PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
96. Nasehat Azril.


__ADS_3

Melihat adiknya ada di depan pintu kamarnya Elisa tampak kaget jadi binggung harus bersikap bagaimana, sedangkan Azril yang sudah sangat khawatir dan sangat ingin tahu kabar Elisa saat ini. Azril tampak penasaran dengan keadaan tetehnya yang sangat sulit sekali di hubungi itu, ingin tahu tetehnya kemana saja selama ini.


"Teteh, ini adikmu tidak disuruh buat masuk gitu? Apakah di dalam ada mas Andre yah?" ucap Azril yang ingin memeluk kakak perempuan yah, tapi malu jika harus di lakukan di depan pintu kamar.


"Nggak ada sih! Ouh iya maaf, aku terlalu kaget karena kamu datang tiba-tiba begini, yaudah cepat masuk dulu yuk!" ucap Elisa membuka lebar pintu kamarnya.


Azril menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok pria yang akrab dengannya, tapi tidak ia temukan dimana pun. Elisa yang menatap adiknya seperti orang kebinggungan dan kayak orang mencari sesuatu, Elisa yang menatap Azril dengan keheranan.


"Nggak ada mas Andre? benarkah" tanya Azril yang sibuk mencari pria yang selalu di samping Elisa itu.


"Nggak ada beneran! ngapain si teteh bohongin kamu, gak ada untungnya juga buat teteh" jawab singkat Elisa suara agak berat karena mengingat pertengkaran keduanya yang belum juga menemukan titik temu. Ditambah Andre yang sekarang pergi entah kemana, dengan emosi yang sangat besar.


"Mas Andre belum datang kekamar yah? Pasti lagi nemuin mamah Monika dulu?" tebakkan Azril.


"Mamah? Mamah juga ikut ke sini?" Elisa spontan syok mendengar hal itu.


"Iya, mamah dan papah juga datang" jawab Azril yang langsung duduk di tempat tidur tetehnya.


"Eh, kok gak ada yang bilang kalau kalian akan datang?" ucap Elisa yang langsung menyela.


Azril menatap tajam tetehnya menghela nafas pendek. "Nggak ingetnya? Kan teteh yang lost kontak. Kayak hp teteh aktif aja? Di hubungi saja susah, gimana aku kasih kabar kalau ingin datang ke sini" ujar azril yang membuat Elisa terdiam.


"Iya, juga yah. Maaf yah zril, terus mamah sama papah kemana?" ucap Elisa.


"Hmph! Dari tadi cuman teteh mulu yang tanya. Teteh, jawab dululah pertanyaan Azril. Kok malah teteh yang tanya terus ke Azril, pertanyaan Azril belum teteh jawab" protes Azril.


"Ouh iya maaf! Tadi kamu nanya apa?" Elisa langsung duduk di samping adiknya.


"Azril nanya mas Andre kemana? Apakah gak ikut kesini, atau ada tugas lainnya?" ucap Azril yang sangat penasaran.


"Dia... Dia, Pergi zril" Elisa bingung mau menjawab apa, jawaban Elisa yang ragu-ragu dan tergagap itu membuat Azril semakin curiga.


"Pergi? Emangnya mas Andre pergi kemana?" tanya Azril yang sangat penasaran.


"Teteh gak tahu, dia gak bilang mau pergi kemana?" ucap Elisa yang wajahnya tampak murung dan sangat sedih.

__ADS_1


"Lagi berantem ya!" tebakan Azril yang membuat Elisa kaget karena adiknya menebak tepat sasaran.


"Eh, bagaimana kamu tahu?" ucap Elisa yang langsung menatap syok adiknya.


"Hmm tahulah, udah hafal sama ekspresi teteh kalau lagi berantem sama cowok pasti muka kayak kue lepet yang di iket-iket" ucap Azril.


"Cih dasar kamu ini, bisa aja" ujar Elisa yang mengacak-acak rambut adiknya itu.


"Tapi, menurutku mas Andre sudah terlalu sabar loh mengahadapi teteh. Makanya aku salut sama mas Andre, karena marahnya nggak seperti pacar teteh lainnya. Mas Andre walau marah masih ngomong sama teteh, walau agak jaga jarak dikit sih" ucap Azril yang memperhatikan.


"Ya kan beda zril, pacar sama suami. Kalau pacar kalau mau pisah ya udah tinggal minta putus aja gak akan ribet, kalau sudah jadi suamikan lebih rumit harus ke pengadilan agama dan proses lama" ucap Elisa yang menjelaskan.


"Nah tuh paham, terus udah berapa lama kalian begini? Gak lebih dari tiga harikan, dosa loh teh kalau berantem suami istri lebih dari tiga hari" nasehati tetehnya.


"Kamu ini terus-menerus memperhatikan kondisi hubungan kami yah?" ujar Elisa yang mulai curiga.


Azril menarik nafas dalam-dalam, dan menatap teteh dengan tatapan khasnya. "Bukannya memperhatikan, tapi hanya mengamati dan itu juga jarang ku lakukan. Teh, mas Andre orang yang baik loh. Dia, gak sekalipun kasar atau marah berlebihan. Bahkan bisa menjaga sekali kehormatan keluarga, saat mas Andre bentak tetehpun selalu minta maaf sama ayah, jarang loh cowok yang gentleman kayak gitu" ucap Azril yang membela kakak iparnya.


"Teteh gak tahu zril kalau mas Andre seperti itu, iya sih. Mas Andre emang baik banget, aku yang salah selalu mengabaikan apapun yang dia katakan, aku kayak berdosa besar ya sama mas Andre" ucap penyesalan Elisa.


"Teh, dengerin nih adikmu ngomong. Sesabar-sabarnya manusia, itu pasti ada batasan ya. Walaupun di agama kita diajarkan untuk tetap sabar, kami para pria bukan malaikat atau nabi, kami hanya manusia biasa. Jadi gak mampu buat berlama-lama menahan kesabaran, jika mas Andre sampai pergi tanpa pamit ke teteh begini, itu artinya kesalahan teteh sudah keterlaluan, atau melewati batasan. Seharusnya sebagai seorang istri itu harus nurut apa kata suami. Kecuali jika suaminya gak bener, boleh teteh tentang atau abaikan perintah dan larangannya. Sedangkan mas Andre pria baik-baik di didik dengan baik, apapun yang mas Andre katakan adalah kebaikan. Aku juga agak kesel lah sama sikap teteh yang seenaknya begitu, dan selalu teteh berulangkali melakukannya" ucap Azril yang menasehati tetehnya.


"Hmph! Gini nih pikiran pendek cewek kalau sudah muncul lalu ditambah ada masalah dikit aja, pikiran yah suka pesimis dan sangat dangkal sekali. Ini yang membuat para cowok gak suka sama jalan pikiran dari cewek, karena terlalu memudahkan pikiran dengan pesimis, dan selalu menggampangkan apapun masalahnya dengan mengucapkan kata-kata akhir yang buat cowok itu kayak merasa gak di hargai, setiap pengorbanan yah, hingga di jatuhin banget."


"Eh? Maksudnya gimana zril teteh agak binggung sama apa yang kamu katakan itu, apakah teteh salah ucapnya?" ucap Elisa kalang kabut.


"Teteh, dengerin nih, Azril ngomong, abaikan jika Azril adik teteh anggap Azril juga anggota para pria, dengerin baik-baik emangnya gampang buat seorang cowok mengatakan saya terima nikah dan kawinnya, saat posisi itu. Cowok benar-benar di tantang mentalnya, dan keberanian. Memangnya mudah mengemban sebuah tanggung jawab, dan dosa. Apa yang di lakukan oleh seorang pria dengan pengorbanan yang sangat besar itu lalu tidak di hargai, apakah itu keadaan baik? Atau adil? Nggak teh, coba teteh fikirkan itu."


Elisa langsung membungkam dia tidak tahu harus menjawab apa, nasehat adiknya tersebut membuat dirinya merenung dan seakan bibirnya terkunci rapat-rapat saat Azriel menceramahinya.


"Coba teteh fikirkan, saat proses ijab qobul yang menyaksikan bukan satu atau dua orang teh. Apalagi itu disaksikan sama dua pria terbaik yaitu Ayah sama Papah, dan juga dua saksi, penghulu dan para tamu undangan. Itu sungguh butuh keberanian yang luar biasa, dan harus bener-bener menguras mental."


Elisa benar-benar dinasehati oleh adiknya yang saat ini juga merasakan emosi dari kakak iparnya tersebut, kadang kalah tetehnya juga sangat keterlaluan, terlalu egois. Saat di nasehati oleh Azril. Elisa hanya diam saja, tak bergeming karena sadar jika dirinya memang bersalah dan berdosa.


"Coba teteh bayangkan, yang menyaksikan acara itu bukan hanya manusia aja yang hadir di acara teteh, acara yang begitu sangat sakral itu disaksikan seluruh alam semesta. Penghuni langit seperti malaikat dan juga Allah menyaksikan semuanya, hingga dapat menggetarkan langit Arsy. Tapi wanita dengan mudahnya hanya mengatakan satu kata yang membuat hancur semua pondasi dari sebuah pengorbanan yang telah tersusun rapi."

__ADS_1


"Lalu bagaimana lagi zril, teteh nggak tahu harus melakukan apa lagi sekarang, untuk menebusnya, berikan teteh solusinya."


Azril yang langsung bangkit dari tepi tidur, dan menatap tetehnya yang sekarang menunduk karena merasa bersalah atas apa yang dia lakukan terhadap suaminya selama ini.


"Wajar kalau Mas Andre marah sama Teteh, karena tingkah kelakuan teteh itu sudah keterlaluan, seharusnya jika ada masalah teteh pikirkan jalan keluarnya, atau teteh pikirkan bersama-sana dengan mas andre, jangan kayak anak kecil selalu menyalahkan keadaan dan orang lain," ujar azril.


"Iya zril teteh sekarang merasa bersalah banget sama mas Andre dan status teteh sekarang, seharusnya teteh tidak melakukan hal itu."


"Syukurlah jika teteh sadar, jika soal solusi apa yang harus teteh lakukan, maka pikiran caranya sendiri karena ini semua adalah kesalahan teteh. Jadi sebaiknya teteh sendiri yang menyelesaikan ini semua."


"Teteh sangat binggung zril, caranya gimana bujuk mas Andre agar mau memaafkan teteh. Dia sungguh sudah sangat marah banget, iyakan."


"Teh, semarah-marahnya seorang pria akan luluh dengan kelembutan seorang wanita, apa lagi dengan status teteh seorang istri, mas Andre pasti tak akan lama marah dengan teteh, percaya deh! Mas Andre pasti masih punya sisi sayangnya untuk teteh, walau sekarang lagi marah dan menjauhi teteh, itu bukan karena dia benci. Tapi untuk menenangkan diri dan menetralkan rasa kecewanya agar bisa menguatkan rasa cinta terhadap teteh."


Elisa sedikit agak tersanjung dengan apa yang dikatakan oleh Azril adiknya itu, karena pemikiran dewasa Azril sangat luar biasa, Elisa agak lega karena Azril adalah teman curhat terbaik yang di miliki oleh Elisa.


"Yaudah karena ini sudah agak malam juga, sekarang teteh istirahat yah, ingat teh semua butuh proses pasti akan ada jalannya. Ini semua gak mudah, perjalan untuk naik ke puncak gunung harus melalui banyak rintangan, jadi jangan sampai gugur di jalan yang hanya berlubang kecil. Jangan mudahkan kata-kata akhir itu terucap lagi dari mulut teteh, karena sesungguhnya satu ucapan dari seorang wanita itu akan menghancurkan seorang pria sampai berkeping-keping."


"Iya zril teteh akan ingat semua nasehat dan saran kamu itu, tak akan teteh ulangi lagi ucapan itu. Apapun badainya akan teteh hadapi walau disertakan oleh angin kencang yang dahsyat sekalipun" Ucap Elisa yang mulai bangkit kembali semangat yah.


"Bagus itulah teteh ku yang ku kenal, jangan asal mengucapkan kalimat yang terlarang karena membuat tali janji seumur hidup itu, sangat sulit teh. Walaupun dikatakan dalam Islam pria bisa menikah empat kali, tapi semua itu hanya Sunnah bukan kewajiban. Kewajiban seorang pria adalah menanggung semua dosa dari istrinya dan tanggung jawab atas keluarga yang dia pimpin, yang harus ditanggung seorang suami tidaklah mudah, teteh harusnya tahu itu. Jadi jangan berpikir sempit lagi mulai sekarang, berpikirlah yang lebih luas jangan sampai kalau ada masalah sedikit minta cerai. Bisa difahami? Teteh sudah dewasa harusnya punya kematangan dalam berpikir yang lebih terbuka lagi, dengan wawasan yang luas lagi. Teteh buka pengetahuan teteh, jangan sampai pemikiran kanak-kanak teteh itu lebih dominan."


"Terus Teteh harus gimana dong Zil, teteh sangat bingung. Karena Mas Andre pergi tanpa pamit sekarang, aku nggak tahu kapan dia akan kembali, dia pergi dengan amarah yang memuncak, bahkan dia mengabaikan aku zril.


"Percaya deh! Mas Andre pergi itu karena dia ingin nenangin pikirannya dulu, mas Andre ingin cari titik temu di mana dia itu bisa mengayomi semuanya. Apalagi dengan posisi Teteh yang kayak gini, jangan mas Andre saja yang belajar. Tapi teteh juga ikutan belajar lebih lagi, belajar untuk menerima kesalahan setiap apa yang Teteh lakukan, dan renungkan setiap kesalahan yang kalian perbuat selama ini. Jadi apa saja yang terjadi selama Teteh menikah dengan Mas Andre, perubahan apa saja yang dialami kalian selama masa perjalanan pernikahan itu. Apa saja kesalahan-kesalahan yang Teteh berbuat terhadap Mas Andre, apa yang Azril katakan ini bukan sekadar omongan belakang. Coba teteh pikirin hal itu," Ujar Azril yang saat ini masih menjadi seorang penasehat terbaik baik tetehnya.


"Iya zril teteh akan renungkan semua yang teteh perbuatan selama ini, teteh mengakui jika perbuatan teteh itu salah jika menentang suami sebaik mas Andre, mungkin inilah dosa ya" ucap Elisa yang baru bisa menerima.


"Nah gitu dong! Mas Andre selama ini nggak pernah ngomong sih atau ngeluh soal teteh, tapi aku tahu sifat Teteh itu seperti apa? karena sebelum Teteh bersama Mas Andre, kan Azril yang lebih dulu kenal sifatnya teteh, walaupun Mas Andre enggak pernah curhat sama Azriel, tapi aku tahu jika mas Andre sebenarnya kewalahan menghadapi tingkah laku teteh, ada satu titik di mana Mas Andre itu penghela nafas frustasi. Karena melihat tingkah. Teteh yang sudah melewati batas, jadi mulai sekarang hargailah suami Teteh itu, mulailah dari hal-hal kecil seperti berkata manis, dan manja. Jangan dianggap remeh seorang pria, walaupun Mas Andre itu terlihat lemah, tapi faktanya mas Andre punya status yang tinggi di keluarga, yaitu seorang pemimpin keluarga dan seorang suami yang harus Teteh hormati dan layani."


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Selasa 15 November 2022.


__ADS_2