
Pagi cerah Elisa yang sedang belajar jalan dengan Andre yang dengan sangat sabar dan telaten merawat Elisa hingga sampai sembuh. Karena hari sudah mulai siang, matahari juga sudah terik Andre mengajak Elisa untuk pulang ke rumah. Elisa tidak mau pakai kursi roda jadi Andre melipat kursi rodanya, sambil membantu Elisa untuk pegangan tangan saja agar Elisa berjalan sendiri.
Di sesampainya rumah Siti yang melihat putrinya sudah bisa jalan lagi, walau masih berpegang tangan sama Andre tapi itu sudah bersyukur sekali.
"Alhamdulillah. Beberapa hari saja Elisa sudah bisa jalan, walau sedikit demi sedikit." ucap sang ibu yang melihat Elisa yang sudah bejalan agak jauh dan lebih lama.
"Alhamdulillah, syukurlah dalam waktu seminggu teteh udah bisa jalan lagi." ucap sang ayah juga mengucapkan syukur yah.
"Iya Bu, Alhamdulillah. Sekarang teteh bisa nendang bola lagi deh!" sambung Elisa yang dengan semangat.
"Emang ya kamu pemainnya bola? Jangan macem-macem dulu, deh! Nanti bisa geser lagi tuh sendi-sendi!" sahut sang suami yang menegur istrinya yang terlalu bersemangat.
"Ya kamu jangan doain gitu dong!" protes Elisa yang tidak terima jika suaminya mendoakan dirinya seperti itu.
"Gak deh, yaudah kamu istirahat dulu. Mas mau ambil minum, haus!" ucap Andre yang berjalan masuk kedalam rumah.
"Bu, kita tinggal di sini sebulan lagi ya?" ucap Elisa yang duduk bersama orang tuanya di ruang tamu.
"Mau sebulan kek, mau setahun atau seterusnya boleh-boleh saja, ibu sama ayah mah bebas. Malah seneng banget kalian tinggal di sini, biar ibu ada temennya. Ayahkan sehari-hari selalu di empang, ibu suka di tinggal sendirian." ucap Siti.
Andre keluar dari dapur, dan langsung dapat pertanyaan begitu membuat Andre mengerutkan keningnya. "Boleh ya mas?" tanya Elisa spontan.
"Boleh apa nih? Mas baru keluar dari dapur langsung di beri pertanyaan begitu, apakah gak salah" ucap Andre yang protes.
"Kita tinggal di rumah ibu, sebulan lagi di sini. Kamu mau kan?" tanya Elisa kembali untuk mengulang pertanyaan.
"Ouh! Emang ya aku pernah melarang, kan gak aku larang juga. Lagian ini ruang orang tua ku juga, malah mas senang disini. Karena terus di masakin makanan enak sama ibu" ucap Andre yang tersenyum lebar.
"Kamu gak ngasih uang dapur sama ibu?" ucap Elisa yang menatap tajam sama suaminya.
"Kasih kok teh, cuman ibu yang gak mau" sahut sang ibu karena emang Andre memberikan sejumlah uang, untuk ibu dan ayahnya tapi di tolak oleh kedua orang tua Elisa.
"Kenapa? kan kita berdua numpang makan sama tidur di sini" ucap Elisa yang kebingungan karena orang tua menolak pemberian mereka.
"Lah terus kenapa? Ibu gak pernah minta kalian buat ngasih uang ke ayah atau ibu, ini kan rumah nak Andre juga. Terus uang dapurkan ibu sama ayah sebagai orang tua kalian, ibu masih punya uang kok. Masa anak lagi tinggal di sini, ibu mintain uang dapur. Udah teteh jangan di pikirin soal itu, selama inikan teteh yang sudah banyak bantuin ibu dan ayah. Nak Andre juga kan sudah banyak bantuin ayah, ibu sampai biaya sekolah Azril siapa coba yang nanggung" penjelasan Siti yang panjang.
"Ibu, tapi kan..." ucap Elisa yang terhenti karena Siti menekan tangan putrinya agar jangan terlalu memusingkan soal itu.
"Ibu tahu kamu gak enak toh! Ibu ikhlas nak, udah jangan di pikirin yah" ucap Siti yang menenangkan Elisa, agar jangan terlalu memusingkan soal itu.
"Iya bu. Ouhnya bu kalau nanti ke warung ajak Elisa ya bu, ada yang ingin Elisa beli. Sekalian mau melemaskan kaki, biar lancar aja gitu" ucap Elisa yang memintanya.
"Iya, yaudah ibu mau ke dapur dulu mau siap-siap buat makanan untuk nanti siang, nak Andre kemana ya?" ucap Siti yang tak melihat menantunya.
Siti akhirnya keluar rumah melihat jika Andre akan pergi, bersama beberapa bapak-bapak yang entah mau kemana. Mereka berbondong-bondong menarik menantunya kesuatu tempat, siti yang penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Nak Andre, mau kemana toh. Bapak-bapak, mau di bawa kemana menantu saya kok di tarik-tarik gitu?" ucap Siti yang bergantian.
"Anu Bu Siti, itu di lahan ya pak jaeni lagi ada yang mau gantung diri kita mau kesana" ucap bapak-bapak.
"Walah siapa itu, kok nekat banget." ucap Siti yang pengin ikut lihat cuman nggak berani.
__ADS_1
"Bu, mending ibu di rumah aja gak usah ikut lihat lagi, Andre kesana dulu ya bu. Assalamualaikum." ucap Andre yang melarang mertuanya untuk ikut melihat.
"Iya, kamu hati-hati yah." ucap Siti yang khawatir.
Andre langsung pergi bersama bapak-bapak itu, Siti hanya melihat kepergian sang menantu yang menjauh dari kediaman rumah.
"Mas Andre mau kemana bu?" tanya Elisa yang melihat dari kejauhan.
"Katanya mau ke lahannya pak jaeni, jaman sekarang cari kerja susah teh, jadi banyak yang mau bunuh diri." ucap ibu.
"Iya bu, kasihan" ucap Elisa yang memprihatinkan.
Malam hari setelah sholat isya dan makan malam, seluruh keluarga kecuali Azril yang ada di Amerika karena sedang kuliah. Mereka berkumpul di ruang Tv, sambil melihat sebuah acara tayangan televisi.
"Tadi siang itu siapa yang mau bunuh diri mas? terus selamat gak orang yah!" tanya Elisa yang sangat penasaran.
"Selamet, cuman ya itu masalah keluarga lah! Nama hidup pasti ada masalah, entah dia lagi marahan sama siapa?" ucap Andre yang menjelaskan.
"Ouh gitu! syukurlah kalau selamat mah" ucap Elisa yang agak lega.
Tiba-tiba sang ayah yang baru keluar dari kamar karena baru selesai telfon sama seseorang, membuat wajah yang kurang baik. Menatap Andre yang saat ini sedang memijat kaki Elisa di pangkuan, sedang istrinya Siti sedang fokus liat tv. Yusman duduk di sebelah Andre, sambil melihat Andre.
"Dre, besok kamu sibuk nggak!" tanya yusman yang baru keluar dari kamar tersebut.
"Kenapa emang ayah?" Andre bertanya-tanya karena ayahnya tiba-tiba mengatakan hal tersebut.
"Besok, ayah boleh minta tolong nggak sama kamu. Jadi supir pribadinya ayah, buat nganterin pesanan udang. Bang mamat supir ayah itu lagi nggak enak badan, sekalian ayah mau beli pakan empang juga pada habis? Itu juga kalau kamu gak sibuk. Tapi, kalau sibuk ya gak apa-apa ayah cari orang lainnya saja" ucap Yusman.
"Yaudah, nanti sama Andre saja perginya sekalian Andre juga mau daftar kuliah." ucap Andre yang mengambil surat formulir dari sampingnya, emang sudah di persiapkan untuk Elisa tandatangan.
"Bukan Andre bu, tapi buat Elisa?" ucap Andre yang melihat istrinya, langsung membuat Elisa menatap syok.
"Heh! Aku, Kuliah? Apakah aku gak salah denger nih!" ucap Elisa yang syok dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu.
"Iya nggak salah denger, emang beneran kok. Apakah kamu sudah lupa sama janji kamu sendiri. Bukanya kamu sendiri yang minta di daftarin kuliah, mas udah mau daftarin kamu loh, nih formulirnya mas udah dapat. Kamu yang isi atau mas Andre yang ngisi? atau minta bantuan ayah sebagai orang tua kamu, minta persetujuan sama ayah dan ibu biar Afdhol" ucap Andre yang menyerahkan surat formulir pendaftaran.
"Bentar deh! Ku kira kamu sudah lupa soal itu, jadi kamu beneran mau kuliahin aku? Mas, kamu ini serius. Kamu nggak bohong'kan, jangan bercanda ah!" ucap Elisa yang menatap Andre mencari keyakinan dirinya.
"Emang di wajah aku ini terlihat ada tampang bohong, iya beneran lah sayang. Masa bohongan, kamu ini ada-ada aja." ucap Andre yang menyakinkan Elisa.
"Tapi mas tahu, kalau aku gak minat belajar. Jangan kuliah lagi yah, Elisa males mikir dan ngerjain tugas kalau ada PR dan kerja kelompok, boleh'kan" rengekan Elisa agar suaminya mengubah keputusan.
"Sayang inget kamu udah TTD loh, pakai materai lagi. Kamu sendiri yang bikin peraturan ini, apakah kamu gak inget pernah bikin surat perjanjian sama aku! Nih suratnya, mas bawa buat bukti biar kamu lihat dan ingat?" ucap Andre yang memperlihatkan selembar kertas perjanjian.
"Ya ampun mas sumpah ya, aku gak baca sampai sedetil itu, kok bisa-bisa kamu nipu istri kamu kayak gini" ucap Elisa yang agak kesal sama suaminya yang harus mengingat dirinya buat kuliah itu.
"Nipu gimana maksudnya, orang kamu sendirikan yang menulis surat itu, kamu juga yang sudah buat perjanjian itu semua, aku hanya tinggal tanda tangan doang!" ucap Andre yang menjelaskan.
"Aaah.... Terserah! Aku gak peduli, aku kesel sama kamu" ucap Elisa yang ngambek sama Andre.
"Kamu ini gimana sih teh, nak Andre ini niatnya baik loh. Masa kamu bilang kayak gitu, ayah malah lebih mendukung nak Andre. Bagus itu, suami memang harusnya membimbing istrinya, nak Andre sudah berusaha semaksimal mungkin loh buat pendidikan kamu" ucap Yusman membela menantunya.
__ADS_1
"Lah kok ayah jadi belain mas Andre, ayah aku ini putri ayah. Elisa capek yah, kalau harus kuliah. Otak Elisa gak mampuh buat belajar, gak ah! Malas, ayah dukung Elisa dong!" ucap Elisa yang minta dukungan dari ayahnya.
Tapi, malah dapat tatapan yang kurang baik dari sang ayah. "Kamu ini, di suruh bener malah capek males, terus kamu yah gimana? kalau otak kamu gak mampuh, nggk mungkin kamu sekolah sampai SMK. Nggak mungkin bisa kerja di tempat yang gede, terus gak mungkin teteh bisa bahasa asing. Teh, kalau belajar kan mending saja ada pengalaman dan pengetahuan, jangan bodoh semua kayak ayah dan ibu" ucap Yusman yang memberikan penjelasan.
"Siapa orang tuanya yang nggak sakit teh, karena ibu dan ayah yang sudah gagal jadi orang tua soal pendidikan. Maafin ibu dan ayah, yah teteh!" sambung Siti.
"Ibu, Ayah gak gagal kok. Buktinya Elisa sekolah iyakan, Azril juga pinter banget. Ibu sama Ayah adalah orang tua yang terbaik, kalian berdua orang tua terhebat kok, karena bisa berjuang sejauh ini buat Elisa dan Azril" ucap Andre yang membanggakan mertuanya.
"Terimakasih ya nak! Udahlah teh, kamu ini segitu nak Andre niatnya baik. Ibu sama Ayah gak bisa ngasih kamu pendidikan yang baik, kalau ilmu nggak akan abis. Kalau materi cepat habis, kalau pengetahuan bisa di bagi-bagi dan semakin banyak pengalaman juga kan." ucap Siti.
"Nggak pokoknya aku kesal sama mas, aku nggak mau bu" ucap Elisa yang ngambekkan.
"Lah kok bisa kesel sama nak Andre gimana ceritanya, orang teteh yang mau kan ini. Ibu sudah baca ini juga semua tulisan teteh, terus mana tulisan dari nak Andrenya" ucap Siti yang membaca surat perjanjian yang di tulis.
"Nggak! Itu semua bukan aku yang mau, mas Andre yang maksain aku bu, aku hanya mau jadi istri aja bu. Gak mau kuliah! Capek bu!" ucap Elisa yang menjelaskan.
"Ini juga demi masa depan kamu loh teh, emangnya teteh gak mau punya pendidikan yang setara dengan nak andre, kasihan loh nanti kalau kalian punya anak nantinya, nanti bisa nangis kalau ibunya gak berpendidikan tinggi, ayolah teteh kasihan masa depan cucu ibu" ucap Siti yang memaksa Elisa.
"Kamu sengaja kan mengungkit masalah ini di depan orang tua aku, biar kamu ada yang bela terus jadi kayak berada aku yang jelek di muka orang tua aku dan agar ibu sama ayah yang bilang kayak gini. Ternyata kamu licik ya mas, kamu pasti sudah merencanakan semua ini iyakan!" ucap Elisa yang marah pada suaminya.
"Lah kok malah marahi nak Andre, kamu ini kenapa sih teh, orang nak Andre anaknya baik kayak gini." sentak Yusman.
"Tapi, ayah. Mas Andre ini terlalu memaksakan keinginan dirinya sendiri, dia pasti malu karena Elisa bukan sarjana. Tolong dong! Pengertian dikit, ayah dan ibu juga seharusnya bela teteh. Aku gak suka dunia kuliah, ibu ayah" ucap Elisa.
"Terus kamu mau gimana sayang, kalau kamu gak mau yaudah mas gak akan maksa kamu. Terserah deh! kamu mau ya gimana?" ucap Andre yang sudah pasrah.
"Nggak bisa gitu nak Andre, kamu gak salah. Elisa kamu ini sudah keterlaluan tahu gak! ayah mau ini hanya tamat SMP, ayah gak mau kalau anak ayah gak pendidikan tinggi kayak ayah. Orang tua mana yang gak mau anaknya sekolah tinggi, setidaknya kamu bisa banggain ayah dong!" amarah yusman.
"Lagian teteh kan belum mencobanya, kok sudah bilang gak suka gimana?" ucap Siti yang juga menjelaskan.
"Ya pokok ya aku gak suka, ayah aku tahu ini salah tapi ayah tahu kalau Elisa selalu dapat nilai jelek" ucap Elisa.
"Itu karena kamu gak pernah mau belajar, kamu malas belajar coba kalau kamu sungguh-sungguh pasti akan berhasil nak!" ucap Yusman.
"Teh, dengerin kata ayah. Kamu ini sejak dulu males banget kalau soal belajar, tapi sekalinya kamu suka 1 mata pelajaran itu teteh bukti bisa ikut olimpiade kimia kan waktu SMK dulu, inget gak teteh waktu SD saat teteh lomba mewarnai teteh juara satu kan. Jadi gimana apakah masih mau nolak?" sambung Siti mengingat semua kenangan itu.
"Udah kamu coba aja dulu jangan bawel deh! Bulan depan itu hari pertama kamu MOS, jadi siap-siap saja." ucap Andre yang sudah mempersiapkan segalanya.
"Kamu sudah gak sayang lagi ya sama aku mas" ucap Elisa yang merengek.
"Kalau aku gak sayang sama kamu, mana peduli aku sama pendidikan kamu. Yaudah kalau kamu gak suka belajar, mas akan cancel semuanya."
"Jangan nak! Teteh hanya terlalu manja, justru karena nak Andre peduli dan sayang sama kamu, makanya mau menyekolahkan kamu, maafkan ayah yang gak mampuh menyekolahkan kamu sampai sarjana, karena kondisi ayah waktu itu. Ayah juga menyesali soal itu, jika ayah salah ayah minta maaf." ucap Yusman yang sudah berkaca-kaca wajahnya membuat Elisa jadi semakin merasa bersalah.
"Kamu mau kayak gini terus teh nak Andre sudah baik menyekolahkan kamu." Sambung ibu.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Jumat 30 Desember 2022