
Di dalam kamar Elisa yang akan bersiap untuk tidurpun, sedang merapikan bantal lalu saat melihat Andre yang baru keluar dari kamar mandi, pura-pura tidak melihatnya, langsung menarik selimutnya tinggi-tinggi dan memunggungi Andre.
"Sayang, kamu masih marah sama aku. Jangan lama-lama kalau ngambek, Yang! Beneran nih ceritanya kamu marah. Mas kan sudah bilang, jika mas kesana karena soal kerjaan, dan gak akan lama juga disana" ujar Andre yang masih membujuk istrinya.
"Nggak! Ini sudah malam, kamu harus segera tidur. Nanti besok kamu berangkat bisa telat, bukanya pakai pesawat umum" Ujar Elisa menarik selimutnya, hingga Andre tidak mendapatkan bagiannya.
"Kamu kalau kayak gini itu artinya beneran marah loh, sampai selimut aja kamu kuasa sendiri begini, mas bisa kedinginan" ujar Andre yang masih berusaha membujuk istrinya.
"Kalau kamu kedinginan tinggal kamu matiin aja AC ya, ribet banget" ucap Elisa yang masih basah judes.
"Ya kalau di matiin gerah lah sayang" ucap Andre yang berusaha semaksimal mungkin.
"Kamu ini aneh banget sih, udah malam mau ya berdebat mulu mau kamu apa sih, kalau kamu mau selimut yaudah nih aku kasih" ucap Elisa yang melempar selimut ke Andre, lalu Elisa bangkit dari ranjang menuju kamar pakaian.
"Bukan begitu!" Andre yang ikut bangkit dari ranjang mengekor dibelakang Elisa.
Sedangkan Elisa mengambil selimut lainnya di lemari, dan menuju sofa. Elisa langsung menjatuhkan tubuhnya disana, Andre hanya bisa mematung di tempat.
"Sayang, kok kamu malah tidur di sini. tempat inikan kecil, di ranjang aja jangan di sofa kamu nanti bangunnya pada sakit loh, apa lagi nanti kamu bisa jatuh" ucap Andre yang cerewet.
"Lagian yang jatuh kan aku, yang merasa sakit juga aku, terus juga kalau jatuh ke bawa gak ke atas" ucap Elisa yang masih aja jutek nada yang sangat dingin dan sinis.
"Iya, aku tahu kalau jauh emang ke bawah. Tapikan pasti sakit rasanya, Yang" Andre yang berusaha untuk membujuk Elisa yang lagi ngambek.
"Kan yang sakit aku, yang jatuh juga aku kenapa mas yang repot" ucap Elisa.
"Tentu saja mas yang repot kalau kamu sakit, kan mas yang jadi dokternya nanti" ucap Andre.
"Bodoh amet" ucap Elisa yang tidak mau mempedulikan kata-kata Andre lagi.
Elisa yang memunggungi Andre yang berdiri di sisinya, Elisa menarik selimut dan memejamkan matanya, menghadap ke penyangga sofa.
"Sayang! Yang, sayang. Elisa, Sudahlah jangan ngambek-ngambek begini! gak lucu, Elisa... kamu sudah tidurnya?" ucap Andre yang melihat Elisa yang sudah terlelap tidur.
Tak pikir panjang Andre langsung menggulung tubuh Elisa dengan selimut yang menyelimutinya, mengangkat Elisa ke ranjang, sesampainya di ranjang. Andre langsung tidur di sampingnya sambil memeluk erat, Elisa sebenarnya belum tidur. Jadi masih bisa merasakan jika Andre mengendong dan membawanya ke ranjang, Elisa tersenyum tipis.
Keesokan paginya, Elisa yang sudah pergi pagi-pagi sekali tak ada yang tahu jika Elisa menyelinap keluar, hingga Andre yang tidur di sampingnya saja tidak sadar jika Elisa pergi. Andre mencari ke beranda Elisa saat ini, tapi tak ada dimana pun.
"Loh Dre kamu belum siap-siap bukannya kamu akan pergi?" tanya Monika.
"Iya mah, tapi kemana Elisa. Ku pikir Elisa lagi di dapur tadi aku cari gak ada?" Andre yang dari subuh sudah aktif mencari Elisa.
"Mungkin lagi ke pasar sama mina, atau sama leha" ucap Monika.
Begitu ya, pas di lihat semua orang yang dikatakan oleh Monika semua lengkap di dapur. Andre semakin gusar mencari Elisa, hingga seisi rumah di tanyain.
Datanglah supir pribadi keluarga Arafif yaitu pak Sofyan, dengan mobil hitamnya.
"Pak Sofyan, tahu Elisa gak?" ucap Andre yang baru keluar rumah.
"Lah bapak kan baru nyampe sini den. Nih baru saja keluar dari mobil, jadi mana bapak tahu atuh!" ucap Sofyan yang memang baru sampai tersebut.
Andre mendatangi pos satpam di depan perumahannya disana hanya ada pak Ridho yang baru datang.
"Pak Ridho tahu istri saya gak?" tanya Andre yang cepat.
"Walah gak tahu pak, saya kan shift pagi. Ini saja saya baru datang, coba nanti saya nanya sama pak iman yang tadi jaga malam" ucap Ridho.
"Ouh gitu ya, yaudah terimakasih pak. Kalau ada kabar tolong hubungi keluarga kami ya pak" ucap Andre.
"Iya pak, saya akan kabari setelah bisa menghubungi pak imam" ucap Ridho.
Andre pergi dari sana kembali ke rumah dia khawatir jika Elisa itu di culik lagi, karena Elisa sedang rawan untuk di culik sama orang-orang yang tidak di kenal semenjak wajah Elisa muncul di publik.
"Kemana perginya? masa iya gara-gara marah dia kabur. Elisa bukan wanita seperti itu" ucap Andre yang bergumam.
Disisi lainnya Monika sedang memarahi semua Asisten Rumah Tangganya karena tak ada yang tahu di mana Elisa, Monika semakin di buat panik juga akan hal tersebut.
"Beneran diantara kalian semua gak ada yang tahu di mana Elisa? mungkin kalian sempat tanya dia akan pergi kemana?" ucap Monika.
"Kami tidak tahu nyonya sama mba Elisa, lagian kami kan waktu itu sudah tidur" ucap mina.
"Iya nyonya kami gak tahu di mana mba Elisa pergi!" sambung ART lainnya.
__ADS_1
"Aduh kemana ya, ini gara-gara Andre jadi Elisa ngambek kan" Dumal kesal Monika.
Andre datang tapi tak membawa kabar baik, karena dia tak bisa mendapatkan info apapun atas hilangnya Elisa.
"Ouh! Andre kamu sudah kembali nak. Jadi gimana Dre, ketemu?" tanya Monika penuh harapan.
Andre menggelengkan kepalanya tanda tak ada info apapun yang dia dapatkan, Andre merasa sangat frustasi dengan hal tersebut.
"Nggak mah, gak ada yang tahu Elisa pergi kemana? Andre sampai tanya ke pos satpam depan tetep saja gak ada yang tahu" ucap Andre.
"Yaudah kamu siap-siap saja dulu, bukanya kamu akan pergi ke prancis"
"Andre gak tenang mah, takut Elisa di culik lagi. Jadi Andre ragu jika harus pergi ke Prancis, karena aku khawatir sama kondisi Elisa, apa lagi tahu jika hilang begini"
"Andre, coba kamu telfon orang tuanya. Barang kali Elisa lagi main ke rumah orang tuanya, coba kamu telfon sana"
"Iya mah" Andre menurut mengambil hp dan menekan tombol nomer ayahnya, tapi tak di angkat, jadi nelfon adik iparnya.
TUT TUT TUT
"Assalamualaikum, zril ini mas... Ada Teteh kamu di rumah... Nggak ada, kemana ya zril, dari subuh mas cariin gak ada di mana-mana... Semalam dia masih ada, masih sempet ngobrol... Iya coba kamu lacak ya... Gimana zril?... Heh? apa! Bandara... Bandara mana?"
Andre syok karena Elisa ternyata pergi ke bandara, membawa semua pasukannya, bahkan Glenn juga ikut dengannya. Menelfon Glenn, yang sekarang ini akan masuk ke pesawat.
"Hallo Glenn, kau dimana? masih di markas kah?... Lalu sekarang kamu berada dimana, lokasih tepat mu... Bandara, kebetulan atau kamu sudah tahu jika Elisa hilang... Apa New York... Kenapa kesana? ada apa?... Apa yang akan di lakukan oleh Elisa disana... Baiklah nanti kamu kabari lebih lanjut ya... Aku tutup telfonnya"
Andre menutup panggilan teleponnya, Monika mendekati Andre karena sangat penasaran dengan isi percakapan mereka. Andre masih tetap diam sebentar karena ingin mencermati dulu apa yang di katakan oleh Glenn, dari suara nada Glenn yang penuh tekanan Pasti dia mengangkat panggilan dengan sembunyi-sembunyi dari Elisa. Karena takut ketahuan oleh Elisa, Andre masih curiga dengan semua ya, alasan Elisa yang pergi secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun dan hanya membawa beberapa perlengkapan.
"Gimana? Apakah kamu dapat info lanjutan" tanya Monika.
"Mah, katanya Elisa pergi ke New York. Dia ingin menyelesaikan sesuatu, tapi apa?"
"Jangan-jangan masalah soal yang waktu itu, itu saat kalian pergi tanpa pesan, apa lagi soal kejadian keracunan juga, mungkin itu ada hubungannya dengan perginya Elisa ke New York" tebak Monika.
"Bisa jadi si mah, Andre harus pergi ke sana!" ucap Andre.
"Tunggu Andre, jangan dulu kamu menyusul Elisa, kamu selesaikan saja semua urusan kamu yang ada di Prancis setelah itu, baru kamu menyusul Elisa ke sana" saran Monika, agar Elisa tidak curiga juga.
"Baiklah" ucap Andre yang langsung mengerti.
"Hmm iya mah, jangan khawatir. Aku pasti bisa kok memisahkan masalah pribadi dan kerjaan" ucap Andre.
"Yaudah jaga kesehatan kamu. Ouh ya! Andre, Semalam kamu dan Elisa gimana sebelum Elisa pergi diam-diam gini, apakah sempat bertengkar?" tanya Monika sangat penasaran.
"Iya gitulah, susah mengerti kalau udah kayak gini. Bantuin doa ya mah, bujuk Elisa juga" ucap Andre yang meminta bantuan Monika.
"Iya kamu tenang saja, yaudah sana pergi. Jam berapa penerbangan ya?" tanya Monika.
"Jam 9 mah, tapi aku gak tenang mah" ucap Andre yang masih tak bisa menenangkan rasa khawatirnya.
"Oke! hati-hati di jalan. Udah nak, kamu percayakan saja sama Elisa dan Tuhan" ucap Monika menenangkan pikiran Andre.
"Iya mah" berusaha semaksimal mungkin untuk tenang.
"Udah kamu gak usah khawatir soal Elisa, nanti juga ngambeknya ilang terus dia akan baik-baik saja di sana, nanti kalau dia udah kangen juga nanti sama kamu lagi kok" ucap Monika.
Di dalam pesawat pribadi, Elisa duduk berhadapan dengan Glenn. Elisa duduk dekat jendela untuk melihat pemandangan di luar. Elisa berangkat dengan 50 pengawal pribadi, naik pesawat mewah.
"Glenn, aku harus menemui Aoda dulu, aku gak tenang terus kepikiran sama kondisi ya saat ini, semenjak itu aku belum mengunjunginya. Aku ingin tahu keadaannya" ujar Elisa tatapan masih ke arah hamparan awan putih.
"Baik Nyonya, perjalanan kesana harus mengunakan jalur udara atau air. Karena terletak di pulau, jadi hanya bisa naik helikopter dan kapal" jawab Glenn.
"Terserah kita gunakan apapun yang penting nyempe di tujuan dengan selamat" ucap Elisa yang tidak terlalu perduli.
"Baiklah, kita akan gunakan pesawat ekspres JJ 121, karena hanya pesawat itu yang super cepat" ucap Glenn.
"Sama aja semua jenis pesawat, apapun jenisnya dan mereknya itu, entah super x 100 kek atau apalah terserah kalau pilotnya bodoh gak bisa nerbangin pesawat, semua itu percuma gak ada artinya, entah pesawat itu semewah, atau secepat apapun juga akan sama hasilnya"
"Iya anda benar nyonya, makanya pilotnya saya datangkan yang terbaik, sudah terlatih. Kami memikirkan keselamatan anda, makanya kami pilihkan untuk agar cepat sampai di tempat tujuan yang Nyonya inginkan dengan selamat"
"Iya, atas seizin Allah juga. Udahlah nggak usah banyak bacot, jangan banyak iklan yang penting kita cepetan nyampe, aku nggak mau lama-lama di dalam sini" ucap Elisa.
"Baik Nyonya, siap laksanakan perintah" ucap Glenn.
__ADS_1
"Saya ingin tidur dulu, bangunkan aku jika sudah sampai di tujuan yah" ucap Elisa seraya mencari posisi enak untuk merebah tubuhnya.
"Baik nyonya selamat istirahat" ucap Glenn yang bangkit dari kursi, dan pindah ke bagaian belakang dimana para pengawal berkumpul.
Setelah sampai di tujuan, karena pesawat yang di tunggangi mereka cukup besar tak ada tempat pendaratan, makanya mereka turun di bandara dekat pantai. Disana juga sudah tersedia kapal kecil yang siap berlayar, karena kapal itu hanya cukup 2 sampai lima orang makanya para pengawal Elisa tak ikut ke markas Misterius itu.
"Nyonya Elisa, disinilah tempatnya" ucap Glenn yang membantu Elisa untuk turun dari kapal tersebut.
Mereka masuk kedalam langsung ke ruang rawat di mana Aoda berada. Setelah Glenn bertanya pada penjaga, bahwa Aoda belum lama ini baru siuman.
"Nyonya katanya Aoda baru saja siuman beberapa hari yang lalu"
"Begitukah, syukurlah" Elisa sangat gembira mendengar hal tersebut.
Sesampai di kamar rawat Aoda yang masih terbaring lemah di atas ranjang, melihat Elisa datang ingin bangkit memberikan salam hormat cuman Elisa larang.
"Tidak usah bangun Aoda, kamu berbaring saja di sana, tidak usah memberi hormat secara formal"
"Maafkan saya nyonya"
"Tidak apa-apa, aku datang ke sini hanya untuk menjengukmu, bagaimana kondisimu"
"Sudah agak lebih baik nyonya, terima kasih atas kebaikan anda"
"Tidak usah terima kasih, semua itu salah saya juga. Gara-gara kamu ingin melindungi saya kamu jadi seperti ini, aku minta maaf ya, cepatlah sembuh Aoda"
"Iya nyonya Elisa, saya akan segera pulih kembali" ucap Aoda.
Elisa yang sudah menjenguk Aoda, langsung akan pergi lagi karena masih banyak urusan yang harus dia selesaikan. Dia tak mau terus-menerus kabur dari masalah, makanya ia memberanikan diri untuk menyelesaikan semua, demi menyelamatkan tahta ANDRILOS.
Terlihat ada Zever dan Xeverio yang berjalan berlawanan dengan Elisa dan Glenn yang baru keluar dari ruang rawat.
XEVERIO : Bukannya itu istrinya Andre ya, tapi ngapain dia ada di sini?
ZEVER : Mana aku tahu, coba sana kamu tanya. Mungkin saja dia datang sama Andre, dan ada urusan dia sini.
XEVERIO : Lah, kok aku sih. Istrinya Andre itu tidak bisa pakai bahasa kita. Bagaimana aku bisa berkomunikasi dengannya.
ZEVER : Lihat di sampingnya ada Glenn kan, Pasti ada Andre.
XEVERIO : Kenapa bukan kau saja yang bicara dengannya, kenapa harus aku yang bertanya dengan mereka.
ZEVER : Bukannya kau yang pertama melihatnya.
XEVERIO : Baiklah-Baiklah aku akan bicara dengan mereka.
Saat mereka sudah dekat berpapasan, Glenn memberi salam pada ke dua saudara itu, dengan membujuk setengah badannya.
XEVERIO : Glenn, kau ada di sini.
GLENN : Iya, salam hormat pak.
ZEVER : Ada apa kau datang kemari. Apa Andre dalam masalah.
GLENN : Tuan tidak datang kemari, saya hanya datang karena mengantar Nyonya untuk bertemu dengan Aoda.
ZEVER : Lalu dimana Andre, sekarang.
GLENN : Tuan sedang pergi ke Prancis, bersama Tuan Brandon.
XEVERIO : Jadi dia meninggalkan istrinya di sini.
GLENN : Tidak, emang datang hanya berdua saja nyonya ingin mampir kesini dulu ingin menjenguk Aoda, setelah itu kami akan pergi lagi ke New York, karena ada masalah yang ingin Nyonya selesaikan di sana.
ZEVER : Ouh gitu! apakah masalah yang serius?
GLENN : Mungkin, aku tak akan ikut campur masalah pribadi nyonya, pak Zever.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
JUMAT 14 Oktober 2022