PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
193. Rahasia Suami dan Dady.


__ADS_3

Elisa yang langsung pergi ke kamar untuk istirahat karena, ingin membersihkan diri dan ingin menyegarkan tubuhnya yang sudah mulai lengket.


Setelah selesai mandi, Elisa langsung merai Phonselnya lalu mencari kontak nama suaminya. Tertera nama My Handsome, lalu terlihat panggilan luar negeri itu langsung tersambung.


"Hallo mas, assalamualaikum... Maaf Elisa baru bisa hubungi mas karena Elisa baru saja pulang, tadi habis traktir temen-temen makan... Kan Nacly Sama Diana sekarang resmi jadi karyawan Elisa di toko... Iya, Alhamdulillah. Ada apa mas? Kok suaranya terdengar sangat berat, kamu lagi sakit yah... Ya Allah, tapi kamu sakit gak parah kan?... Kalau Elisa libur yah, nanti Elisa kesana. Tumben nyuruh Elisa nyusul kesana, kangen yah?... Iya udah kamu istirahat aja dulu, kamu jaga kesehatan dong! Kalau jauh kayak gini susah Elisa, kamu sudah minum obat?... Ih apasih mas, gombal deh! Suamiku lagi sakit, kasihan banget sih, makanya jangan jauh-jauh dong!"


Elisa telfonan dengan suaminya hingga pukul 11 malam, sampai Andre benar-benar tidur karena mendengar suara dari istrinya saja. "Mas, kamu udah tidur yah. Aku tutup yah, assalamualaikum suamiku. Good night, semalam dan mimpi indah. I Love you." karena sudah tidak mendengar jawaban apapun dari sang suami, yang terdengar hanyalah nafas yang panjang, Elisa langsung memutus panggilan itu.


"Hah... Dia, tumben banget romantis ngomongnya. Tapi, kasihan juga kalau kayak gini, apakah aku nyusul dia aja yah? Eh, tapi bulan ini jadwal ngampus sedang full. Kalau aku bolos kuliah lagi, lah bisa sewot 7 turunan nanti." Dumal Elisa setelah itu mematikan lampu hanya menyalakan lampu tidur.


...----------------...


Keesokan bisa berkunjung ke rumah orang tua nya, ternyata di sana ada mertuanya yang sedang berkunjung juga. Mau tidak mau Elisa harus bertemu dengan mereka, lagi pula Elisa juga jarang bertemu dengan Monika kembali. Setelah dia pindah rumah dari rumah mertua, dan rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum Ibu-Ayah,"ucap salam Elisa yang baru datang dari rumahnya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."suara serempak dari dalam rumah.


Elisa langsung memasuki saja ruang tamu keluarga, dua pasang kedua orang tua dan mertuanya sedang duduk berdampingan.


"Mamah, dan papah juga ada disini? Sudah lama mah-pah?" Tanya Elisa sambil mencium tangan keduanya.


"Iya lumayan, Kamu dari mana Elisa?" tanya Monika.


"Dari rumah, mau kesini dipanggil sama ayah. Kalau mamah sama papah dari mana?" jawab Elisa yang ikut duduk di samping mereka.


"Dari Bogor, terus mau ngasih oleh-oleh sama ibu dan ayah kamu." jawab Monika.


"Ouh, iya aku baru denger dari Lea kalau mamah habis honeymoon yang 80 yah?" ucap Elisa dengan senyuman mengembang.


"Apasih nih anak siapa yang honeymoon, orang kita kesana nengok saudara mamah sekalian silaturahmi." ucap Monika yang sangat malu.


"Lagian kita ini sudah tua, honeymoon cocoknya buat kamu sama Andre." sambung Arafif.


"Nah betul itu, kamu datang sendiri? di mana Andre?" Monika yang kembali bertanya.


"Mas Andre lagi di London, kata masih ada urusan disana." Ucap Elisa yang menjawab dengan tegas.


"Walah tuh anak nggak berubah-berubah, ninggal kamu lagi. Inimah sama aja bohong, walau kalian sudah tinggal terpisah sama kita semua, tapi hasilnya malah Andre kayak leluasa begitu. Udah mendingan kamu balik lagi ke rumah mama, dari pada Andre nanti nggak ke kontrol kayak gini, dirumah mama kesepian loh nggak ada kamu." ucap Monika yang saat ini meminta Elisa buat balik.


"Kamu juga kesepiankan kalau ditinggal terus sama Andre kayak gini. Kalau bareng sama kita lebih baik, kamu gak usah bengong dirumah." Ujar Arafif yang membujuk menantunya itu.


"Iya si pah, tapi..." Elisa bingung untuk menjelaskan dan menjawab apa yang dikatakan oleh pasangan suami istri ini.


"Dirumah juga ada Brandon, dia katanya mau ketemu sama kamu. Makanya kami kesini, ku pikir kamu ada disini nak." ujar Arafif uang menjelaskan.


"Eh Dady juga ada sini. Kapan datang?" tanya Elisa antusias.


"Kemarin malam, papah juga gak tahu karena masih di Bogor." jawab Arafif.


Akhirnya Elisa pun ikut pulang bersama mertuanya, untuk bertemu dengan Brandon ayah kandung dari Andre. Langsung menghubungi sang suami yang masih ada di London, dia mengatakan semuanya Jika dadynya datang ke Indonesia untuk bertemu dengan mereka.


"Ke New York dad?" Elisa kaget karena diajak untuk tinggal di New York.


"Iya, kamu dan Andre di sana." ucap Brandon yang menatap penuh harapan.


"Tapi, Elisa kuliah dad disini." ucap Elisa yang langsung menatap wajah Dadynya.


"Bisa pindah, kamu mau yah." ucap Brandon yang langsung menetapkannya.


"Tunggu sebentar Brandon, itu terlalu mendadak dan terkesan kamu memaksa keinginan diri kamu. Jadi sebenarnya tujuan kamu datang ke sini buat jemput Elisa sama Andre?" ucap Arafif yang spontan memotong pembicaraannya.

__ADS_1


"Iya. Aku datang buat jemput putraku dan menantuku, apakah aku salah Arafif." ucap Brandon yang menjadi bersih tegang dengan sahabatnya sendiri.


"Seharusnya kamu dengarkan dulu dari pihak Elisa, apakah dia mau untuk ikut bersamamu, jangan kamu ambil kesimpulan secara sepihak." Arafif yang agak gram.


"Apakah kamu masih kurang untuk tinggal bersama anakku, bukannya andre sudah tinggal lama di sini, bersama kalian. Setidaknya kamu memberikan aku kesempatan untuk menjadi seorang ayah bagi mereka juga, untuk tinggal bersamaku. Bahkan Andre telah tinggal lama denganmu selama 30 tahun, dia bersama kalian. Apakah kau masih kurang untuk tinggal bersama putraku, bukannya kau sekarang sudah memiliki putra, dan putrimu sendiri. Sedangkan aku tidak punya siapapun di sana, aku hanya memiliki putra semata wayang yaitu Andre."


"Bukan aku bertindak kejam kepadamu, tapi mereka sudah memiliki kehidupannya sendiri. Jangan memaksakan keinginanmu hanya untuk ambisimu saja."


"Lalu apa bedanya aku dengan kalian, kalian menjadikan putraku sebagai seorang dokter. Memaksakan keinginan kalian, agar putraku meneruskan apa yang kalian miliki, seperti RS itu. Sedangkan putraku adalah darah bangsawan, seharusnya tinggal di kerajaan. Dan ANDRILOS, adalah identitas dari Andre."


"Aku tidak melupakan hal itu Brandon, tapi jika kamu memakai hak itu maka Elisa yang akan terbebani dalam hal ini, jangan kamu katakan bahwa Andre terpaksa menjadi seorang ANDRILOS."


Bagaimana ini, papah dan Dady jadi bertengkar begini aku harus bagaimana? Aduh, aku harus ngapain yah? Aku harus menengahinya. Dalam hati Elisa yang kebingungan.


"Dady, bagaimana jika kita tunggu mas Andre untuk pulang aja. Lebih baik seperti itukan, agar kita tahu jawaban darinya juga." ucap Elisa yang menenangkan ketegangan keduanya.


"Iya kak Brandon, kita tunggu Andre pulang. Elisa cepat kamu telfon Andre ada dimana dia sekarang, bilang jika ini sangat gawat dan sangat penting." ucap Monika yang bergantian.


"Gawat kau bilang, jadi kamu pikir aku adalah orang yang akan menculik putraku sendiri hah!" ucap Brandon yang penuh emosi.


"Bukan begitu kak." Monika serba salah dibuatnya.


"Dady, kita naik ke atas yuk. Mendiang Dady istirahat dulu sambil nunggu mas pulang, Elisa bikinin Teh jahe anget yah. Yuk kita naik dulu, ayo lewat sini." ucap Elisa yang menyenangkan pertengkaran itu.


...----------------...


Malam harinya, Andre yang baru saja sampai dari London langsung memasuki halaman rumah terlihat Arafif yang ada di depan sedang ngobrol dengan satpamnya.


"Assalamualaikum papah." Ucap Andre yang berjalan mendekati papahnya, langsung mencium tangan Arafif dengan sopan dan lembut.


"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, baru pulang nak. Cepat kamu masuk dadymu seperti orang kesurupan, dateng-dateng malah marah-marah gak jelas papah takut darahnya naik." ucap Arafif yang keluar karena tak mau mendengarkan apapun lagi dan menghindari perdebatan diantara mereka.


Andre yang langsung saja masuk kedalam, Elisa yang sedang melayani dadynya untuk makan malam, ditemani dengan Monika yang saat ini ikut duduk bersama Brandon.


"Assalamualaikum." salam Andre yang masuk kedalam rumah.


Elisa yang mendengar salam dari suara suaminya datangnya, merasa lega karena Andre pasti bisa menyelesaikan soal ini.


Alhamdulillah penyelamat ku sudah datang, tumben cepat dia datang. Biasanya lama buat sampai. Dalam hati Elisa yang merasa sangat lega.


"Bi, nanti kalau sudah mendidih minta tolong yah tuangkan ke sini, sisanya masukkin ke termos yah." ucap Elisa yang buru-buru keluar dari dapur untuk menyambut sang suami.


"Iya mba, nggak usah khawatir." ucap pembantu.


Elisa bergegas menuju ruang tengah, dimana suaminya saat ini sudah duduk bersebelahan dengan Dady. "Mas..." suara Elisa terhenti karena dihentikan oleh Monika yang saat ini melarang mengganggu anak dan ayah sedang ngobrol serius.


"Jangan sekarang nak, kayaknya ada yang harus disampaikan oleh Brandon, lihat raut wajah yang tampak sangat berbeda dari biasanya. Dia juga gak seperti ini, tapi entah kenapa malah tiba-tiba menutut kita seperti itu."


Pukul 11 malam Elisa yang menunggu dengan cemas di kamar, karena tak tahu apa saja yang sedang di bahas oleh suami dan dadynya itu. Karena bersifat rahasia, membuat Elisa sangat cemas dan khawatir.


Ceklik, kreeekk.


Suara pintu kamar terbuka, Elisa spontan langsung menoleh dengan cepat melihat Andre yang masuk langsung mendekati suaminya itu.


"Mas, bagaimana? Dady minta apa sana kamu?" ucap Elisa yang sangat penasaran.


"Nggak apa-apa, kamu duluan tidur yah. Aku sama Dady mau keluar, besok baru aku pulang." ucap Andre yang melepaskan baju luarnya.


"Hah, kamu mau kemana sama Dady? Kasih tahu aku dulu kamu mau kemana? Kamukan baru saja datang masa iya harus pergi lagi." ucap Elisa yang panik.


"Sayang ada masalah yang aku urus dengan Dady, sudah yah aku pergi dulu." ucap Andre yang hanya menganti baju luarnya saja, mengecup kening Elisa dan langsung keluar kamar lagi .

__ADS_1


Dia mau keman lagi sih, ini dah malam banget sudah setengah 12 malam. Kok aku jadi khawatir yah, semoga tidak terjadi apapun sama dia aaminn. Dalam hati Elisa yang berdoa untuk keselamatan sang suami.


Elisa yang tidur dengan rasa gelisah dan was-was, dia tak bisa tidur dengan sangat nyenyak ataupun nyaman, karena memikirkan wajah suaminya yang pergi dengan wajah yang aneh, apa lagi dengan kedatangan sang Dady yang tiba-tiba meminta mereka untuk tinggal di New York.


...----------------...


Paginya Elisa yang datang ke kampus dengan wajah yang kurang tidur, membuat temen-temen sampai bertanya-tanya. "El, kamu streaming yah semalam?" ucap Resti.


"Makanya El jangan bergadang malam-malam jadi lesu dan ngantuk gitu kan." jawab Nacly.


"Masih mikirin soal uang yang hilang itu El? sampai kamu gak bisa tidur." tanya Diana.


"Bukan semuanya. Entah kenapa semalam aku gak bisa tidur aja, walau mata aku ngantuk tapi gak bisa tidur." jawab Elisa lesu.


"Itu artinya kamu butuh temen, cari temen tidur El, setidaknya kamu menikah biar tidurnya ada yang nemenin gitu!" sindir Nacly.


"Iya, nanti deh! Sekalian bikin anak, aku jos sampai pagi." jawab Elisa brutal.


"Hahaha..." Mereka malah ngakak sama-sama kecuali Elisa yang saat ini gak punya tenaga buat bercanda.


Jam mata pelajaran dimulai, mata Elisa yang sudah gak kuat setelah mata kuliah selesai dia malah tertidur di mejanya. "Elisa tidur yah?" tanya Nacly.


"Udahlah biarkan saja dia, kayaknya ngantuk berat. Kayaknya habis nguras Empang ayahnya deh!" sambung Diana.


"Hahaha iya kayaknya, udahlah re kamu jagain Elisa, biar kita aja yang kekantin kamu nitip apa?" tanya Diana.


"Oke, saya pesen Bakso, sama lontong yah, minumnya es melon." ucap Resti.


"Pedes gak?" tanya Diana lagi.


"So pasti pedes, 2 sendok aja sambelnya." jawab Resti.


Akhirnya mereka pergi, Elisa yang tertidur pulas sedangkan Resti yang sedang membantu Elisa menyalin semua catatan mata kuliah barusan. Hingga datanglah Rifky yang memasuki ruangan kelas, Resti yang sibuk tak sadar jika ada seseorang yang mendekatinya.


"Permisi," ucap Rifky yang menepuk-nepuk meja pelan.


"Eh, kak rifky ada apa kak?" tanya Resti yang salting.


"Kamu tahu Elisa gak, di kantin tadi aku gak lihat dia?" ucap Rifky.


"Nih orangnya, ngapain sih kak nyari-nyarin dia?" tanya Resti sangat penasaran.


"Ada urusan aja, lagi tidur yah?" ucap Rifky, yang melihat Elisa tidurnya pules.


"Iya baru saja tidur, udah sampaikan saja padaku nanti kalau Elisa bangun aku katakan deh!" ucap Resti.


"Iya udah gini aja, kalau dia bangun nanti, bilangin pulang kampus jangan balik dulu ada kumpulan anggota di aula gitu aja sih. Tolong sampaikan yah, aku permisi." ucap Rifky.


"Okey."


Setelah Rifky pergi Resti bingung dengan apa yang dikatakan oleh Rifky barusan. "Hah, kumpulan anggota, emang Elisa ikutan anggota apa dah?" penuh dengan pertanyaan diotak.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi di Episode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Jumat 14 Juli 2023.

__ADS_1


__ADS_2