PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
184. Berdebat Hebat.


__ADS_3

Di sebuah universitas dimana dengan banyaknya fakultas, dan gedung ada satu lokasi fakultas. Dinamakan Fakultas kesehatan, di sana ada beberapa jurusan yang banyak di minati juga, dari kedokteran, perawat sampai apotekernya. Hari ini, adalah hari dimana Andre menjalankan tugas barunya, sebagai dosen pengganti guru yang sedang cuti karena akan melahirkan.


Dalam satu semester mereka akan menjadi mahasiswa bagi andre, sekarang tanggung jawab Andre semakin banyak. Bukan hanya jadi kepala RS, Jendral Tempur, pemimpin ANDRILOS dan sekarang menjadi seorang dosen pengganti.


Jam istirahat Elisa yang di suruh untuk ke ruang dosen untuk mengambil materi di jam masuk nanti, harus lewat kelas kedokteran untuk menuju ruang dosen. Elisa yang samar-samar mendengar suara seseorang yang tidak sing baginya, tapi Elisa tidak terlalu jelas juga. Karena cuman sekali lewat, jadi tak terlalu detail.


"Pak Heru, ini tugas makalah A-2. Tinggal 3 orang lagi yang belum mengumpulkan makalah yah, katanya mereka sendiri yang akan memberikannya." Ucap Elisa yang mengumpulkan makalah, sekaligus di berikan tugas.


"Saya ada perlu di luar, jadi saya tidak akan masuk jam pelajaran nanti, jadi saya kasih kalian tugas. Cari materi soal bab 7, Jumat depan Presentasi." ucap Heru.


"Kelompok pak?" tanya Elisa polos.


"Nggak, individu. Jadi diharap semua tidak sama, harus beda. Walau satu materi, faham." ucapnya.


"Baik pak."


Elisa akhirnya keluar dari ruang dosen tersebut, lalu terlihat sepasang mata biru itu menatapnya. Elisa yang tanpa sengaja menabrak pria yang baru masuk tersebut, betapa terkejutnya dia saat melihat pria tersebut.


"Huh? Kamu ngapain disini?" ucap Elisa yang keras, dan kaget karena melihat suaminya.


Karena suara itu, membuat Heru mendengar hal itu, dan dosen lainnya menoleh ke arah sumber suara. "ELISA! Kamu gak sopan ya, sama dosen." ucapnya agak membentak.


"Hah! Dosen?" ucap Elisa heran sama apa yang dikatakan oleh Heru tersebut.


"Minta maaf, mahasiswa jaman sekarang gak ada sopan santunnya. Dasar, kalian kalian harus di didik lebih keras dalam attitude yang bermoral." Dumalnya sambil dengan nada sinis.


"Saya minta maaf pak, karena tidak sopan." ucap Elisa yang meminta maaf pada Andre sesuai permintaan Heru.


"Pak Andre, anda baru selesai ngajar di kelas mana?" ucap Heru yang ramah pada Andre.


"Jurusan kedokteran, saya lupa kelasnya, karena saya gabungkan semua anak kelas kedokteran." ucap Andre dengan tersenyum pada Heru, dosen senior itu.


"Elisa, apa lagi yang kamu lakukan disana. Cepat masuk kelas, jam pelajaran akan segera dimulai." ucap Heru yang masih melihat Elisa mematung di tempat.


"Ah, iya pak." ucap Elisa kalang kabut buru-buru kabur dari ruangan.


Andre hanya bisa melihat kepergian sang istri. Lalu ia duduk disampingnya Heru, tempat duduk Bu Susan sebelum yah. "Hah, maafkan mereka ya pak. Apakah anda mendapatkan kesulitan, saat mengajar di hari pertama anda Pak Andre?" tanya Pak Heru ramah.


"Alhamdulillah enggak terlalu kesulitan sih Pak, semuanya baik-baik aja, dan aku mencoba mengerti dan mengenal mengajarkan edukasi baik, dengan mereka. Mahasiswa juga terlihat lebih santai, syukurlah mereka juga mau menerima saya sebagai dosen pengganti Bu Susan sementara." penjelasan Andre pada Pak Heru.


"Syukurlah kalau begitu, berarti anak-anak semuanya cocok ya dengan anda."ucapan Heru.


Elisa yang berjalan di koridor menuju kelas, iya bahkan lupa dengan perintah tugas yang diberikan oleh Pak Heru padanya. Karena masih memikirkan soal kejadian tadi, masih syok karena melihat suaminya berada di ruang dosen.


Sampainya di kelas Elisa ditanya, yang dia ingat hanyalah Pak Heru tidak masuk ke kelas. Mahasiswa semuanya senang karena bebas dari Pak Heru untuk satu hari itu, mereka tidak sadar kalau bahaya yang akan datang di minggu depan.


"El, kamu kenapa sih! Dari kamu pulang ruang dosen, kok kamu sering bengong." tanya Resti sangat penasaran dengan mimik muka Elisa yang sedikit agak berbeda.


"Jangan-jangan kamu ke sabet yah?" asal nyeplok ucapan Diana.


"Hah! Ke sambet apapun diana?" sahut Resti.


"Ke sambet setannya pak killer. Karena pulang dari ketemu pak killer, dia kayak gini kan." jelas Diana.

__ADS_1


"Iya, bisa jadi tuh!" tambahan dari Nacly.


"Elisa kamu baik-baik saja?" khawatirnya Resti pada Elisa.


"Iya aku baik-baik saja kok! Kalian tenang saja." jawab Elisa dengan parau.


"Okay, tapi kamu aman kan?" tanya Diana kembali.


"Iya aku aman kok." ucap Elisa menjelaskan bahwa dia baik-baik saja.


...----------------...


Waktu berjalan begitu cepat, akhirnya mereka pun pulang Elisa yang dijemput Pak Sofyan. Dia tidak tahu jika Andre juga berada di sana, Elisa berpikir untuk tidak pulang bersama Andre. Karena pikirannya saat ini tidak menentu, emosinya juga tidak stabil.


"Kenapa neng? Mukanya pada tekuk kayak gitu! Capek ya habis belajar, gimana hari ini?" tanya Pak Sofyan pada Elisa.


"Biasa aja Pak, boleh nggak Elisa tidur bentar ngantuk nih." ucap alisnya tidak mau ada pertanyaan apapun lagi dari Pak Sofyan, takutnya dia akan melampiaskan emosinya pada Pak Sofyan.


"Yo Monggo, kalau sudah sampai nanti bapak bangunkan." ucap pak Sofyan tak menaruh curiga apapun.


Setelah sampai di rumah, Elisa tidak melihat siapapun di dalam rumah. Lalu dapat SMS dari adiknya, kalau sudah mengantar ayah untuk mengantarkan pesanan, sedangkan ibu sedang berada di pengajian rutin.


(Teh, dirumah nggak ada siapa-siapa. Aku lagi nganter ayah, ibu lagi ke pengajian, kuncinya ada di sebelah pot.) isi pesan singkat ya.


Setelah Elisa berhasil membuka pintu rumah ia langsung mengunci pintu kembali, agar dirinya bisa istirahat dengan tenang di dalam rumah.


Elisa langsung menjatuhkan dirinya, di kasur sambil menatap langit-langit kamar. Otaknya saat ini berpikir keras, pikirannya sedang semrawut. Banyak sekali yang dia pikirkan, tentang semuanya yang terjadi padanya.


"Loh nak Andre, kok ada di luar. Kenapa nggak masuk?" tanya Siti yang baru pulang dari pengajian.


"Pintunya dikunci dari dalam bu. Kayaknya ada seseorang di dalam, tadi aku telepon Azriel, tapi katanya Azriel lagi ngantar ayah, kupikir ada ibu di dalam, ada yang bilang kalau ibu lagi ke pengajian." ucap Andre yang menjelaskan.


"Berarti yang ada di dalam itu adalah Teteh." ucap Siti.


Tok Tok Tok


"Teteh, Assalamualaikum... Teh, ibu dan nak Andre sudah pulang nih, tolong bukain pintunya." ucap suara Siti.


Tok Tok Tok


"Sayang. Elisa, kita udah pulang nih. Elisa... Kamu tidur yah?" ucap Andre.


Tapi, tidak ada respon dari dalam karena tidak kedengaran oleh Elisa yang masih terlelap tersebut. Andre juga mencoba mengetuk pintu lagi, dan jendela tapi hasilnya tetap nihil.


"Coba di telfon deh nak! Kalau hp mungkin teteh langsung bangun." ucap Siti memberi saran.


"Iya bu, makanya sekarang aku juga sedang mencoba nelpon dia, tapi nggak diangkat-angkat dari tadi." ucap Andre yang masih menghubungi kontak Elisa.


"Kayaknya sih teteh ketiduran deh!" tebakan ibu yang tepat sasaran.


"Bisa jadi begitu sih bu." juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya.


"Ya udah, kita lewat pintu belakang aja, kayaknya pintu belakang nggak dikunci deh!" ucap Siti yang berjalan ke sela jalan setapak samping rumahnya.

__ADS_1


"Biar Andre saja bu, ibu tunggu disini yah." ucap Andre yang berjalan menuju sela jalan setapak itu.


Setelah mereka berhasil masuk ke dalam rumah, Andre langsung masuk ke dalam kamar istrinya yang masih tertidur. Melihat Elisa yang seperti kecapean benget, lalu setelah mandi dan membersihkan diri. Andre duduk disamping Elisa yang masih tidur, memainkan anak rambut Elisa. Membelai dengan lembut, hingga Elisa bangun.


"Kamu bangun? Capek banget kayak yah." ucap Andre seraya menatap manik mata cokelat milik Elisa.


Bukannya di jawab, Elisa malah berbalik badan memunggungi Andre. Membuat Andre terdiam, lalu membaringkan dirinya dan memeluk dari belakang.


"Udah sore sayang, kamu mandi dulu sana. Kamu gak sholat ashar?" tanya Andre yang saat ini menyederkan kepala di dinding ranjang, dengan tangan yang sibuk memakan rambut Elisa yang panjang.


Tapi, tak ada respon apapun dari Elisa. Membuat Andre terdiam. Lalu mengingat kejadian tadi siang, saat dirinya bertabrakan dengan sang istri, tapi dia tidak mengatakan apapun.


"Kamu marah yah sama aku yah? Makanya kamu diam saja seperti ini." tanya Andre.


Tapi masih tidak ada respon dari Elisa, dia hanya diam seribu bahasa saat ini Elisa mencoba tetap tenang untuk menghadapi situsnya.


"Aku minta maaf ya, karena gak bilang apapun sama kamu, atau menjelaskan tentang semuanya ke kamu. Bukan niatku seperti itu Elisa, aku awalnya akan jelaskan setelah masalah kamu dan ayah meredah. Tapi, ternyata kita bahkan gak punya waktu buat ngobrol soal ini, dan menjelaskan yah." ucap Andre yang mencoba menyakinkan istrinya itu.


"Kamu sebenarnya sadar akan soal itu, bahwa kita jarang punya waktu buat ngobrol. Tapi, entah aku yang bodoh. Atau haus perhatian kamu, atau aku yang terlalu naif. Karena mengharapkan agar kamu bisa disisiku. Aku gak minta apapun darimu, hanya aku minta satu dari kamu, yaitu waktu kamu mas. Tapi, sampai sekarang gak ada. Semakin sulit saja, waktu kamu itu buat aku. Apa permintaanku itu terlalu sulit bagi kamu, atau permintaanku ini seperti angin lalu bagimu. Aku gak ngerti lagi, bagaimana cara aku menghadapi sikap kamu ini." Elisa membuka suaranya.


"Iya aku minta maaf sayang." ucap Andre yang tidak bisa berkutik saat ini.


"Sayang sayang sayang... Itu selalu kamu ucapkan, tapi semua itu hanya bullshit tahu gak! Cuman di mulutmu yang manis, kamu pandai berbahasa, dan mengarangkan semuanya. Ekspresi dalam pikiranku hanya angan-angan bagiku, iya aku sadar akan hal itu, bahwa aku salah untuk memikirkan agar kamu dapat mengerti aku. Sekali aja mas, sekali. Bisakah kamu menghargai waktumu bersamaku, bahkan waktu kita sangat terbatas, paling lama 1 menit, dsn itu cuman di atas kasur. Apa susahnya sih! Kamu meluangkan waktu kamu buat istri kamu. Aku ini bukan robot mas, yang saat kamu tidak membutuhkannya kamu abaikan begitu aja. Jika aku nggak punya perasaan, dan cinta sama kamu. Aku mungkin udah lama ninggalin kamu, tapi ternyata perasaan ku terhadapmu lebih kuat. Aku mencintai kamu, jadi sesakit apapun aku bersama kamu aku masih mencoba menahannya. Tambah lagi masalah ini, aku harus bersih tegang sama ayah aku. Dua pria yang paling berharga banget buat aku, tapi nggak ada satupun yang ngerti kondisiku. Sudah percuma aku jelaskan semuanya akan sia-sia, aku udah capek. Ngomongan ku selama ini, hanya di anggap sampah bagi kamu. Aku tuh, nggak ada harganya buat kamu."


"Aku minta maaf Elisa. Oke, maaf aja mungkin nggak berarti buat apa yang aku lakukan sama kamu, tolong kamu kasih tahu aku. Aku harus bagaimana? Agar aku bisa dimaafkan, semua kesalahan aku ini, agar aku bisa menembusnya coba kamu kasih tahu aku caranya."


"Alasan kamu buat masuk ke universitas itu, kenapa kamu tiba-tiba jadi dosen disana. Dan nggak ngobrol itu sama aku dulu, coba aku satu penjelasan?"


"Pak rektor, sebenarnya sudah lama meminta saya untuk menjadi pengajar disana, itu semenjak aku ada di New York. Tapi aku terus menolaknya, dan baru aku setujui akhir-akhir ini, aku ingin bicarakan ini denganmu. Tapi, waktu itu kondisinya tidak memungkinkan untuk aku ngobrolin soal ini ke kamu, gimana coba aku jelasin saat posisi kamu tidak mungkin untuk menyimak dengan baik, dengan apa yang aku katakan nantinya ke kamu."


"Di sini aku sedih mas, entah aku dianggap apa sama kamu selama ini. Kamu kayak nggak pernah menganggap aku ada, terus peran aku dalam hidup kamu itu apa? Angin, atau cahaya atau cuman pajangan yang harus kamu letakan di atas lemari kamu. Kayak nggak berguna banget gitu, aku sebagai istri kamu."


"Bukannya begitu Elisa. Aku nggak mau menambah beban pikiran kamu saja kok, jika aku bilang hal itu saat kondisi kamu nggak stabil, aku khawatir kamu tumbang. Kita emang nggak punya bayak waktu buat ngobrol saja kan, dan waktunya juga selalu tidak tepat."


"Rasanya aku pengen mati aja deh mas. Hidup aku udah nggak berarti banget, buat orang tua. Apalagi kamu, udahlah gak usah kita bahas. Udah muak, semua ini seperti lelucon bagi kamu. Padahal kita punya waktu tadi pagi, kamu gak bilangkan, entah nggak ada waktu atau emang kamu nggak niat buat jelasinnya, udah nggak ngerti lagi, apa yang kamu pikirkan itu. Iya aku sadari bukan lulusan sarjana, jadi pemikiranku mungkin kayak anak-anak atau aku belum dewasa."


"Elisa bisakan kamu dengerin aku dulu, aku bisa jelaskan. Iya kita berangkat bareng, tapi titik fokus kamu itu bukan sama apa yang aku bahas nantinya, karena kamu lagi banyak sekali tekanan, aku jelasin juga kamu pasti nggak akan nyimak, please jangan bales-bales soal study okey. Disini aku yang salah, karena aku nggak bisa menjelaskan apapun, yang seharusnya aku katakan pada kamu. Lain kali, bukan lain kali. Tapi, ini yang terakhir kalinya, aku akan mengatakan semuanya, tidak akan memikirkan posisi kamu entah itu sedang kondisi seperti apapun, aku akan mengatakannya. Jika kamu mau." ucap penjelasan Andre pada Elisa.


"Terserah kamu, aku dah capek!" Tidak di hiraukan oleh Elisa, malah di tinggal pergi ole lh Elisa. Andre hanya bisa pasrah dan menerima semua amarah Elisa itu, dia tak tahu harus bagaimana lagi Buay bujuk Elisa yang sekarang sudah pada titik tidak mau mendengarkan apapun dan siapapun lagi, karena sudah merasa sangat lelah tak di pedulikan oleh keluarga bahkan suaminya.


"Teh, mau kemana?" Tanya Siti yang melihat putrinya keluar dari dalam kamar dengan wajah kesel.


Siti tanpa mendengar jawaban apapun yang dikatakan oleh Elisa, yang meninggalkan rumah. Untuk mencari udara segar, karena dia bener-bener sudah sangat pusing dan penat.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Jumat 24 MARET 2023

__ADS_1


__ADS_2