
Elisa yang mendatangi kedai eskirim yang lagi ke kekinian itu, yah tongkrong anak muda. Elisa ikut mengantri di belakang pasangan yang akan beli es krim tersebut, di belakang Elisa ada wanita dengan dua anak.
"Mamah, cepat beli itu. Laca stobeli ya mah.." ucap anak perempuan meminta pada mamahnya.
"Aku aku aku lasa melon yah mah, Elik lasa coklat mamah" ucap anak lainnya, Elisa yang mendengar hal itu menoleh ke belakang.
Lalu Elisa hanya menebar senyuman kepada mereka, sang ibu yang tak enak hati karena anak-anak cukup membuat ribut ditempat, segera meminta maaf atas keributan tersebut.
"Maaf ya mba, anak-anak saya sangat berisik. Mereka gak mau diem, maafkan" ucap sang ibunya dengan ketawa yang kecut.
"It's oke! Nama juga anak-anak mba, apakah anda mau duluan? lagian saya hanya sendirian, silakan. Biar saya mengantri di belakang anda, anak-anak itu sudah tidak sabar" ucap Elisa yang menawarkan posisinya.
"Nggak apa-apa mba, kan mbak yang duluan berdiri. Nggak apa-apa, biarkan saja" ucapnya seraya tak enak hati pada Elisa.
"Anak-anak ini tidak bisa bersabar, sedangkan saya hanya sendirian untuk beli, dan saya cukup bersabar. Duluan saja tak apa! silakan" ucap Elisa yang mundur ke belakang.
"Nggak apa-apa nih mba, terimakasih yah mba, baik banget" ucap sang ibu yang sangat berterimakasih pada Elisa.
"Silakan, iya sama-sama... Tuh mereka sudah selesai" ucap Elisa yang memberitahu jika urutan dirinya saat ini.
"Ara Erik bilang terimakasih sama mba ini, karena di perbolehkan kita duluan, kalian sih bikin ribut aja" ucap sang ibu yang tak enak hati.
"Makasih ya kak cantik" ucap Erik anak kecil itu mengedipkan salah satu matanya dengan genit, Elisa hanya tersenyum tipis karena di goda anak kecil itu.
"Sama-sama sayang, manisnya" ucap Elisa yang mencubit pipi anak laki-laki, dengan lembut.
Ibunya pesan untuk dua anaknya, lalu setelah mereka baru Elisa yang pesan karena menunggu agak lama, jadi mereka duduk bersama di kursi tunggu.
"Anaknya kembar mba?" ujar Elisa sebagai bahan obrolan agar tidak canggung.
"Iya, nih" jawab ya singkat.
"Usianya berapa tahun mereka ini, anaknya mba yang manis" Elisa yang pengen banget punya anak kembar begitu.
"4 tahun mau jalan 5 tahun" ucap sang ibu yang sesekali tersenyum tipis.
"Ouhalah, pantesan udah pandai-pandai yah" ucap Elisa yang sesekali memuji anak-anak itu, Erik yang dari tadi sedang mencuri pandang dengan Elisa.
Elisa yang sadar jika anak laki-laki sedang mencoba merayunya, hanya membiarkan saja tapi tak mengabaikannya.
"Erik, tidak sopan begitu. Duduk ya disini dong nak!" ucap sang ibu menarik putranya yang sedang mencoba ingin bangku di Elisa.
"Nggak apa-apa mba, aku juga sudah terbiasa sama anak-anak. Biarkan saja, lagian hanya duduk saja kok" ucap Elisa yang mendudukkan Erik pada pangkuannya.
"Mba dia itu berat, Erik sini. Mba datang sendirian kesini?" tanya sang ibu mengambil putranya dari pangkuan Elisa.
"Aah... Nggak juga, aku sama mamah dan adikku sih, cuman mereka lagi jalan-jalan dulu" ucap Elisa yang menjelaskan.
"Ouh gitu, kirain datang sendirian" ujarnya, karena tak melihat siapa-siapa bersama Elisa.
"Nggak kok, kalau mba kesini sendirian nih, karena berat loh mba harus bawa anak-anak sambil bawa belanjaan gitu?" Elisa yang melihat 4 kantong keresek ukuran lumayan besar yang di tarik tas beroda.
"Heheh iya nih, tapi saya gak sendirian kok. Saya datang sama adik saya. Cuman tadi anak saya menjatuhkan kunci mobil entah dimana, jadi ya sedang mencarinya dulu?" penjelasannya.
Elisa yang teringat saat memilih pakaian tadi, melihat ada kunci mobil yang terjatuh di lantai. Niat hati mau di kasih ke pihak keamanan moll, cuman karena sudah keliling tapi petugas keamanan belum juga ditemukan.
"Kunci mobil? Ngomong-ngomong mohon maaf nih, kunci mobilnya itu merek apa ya. Kalau boleh tahu, siapa tahu saya bisa bantu" ucap Elisa yang sangat penasaran siapa pemilik kunci mobil yang ditemukannya tersebut.
__ADS_1
"Hemm, Avanza" ucapnya mengingat mobil yang di kendaraan adik dan dirinya.
"Kebetulan banget, tadi aku ke toko baju yang di lantai 3, nemuin ini tadi niatnya mau ku kasih sama security. Tapi, belum ketemu sama security ya. Apakah bener ini punyanya mba? coba mba cek dulu" ucap Elisa yang merogoh isi dalam tas dan mengambil sesuatu didalamnya.
"Eh! Bener ini punya adik saya, karena ada gantungan kunci buaya dan angsa. Aduh... Makasih banget ya mba, udah menemukan kunci mobil adik saya" ucapnya sangat berterimakasih pada Elisa yang telah menemukan kunci mobil miliknya.
"Iya sama-sama, lagian aku juga menemukan nggak sengaja kok. Kebetulan aja, terus ditambah malah gak ada security" ucap Elisa yang tertawa-tawa.
"Hahaha... Iya yah, mungkin udah takdirnya kita bertemu kalinya" ucap sang ibu dua anak itu, tiba-tiba suara itu menghentikan percakapan asik mereka.
"Pesanan stroberi vanila, dan melon grade" teriakan itu dari pelayan eskrim.
"Ouh iya itu saya." Langsung bangkit dari tempat dengan segera, tak lama pesanan Elisa juga di panggil.
"Vanilla green tea," ucapan pelayan lainnya, Elisa segera bangun juga saat pesanan di sebutkan.
"Eh malah barengan di panggil, hehehe" ucap Elisa yang berdiri beriringan dengannya.
"Hahah iya mba," jawabnya singkat, lalu duduk di kursi kosong lainnya.
Sedangkan Elisa setelah selesai dengan pesannya, Elisa langsung pergi karena sudah di chat sama mamah Monika untuk ketemuan di lantai satu, di lobi.
"Ya udah aku duluan ya mbak, takutnya mamah sama adik aku udah nungguin di bawah" ujar Elisa yang sangat ramah.
"Iya makasih ya mbak, sekali lagi saya terimakasih karena udah nemuin kunci mobil juga" ucapnya seraya menganggukkan kepalanya.
"Iya nggak masalah, ya udah aku permisi!" ucap elisa yang langsung pergi tanpa menoleh kembali ke belakang.
"Ya ampun aku lupa tanya namanya lagi, yaudah deh! Nama juga kebetulan gak sempet kepikiran buat kenalan, padahal ngobrol cukup lama. Saking anaknya asik di ajak ngobrol jadi lupa tanya nama" ucapnya menyesal karena tidak tanya namanya.
"Kamu dari mana saja sayang?" ucap Monika yang melihat elisa tak bawa apa-apa.
"Kan sudah di bilang Elisa duduk di sana, sambil makan es krim" ucap Elisa yang polos seraya menujuk lantai 2.
"Gak kemana-mana gitu duduk saja disana, apakah kamu gak bosen kak duduk disana sendirian" ucap Alea menimpalinya.
"Nggak, kan sambil nunggu antrian es krim. Jadi gak terlalu bosen" jawab Elisa yang semangat lagi setelah mood-nya kembali.
"Kita mau ke mana lagi sih mah udah keliling-keliling 1 jam nih di mall, belanjaan kita juga udah banyak. Kak Elisa juga sepertinya capek banget tuh, kayaknya mau minta pulang" ucap Alea yang melihat Elisa cukup pengertian sekali.
"Jangan dulu dong Sayang, kan kita belum keliling-keliling kota Ini Alea. Bukanya kamu mau pergi ke tempat wisata dan ke alun-alun atau ke mana gitu yang ada daerah rekreasi, biar Elisa bisa have fun dan jalan-jalan. Pokoknya hari ini itu harus full time cewe-cewe, mamah gak mau hari spesial kita di ganggu" ucap monika yang antusias sekali.
"Iya juga sih, dari pada nanti Kak Elisa uring-uringan di rumah. Nanti sasarannya kak Andre lagi, he-he-he... Yuk, mah cari tempat lainnya untuk mengurangi boringnya kak Elisa, kita ngapain lagi ya" ucap Alea yang ikuti fantasi mamah.
"Ya udah deh terserah kalian berdua aja, kalau gitu gimana kalau Elisa saja yang pulang sendiri, kalian lanjutkan buat jalan-jalan" ucap Elisa yang sudah bener-bener lelah.
"Jangan gitu dong sayang, mamah akan tambah khawatir. Mendingan kamu ikutan kita saja yah, kita ke tempat itu aja ke taman Nasional yuk! atau ke lapang taman kota katanya ada pasar malam loh" ucap Monika yang antusias sekali.
"Mamah itu kan pasar malam, jadi gak mungkin buka di siang bolong kayak gini, mana ada pasar malam dibuka siang benerang begini." protes Elisa yang tidak terima.
"Iya juga yah, tapi kita mau kemana lagi dong! ouh itu di alun-alun katanya ada festival, kita kesana yuk coba lihat-lihat disana" ucap Monika yang langsung menarik Elisa dan Alea untuk segera ke tempat tujuan.
"Eeeh mamah-mamah" ucap Alea dan Elisa yang teriak karena di tarik Monika itu.
Mereka langsung ke tempat parkiran, dan Aoda yang sibuk memasukan semua tas belanjaan para nyonyanya tersebut, dan mereka bersiap ke tempat tujuan.
"Kita kemana lagi ini nyonya?" tanya Aoda yang melihat ke jok belakang tanya pada Nyonya besarnya.
__ADS_1
"Hmm- kita ke alun-alun kota saja mau cari tempat makan siang, sambil nunggu festival dimulai nanti jam 3an" ucap monika yang ingat banner poster iklan di pinggir jalan-jalan yang terpasang dimana-mana.
Sesampainya di lokasi, mereka turun di sebuah parkiran. Alea dan Monika mencari restoran, sedangkan Elisa malah pergi mencari masjid atau musholla. Saat Elisa ingin masuk ke rumah ibadah, tiba-tiba terdengar suara orang yang minta bantuan.
"Tolong- tolong, jambret- jambret. Tas saya di di jambret, tolong!" teriakan dari seorang wanita.
Elisa yang mendengar hal itu langsung berlari mengejar si pelaku yang larinya cukup gesit. Si adik korban baru datang untuk menolong kakaknya yang kesusahan, saat sudah di katakan dia malah ikut berlari mengejar jambret yang saat ini sedang di kejar beberapa orang.
Terlihat adik korban yang berlari tiba-tiba melihat seorang wanita yang malah melepaskan si pelaku, dan membubarkan warga yang berlari-lari itu. Adik korban itu mendekati Elisa yang masih sibuk membersihkan tas karena debu.
"Kenapa kamu lepasin si jambret, kenapa gak lapor polisi. Apakah kamu juga salah satunya, jangan-jangan kamu sekongkolan sama dia ya. Makanya kamu lepaskan dia, mba cantik-cantik kok jadi pencopet" ucap adik korban yang tidak tahu kejadiannya malah menuduh yang tidak-tidak.
Elisa menahan sinis, dan melihat tajam pada pria di depannya. Lalu berjalan mengabaikan ucapan si cowo itu, malah meninggalkan yah begitu saja.
"Woy, mba. Kok malah di tinggal pergi, aku lagi ngomong loh sama anda, kok malah tidak di dengarkan" ucapnya kembali sambil mengekor ke belakang Elisa.
Lagi-lagi Elisa mengabaikan ucapannya, hingga wanita yang di kenal berlari menyusulnya, ternyata tas itu milik wanita yang ketemu di moll tadi. Elisa yang awalnya belum mengenali wanita itu, hanya diam saja.
"Risky, gimana tas kakak kamu temui gak?" tanya ya seraya menahan tangan adiknya.
"Kak tuh tasnya, di bawa sama mba ini. Kayaknya dia adalah geng si jambret, karena melepaskan si penjambretan gitu aja saat aku sampai tadi" ucapnya menuduh Elisa.
Elisa yang sudah geram langsung membalikan badan karena kesel yang selalu di tuduh begitu, jika dia sekongkol sama tuh jambret gak mungkin dia jalan santai tanpa dosa begitu.
Elisa dengan tatapan tajam menatap pria yang tinggi di yang terus mengekor di belakang yah. "Eh, mas asal anda tahu ya. Kalau aku geng komplotan, gak mungkin aku jalan santai malah pengen cari pemilik tas ini. Anda itu jangan asal nudu orang, kalau aku geng ya gak mungkin aku menghentikan tuh orang dan bawa-bawa tas ini, jadi jangan menuduh orang gitu tanpa bukti dong! Mas kalau kamu ingin mencoba mencemari nama baik bukan gitu caranya, nih aku kasihin tasnya" ucap Elisa yang sudah emosi.
Sadar jika gadis yang sedang memarahi adiknya itu adalah gadis yang sama di moll tadi, langsung saja dia menyapa kembali.
"Mbak yang tadi di mall yah, eh kita ketemu lagi ya. Jadi mba ini yang mengambil tas dan menyelamatkan tas saya, aduh makasih banget ya mba, udah banyak banget bantuin saya. Kamu ini Risky gak bisa bedain banget, cewek secantik ini masa di kira penjambret. Minta maaf dong! Kamu ini malu-maluin" ucapnya yang memukul adiknya suruh minta maaf pada Elisa.
"Eh, iya aku minta maaf ya. Sudah nuduh sembarang, aku tidak tahu kalau kamu kenal sama kakakku" ucap Risky yang menyesalinya.
"Rizky, ini gadis yang kakak ceritain tadi. Itu yang nemuin kunci mobil kamu, terus dia itu baik banget loh, makasih banget ya mbak seharian ini aku udah tolong sama mbak tiga kali loh" ucapnya merasa bersalah.
"Iya nggak apa-apa, lagian aku juga kebetulan aja cuman lewat. Terus dengar teriakan minta tolong. Yaudah mbak di cek dulu isi dan barangnya, apakah ada yang hilang atau ada yang kurang nggak!" ucap Elisa yang menyuruh untuk mencek barang-barangnya.
Sedangkan adiknya hanya memandangi wajah Elisa yang tampak bersinar, dan rambut Elisa yang terurai kena tiupan angin membuat melayangkan tak beraturan.
"Oke semuanya masih aman kok, masih lengkap" ucapnya seraya menatap Elisa dengan sangat gembira.
"Oh gitu! Syukur deh, kalau masih lengkap. Yaudah mba saya harus pergi dulu, lain kali hati-hati mba. Permisi!" ucap Elisa yang akan lebih meninggalkan tempat.
Tapi tangannya ditahan oleh mba itu, Elisa kaget melihat tangannya yang di tahan. "Hmm, ada apa lagi ya mba?" Tanya Elisa kebinggungan karena tangannya itu.
"Kita sudah cukup lama ngobrol, tapi satu sama lainnya kita belum kenalan. Nama mu siapa? kalau boleh tahu" ucapnya seraya melepaskan tangan lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ouh, nama saya Elisa" ucap Elisa.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Kamis 15 Desember 2022.
__ADS_1