PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
99. Dia Pulang.


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini banyak prajurit dari Andre yang sudah di pulangkan dengan keadaan yang luka-luka, dari mulai yang ringan hingga yang sedang, untungnya cuman Alex saja yang agak parah lukanya. Selebihnya hanya luka ringan dan sedang, Andre disana belum di ketahui apakah masih hidup atau mati, apakah terluka atau tidak. Karena prajurit terpercaya sudah pada pulang. Andre selalu mengatakan pada pasukan bahwa dia dalam kondisi baik, tidak ada yang tahu soal kondisi dari Andre entah itu terluka atau tidak, karena ingin menutupi lukanya agar pasukan ya tidak khawatir dan selalu fokus dalam pertempuran.


Disisi lainnya, Elisa yang di sibukkan dengan merawat banyak orang yang terluka, tak jijik atau muak Elisa dengan sabar dan telaten merawat mereka walau bau obat dan darah begitu sangat menyengat dihidung.


"Elisa, kamu mendingan pergi ke ruang pemulihan saja, biar di sini papah yang jaga" ucap Arafif yang mendatangi menantunya.


Arafif yang melihat Elisa berusaha sangat keras sejauh ini hanya untuk menebus dosa yang pernah di lakukan oleh dirinya, walau sudah semaksimal mungkin Elisa untuk terlibat dirinya menjadi tenaga relawan.


Karena sudah beberapa hari ini istirahat Elisa tidak teratur gara-gara harus merawat para prajurit-prajurit yang terluka. Elisa langsung pergi meninggalkan tempat, sesuai apa yang di katakan oleh Arafif.


Saat dirinya keluar menuju tempat yang di tujuh terlihat sebuah helikopter mendekati lapangan disana, dan sudah ada pasukan medis dari Alea dan Keyshu sudah menyambut kedatangan mereka.


"Itu pasti orang-orang yang terluka lagi yang mereka bawa pulang, apakah masih banyak? Lalu apakah masih perang. Berapa lama mereka akan berperang seperti jaman penjajahan saja, tak ada habisnya lalu kapan merdekanya" ucap Elisa yang saat ini berjalan menuju tempat.


Dari arah belakang ada suara yang tidak asing ia dengar, itu adalah suara adiknya azril.


"Teteh!" Panggil Azril seraya berjalan agak cepat kearah tetehnya.


"Mas Andre sudah pulang, kenapa teteh tidak menemuinya?" Ujar Azril yang memberikan informasi.


"Kamu serius, kapan?" Elisa agak kaget mendengarnya.


"Itu helikopter yah" ujar Azril yang melihat sebuah helikopter lainnya yang akan mendarat.


Elisa buru-buru saja pergi ke lokasi yang dimana ada lapangan pendaratan helikopter, Azril yang mengikuti dari belakang. Setelah sampai disana terlihat beberapa orang yang keluar dari dalam helikopter yang terlihat beberapa orang terluka, Elisa dengan sangat cemas dan khawatir matanya sibuk mencari sosok pria yang ia rindukan.


Keluarlah Andre dengan menopang tubuh seorang rekannya di bantu Xeverio yang disebelahnya, terlihat Andre juga terluka cuman ia sembunyikan dari semua orang agar tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Teh, itu mas Andre. Teteh nggak jemput Mas Andre? kayaknya mas Andre kesulitan tuh, bawa barang sambil menopang tubuh orang begitu" ujar Azril yang menyarankan agar tetehnya yang berinisiatif untuk menghampiri suaminya yang baru pulang dari medan perang.


Tapi Elisa tampak sangat canggung untuk mengahadapi situasi dimana suaminya yang saat ini masih berwajah masam, tak terlihat dia bahagia. Itulah yang di pikirkan oleh Elisa, karena takut jika Andre akan sangat marah dan semakin menyalahkan dirinya atas para prajurit yang banyak terluka.


"Dia bisa melakukan itu Azril, tanpa bantuan ku. Karena dia tak akan membutuhkan bantuan orang yang telah membuat masalah baginya, aku takut jika aku ke sana dia akan ilfill saat melihat ku, semua orang yang terluka itu gara-gara teteh. Jadi teteh takut jika dia akan semakin marah jika teteh mendatangi ya, teteh takut jika mas Andre tambah nggk suka dan kesal dengan teteh" ucap Elisa yang punya rasa yang sangat khawatir jika suaminya akan tambah membenci yah.


"Kenapa Teteh bisa berpikir seperti itu?" ujar azril yang sangat gemas sama tingkah laku keduanya.


"Kamu juga nggak kenal Mas Andre terlalu lama kan, sama aku juga. Bahkan dia pria yang cukup tertutup walau pada istrinya sendiri, entahlah aku ini dianggap istrinya atau nggak atau hanya lampionnya yang dia pajangan di atas lemari, kamu juga nggak tahu seperti apa dia" ucap Elisa yang saat ini agak kesal dengan hal itu jika di ingat-ingat.


"Walau seperti itu Mas Andre tetaplah suami teteh, dan masih tanggungan teteh sebagai istrinya. Nggak baik teteh bilang kayak gitu, walau status Azril adik ya teteh gak boleh jelek-jelek suami teteh sendiri begitu" Azril mulai berpidato kembali membuat Elisa terdiam sejenak.


"Aku tahu zril, tapi mau gimana lagi Teteh takut jika Mas Andre akan tambah marah" Elisa sangat takut akan hal itu, kecemasannya pada sikap Andre yang akan berubah terhadapnya.


"Teteh kan belum mencobanya, lalu kenapa sudah langsung menyimpulkan seperti itu, jangan pesimis dulu dong teh, di coba saja dulu berdoanya jangan kayak gitu, berdoalah agar mas Andre gak akan marah lagi dan mas Andre gak nyuekin teteh lagi, jadi sebelum mencoba jangan katakan hal konyol seperti itu, karena belum tentu mas Andre seperti yang di katakan teteh" protes Azril yang tidak terlalu suka dengan apa yang dikatakan oleh tetehnya.

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi, kan dia pergi saat kondisi hubungan kami tidak baik, dan dalam amarah yang memuncak. Apa lagi saat dia kembali kesini lalu melihat para pasukannya terluka begini, apa nggak nambah marah dia?" ketakutan Elisa akan suaminya yang akan tambah-tambah membencinya.


"Dicoba aja dulu teh, temuin mas Andrenya. Ayo dong jangan kayak anak kecil gitu, mau sampaikan teteh kayak gini gak akan ada habisnya jika teteh uring-uringan kayak gini dan sama-sama kuat-kuatan ego, inget loh teh masih ada tanggung jawabnya teteh sebagai seorang istri, cepat sana temui mas Andre" ucap Azril yang mendorong-dorong pelan tetehnya.


Akhirnya Elisa mengikuti apa yang dikatakan oleh adiknya karena paksaan sang adik, dengan langkah yang berat rasa ketakutan jika suaminya akan emosi saat melihatnya datang. Elisa melangkah mendekati lapangan, saat sudah hampir dekat dan disana juga terlihat ada Keyshu yang juga dengan tenaga medis yang sudah bersiap-siap membawa beberapa tandu untuk yang terluka. Saat Elisa sudah berhadapan dengan suaminya mata mereka memang saling bertatapan, tapi tiba-tiba Elisa langsung menghindari tatapan Andre, dan langsung mengambil prajurit yang terluka di sebelah Andre, Xeverio yang juga terluka langsung di bantu oleh Keyshu.


Azril yang melihat itu hanya tepok jidatnya karena geram dengan apa yang dia lihat, sikap canggung yang ditunjukan oleh kedua kakaknya membuat Azril sangat kesal sendiri sebagai orang yang ingin menyatukan keduanya.


"Paman aku akan membawanya ke ruang rawat ya?" ujar Elisa yang langsung menangkap tangan seorang wanita yang terluka, Elisa menopang tubuh si wanita dengan tergesa-gesa dalam berjalan menghindari suaminya.


"Ouh iya, kamu bawanya hati-hati ya Elisa. Kalau berat minta bantuan teman agar bisa sampai dengan selamat" ucap Keyshu.


"Kak Elisa terlalu memaksakan dirinya, bahkan aku gak tahu kapan dia makan dan istirahat" ucap Alea yang sengaja mengatakan agak keras agar di dengar oleh Andre.


Andre hanya bisa menatap kepergian Elisa yang dibantu oleh seseorang untuk menopang tubuh pengawal wanitanya, sedangkan Azriel hanya melihat keduanya saja yang tampak canggung dan tidak saling menyapa itu.


Azril agak kesal dan merasa di kecewa kan dengan apa yang di lihatnya saat ini, teteh dan mas ya malah seperti orang asing tak saling kenal membuat geram Azril yang saat ini kesel.


"Aduh Teteh kenapa jadi kayak gitu sih, itu tidak sesuai ekspektasi ku, kok malah acuh tak acuh begitu sama Mas Andre. Lalu kenapa juga mas Andre malah lebih kaku dari sebelum mereka menikah. Aaah- gak tahulah aku binggung jadinya sama mereka, kok bisa ya mereka diem-dieman begitu. Aku merasa jika mas Andre ingin bicara dengan teteh, tapi entah mengapa seperti ada tembok pembatas diantara keduanya. Hemm- kalau kayak gini masa iya aku juga yang harus turun tangan untuk menyelamatkan hubungan mereka. Ampun deh! Kapan bisa kalian akur sih, kalau kayak begini, teteh dan mas Andre terlihat seperti anak ABG yang baru masa puber tahu gak sih."


Malam harinya Andre yang baru bisa masuk kamar dan akan membersihkan diri, masuk kamar mandi. Melihat pakaiaaan dalam Elisa yang di jemur di kamar mandi, membuat Andre kaget.


"Astaghfirullah, ini kenapa harus di jemur di dalam kamar mandi sih?" gumam Andre yang kaget melihat pemandangan itu.


Andre mengolesi obat pada lukanya sendiri, hingga suatu ketukan sebuah pintu yang membuat Andre terhenti dan menatap pintu yang saat ini dia kunci. Buru-buru saja Andre pakai baju takut jika Elisa yang akan masuk kedalam kamar, saat di buka pintunya ternyata itu adalah adik iparnya.


"Azril?" saat Andre membuka pintu kamarnya terlihat Azril yang sudah berdiri tegap disana.


"Mas Andre sedang sibuk nggak?" tanya Azril yang berhati-hati dalam mengucapkan.


"Nggak sih, ada apa" ucap Andre yang langsung di tanggapi dengan santainya.


"Mas kita ngobrol sebentar yuk! Aku tahu mas pasti capek karena habis nugas, tapi aku gak bisa nunggu lebih lama lagi buat ngomong ini" ucap Azril.


"Baiklah, mari masuk dulu" Andre mempersilahkan Azril adiknya masuk kedalam kamar.


"Gak usah, kita bicara di luar aja lebih enak" ucap Azril yang tidak enakkan.


"Gak apa-apa, kamu masuk aja dulu lagian Elisa gak ada" Andre membuka pintu kamar agak lebar.


"Iya tadi teteh masih di ruang perawatan lagi bantu-bantu di sana, kondisi mas Andre gimana? Apakah mas terluka?" tanya Azril yang perhatian.


"Ya seperti yang kamu lihat sekarang gimana?sudahlah jangan kamu hiraukan. Lalu ada apa zril, kamu mau ngobrol soal apa?" tanya Andre yang agak penasaran.

__ADS_1


"Mas, jangan tersinggung atau marah ya. Aku mau tanya soal hubungan antara kalian akhir-akhir ini kayaknya gak akur yah? Apakah ada masalah, hmph! Aku bukan ya ikut campur urusan rumah tangga teteh aku, tapi aku gak bisa lihat kalian seperti ini. Mas jujur apakah teteh ku membuatulah lagi ya yang membuat mas Andre jadi agak kesal dengannya, dan tidak bisa di maafkan dengan mudah, makanya mas Andre pergi tanpa pamit sama teteh" ucap Azril yang sangat berhati-hati.


"Tidak juga, sudahlah jangan bahas soal itu biarkan itu jadi urusan kami zril. Apakah kamu datang hanya ingin mengatakan hal itu?" tebak Andre yang tepat.


"Hmmm- iya mas, aku gak bisa lihat kalian seperti ini. Ibu dan Ayah sangat khawatir sama kalian, semenjak teteh pergi ke New York dan bilang bahwa dia kabur dari mas Andre, kami semua sangat khawatir. Makanya aku kesini menyusul teteh, ingin melihat keadaan ya" ujar Azril.


"Zril, kamu tenang aja yah. Soal hubungan aku dan Elisa akan baik-baik saja kok, mungkin butuh waktu buat kita menyesuaikan diri satu sama lainnya. Kadang kala dalam hubungan pasti akan ada yang namanya pertengkaran, karena perbedaan pendapat itu sudah bisa, apa lagi kita sama-sama baru kenal tidak ada masa pacaran atau Pdkt, wajar jika kita suka berdebat dan inilah ujian bagi kita berdua untuk belajar menerima kekurangan dan kelebihan dari pasangan, hal seperti ini selalu datang. Jadi kamu gak usah khawatir yah, dan jangan bilang ke ibu dan ayah soal kita sedang gak ngomong satu sama lainnya."


"Iya mas, aku tahu itu sebabnya kenapa kalian tidak menyelesaikan semua ini, kanapa malah kalian saling berjauhan dan seperti orang asing tak kenal satu sama lainnya."


"Zril tadi aku ingin bicara dengannya tapi tetehmu sendiri yang menghindari ku, seakan dia takut padaku" ucap Andre yang menyadari bahwa istrinya punya rasa ketakutan pada dirinya.


"Teteh bilang dia takut pada mas Andre? Takut jika mas Andre akan lebih marah padanya soal kejadian kali ini, teteh merasa bersalah sekali pada mas Andre dan pada para pengawal."


"Hmph! Begitu, dia merasa bersalah yah? Lalu apakah dia mengatakan sesuatu lagi setelah itu?" Andre ingin mendengar lebih banyak.


"Makanya mas Andre sendiri saja yang tanya, aku permisi" ucap Azril yang langsung pergi dari tempat.


Elisa yang tidak kembali ke kamar karena tidak mau bertemu dengan suaminya di sana, sedangkan Andre sedang ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang di suatu tempat.


"Elisa, kamu sebaiknya istirahat saja nak. Ini sudah malam, kamu mendingan tidur. Kamu sudah membantu banyak hari ini" ucap Arafif yang membangunkan Elisa yang tidur sambil duduk di kursi.


"Iya Pah, nanti aja lagian masih banyak tugas Elisa di sini" ucap suara parau elisa.


"Sudah biar di sini gantian sama yang lainnya, masih banyak perawat yang akan membantu, kamu sudah beberapa hari ini membantu. Jangan memaksakan diri nak nanti kamu bisa sakit, dan nanti Andre akan marah sama papah jika tahu kamu sakit gara-gara bantuin di sini terlalu keras." ucap Arafif yang khawatir pada kondisi Elisa nantinya.


"Iya Pah, Elisa pergi dulu ya pah" ucap Elisa yang langsung bangkit dari kursi keluar dari kamar rawat.


Di jalan karena matanya ngantuk jadi sempoyongan jalan, hingga ada tangga tidak jelas di lihat dan Elisa terjauh hingga kakinya lecet dan berdarah.


"Aaahhh! Aduhhh! Sakit, ini gara-gara mataku ngantuk. Jadi gak liat ada tangga, aduh! Kayak yah kaki aku terkilir deh? gimana ini, aku gak bisa jalan nih" Dumal kekesalannya.


Elisa berusaha keras untuk bangun, walau kakinya sakit karena tersandung itu. Sambil berpegangan pada penyangga jalan dan pilar-pilar lorong, Elisa jalan terkati-kati.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Jumat 18 November 2022.

__ADS_1


__ADS_2