PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
129. Rencana Servis.


__ADS_3

Elisa mengatakan semua isi hatinya pada sang ibu, dengan seksama sang ibu ikut prihatin dengan putrinya itu ya memang menantunya itu sangat sayang pada putrinya. Tapi, tidak tahu jika Elisa malah tertekan karena ada satu yang membuat kesempurnaan pernikahan Elisa dan Andre itu terlihat kosong.


"Punya anak atau tidak adalah kesempatan bersama nak, jadi kamu jangan paksakan nak Andre untuk melakukan apa yang kamu inginkan. Jika misalnya nak Andre tidak mau punya anak, kamu sebagai istri hanya menurut saja apa yang di inginkan sang suami. Inget loh Elisa sekarang sudah ada yang nanggung, jika misalnya kalian gak kompak begini akan seterusnya berantem. Nak, insyaallah kalau kamu punya jalan yang baik akan di mudahkan sama Allah. Buktinya ibu saya ayah kamu, menikah tanpa direstui oleh nenekmu. Tapi karena niat kita baik, Alhamdulillah Allah tunjukan jalan yang baik pula. Makanya, terus berdoa dan minta sama Allah. Sekuat-kuatnya manusia, akan kalah dengan kekuasaan Gusti Allah nak."


"Iya bu, Elisa akan ingat nasehat ibu. Makasih ya bu, mau dengerin cerita dan curhatan Elisa. Ngasih solusi juga, bu juga doain Elisa ya semoga Elisa cepet di berikan kemudahan dan kelancaran."


"Aminn Yarobalalamin, amin Huma amin... Semoga ya teh, kesayangan ibu. Udah gede sekarang, udah mau mikirin itu" ucap Siti yang memeluk putrinya, dan mengecup puncak kening Elisa.


Elisa juga sangat senang dan memeluk ibunya, hingga suara langkah kaki yang membuat keduanya langsung menoleh ke arah lorong.


"Ini lagi ngapain malam-malam pelukan di dapur, kenapa sama Elisa bu?" ucap Andre yang terbangun karena Elisa tidak ada di sampingnya.


"Biasalah, lagi mau manja sama ibunya. Katanya perutnya sakit, jadi ibu lagi bikin teh anget... ASTAGHFIRULLAHALZAIM, ibu sampai lupa," langsung teringat jika Siti lagi masak air, langsung bangkit dari kursi dan berlari ke kompor.


"Gimana bu? airnya abis ya" ucap Elisa yang panik, Andre langsung membantu ibunya.


"Iya, sampe ibu lupa airnya. Ya Allah, sampai airnya mau habis" ucap Siti yang terlalu asik mendengar curhatan Elisa.


"Ibu duduk aja biar Andre yang bikin." ucap Andre yang mengambil gelas, dan teh.


"Aduh, maaf ya nak Andre. Sampe jantungan ibu, untung belum kebakar yah" ucap siti yang kembali duduk.


"Ada apa bu?" Yusman juga kaget saat mendengar suara teriak istrinya dari arah dapur, sambil bawa sapu.


Elisa tertawa geli melihat ayahnya yang keluar membawa sapu sampe sarungnya melorot dan gagang sapu sudah di angkat tinggi-tinggi.


"Ya ampun ayah, itu sarungnya melorot" Ucap Elisa yang ketawa cekikikan.


Siti dan Andre juga ikut melihatnya, ibu malah geleng-geleng kepala. "Apa-apa sih ayah, bikin malu aja. Cepet itu di benerin, nanti burungnya terbang loh, malu sama nak Andre." ucap Siti yang menegur suaminya.


"Ayah panik tadi, jadi gak ikat sarung dengan benar. Ada apa sih Bu, bikin kaget aja" ucap Yusman yang membereskan sarungnya.


"Anu, itu ibu lupa kalau lagi masak air. Sampai mau abis airnya, untung belum kebakar." jawab siti yang melihat Andre sedang sibuk bikin teh anget.


"Kebiasaan deh ibu ini pelupa, emang mau bikin apa si bu malam-malam. Bukannya pada tidur malah keluyuran aja di dapur, pada lagi ngapain sih" ucap Yusman yang tidak tahu kejadiannya.


"Ini putrimu sakit perut, jadi ibu tadi niatnya mau bikin teh anget" ucap Siti yang mengelus kepala Elisa.


"Kan ada suaminya, kenapa ibu yang keluar. Udah balik lagi ke kamar. Sudah malam tidur, biar nak Andre aja yang urus" ucap Yusman yang menyuruh istrinya kembali tidur.


"Iya bu mendingan ibu balik tidur aja, Elisa biar sama Andre" ucap Andre yang meletakan teh hangat di meja.


"Gak pa-pa, ibu temenin Elisa sebentar lagi." jawab siti yang masih belum tega meninggalkan Elisa sendirian, apa lagi berduaan sama suaminya.


"Udah malem juga bu, besok itu kita di undang ke nikahan anaknya Pak Hj Samsul loh pagi-pagi, mendingan tidur yuk!" ucap Yusman yang meminta istrinya kembali tidur.


"Iya bu mendingan ibu kembali tidur aja, Elisa sekarang udah gak apa-apa kok" melihat ayahnya yang terus saja meminta ibunya masuk jadi tak tega, apa lagi di lihat ibunya juga sudah sangat mengantuk.


"Beneran udah nggak apa-apa nih? kalau ibu tinggal, teteh sudah agak baikan!" seraya menatap Andre sekilas.


Elisa langsung faham, dan memberikan kode pada ibunya kalau dirinya sudah membaik dengan memejamkan mata dan anggukkan perlahan agar ibunya tidak khawatir.


"Iya ibu, Elisa udah nggak apa-apa kok, tuh katanya si Ayah mau tidur sama ibu" ucap Elisa yang langsung mengalihkan perhatiannya.


"Ya kamu kan sekarang udah sama nak Andre masa iya kamu mau tidur sama ayah dan ibu lagi, terus nak Andre kamu kemanakan" ucap yusman yang menepuk pundak Andre.


"Iya ayah iya, udah ibu mendingan istirahat saja pasti ibu capek karena seharian bantuin ayah di empang" Ucap Elisa yang menyuruh ibu segara istirahat.


"Ya udah ibu tinggal tidur ya, kalian juga langsung tidur nanti. Nak Andre ibu titip Elisa ya, jangan di bikin nangis loh. Di jaga, ibu tinggal yah!" ucap Siti kode kertas pada menantunya.


Karena tidak mau melihat putrinya menangis kembali saat ditinggal dirinya untuk kembali ke kamar, Andre hanya menjawab dengan senyuman.


"Iya bu," jawab Andre yang hanya bisa tersenyum.


"Teh, ibu tidur dulu ya kalau ada apa-apa kamu langsung bilang sama ibu" ucap Siti yang belum tega meninggalkan putrinya.


"Iya ibuku tersayang, selamat tidur ibu- ayah" ucap Elisa yang memberikan ucapan.


"Iya selamat tidur juga buat kalian ya. Kalian juga nanti langsung tidur ya dengan baik-baik ya, ibu dan ayahmu kembali kekamar."


"Iya bu" jawab Elisa dan Andre bersama-sama.


"Sudah yuk kita balik ke kamar," ucap Siti pada suaminya.


Setelah orang tua Elisa kembali ke kamar, Andre duduk di tempat yang tadi duduknya ibu Siti sambil menatap istrinya yang seperti habis menangis. Andre tahu jika Elisa nangis gara-gara ucapannya, dimana telah menyakiti hatinya, Andre sadar akan hal itu. Karena sindiran sang ibu barusan, membuat Andre merasa bersalah.


"Mana yang sakit sayang, perutnya masih sakit?" ucap Andre yang memegangi perut Elisa.


"Iya sakit banget," ucap Elisa, pura-pura sakit perut mengiyakan saja. Padahal hatinya yang terluka, tapi tak mau suaminya tahu.


"Ya udah kita balik ke kamar yuk! Nanti Mas pijitin sampai kamu benar-benar tidur, gimana?" ucap Andre yang tak mau membahas apapun.


"Iya," Elisa langsung menurut saja, dia bangkit dari kursi menuju kamarnya. Andre membawa teh anget, sambil berjalan di belakang Elisa.


Sesampainya di kamar, Andre yang baru meletakan teh hangat disamping ranjang, langsung mengambil minyak kayu putih di laci. Elisa yang sudah membaringkan tubuhnya di kasur, Andre yang sedang mengoleskan minyak kayu putih di perut Elisa.


"Mau di minum gak teh ya?" Tanya Andre yang melihat Elisa yang sesekali menarik nafas berat, karena hidung ya mampet gara-gara ingus.

__ADS_1


"Nanti aja masih panas," ucap Elisa yang melihat Andre mengoleskan minyak.


"Yaudah kalau nanti aja, disini sakit kah?" ucap Andre menekan perut Elisa.


"Agak kebawa" ucap Elisa yang menatap Andre yang serius melihat perutnya.


"Disini?" Andre menurunkan tangannya ke bawah pusar, dan menekan bagian perut rahim Elisa yang agak panas di sana.


"Iya, di situ tekan mas. Aduh, enak banget mas pijatnya agak keras ya mas" pinta Elisa yang merasakan pijatan tangan Andre sangat enak.


"Sakit banget yah?" ucap Andre yang langsung menatap Elisa.


"Nggak terlalu si sekarang mah, cuman masih agak nyeri aja" jawab Elisa yang merasakan jika di bawa sana masih terasah nyeri habis di bobol beberapa hari yang lalu.


"Dimana ya masih nyeri?" tanya Andre yang kepikiran hal yang sama dengan Elisa.


"Hmm... Ya perutnya mas" ujar Elisa yang mengalihkan pikiran dia agar Andre jangan merasa bersalah atas tindakannya waktu itu.


"Perutnya atau bagian lainnya" tebak Andre yang membuat Elisa langsung membulat matanya.


"Perut kok, iya perut" ucap Elisa menyakinkan agar Andre tak curiga.


"Apakah kamu yakin jika perut yang sakit, bukan bagian lainnya, ya misalnya kewanitaan kamu yang sakit, kan itu habis disobek" ucap Andre yang mendekatkan wajah pada telinga Elisa, membuat Elisa menoleh kesamping.


"Udah tahu nanya, kamu kan lebih faham itu. Lagian aku sudah gak mau ngomong soal bagian itu, kenapa kamu malah bahas" ucap Elisa yang menyamping menatap Andre.


"Aku minta maaf yah, karena telah menyakiti kamu sayang" ucap Andre yang merasa bersalah.


"Buat apa kamu mengatakan hal itu, kan sudah jadi kewajiban aku melayani kamu" ucap Elisa yang menyatukan keningnya di kening Andre.


"Ya karena itu, aku malah jadi gak sanggup lebih dari itu" ucap Andre yang bangkit kembali, dan melakukan pemijatan kembali.


"Udahlah, itukan Elisa yang mau" ucap Elisa yang menenangkan Andre agar jangan terlalu banyak fikiran soal itu.


"Tetep aja aku juga salah, gak hati-hati saat melakukan yah."


"Kalau mas bilang kayak gitu Elisa semakin kayak gak rela loh."


"Sayang, aku minta maaf lagi ya."


"Buat apa lagi sih, kayak mau lebaran aja minta maaf mulu."


"Kan bentar lagi emang mau bulan suci Ramadan, tahun pertama kita puasa bareng."


"Iya ya mas, gak kerasa udah mau setahun aja kita menikah."


"Hmmm, aku gak bisa melukai pria tampan. Aku cukup lemah dan seketika akan lemes kalau berhadapan langsung sama tipe-tipe begitu."


"Heh? kok bisa gitu! alasan macam apa itu sayang, gak masuk akal benget deh!"


"Iya bisa lah, kan aku suka sama cowok ganteng hehehe..."


"Kamu ini, terus apa lagi yang kamu takutkan selain cowok ganteng? Sama hantu, petir atau lainnya."


"Sama kamu dan Ayah, di dunia ini aku takut 3 hal. Sama Allah, Orang tua dan Kamu" Ucap Elisa yang mengecup pipi Andre.


"Hmm- Elisa, maafin soal ucapanku tadi ya? kamu masih kepikiran itu ya" saat Elisa mengecup ya Andre semakin merasa bersalah, Elisa begitu baik dan seperti sudah melupakan kata-kata itu.


"Iya, kok bisa-bisanya sih kamu memiliki prinsip kayak gitu!"


"Elisa, tolong jangan sekarang ya. Sungguh aku belum punya keberanian dan persiapan, buat menghadapinya."


"Iya baiklah, aku akan memahaminya. Nggak apa-apa pelan-pelan aja, toh gak semua akan berjalan dengan lancar."


"Terimakasih, Elisa. Aku sungguh beruntung bisa memiliki seorang istri yang baik seperti mu, maaf ya selama ini aku selalu merepotkan kamu? dan belum bisa jadi suami kamu yang terbaik, dan belum memenuhi kewajiban aku sebagai suamimu. Maaf aku tidak sempurna, aku juga mau membahagiakan kamu. Aku akan terus berusaha semaksimal mungkin agar aku bisa melihat senyuman bahagia kamu yang manis itu, aku gak bisa buat kamu terus menangis."


"Nggak apa-apa, aku bisa faham sama prinsip dan kemauan kamu. Maafin aku juga karena telah memaksa keinginan sepihak dariku aja, tak memikirkan tentang keadaan kamu."


"Iya sayang gak apa-apa kok. Hmmm... Elisa, aku kepikiran sesuatu deh! Bagaimana bulan depan kita pindah rumah, kita tinggal di rumah ku aja yang dekat pantai itu loh. Kamu suka tempat itu kan, kalau mau nanti kita kesana?"


"Hmmm, gak ah! nanti aja kalau kita punya keluarga sendiri."


"Maksudnya?" Andre kebingungan dengan apa yang di katakan Elisa, belum mengerti.


"Kalau masih berdua kayak gini, mending sama mamah dan papah. Atau sama ibu dan ayah karena gak enak tinggal disana hanya sendirian dirumah, jauh dari pemukiman juga, gak ada orang juga mendingan tempat seperti itu cuman buat liburan aja."


"Begitu ya, hmm okelah! jadi mau liburan kemana? masih mau ke korea?" ucap Andre yang kepikiran liburan mereka yang selalu tertunda.


"Nggak! mau ya ketempat lain aja, Lombok ke atau bali atau tempat wisata lainnya."


"Masih di Indonesia? nggak mau di luar negeri?" Tanya Andre yang membuat Elisa kepikiran lagi jika di luar negeri Andre akan di incar lagi.


"Iya nggak apa-apa, kalau di luar negeri takutnya banyak musuh kamu. Trauma ah kalau nanti lagi asik-asik liburan terus tiba-tiba ada yang datang terus bikin keributan, di Indonesia cukup aman kan" ucap Elisa yang mengingat kejadian buruknya saat diluar negeri.


"Yaudah, kita rencanain aja sekarang." ucap Andre yang langsung mengikuti keinginan.


"Lusa gimana?" Elisa yang sangat antusias sekali dengan ajakan suaminya itu.

__ADS_1


"Lusa ya, oke! Kemana tujuan ya nyonya?" ucap Andre yang langsung berfikir sejenak.


"Aku boleh lihat tempatnya gak!" Elisa yang langsung meminta izin karena dia tidak tahu tempat-tempat wisata sekarang.


"Boleh, banget" Andre yang langsung mengiyakan saja apa yang di inginkan istrinya.


"Bener nih? asiiik!" sangat senang sekali suaminya sendiri yang mengajak jalan-jalan berdua.


"Iya sayangku, sok mau kemana, coba kamu list dulu." ujar Andre menyuruh istrinya pikirkan lokasi yang dia inginkan.


"Mana hp ku?" sambil mencari phonselnya, Andre langsung mengambilkan hp Elisa.


"Ini, mau kemana?" ucap Andre seraya memberikan hp Elisa.


"Eh lupa gak ada kuota, pake hpmu mas."


"Kebanyakan nonton film gitu jadinya kehabisan."


"Ha-ha-ha maafin ya mas, habis gak kuat kalau gak nonton drama orang ganteng."


"Suamimu ini kurang apa coba?" Andre agak cemburu jika istri terlalu fokus jika lagi nonton film.


"Kurang romantis aja." sindiran keras bagi Andre, langsung dapat pelukan erat dari Andre.


"Oke, mau romantis gimana? Aku jabanin deh!" ucap Andre yang menantang istrinya.


"Hmmm kalau bikin anak gimana? apakah masih mau jabanin tuan Andre Azzam Arafif?" ucap Elisa yang menanggapi dengan berbau tidak baik.


"Eh, soal itu. Tapi sekarang kan kamu lagi haid, jadi tak bisa aku jabanin" ucap Andre ngelepiti.


"Oke! Kalau nanti Elisa sudah selesai, apakah mau gas pol. Jangan kasih kendor, gimana Tuan?" ucap Elisa yang semakin tak mau kalah.


"Emang gak akan nyeri nanti kamu, punya ku cukup gede loh bahkan lebih lagi, ini aja kamu masih kesakitan kan?" ucap Andre yang merasa tertantang dengan ucapan Elisa tersebut.


"Iya si tapi..." ucapan Elisa yang belum kelar langsung di potong oleh Andre.


"Nanti aja, kalau kamu udah membaik kita rencanain lagi yah!" ucap Andre yang menenangkan Elisa.


"Nggak bisa gitu, aku gak mau lama-lama" ucap Elisa.


"Yaudah gimana kalau sebulan sekali saja aku servisnya." ucap Andre yang gak mau Elisa merasa sakit begitu.


"Gak mau, Elisa maunya setiap malam di kasih servis sama kamu" ucap Elisa yang langsung menatap manja.


"Apa! setiap malam, gak bisa kayak gitu konsep dari mana itu." Andre syok dengan apa yang dikatakan Elisa.


"Dari aku, bolehlah mas aku mau setiap malam kamu sering servis." ucap Elisa yang tangannya udah nakal.


"Sebulan 6 kali deh!" Andre malah memberikan penawaran.


"Seminggu 3x itu keputusan terakhir dari aku gimana mas?" ucap Elisa yang menantang.


"Jika seperti itu, maka bisa di hitung sebulan bisa ada 10 kali bahkan bisa lebih dong! sayang, gak bisa gitu" ucap Andre yang menolak mentah-mentah.


"Iya harus, kamu jangan nolak terus dong! Itu sudah keputusan akhir aku. Kalau gak, yaudah gak akan aku kasih jatah gimana?" ucap Elisa.


"Oke, gak apa-apa. Malah itu lebih bagus!" Andre malah kegirangan.


"Eeeh gak jadi, yaudah mau gimana mas ya?" ucap Elisa yang berubah pikiran.


"Sayang kalau setiap malam terus 3x seminggu. Terus bagaimana kalau aku nantinya kalau ke luar negeri, terus kamu gak ada di samping aku" ucap Andre yang kepikiran kalau dia harus bolak baik luar negeri.


"Iya juga yah! Hmmm... kalau ketemu aja, deh mas, ya mas. Lakukan servis, kamu mau yah jangan ogah-ogahan padahal kamu demen kan soal itu, Cih pura-pura jual mahal." ucap Elisa yang sinis.


"Terserah kamu deh! aku pusing, kalau harus debat sama kamu kok kamu nafffsu begitu si sayang, aku jadi gak habis pikir sama kamu." ucap Andre yang kebinggungan.


"Aku meessumm banget ya mas, habis kamu susah banget di ajak kerja samanya" ucap Elisa.


"Iya, udah iyah sekarang kamu mejemin mata yah terus tidur" ucap Andre.


"Teh ya gimana?"


"Sok diminum dulu, terus kita tidur."


"Pelan-pelan minumnya ini masih anget."


"Iya mas."


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Selasa 20 Desember 2022

__ADS_1


__ADS_2