PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
160. Perencanaan Tersembunyi.


__ADS_3

Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat, menunjukkan pukul pulang, Elisa sengaja tidak pulang dulu karena ingin menyelesaikan materi yang tidak dia fahami, jadi menemui dosen yang bersangkutan, dan langsung berada di ruang perpustakaan, untuk mengerjakan tugas individunya. Saat melihat di jam dinding, baru sadar ternyata sudah hampir sore.


"Hah, yampun gara-gara ngerjain tugas aku sampai nggak tahu kalau waktu sudah sore, hmph... angkutan umum sudah gak beroperasi yah, jadi harus jalan agak jauh buat naik bis di depan jalan depan. Pak Sofyan lagi ngater mamah dan papah, hmph bingung juga yah kalau kayak gini, tapi kenapa yah tiba-tiba mas Andre suruh aku sembunyi dulu, biasanya kalau aku disuruh sembunyi aku di bawa ke markasnya kok sekarang malah di bebasin gitu aja, gimana sih tuh orang." Dumal Elisa yang berjalan terkati-kati, hingga banyak sekali pikiran di otaknya.


Pukul 17.00, Elisa yang saat ini berjalan tertatih-tatih, dengan pikiran yang sudah tidak karuan. Tugas kuliah yang numpuk, pikiran tentang suaminya, dam keadaan Bakery. Hingga suatu suara yang memanggil namanya begitu nyaring, dan khas. Pemuda yang dirindukan, telah kembali.


"Teteh!" Seraya melambaikan tangannya tinggi-tinggi, terlihat senyuman yang cukup lebar terlukis diwajahnya.


Seketika wajah yang muram, lesu dan cemberut, bahkan terlihat sangat lelah. Tapi, saat melihat pemuda itu, seketika wajah Elisa langsung berubah dengan sangat cepat, menjadi semangat kembali, seperti mentari yang baru terbit di pagi hari.


"Azril? Ya ampun, kok kamu bisa ada disini sih dek! Ih adek teteh kok makin tinggi sih, jadi iri teteh sama kamu!" Ucap Elisa yang kaget melihat adiknya sudah berdiri di depan halte.


"He-he-he, aku kangen sama teteh. Makanya Azril ada disini, buat melihat teteh ku yang cantik. Teteh gak tahu aja Azril di kampus gimana? Padahal Azril paling pendek loh teh, sama teman-teman sekelas Azril disana." pembelaan diri Azril seraya langsung berjalan mendekati tetehnya dan langsung ia memeluknya erat.


"Cih! Bisa aja gombalannya. Kamu lagi ngapain disini?" ucap Elisa setelah melepaskan pelukannya adiknya.


"Sengaja mau jemput teteh, udah pulang teh? Kok sore banget." ucap Azril yang membawakan buku-buku yang berat itu, sambil jalan menuju halte.


"Hmph! Udah pulang dari jam 1 siang tadi si, tapi tugas kuliah dan ada beberapa urusan saja yang belum diselesaikan. Kapan kamu pulang kok gak bilang sama teteh, apakah ayah ibu tahu?" tanya Elisa sangat penasaran.


"Hmph! Belum, aku sengaja pulang mendadak dari bandara langsung kesini, karena mau surprise, ke teteh ibu dan ayah." ucap Azril senyuman lebar ia tunjukan.


"Hmmm... Dasar anak nakal, kamu baik-baikkan disana dek?" tanya Elisa kembali.


"Alhamdulillah teh baik, teteh sendiri gimana?" tanya balik azril.


"Alhamdulillah, baik juga." ucap Elisa yang wajahnya muram kembali.


Sepertinya tidak baik, dia berbohong. Hmph! Ada apa lagi, apakah ini juga ada kaitannya sama mas Andre, itu pastinya sih. Apakah aku katakan saja yah pada teteh, kalau mas Andre sedang merencanakan sesuatu di belakang teteh. Tapi, jika kau katakan pada teteh aku jadi tambah khawatir nantinya, bagaimana nanti jika hubungan mereka akan... Nggak, aku gak mau buat teteh sedih, aku gak akan kuat melihatnya. Dia tetehku, dia juga seperti duniaku. Masa iya aku hancurkan sendiri duniaku ini, gak akan aku biarkan ini jadi. Sudahlah biarkan saja ini jadi rahasia, aku tak usah bilang apa-apa sama teteh. Dalam hati Azril yang menyembuhkan rahasia.


"Hmmm. Ada apa zril, kamu sakit perutnya." tebakan Elisa karena melihat ekspresi Azril agak beda.


"Hahah nggak kok teh! Cuman keinget, apakah rumah sudah di kunci apa belum." ucap Azril yang berbohong pada tetehnya.


"Aduh, kamu ini kok bisa seceroboh itu sih, terus gimana? kamu sudah cek belum, udah di kunci apa belum pintunya." ucap Elisa yang ikutan panik.


"Tenang saja, bisa di kunci jarak jauh kok, pakai alat ini teh!" ucap Azril sambil menunjukkan sebuah alat canggih buatannya sendiri.


"Hah, ini alat apa dek?" tanya Elisa yang kebingungan sama benda yang dibawa oleh Azril.


"Ini kunci otomatis teh, jadi bisa di operasikan secara luas dimana pun kita berada selama masih terjangkau dengan satelit, maka bisa menggunakan alat ini teh, ini bikin Azril sendiri loh." ucap Azril yang membanggakan dirinya.


"Eh, ini karya kamu yang ke berapa dek? Bagus nih alat buat ibu yang suka lupa nguci pintu, caranya gimana buat kayak gini?" ucap Elisa yang takjub sama benda yang ada ditangannya itu.


"He-he-he, teteh lupa yah kalau adiknya ini jenius, dan bergabung di tim elit. Yaudah yuk teh, kita pulang sama-sama. Kita ngobrol di dalam mobil aja biar enakkan gitu, silakan masuk tetehku yang paling cantik." ucap Azril yang langsung membukakan pintu mobil.


"Apasih, kamu tuh adik teteh yang paling tampan. Tapi, beneran yah bisa di kunci jarak jauh." ucap Elisa yang khawatir seraya mencubit pipi adiknya yang agak cabby.


"Yaudah ayok kita pulang teh, karena Azril udah gak sabar, pengen cepet-cepet ketemu ibu sama ayah." ucap Azril yang sangat bersemangat.


"Hmph! kamu ini dek, yaudah yuk kita pulang." ucap Elisa yang langsung masuk kedalam mobil taksi.


"Ayo pak jalan, maaf agak lama yah pak!" ucap Azril yang sopan.


"Ah, nggak apa-apa. Ini tetehnya, kayak seumur yah." ucap pak supir taksi.


"Ha-ha-ha, nggak juga. Aku sama teteh beda 6 tahun pak, teteh aku emang baby face." Jawab Azril.


"Ouh gitu, tapi ngomong-ngomong si mbaknya ini kayak saya gak asing yah, apakah sering ketemu atau pernah naik taksi saya mba?" ucap pak supir.


"Hmm, gak tahu pak. Saya jarang pakai taksi, suka di anterin. Terus juga anaknya gak terlalu ingat, kalau soal ngingetin kendaran apa yang pernah di naiki. Tapi, ayah kami berdua pernah jadi supir taksi sebelumnya," ucap Elisa yang menjelaskan.

__ADS_1


"Walah, gitu toh. Kalau boleh tahu, ayah yah itu siapa mbak! Siapa tahu saja bapak kenal, sama ayahnya." ucapnya seraya melihat dari kaca spion.


"Namanya Yusman, pak. Tapi, udah lama pensiun." ucap Elisa yang menjelaskan.


"Pak Yusman yang istrinya bernama Siti Badriah bukan?" tanyanya kembali, seraya melihat di kaca spion.


"Iya pak, mereka orang tua kami. Kok, bapak bisa kenal." jawab Elisa yang mengiyakan.


"Astaghfirullahalzaim, jadi kalian anak-anak pak Yusman, berarti ini Elisa yah yang sering ngaterin makan siang buat ayahnya waktu itu, ya jelas kenal, kan satu profesi."ucap pak supir.


"Iya juga yah pak, bener saya Elisa. Mohon maaf pak, Elisa gak inget sama bapak." ucap Elisa yang langsung mengingat-ingat.


"Iya nggak apa-apa, waktu itukan kamu masih kecil SD, atau SMP yah." ucap Elisa yang mengingat kejadian masa lalu.


"Ouh iya, masih SD kelas 6." ucap Elisa yang menjelaskan soal itu.


"Ouh iya, bapak terus tiba-tiba berhenti waktu itu juga kamu kan yang bilang ke pak Burhan. Atasan waktu itu, pakai seragam SMP." ucap supir taksi tersebut.


"Iya pak, ayah cuman 3 tahun jadi supir taksi. Karena ayah sakit struk, jadi harus berhenti kerja." jawab Elisa.


"Ya Allah, terus sekarang keadaan pak Yusman gimana?" ucap si supir taksi.


"Alhamdulillah, sekarang mah sudah bisa jalan lagi." jawab Elisa.


"Syukurlah kalau gitu, terus apakah ayah ada di rumah aja, gak kemana-mana?" tanyanya kembali.


"Nggak pak, cuman jaga Empang dirumah. Alhamdulillah usaha kecil-kecilan gitu, ayah orang gak bisa diem, jadi kalau ngagur yah gitu, mau cari kegiatan diluar."


"Alhamdulillah, kalau gitu. Waduh, kalau saya gak lagi jam kerja mah mau mampir dulu. Tapi, salam aja deh buat pak Yusman mbak, insyaAllah kalau saya ada waktu mau main." ucap si supir taksi.


"Iya, dari bapak siapa?" ucap Elisa yang langsung menanyakan nama.


"Asyiap pak, nanti kami akan sampaikan sama ayah." Ucap Elisa.


"Tapi, teh. Kayaknya enak minta no telfon bapaknya aja, boleh gak pak. Biar nanti ayah sendiri saja yang hubungi pak Juki, kalau kita nanti gak enakkan ngobrolnya." saran masukan Azril.


"Ouh iya, boleh pak. Itu lebih enak sih, kalau bisa hubungi langsung." ucap Elisa.


"Oh iya boleh-boleh, bapak yang nyatet apa.." ucap sibapak yang langsung menatap kaca spion atas.


"Kita aja pak, zril pake hp kamu. Teteh gak bawa hp, ketinggalan dirumah." ucap Elisa.


"Iya udah. Berapa pak nomer yah, biar Azril catet." Azril yang mengeluarkan hp miliknya.


...****************...


Sesampainya di rumah, setelah Azril dan Elisa turun dari mobil taksi, mereka langsung pamitan sama Juki si supir taksi itu. Elisa menyuruh adiknya jangan masuk dulu ingin lihat kondisi di dalam rumah.


"Assalamualaikum..." Ucap Elisa yang membuka pintu, karena tak ada yang menyahuti Elisa langsung masuk kedalam rumah.


"Walaikumsalam, teteh udah pulang." ucap ibu yang baru keluar dari kamarnya.


"Iya Bu, habis sholat bu?" ucap Elisa yang langsung mencium tangan ibunya.


"Iya teh, tadi habis ke bu enah pengajian, jadi baru pulang terus sholat." jawab Siti yang sedang merapikannya kupluk penutup kepalanya.


"Hmph gitu, coba bu bisa tebak nggak elisa pulang sama siapa?" ucap Elisa yang menyuruh ibunya menebak siapa yang ikut pulang bersamanya.


"Hmph siapa teh? Pulang sama nak Andre." Tebakan siti yang langsung membuat elisa mengerutkan wajahnya.


"Cih! Ibu, cuman inget mas Andre doang! Apakah ibu lupa kalau punya anak laki-laki yang kandung, ibu cuman pikirin soal menantu." ujar elisa.

__ADS_1


"Iya ibu pikir nak andre, eh tapi bukannya adik kamu pulangnya nanti kalau ramadhan." ujar siti yang mengingat.


"Nggak bu, aku sengaja pulang cepat karena udah kangen sama ibu dan ayah. Sekalian mau beri ibu surprise gitu!" ujar azril yang langsung masuk kedalam sambil bawa koper.


"Astaghfirullahalazim, ini siapa? MasyAllah anak ibu yang ganteng. Kok pulang gak ngabarin dulu, ayah kamu lagi nganterin pesenan ikan lele di kota. Kemungkinan pulang nanti malam, kamu sehat nak." ujar sang ibu yang langsung memeluk putranya.


"Alhamdulillah bu, yaudah nggak apa-apa ayah pulang malam, nanti juga ketemu kok. Kalau ibu, gimana sehat juga kan." ujar azril yang baru melepaskan pelukannya.


"Alhamdulillah dek! Sini duduk dulu, kamu sudah makan dek!" ujar siti yang sangat senang karena putranya pulang.


"Hmmm, kalau anaknya pulang lupa sana anak perempuannya," ujar elisa yang menyindir ibunya.


"Apa sih teh, adik kamu kan baru aja pulang. Mendingan teteh bawa makanan aja sini, biar adik kamu akan dulu." ujar siti yang menyuruh putrinya untuk menyiapkan makanan.


"Lihat tuh zril si ibu, langsung nyuruh teteh buat ngambil makanan, awal tadi malah keinget sama Andre bukan kamu, sekarang jadi malah manjain kamu." ujar elisa yang ngaduh pada adiknya.


"Hehehe, udahlah teh. Kamu ini, adik kamu malah di provokasi begitu, udah sana cepat siapkan makan aja." ujar siti yang menyuruh putrinya untuk menyiapkan makan.


"Itu mungkin ibu lagi kangen mas Andre kali teh, makannya keinget terus sama mas andre, iya gak bu." ujar azril yang membela ibunya." ujar azril.


"Sebenarnya yang lagi kangen mah teteh kamu zril, bukannya ibu. Karena nak andre sudah hampir setengah bulan nggak pulang, makanya wajarkan ibu anggap teteh pulang sama nak andre." pembelaan diri ibu.


"Iihhh apa sih bu, orang elisa biasa aja tuh!" ujar elisa yang agak cemberut, langsung pergi kedapur untuk menyiapkan makan untuk adiknya.


...****************...


Mansion seseorang yang saat ini terlihat seorang pria dengan bekas luka di wajah antara alis dan garis matanya, sedang asik menghisap rokoknya. Didepan duduklah seorang pria yang tidak asing, dia adalah Maxime, kakak dari Fando.


...BAHASA JERMAN...


MAXIME : Mereka sudah bergerak, kita juga harus segera bergerak. Jika tidak, maka kita akan ditangkap, dan akan sangat sulit untuk menyelinap keluar lagi.


BOSS : Untuk apa kau takut, kamu tinggal mencari kelemahan dari komandannya saja, makanya pakai otakmu untuk bekerja, jangan kau buat untuk menyiksa istrimu.


MAXIME : Apa maksud anda? kenapa harus membawa-bawa soal istri juga.


BOSS : Apakah kamu tidak sadar, jika tuan ANDRILOS itu mempunyai kelemahan, itu sudah pernah dengar juga bukan. Jika dia lemah terhadap nyonya Andrilos itu, jadi tugasmu adalah mencarinya saja.


MAXIME : Nyonya ANDRILOS? apakah ada. Bukanya dia debut, tanpa nyonya ANDRILOS.


BOSS : Dasar bodoh, itulah sebabnya kamu pernah ditangkap, karena kamu tidak tahu apapun. Nyonya ANDRILOS masih di ragukan karena dia bukan dari kalangan bangsawan, dan belum berpendidikan setara, jika kita menangkapnya. Maka Tuan Andrilos juga akan bertekuk lutut pada kita, dialah kelemahan dari Tuan Andrilos sebaiknya kamu tangkap dia.


MAXIME : Aku harus mencarinya kemana? dia pasti di sembunyikan. Nyonya Andrilos, tidak pernah muncul kepermukaan, bagaimana kami tahu siapakah Nyonya Andrilos tersebut, sedangkan tempat tinggalnya saja, tidak kami ketahui.


BOSS : Suruh adikmu itu untuk melacak keberadaan Nyonya Andrilos, karena katanya dia tinggal di indonesia.


MAXIME : Ternyata dia dekat juga, kita hanya perlu tahu siapa dia iyakan.


BOSS : Iya, karena jika kalian bisa tahu maka lakukan rencana B dan rencana selanjutnya, karena mereka pasti akan menyerah dengan sendirinya.


MAXIME : Aku akan bicarakan dengan adikku itu, soal keberadaan Nyonya Andrilos tersebut.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Sabtu 11 February 2023

__ADS_1


__ADS_2