja menjabat tapi sudah ditinggalkannya.


"Hallo Gulftaf ada masalah apa?... Begitukah, baiklah akan aku urus soal itu kamu kirim File email ku saja biar nanti aku lihat... Berapa dokumen yang kamu kirimkan kemari... Entahlah aku belum pulang kerumah orang tua ku di alamat yang kamu katakan itu... Aku ada di rumah mertuaku... Iya, nanti aku lihat dokumen tersebut."


ucap Andre yang langsung menutup kembali panggilan tersebut, terlihat jika Elisa dan orang tuanya telah kembali, Elisa yang terduduk dikursi roda sambil didorong oleh sang ayah.


"Ouh itu bukanya mas Andre yah? Dia sejak kapan disana." ucap Elisa yang sangat penasaran.


"Sepertinya sudah lama dia duduk disana, tapi wajahnya masih saja tenang yah walau sudah lama menunggu disana? dia kuat duduk ya Elisa" ucap yusman.


"Iya ayah, kalau sudah di depan komputer miliknya bisa seharian penuh dia duduk di kursi, dia bangkit dari kursi cuman ke toliet saja selesai itu duduk lagi seperti itu." ucap Elisa yang melihat Andre.


Mereka langsung mendatangi Andre yang sudah lama duduk di kursi depan rumahnya, Andre yang langsung bangkit dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya, lalu Elisa mencium punggung tangan Andre.


"Emang sudah selesai bu acaranya, kok udah pada pulang?" ucap Andre yang langsung bangkit dari kursi.


"Belum selesai si nak acaranya, cuman kaki ibu capek. Karena nonton sambil berdiri jadi pegel kaki ibu, nak Andre sudah lama duduk disini?" tanya Siti.


"Hmm, baru sebentar kok Bu" ucap Andre dengan senyuman mengembang di bibirnya.


"Sebentarnya mas Andre berapa jam?" sambung Elisa yang melihat Andre.


"Ya sekitar... Hmmm, ada sih sejaman he-he-he " ucap Andre yang cengeng tanpa dosa.


"Ya Allah, maaf ya nak. Bu cepat buka pintunya, kasihan nak Andre pasti pengen cepet-cepet istirahat." ucap Yusman yang kaget mendengarnya.


"Eh gak usah begitu ayah, aku baik-baik aja kok. Lagian Andre juga gak capek-capek banget, ayah berlebihan" ucap Andre yang menepis apa yang di katakan oleh ayah yusman.


"Nggak apa-apa gimana, kamu datang dari jauh loh nak, masa iya gak capek." ucap Siti yang segera membuka pintu rumah.


Akhirnya mereka semua masuk kedalam, Andre membawa tasnya masuk. Sedangkan Elisa di dorong masuk oleh ayahnya, ibu langsung berjalan ke dapur.


"Elisa, ayah mau ke Empang. Nak Andre kan sudah datang jadi ayah tinggal yah, gak apa-apa kan?" tanya Yusman.


"Iya ayah gak apa-apa, terimakasih ayah udah mau dorongin kursi roda buat teteh" ucap Elisa yang sangat senang, dan merasa merepotkan banyak orang.


"Bu, ayah mau langsung ke Empang ya." Teriak Yusman pada istrinya yang saat ini ada di dapur.


"Iya ayah, hati-hati." ucap Siti yang masih di belakang.


"Yaudah, nak Andre ayah titip Elisa yoh. Teteh ayah berangkat sekarang, assalamualaikum." ucap Yusman sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami anak-anak itu.


"Iya, ayah. Mau Andre antar kesana gak!" Tawar Andre yang saat ini bangkit dari kursi.

__ADS_1


"Nggak usah, ayah sendirian aja kesana yah. Udah kamu kan baru sampai, jaga Elisa aja disini" ucap Yusman.


"Iya udah hati-hati ayah kesana, tapi kalau ayah mau aku antar ya hayu" ucap Andre.


Andre yang suka sekali menggoda ayahnya, sambil jalan keluar yusman pergi bersama rekan kerjanya. Andre hanya melihat kepergian sang ayah, lalu kembali ke ruang tengah.


"Kamu ini suka banget sih godain ayah, udah tahu ayah seperti itu" ucap Elisa yang menegur suaminya.


"He-he-he, jarang-jarang loh sayang!" protes Andre yang gak mau di salahkan.


"Udahlah jangan seperti itu, kamu baik-baik aja kan sekarang!" tanya Elisa yang ingin menanyakan kabar Andre.


"Iya sayang, aku baik-baik aja kok. Terus gimana sama kamu, kaki kamu sayang masih ada yang sakit, atau masih gak bisa di gerakkan? dimana yang masih sakit." tanya Andre sambil memegangi kaki Elisa.


"Udah agak mendingan sih, kalau sore juga suka di ajak sama ibu jalan-jalan udah bisa kok sedikit-sedikit jalan mas" ucap Elisa mejelaskan.


"Ouh, Alhamdulillah syukur deh, kalau begitu mas agak lega, nanti mas lelesin lagi biar bisa jalan lagi, sekalian di pijat plus-plus..." bisik Andre mulai genit.


Percakapan mereka terhenti karena kedatangan ibu yang membawa nampan isi teh anget dan cemilan, kue ketan.


"Nih nak Andre, di minum dulu teh hangatnya. Enak di seruput sama kue ketan, ibu bikin kue-kue nih kangen ibu bikin kayak gini jadi ngomong sama teteh, kata teteh tinggal bikin aja bu. Jadi ibu bikin deh, di coba dulu nak. Namanya juga udah lama ibu gak bikin kue kayak gini, enak ya bilang kalau gak enak ya harus bilang kurang apanya." ucap siti.


"Ya ampun bu gak usah repot-repot kayak siapa aja di suguhi minum sama makanan segala, iya deh! Andre cobain ya bu. Bissmillahiromanirohim," ucap Andre yang mengambil kue ketannya.


"Biar anget badannya, minum teh jahe juga nak!" ucap Siti yang menuangkan teh ke cangkir.


"Terimakasih bu." ucap Andre yang menyeruput teh anget juga.


"Gimana? rasa yah, jangan bohongin ibu loh nak Andre, kalau gak enak yo gak apa-apa jujur saja, nama juga ibu baru belajar lagi bikin kue." tanya Siti yang was-was meminta pendapat dari menantunya.


"Hmmm, jangan di tanya lagi masakan ibu udah paling juara, chef-chef internasional juga kalah sama masakan ya ibu. Karena ibu bikinnya pakai cinta dan kasih sayang, jadi enak banget rasanya" ucap Andre yang merayu ibunya.


"Udah jangan di tanya lagi ini sangat enak Bu, gak ada duanya deh! Bikinan Elisa juga lewat, ini paling enak bu" ucap Andre yang memuji masakan mertuanya.


"Tuh kan Bu, apa yang teteh bilang bikinan ibu itu enak banget. Makanya ibu itu harus pede dong sama masakannya sendiri, sampe nambah loh. Mas Andre jarang yang namanya makan itu nambah, sampai nagih gitu loh sama bikinan ibu, padahal mas Andre orang pilih-pilih soal makanan apapun itu" ucap Elisa.


"Udahlah bu ini mah enak banget, ibu bikinnya banyak gak? besok Andre mau bawa ini ke markas buat anak buah, karena mereka sudah berusaha keras."


"Katanya mau mengadakan syukuran mas, kecil-kecilan aja di markas. Nanti aku sama ibu bikin cemilannya, nanti kamu yang urus dekornya gimana?"


"Boleh juga itu, boleh gak bu" ucap Andre yang bergantian bicara dengan dua wanita beda usia itu.


"Boleh-boleh-boleh, berarti nanti ibu ke pasar yah?" ucap Siti yang langsung menatap ke langit-langit ruangan.


"Nanti sama Andre bu, ke pasarnya. Tenang aja, ibu besok kita jalan-jalan berdua aja. Elisa kan lagi sakit, jadi kita berdua selingkuh dulu aja dari ayah dan Elisa."


"Hahaha kamu ini bisa aja, iya juga kapan lagi ibu punya suami muda dan sangat tampan kayak nak Andre, he-he-he " ucap Siti yang mengikuti candaan Andre.


"Iya udah sok, Elisa akan pura-pura gak lihat deh! Kalau kalian mau jalan-jalan berduaan." ucap Elisa yang ikut dalam candaan mereka.


"Asiik... Udah dapat izin dari Elisa, jangan berubah pikirannya nak." ucap Siti yang sumringah.


"Nggak bakalan, emangnya aku ibu yang langsung berubah pikiran" ucap Elisa yang menepis dirinya.


"He-he-he, yaudah teteh jangan cemburu ya kalau ibu nanti jalan sama nak andre." ucap Siti yang menegaskan lagi.


"Enggak! Ngapain aku cemburu sama ibuku sendiri. Aku malah lebih khawatir sama ibu di bandingkan harus cemburu sama ibu, kalau membawa Mas Andre ke pasar ibu akan sangat repot" ucap Elisa yang memperingatkan.


"Lah kok bisa repot? Kan nak Andre bisa jalan sendiri, malahan bagus kalau ibu bawa nak Andre. Jika nak Andre ikut Ibu bisa bantu-bantu ibu bawa barang banyak, iya kan nak Andre. Nggak apa-apa kan, jika ibu nanti merepotkan nak Andre" ucap Siti yang memegang tangan Andre.

__ADS_1


"Iya emang bagus sih bu kalau soal bawa barangnya, tapi ibu akan di buat kewalahan deh! Kalau bisa bawa mas Andre ke pasar, pasti akan capek sendiri sama mas Andre nanti nih setiap jalanan yang Ibu telusuri sama mas Andre, akan banyak yang melihat ibu. Terus banyak orang juga yang akan terus natapin ibu, kalau nggak percaya lihat aja nanti besok." ucap Elisa.


Andre hanya tersenyum-senyum karena curhatan Elisa tersebut, ibunya seakan tak percaya sama ucapan putrinya itu. Entah apa yang salah dengan menantunya, kenapa harus direpotkan sama menantunya itu.


"Sayang bilang aja kamu itu cemburu sama aku, dan ibu. Iyakan makanya kamu menakuti ibu dengan cerita seperti ini, udah bu jangan didengerin omongan Elisa, dia itu hanya cemburu sama kita." Ucap Andre yang pura-pura berbisik pada ibunya.


"Iya- iya, terserah kamu aja deh!" ucap Elisa yang tak mau berdebat panjang dengan sang suami.


Mereka tertawa bersama-sama karena tingkah laku mereka seperti itu, Andre yang langsung teringat jika kaki Elisa itu terlilit sarafnya mengakibatkan Elisa kesulitan untuk jalan.


"Ibu, apakah ibu punya minyak goreng? atau minyak apapun gitu bu." tanya Andre.


"Emang mau buat apaan nak Andre?" tanya Siti yang sangat penasaran dengan permintaan itu.


"Iya mas, emang buat apa sih. Kamu mau masak?" tanya Elisa yang kebingungan sama permintaan Andre.


"Itu buat ngurut kaki kamu, dan juga memberikan pijatan katanya. Gimana sih, kamu lupa yah" ucap Andre yang mengingatkan.


"Lah kok ngurut mau pakai minyak goreng, aku mau kamu masak emang mas? tega kamu ya sama aku." ucap Elisa.


"Bukan gitu, kalau pakai minyakkan agak licin sayang, kalau pakai handbody atau bodylotion itu gak enak. Karena pered gitu, kalau pakai minyak kan agak enak licin, iya kan ibu. Ibu punya gak gitu." tanya andre.


"Iya ada atuh kalau minyak goreng mah. Tapi nak kalau pakai minyak goreng mah agak gimana gitu, tapi ibu punya minyak zaitun. Buat biasa pijat ayah kalau udah mulai ngeluh capek, bentar ibu ambilkan ya." ucap Siti yang langsung bangkit dari sofa.


"Boleh deh Bu kalau ada itumah, kalau nggak ada mah nanti minyak apa aja lah." ucap Andre.


"Nih nak Andre, minyak zaitun ya. Teteh tiap malam ibu pijitin pakai itu terus, dan Alhamdulillah bisa jalan, yah teh. Walaupun sedikit demi sedikit, ya tapi di syukurin aja deh yang penting ibu bisa lihat teteh jalan."


"Iya Andre juga niatnya kayak gitu bu, mau mijitin Elisa. Takut ada sarafnya yang kecepit, atau masih ada saraf yang belum ke tarik" ucap Andre yang mengingat kejadian dimana Elisa terjebak waktu itu mengakibatkan kakinya mati rasa.


"Emang kamu bisa ngurut mas, jangan macam-macam nanti salah urat loh." ucap Elisa yang agak khawatir.


"Lah aku kan dokter bedah ahli saraf, apakah kamu lupa?" ucap Andre yang menatap istrinya.


"Oh iya ya, kok aku bisa melupakan jika suamiku seorang dokter" Elisa baru ke ingat soal profesi Andre.


"Dasar kamu ini teteh, masih muda udah pelupa sama profesi suami sendiri. Untung aja gak melupakan suami, kalau lupa bisa gawat nanti." Sambung Siti.


"Ya begitulah bu, Elisa emang pelupa" ucap Andre yang membenarkan hal itu.


"Lupaan mana, aku sama kamu. Gini-gini aku daya ingatku cukup kuat kok" ucap Elisa yang tidak mau disalahkan.


"Sama aja lah, namanya juga manusia biasa pasti ada lupanya. Iya gak bu, asal jangan lupa soal tuhan kita saja siapa?" ucap Andre yang menegaskan.


"Kalian berdua ini, soal hal kecil ajak kalian berantem kayak gitu." Ibunya menengahkan.


"Habis, mas Andre duluan bu yang nyebelin." ucap Elisa yang tak mau disalahkan.


"Udah ah Ibu mau ke warungnya Mpok Leha dulu, mau beli sayuran buat nanti sore makan malam. Ouhnya, Andre mau ibu masakin apa nak?" ucap Siti.


"Apapun yang ibu masak pasti Andre makan kok, jadi tenang aja. Masakan ibu akan selalu enak."


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Selasa 27 Desember 2022


__ADS_2