
Sebuah mobil jip hitam mendatangi Andre yang sedang berdiri tak jauh dari bibir pantai, karena menunggu jemputan dari papah yang belum datang. Seraya memikirkan apa yang ingin ia bicarakan dengan papahnya nanti jika bertemu, agar papah ya juga tidak merasa tersinggung dan untuk memperbaiki hubungannya dengan Arafif yang mulai renggang.
"Tuan, maaf anda harus menunggu lama" Ucap seorang pria yang datang dengan stelan jas lengkap.
"Tidak apa, apakah papah juga ikut denganmu?" Tanya Andre tak melihat papahnya turun dari mobil.
"Tuan menunggu di rumah, saya yang di khususkan untuk menjemput anda kemari" ucapnya dengan sopan.
"Hmm-begitu. Yaudah, tolong antarkan saya menemuinya" ucap Andre yang ramah.
"Mari silahkan" membukakan pintu mobil, dan terlihat mobil di dalamnya dengan fasilitas yang begitu lengkap.
Perjalanan cukup hening karena Andre masih sibuk dengan fikirannya untuk memikirkan bagaimana awal mulai percakapan dengan arafif, karena Andre tidak punya rencana apa-apa saat ini.
Sesampainya di sebuah gedung yang begitu megah terlihat dari ke jauhan juga sangat istimewa bangunan tersebut, Andre juga baru menyadari jika rumah kedua milik papah ini cukup tentram dan damai.
"Andre kamu sudah datang?" sambutan Arafif saat melihat putranya sudah keluar dari mobil yang ia tunggangi.
"Pah, apa kabar papah?" tanya Andre basa-basi.
"Kabar papah sekarang, yah seperti yang kamu lihat ini bagaimana? papah kurang baik nak! Andre bagaimana keadaan Monika dan orang di rumah" tanya Arafif yang khawatir pada monika.
"Maafkan aku ya pah, aku belum bisa membujuk mamah. Mungkin mamah masih sedikit syok dengan semua yang terjadi saat ini, papah yang sabar ya. Andre akan berusaha sebisa Andre untuk membujuk mamah" Penjelasan andre.
"Tidak apa Andre, papah juga faham akan semua itu, yaudah kita masuk sekarang" ucap arafif yang mempersilahkan Andre untuk masuk.
Kesebuah ruangan yang dimana semua barang-barang terlihat klasik tapi moderen, Arafif mempersiapkan tempat itu jika ada tamu khusus yang datang.
__ADS_1
Arafif menarik kursi untuk Andre duduk, Arafif langsung duduk di kursi yang di siapkan oleh Arafif tersebut.
"Pah bisa kita bicara sekarang?" tanya Andre yang melihat Arafif yang masih terlihat sangat sibuk di sebuah rak kayu yang di sana terlihat banyak patung-patung berbagai bentuk, dengan jenis bahan yang berbeda-beda.
"Iya, silakan. Apa yang ingin kamu tanyakan Andre, papah akan dengarkan" ucap Arafif yang saat ini terdiam kembali sambil mencari sesuatu di rak kayu tersebut.
"Pah, sebelumnya Andre mau minta maaf kepada papah. Karena waktu itu berkata kasar dan menaikkan nada suara Andre ke papah, Andre juga tidak bisa menahan diri untuk membatah ucapan papah. Maafkan Andre yah pah" ucap Andre yang merasa bersalah kepada papahnya.
"Sudahlah Andre, lagi pula papah juga yang salah. Ucapan mu juga ada benarnya, tak ada yang salah. Papah yang tidak tahu situasinya, jadi papah juga merasa bersalah pada kalian" ucap arafif yang menatap sedih Andre saat ini duduk di sofa.
"Andre sudah membuat papah juga tidak nyaman di rumah, mamah... Mama tidak pulang kerumah, mamah bilang sementara ini tidak mau tinggal di rumah itu dahulu, apakah papah tidak keberatan soal itu, jadi papah bisa pulang ke rumah. Pah rumah terlihat sepi tanpa mamah dan papah di sana, Plis kalian balikan ya" ucap Andre yang memohon pada papahnya.
"Maaf andre papah belum bisa untuk pulang saat ini, masih ada pekerjaan lainnya yang belum papah selesai kan di sini. Apakah papah akan pulang atau tidak itu juga belum papah ketahui, jadi papah minta maaf. Tidak mengikut permintaan mu ini, papah hanya ingin menjaga semuanya tetap aman" ucap arafif yang menjelaskan.
"Masalah apa lagi si pah, yang harus papah urusi, kenapa papah cukup sibuk dengan semua itu. Pah kami butuh sosok papah di rumah, jadi untuk apa papah mengasingkan diri ke sini" ucap Andre yang memohon pada papahnya.
"Andre, papah tahu ini berat bagi mu. Bahkan kamu juga tidak bisa memahami beratnya tanggung jawab ku saat ini. Papah tidak bisa menjelaskan hal itu padamu" ucap arafif yang tak mau membahas terlalu jauh.
"Papah sudah lama ingin membicarakan soal ini dengan mu, tapi papah tidak tahu awalnya dari mana. Tapi nanti saja saat semua urusan ini selesai dan beban tanggung jawabku sedikit berkurang, akan ku selesai dengan cepat" ucap arafif yang duduk dengan menekan nada suaranya.
"Katakan saja Pah apa? sekarang. Jangan buat Andre semakin penasaran dengan apa yang ingin papah bicarakan dengan Andre, Pah jangan ada rahasia-rahasia lagi di antara kita pah" ucap Andre yang mencoba menenangkan pikirannya.
Arafif terdiam sejenak tapi tak mau membuka mulut soal rahasia yang dia sembunyikan selama 20 tahun lamanya, soal anak-anak kandungnya itu. Ia takut menyakiti hati Andre dan Monika jika mengetahui semua itu, kebenaran yang mereka harus mereka dengar. Itulah membuat Arafif ragu untuk memberitahu dan membahasnya.
"Andre, untuk saat ini papah tidak tahu mau mulai dari mana, tapi papah harus mengatakan semuanya padamu. Tapi, Papah juga belum siap untuk mengatakannya kepada kamu dan Monika" ucap arafif yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Disisi lainnya, Monika berada di suatu tempat klinik yang sudah terkenal. Monika mendatangi tempat tersebut dengan Bu Siti. Yap! Monika berada di tempat LAB, tempat pencocokan DNA. Karena Monika sangat penasaran dengan semua ucapan suaminya dan Efrain makanya ia mendatangi tempat itu untuk cek DNA, sebelum dia datang Monika sudah mengamati Andre beberapa hari, untuk bisa mengambil beberapa helai rambut dari kamar putranya, ia tidak mengajak menantunya karena Elisa tidak tahu apapun, monika datang untuk cek DNA rambut miliknya dengan DNA milik dirinya untuk membuktikan jika Andre benar anaknya atau bukan.
__ADS_1
Monika dan Siti sedang was-was menunggu hasil tes itu keluar dari ruang pemeriksaan, Monika melihat sendiri prosesnya. Dokter juga terpercaya, teman karibnya saat jaman masih remaja.
"Ibu monika" ucap seorang wanita dengan seorang pria yang datang bersamaan.
"Iya dok! gimana hasilnya" Monika dan Siti langsung bangkit dari kursi tunggu.
"Ini hasilnya, ibu bisa melihatnya sendiri" ujarnya seraya menyodorkan beberapa kertas di tangannya.
Monika langsung menerimanya, tapi dia tidak mengerti soal hasil surat tersebut."Maaf dok, saya kurang faham dengan tulisan ini, bisakan anda saja yang bacaan surat medis seperti ini?" ucap Monika yang menujukan kertasnya kembali.
"Baik Bu. Saya akan jelaskan, apa maksudnya dari tulisan ini. Ini adalah nama anak dan nama orang tua, di sini apakah benar ini nama anda?" ujar sang dokter.
"Iya bener, ini nama kami" ucap Monika yang menjawab dengan yakin.
"Bu dari hasil dua jenis sempel rambut DNA yang ibu berikan itu, hasilnya tidak cocok Bu, tidak ada ke... Ibu monika???" karena mendengar hal itu Monika syok, ia tak tahan lagi, langsung ambruk hingga membuat Bu siti dan Dokter itu kaget.
"Ya Allah Bu, istighfar. Dokter ini gimana?" panik siti saat melihat Monika tak kuat menahan dirinya.
"Suster cepat ambilkan kursi rodanya" ucap dokter itu dengan santainya.
"Baik dok" ucap suster yang menurut saja saat di suruh mengambilkan kursi roda.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Kamis 28 JULI 2022.