PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
62. Penculikan Elisa Kembali.


__ADS_3

^^^New York^^^


Semua rakyat sekarang tidak stabil banyak kubu-kubu yang berdemo dengan gila di depan gedung khusus pelantikan para pemimpin grup, semua tidak terima jika ketua ANDRILOS dikeluarkan dari daftar kepemimpinan dari 5 grup ternama dan terkuat. Karena ANDRILOS adalah grup tertua yang telah berdiri, sebelum ada grup-grup lainnya. Itu yang membuat mereka tidak menerima jika ANDRILOS yang di keluarkan dari deretan pemimpin penerus grup.


Para dewan dan ketua yang ada di dalam gedung, sedang kebinggungan mengahadapi situasi saat ini, tak tahu harus bagaimana karena kekuatan rakyat ini lebih besar dari pada pemikiran mereka.


DEWAN 1 : Bagaimana ini, apakah kalian memiliki solusi, lalu apakah ada kabar dari Tuan muda ANDRILOS?


KETUA UMUM : Tidak ada, kami sedang memikirkan solusinya. Tuan muda Alzam pergi begitu saja waktu itu, beliau pasti sekarang enggan untuk menemui kita kembali. Kita juga tidak tahu, sekarang dimana keberadaan tuan Alzam, kami akan mencari informasi lebih lanjut.


DEWAN 1 : Lakukanlah secara cepat dan akurat, mereka tak akan bisa di tenangkan dengan mudah.


KETUA UMUM : Baiklah kami akan mengirimkan pesan untuk setiap penjaga dan petugas untuk mencari di mana keberadaan tuan Alzam.


DEWAN 1 : Lebih cepat lebih baik.


^^^Indonesia^^^


Kembali ke Indonesia, Andre yang masih di sibukkan dengan berbagai pekerjaan yang menumpuk dimeja, sangat fokus dan konsentrasi karena rekapan medis ini harus benar-benar diperhatikan kalau salah maka semua akan fatal.


Suara ketukan pintu yang tidak di dengar Andre membuat pintu itu terbuka dengan sendirinya, karena Elisa yang membukanya, melihat suaminya begitu fokus tak memperhatikan hal-hal di sekitarnya.


"Masih sibuk, ini sudah jam berapa?" Elisa yang langsung masuk begitu saja ke ruangan Andre.


"Ouh! hey sayang. Kok kamu udah kesini? ini masih pagi loh" ucap Andre yang langsung menoleh karena mendengar suara Elisa yang bergema di setiap sudut.


"Masih pagi matamu, ini sudah jam setengah satu tahu. Jam istirahat mu akan berakhir, emang mas Andre gak sholat?" tegur sang istri yang saat ini duduk di kursi depan mejanya.


Andre menoleh ke jam diding yang menujukan pukul 13:45. karena pakai jam otomatis.


"Astaghfirullahalzaim," seraya menepuk jidatnya.


"Nah kan baru sadar, kemana aja mas" ucap Elisa.


"Iya nih! Mas gak sadar, karena saking banyaknya berkas-berkas yang menumpuk di atas meja ini, dan harus benar-benar diselesaikan, itu yang membuat ku terlalu fokus, karena harus di perhatikan dengan benar dan teliti sekali, jadi gak sadar waktu sudah berlalu begitu cepat" ucap Andre.


"Yaudah sana sholat dulu, terus makan. Kamu ini mas, kerja ya kerja tapi harus ingat waktu, emang Hp kamu gak bunyi suara adzan apa? Kalau Elisa gak kesini, kamu pasti akan di sini sampai malam iyakan!" tebak Elisa.


"Sepertinya begitu, yaudah aku sholat dulu ya" ucap Andre yang bangkit dari tempat duduk ya.


"Iya gih sana, jangan buru-buru sholatnya yang khusu" ucap Elisa yang menyuruh Andre agar jangan tergesa-gesa.


Setelah menyelesaikan ibadah, Andre kembali dengan rambut yang agak basah karena air wudhu. Elisa yang merasa kasihan pada suaminya yang punya tugas banyak sekali, di lihat itu tak akan pernah selesai dalam sehari.


"Sudah selesai sholatnya" tanya Elisa yang membuka bekal makanan yang dia bawa dari rumah.


"Iya Alhamdulillah, sudah" ucap Andre seraya akan duduk di sofa. Elisa mengulurkan tangannya, ingin bersalaman. Elisa mencium punggung tangan suami yang barus selesai sholat itu, ya tanda jadi istri yang berbaktilah.


"Nih, Elisa udah masakin mas sayur, ada ikan dan buah juga, buahnya juga udah ku potongan-potong, sesuai permintaan. Elisa juga bawa susu biar tambah semangat kerja yah" ucap Elisa yang sudah menyiapkan segala keperluan Andre.


"Kapan mas minta?" protes Andre karena seingatnya tadi pagi tidak minta dibuatkan.


"Lah bukanya waktu itu, saat Elisa bawa makanan sambel goreng kentang mas komen. Kalau Elisa masak semua karbohidrat, gak ada protein dan mineral ya. Katanya harus seimbang jika masak lauk atau kasih makan orang iakan" keluh Elisa yang mengingat ucapan suaminya.


"Eh? kapan kejadiannya, kok mas nggak inget pernah ngomong itu. Kamu jangan mengada-ada, orang mas nggak merasa ngomong gitu?" ngeles Andre, emang gak ingat jika Andre ngomong seperti itu.


"Mas Andre yang pelupa. Katanya daya ingat seorang wanita itu lebih kuat, jadi sekecil apapun kesalahan orang pasti akan selalu terekam jelas" ucap Elisa yang memanyunkan bibirnya lima sentimeter.


"Eeeh! Itukan aku hanya—"ucapan Andre terhenti, karena tak tahu harus bicara bagaimana lagi, untuk menerangkan bahwa ia bukan bermaksud menyinggung istrinya begitu.


"Udahlah gak usah di bahas lagi, toh itu kejadian sudah lama. Yaudah cepat di makan, terus mas mulai lagi kerjanya. Mau Elisa suapin nggak? biar mas bisa bekerja sambil makan terus cepat selesai deh! dengan lancar" tawaran Elisa membuat Andre tersenyum lebar.


Karena Elisa cukup pengertian soal itu, lagian juga dia sedang malas dan ingin di manja sama sang istri walau lagi ngambek, Elisa tetep mau menyuapi sang suami.


"Hehehe... Sayang, kamu sangat pintar. Itu ide yang bagus. Boleh deh! Kalau soal itu mas gak mau nolak, malah mau banget di suapin sama kamu" ujar Andre yang kegirangan karena mau di suapin sama Elisa.


"Yaudah, mau dimana makannya. Mau disini apa disana" ucap Elisa yang menujuk meja kerja Andre.

__ADS_1


"Disana saja, sayang. Aku masih harus rekap semua data di komputer, maaf ya merepotkan kamu" ucap Andre yang mengecuup kening Elisa.


Elisa hanya menuruti permintaan Andre, ia berpindah tempat duduk, Andre mengambil kursi yang ada di depan meja kerja di pindahkan ke sisi kursi miliknya, agar mereka bisa beriringan tempat duduk, Elisa menyiapkan makanan untuk Andre.


Saat Andre sedang fokus dan mengetik di komputernya sambil di suapin makan oleh istrinya yang berada di samping, sesekali Elisa juga membantu Andre membacakan setiap kata di berkas.


Hingga suatu ketukan pintu membuat Andre terhenti sejenak, mata menatap pintu yang tertutup. Elisa yang faham langsung melihat ke arah pintu juga, karena mulut Andre penuh dengan makanan jadi gak bisa bicara.


"Dokter Andre!" suara seorang wanita terdengar dari balik pintu ruangan.


"Masuk saja, pintunya tidak di kunci" suara Elisa yang mewakili Andre karena mulutnya sedang mengunyah makanan.


"Aah, maaf saya telah menganggu waktu istirahat anda dok" ucap perawat wanita itu kaget karena melihat ada Elisa berada di samping Andre.


"Tidak apa-apa. Ada perlu apa? saya mewakilinya pak dokter Andre bicara karena mulutnya penuh, jadi saya yang jawab" ucap Elisa dengan senyuman manis.


Andre langsung buru-buru menelan makanannya, karena perawat itu agak gugup saat ini, mungkin merasa canggung melihat Elisa yang berada di sampingnya.


"Ada apa Yuna, apakah ada laporan dari bangsal 12?" tanya Andre melihat perawat di depannya.


"Iya Dokter Andre, ini ada laporan rekap medis pasien nomer rawat 009, setelah di Operasi 2 Minggu yang lalu, sekarang keadaannya sudah membaik apakah bisa di izinkan pulang?" ujar perawat itu seraya menyodorkan sebuah papan berkas lainnya.


Andre langsung menerima papan tersebut dan melihat isi di dalamnya, terlihat semua terceklis, tapi Andre masih harus mengecek ulang keadaan pasiennya itu sendiri.


"Sebentar, saya baca dulu data yah. Oke! bilang pada keluarga pasien, jika kondisi pasien stabil besok pagi, saat saya cek ulang. Maka pasien di izinkan untuk pulang, dengan catatan kondisi ya stabil atau baik" ucap Andre yang memperjelas.


"Baiklah dok, ada lagi yang harus saya lakukan dok!" tanya si perawat.


"Hmmm- untuk sementara ini tidak ada, silakan kembali ke bekerja" ucap Andre dengan senyuman manisnya.


"Baiklah, saya permisi" ucapnya seraya keluar dengan kecewa karena tak bisa menggoda Andre. Ada pawang di samping Andre, para wanita di sana jika ada Elisa tak ada yang bisa curi-curi pandang dengan Andre.


Setelah perawat itu pergi meninggalkan ruangan, Andre melihat istrinya yang bersiap menyuapkan sesendok makan lagi, Andre langsung protes.


"Sayang, jangan banyak-banyak memasukan suapan ya, ini mulutku gak muat, keliatan ya aja besar. Tapi, di dalem itu kecil" Andre yang merajuk.


"Wah! kalau kayak gini mah aku gak bisa bayangin, jika nanti kita punya anak. Lalu mamah ya model begini, aku jadi kasihan sama dia" ucap Andre yang menghayal.


"Kenapa bisa gitu?" jawab Elisa yang menyahutinya.


"Kalau Ciri-ciri emaknya aja kayak gini anak kita bisa jadi kue kukus" ucap Andre yang melihat ekspresi wajah Elisa yang kesal.


"Lah kok gitu ngomong ya, apa yang salah sama Elisa?" tanya Elisa.


"Habis kamu kasar begini, ngasih makan suami kamu aja kayak gini. Di bilangin malah balik berdebat, coba gimana gak kasihan sana anak kita nanti" penjelasan Andre.


"Mas Andre, Elisa bisa kok lembut. Tenang saja, ada rem ya kok. Toh buktinya mas Andre pernah gak di KDRT sama Elisa, gak pernahkan jadi jangan ngomong gitulah, inget ucapan adalah doa" ucap Elisa yang mengingatkan.


"Iya iya. Maaf" ucap Andre yang pasrah dan hanya bisa melanjutkan makan masih di suapi oleh Elisa.


Datanglah ketukan pintu lagi, di luar ada Rudi yang ingin minta tanda tangan dan untuk melapor soal obat. Belum lama pintu itu terbuka dan harus melihat pemandangan dimana Elisa yang sedang menyuapinya Andre, itu membuat Rudi tersenyum-senyum sendiri. Lalu keinget saat waktu Rudi menggoda Elisa sebelum menikah, soal bahwa dia itu akan dekat dengan Andre, lalu Elisa membatah mentah-mentah candaan itu, tapi alhasil malah beneran jadi istri Andre.


"Aduh-aduh soweeet banget kalian ini, bikin iri dunia aja. Kalau mau mesra-mesraan jangan dirumah sakitlah pak-bu, kayak kurang tempat lain aja buat romantisan nih, tempat kerja aja di bikin dunia kalian berdua" sindir Rudi.


"Mas Rudi," Elisa agak kaget karena kedatangan Rudi. Yah lebih tepatnya malu sih, karena Rudi memiliki kartu AS Elisa, tapi Rudi hanya enjoy. Malah dia senang rumah tangga Elisa dengan Andre itu harmonis.


"Yaudahlah tidak apa-apa, anggap saja aku tak melihat apa-apa di sini, karena tujuanku kesini hanya ingin melapor soal obat sama atasanku. Elisa, good job. Eh Btw Dre, kata Mia tadi ada stok obat yang datang, bukanya kau bilang gak ada suplai dari luar. Kok ada pengiriman yang gak tahu datang dari mana, terus kau bilang semua obat di buat dari sinikan. Kok ada yang datang buat nyetok obat lagi, di bagian gudang" ucap Rudi yang kebingungan.


"Begitukah, coba aku bicara dengan Try. Sebentar ya" ucap Andre yang kaget dengan apa yang di katakan oleh Rudi.


Andre langsung menghubungi Try yang langsung datang ke ruangan Andre, setelah sampai di dalam ruangan Andre.


"Ada apa kamu mengundang ku?" ucap Try yang sudah berada di dalam ruangan.


"Try katanya ada penyuplai obat, itu benar nggak?" tanya Andre kebinggungan.


"Hah? aku gak tahu soal itu, dari mana infonya" Try tak kalah kaget.

__ADS_1


"Itu dari Rudi" Ucap Andre.


"Dari Mia, kok dari saya. Aku tanya bener gak, emang si aku curiga sama mobil boxnya" ucap Rudi.


"Sumpah dre, aku gak tahu soal itu. Nggak ada penyuplai dari luar. Semua murni obat buatan tangan farmasi kita, gak ada penyuplai lainnya" ucap Try yang menjelaskan.


"Terus tuh mobil penyuplai obat apaan, jangan-jangan obat abal-abal lagi, coba kamu cek sana" perintah pada Try.


"Lah, kok gini jadinya. Kamu kalau ngasih perintah itu berlapis-lapis, satu belum kelar kamu tambahin lagi. Satu-satu napa kalau ngasih tugas, bingung nih mau ngerjain yang mana dulu" protes dokter Try.


"Aduh kamu ini bawel banget, kamu tinggal kerjain doang, kamu cek dulu sana" ucap Andre.


"Selidiki ini selidiki itu, malas aku kalau udah berbelit-belit gini" Dumalan try yang agak kesal.


"Udah biar aku aja yang pergi ngecek, tugas Dokter Try kan sudah banyak, biar ngerjain yang lainnya saja. Kamu jangan egois gitu ngasih kerjaan nggak kira-kira, kasihan sama Dokter Try, itu namanya penyiksaan. Selama ini kan Dokter Try harus kerja ekstra, dia bukan robot" ucap Elisa yang bangkit dari kursi.


"Istri mu lebih pengertian dari pada kau Kak, tuh dengarin namanya penyiksa" ucap try yang senang di bela sama Elisa.


"Tapi, kamu..." Andre belum sempat melanjutkan ucapnya sudah di potong sama Elisa.


"Udah tenang aja. Lagian dulu aku kan kerja di sini, jadi masih tahulah soal obat" ucap Elisa yang pede, berjalan keluar.


"Kamu tenang saja Dre, aku juga mau bantuin Elisa, saya pamit" ucap Rudi yang langsung mengekor di belakang Elisa.


Setelah Elisa dan Rudi pergi Try yang masih di sana langsung mendekati Andre yang masih kebinggungan soal penyuplai obat yang entah datang dari mana itu, ia mulai agak curiga.


"Kak!" panggilan Try.


"Ada apa?" jawab Andre.


"Elisa belum tahu soal pelatihan khusus yang kau katakan itu, soal menjadi seorang nyonya pendamping?" ucap Try yang ingin tahu.


"Belum, aku binggung ngomongnya mulai dari mana?" ucap Andre yang langsung menganti layar komputer yang tampilannya tadi adalah data Excel, menjadi layar monitor CCTV untuk mengawasi Elisa.


"Ya tinggal ngomong doang! Apa salahnya, kan dicoba dulu untuk menyelesaikan masalah" ucap Try yang memberikan masukan.


"Bukan masalah itu Try, aku masih ragu karena Elisa tipe wanita yang akan ambil kesimpulan secara sepihak jika itu menyangkut masalah ANDRILOS. Apa lagi itu merupakan salah satu hubungan ku dengan klan bangsawan" ucap Andre yang matanya fokus pada dua gambar di monitor komputernya.


"Kamu yakinkan saja dia dulu, soal mau apa tidak ikut pelatihan itu"


"Elisa mungkin akan langsung mau, dia tidak akan menolaknya, jika itu menyangkut segala sesuatu tentang diriku, apa lagi itu berhubungan denganku, bahkan jika dia mau pasti akan melakukan apapun demi aku"


"Sok pede benget Luh Dre."


"Sudahlah, masih banyak yang kau kerjakan bukan, pergi sana"


"Sudah dapat apa yang kau mau langsung mengusir ku. Ouhnya Dre, kapan tugas Jun ini akan berakhir karena kau limpahkan ya padaku, aku jadi orang yang paling sibuk selain kau, cepatlah cari pengganti, agar aku agak ringan, masa iya aku harus pulang larut terus, kau pikir hanya kau yang punya keluarga, aku juga punya kali" ucap Try yang protes.


"Baiklah-baiklah akan ku cari secepat mungkin tapi aku juga harus tahu progresif ya dulu" Ucap Andre.


"Iya terserah kau saja" ucap try yang pasrah begitu saja.


Tiba-tiba mata Andre kaget saat dua gambar itu memperlihatkan Rudi di pukul dari belakang dan Elisa di tutupi oleh kain hitam. "Gawat, ELISA!!!"


Andre langsung buru-buru keluar dari ruangan, ia langsung saja berlari menuju di mana Elisa akan di bawa pergi oleh mobil boxs yang mencurigakan itu.


"Apa yang terjadi pada Elisa?" Try ikut kaget saat melihat layar komputer, Try juga ikut lari keluar mengikuti Andre.


"Meraka ingin membawa Elisa, Sial. Aku lengah, siapa mereka" ucap Andre kesal.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Kamis 06 Oktober 2022


__ADS_2