PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
156. Ngedet.


__ADS_3

Malampun tiba, saat yah Elisa yang harus sudah menyiapkan diri dan hingga metalnya, hingga dia sudah pakai gaun yang mudah untuk dia beratraksi, jika memungkinkan itu terjadi.


"Okey, aku siap! aku harus ganti hp dulu agar si Fando gak curiga." ucap Elisa yang telah menyiapkan diri, lalu kamera di kancing bajunya untuk setiap langkah diawasi oleh tim.


Pukul 20.00 Malam, Fando yang mengunakan mobil Ferarri berwarna biru tua. Telah sampai di depan rumah orang tua Elisa yang saat ini masih berdandan didepan cermin, Fando keluar dari dalam mobil.


Hah! ini rumah elisa? nggak nyangka banget dia mampuh beli motor edisi terbatas, tapi rumahnya kok sederhana sekali, apakah bener ini rumah elisa?. Dalam hati Fando yang bertanya-tanya dalam hatinya.


Menuju pintu masuk rumah, saat ketukan pintu itu terdengar. Ibu yang dari arah ruang tengah segera membuka pintu rumah, dan saat melihat seorang pria muda berdiri di depan pintunya.


"Permisi Tante, selamat malam. Maaf menganggu, apakah ada Elisanya Tante?" ucap fando yang sangat sopan di depan ibunya Elisa.


"Ouh, temen yah Elisa. Sini masuk dulu nak, Elisa lagi siap-siap di kamar. Ditunggu sebentar yah nak, biar ibu panggilkan dulu." ucap Siti yang langsung mempersilakan masuk dengan Ramah.


"Iya Tante, terimakasih." jawab Fando yang masuk kedalam rumah.


"Silakan duduk dulu. Biar ibu panggilkan si elisanya. Teteh, temennya udah datang nih. Apakah masih lama teh?" ucap ibu dari depan pintu kamar Elisa.


"Iya bentar bu, lagi masang anting." jawab Elisa singkat, seraya sedang masang anting.


Bu Siti kembali lagi ke ruang tamu, melihat fando duduk dikursi. "Mau minum apa nak?" tawaran Siti pada si Fando.


"Ouh gak usah repot-repot Tante, saya hanya mau ngajak Elisa keluar, apakah boleh tante?" tanya Fando minta izin.


"Anaknya aja udah siap-siap, berati ibu sudah izinkan, tapi gak tahu ayahnya izinin nggak!" ucap Siti yang terakhir melihat wajah ayah, sebelum pergi ke masjid, menandakan ketidak sukaan atas apa yang akan dilakukan oleh putrinya itu.


"Ouh iya om ya dimana Tante?" tanya Fando yang celingukan mencari keberadaan Yusman.


"Aduh, jangan panggil Tante deh! Ibu aja, si teteh juga manggil ibu. Maksudnya si Elisa, ibu lebih akrab" protes Siti yang tidak mau di panggil tante.


"Iya Tante, eh maksudnya ibu." ucap fando yang selalu keseleo.


Tak lama Elisa keluar dari dalam kamarnya, masih merapikan barang bawaannya yang ada di dalam tas ukuran kecil tersebut.


"Yuk fan, kita berangkat. Kita mau naik apa?" tanya Elisa yang to the poin.


"Mobil" ucap fando singkat karena terpesona melihat kecantikan Elisa kalau sudah dandan maksimal.


"Cius, naik mobil?. Hah, kamu punya mobil? kok aku gak pernah lihat." ucap Elisa yang syok.


"Iya, tuh ada di depan. Aku gak mungkin bawa mobilnya masuk kedalam rumah kan? Nggak muatlah." ucap fando.


Saking penasarannya, Elisa keluar ke rumah melihat mobil yang sangat mewah. Ferrari terbaru yang dibawa oleh Fando, dengan corak warna limited.


"Gila itu mobil keren banget yah. Itu mobil merek Ferrarikan, apakah punya kamu fan?" ucap Elisa yang syok.


"Bukan, aku dapat minjem. Punya kakak, he-he-he " ucap fando yang hanya mengalihkannya.


Elisa memutar-mutari mobil tersebut, lalu terlihat logo yang cukup asing baginya. Elisa langsung mengambil hp miliknya, dan mau foto Selfi.


"Boleh aku foto, plis... Aku mau foto boleh gak! kapan lagi aku bisa lihat mobil bagus ini." ucap Elisa yang memohon pada Fando agar diperbolehkan untuk foto Selfi.


"Iya, sini biar aku fotokan." ucap fando yang mengambil kamera hp miliknya.


"Nggak usah, pakai hp aku aja tolong yah kamu fotokan." ucap Elisa yang memberikan hp miliknya.


Fando langsung mengunakan keahlian dia untuk memotret dengan baik, sebuah berbagai gaya. Elisa langsung melihat hasil jepretan dari foto-foto Fando, lalu Elisa baru sadar apapun gayanya, tapi logo di mobil tersebut tidak ada. Fando seperti sengaja tidak memperlihatkan logo tersebut, Elisa sambil lihat foto-foto.


"Hasil jepretan kamu luar biasa Fando, ini semua keren banget." ucap Elisa seraya menampilkan senyuman diwajahnya.


"Nggak! Modelnya yang keren dan hebat, semua gaya bisa." jawab Fando yang senang.


Sialan dia, apapun gayaku. Tapi logo itu, tidak terfoto. Sepertinya Fando sudah tahu niatku, atau mungkin Fando sengaja tidak mau memperlihatkan logo itu, apakah logo itu sangat penting. Atau ada rahasia dibaliknya, dan mungkinkah logo itu adalah asosiasi dari mereka. Dalam hati Elisa.

__ADS_1


"Ayo Elisa kita berangkat, keburu kemalaman dijalan" ucap fando yang langsung mengajak Elisa untuk pergi.


"Ouh, iya. Hmph, boleh ku pos gak di sosmed?" ucap Elisa yang minta izin sama Fando.


"Terserah kamu, itu hak kamu el" ucap fando yang berjalan mendekati ibu Siti.


Elisa diam-diam malah memotretnya saat Fando tengah lengah, tapi sayangnya Fando sampai melihatnya dan Elisa buru-buru mengirimkan pada suaminya.


Lalu, mereka akhirnya langsung berangkat setelah pamitan sama orang tuanya, Elisa yang sesekali melihat fando yang fokus menyetir mobilnya.


"Kamu kenapa sih, ada yang aneh sama wajahku yah?" ucap fando yang melirik Elisa.


"Nggak ada kok! Kamu nggak apa-apa nih, jalan sama aku?" ucap Elisa yang agak khawatir.


"Emangnya kenapa?" ucap fando yang sangat penasaran.


"Kakakmu gimana? apakah dia mengijinkan kamu buat pergi malam ini, bukanya kakakmu itu pemarah yah?" ucap Elisa yang teringat jika kakaknya Fando yang telah mengendalikan segala gerak Fando.


"Tenang aja kakak aku lagi gak ada di rumah kok, dia lagi pergi jauh." Fando yang melihat maps lokasi kakaknya jauh dari kota saat ini.


"Eh, kemana?" tanya Elisa yang sangat penasaran.


"Nggak tahu juga kemana? yang pasti kakak kemungkinan tidak akan pulang malam ini, jadi aku bisa keluar malam deh!" ucap fando yang saat ini langsung menyalakan musik.


"Ouh, gitu." Elisa langsung kirim pesan diam-diam lewat gelang yang dia pakai untuk kirim sinyal.


"El, kamu suka makan apa?" ucap fando yang ingin tahu kesukaan Elisa.


"Aku anaknya gak pilih-pilih makanan kok, gak ada pantangan juga, tapi aku gak suka buah durian dan buah kedondong, terus yang asem-asem gitu aku gak suka. Tapi aku suka makan mangga muda, totol sambel. Itu kalau buah, kalau makanan is oke. Semua masuk kecuali kayu, batu, tanah, dan jenis lainnya." ucap Elisa yang nadanya sedikit lebih senang.


"Hahaha kamu ini lucu benget sih, lalu apakah kamu punya pantangan makan olahan laut kayak udang atau cumi, atau masakan pedas?" ucap fando.


"Hmm-itu mah aku banget, aku malah sangat menyukainya." ucap Elisa yang sangat bersemangat.


Mampus, inikan tempat yang sering aku datangi sama mas Andre gimana ini, bagaimana kalau ada yang tahu soal aku, terus aku akan jawab apa? Jika seandainya mereka tanya, Fando jadi curiga gimana nih. Dalam hati Elisa yang sudah mulai panik.


"El ada apa? Ayo masuk." ucap fando saat ini menoleh kebelakang, melihat Elisa yang terdiam mematung.


"Ouh! Aduh Fando kenapa kita kesini sih?" ujar Elisa yang agak ragu buat melangkah untuk masuk.


"Hmph! Kenapa emangnya, kamu gak suka tempatnya?" tanya Fando yang mendekati Elisa lagi.


"Suka, cuman tempat ini. Hmmm- kenapa sih kita harus datang kesini?" ucap Elisa yang agak ragu buat masuk kedalam restoran itu.


"Kenapa apakah kamu kenal seseorang disini? atau ada orang yang tidak kamu sukai ditempat ini?" ucap fando yang asal tebak.


"Nggak ada si, hanya saja aku rada gak enak aja gitu. Tapi, ya udah aja si. Yuk!" ucap Elisa yang langsung berjalan masuk melewati Fando.


"Dia kenapa sih, aneh banget. Lucunya, Elisa-elisa." Dumalan Fando.


Saat memasuki restoran, tak banyak orang disana. Entah tempat itu agak sedikit pengunjung, mungkin bukan hari libur atau hari-hari untuk anak muda pada nongkrong.


"Restoran diluar ruangan gini asik ya El, bisa lihat bintang sekaligus pantai sekaligus." Ucap fando yang menarik kursi untuk Elisa.


Dengan meja bundar dan tiang untuk payung besar untuk menahan air hujan dan terik matahari, mereka duduk dekat dengan bibir pantai, hingga kaki mereka menyentuh air laut. Elisa cukup menikmati suasana seperti itu, karena selama ini. Walau dia sering datang dengan suaminya, tapi ia tak pernah tenang menikmati pemandangan dan waktu untuk melihat sesuatu keindahan alam.


"Sumpah baru kali ini aku menikmati waktu tenang melihat indahnya pantai." ujar Elisa yang sangat senang.


"Emang kamu sering datang kesini el?" tanya Fando spontan.


"Iya pernah, sering banget malah karena aku suka makan olahan seafood." ujar Elisa gak sadar mengatakan hal itu.


"Ouh! pantesan, kayaknya kamu syok banget saat datang kesini? Hmph! btw, pas datang kesini kamu sama orang yang spesial kah?" ucap fando yang ingin tahu.

__ADS_1


"Iya, spesial banget bagi ku, dia adalah segalanya bagi ku." ucap Elisa yang jujur.


"Ouh! apakah kamu datang dengan kekasih kamu?" ucap fando yang agak kesel.


"Bukan sekedar kekasih ku saja, tapi dia lebih juga dari itu." ucap Elisa yang mengingat semua kenangan bersama suaminya.


"Ouh gitu, suamimu?" tebakan Fando membuat Elisa terdiam sejenak, lalu menatap Fando.


"Hahaha... Tentu saja, dengan Cinta Pertama ku, yaitu keluarga ku yang paling, ku sayangi di dunia ini." ucap Elisa yang Mengganti nama suami dengan keluarga.


"Hmmm, gitu kirain kekasih kamu." ucap fando yang agak lega.


Fix, dia tadi terlihat kayak orang sangat cemburu padaku saat aku membicarakan orang spesial, jadi apakah rencana ku buat mendekati dia berhasil, apakah dia sudah mulai tertarik padaku, jika seperti ini aku akan lebih mudah untuk mengalih informasi darinya. Dalam hati Elisa yang akan mencari informasi.


Fando juga sibuk dengan pikirannya, kalau Elisa punya seseorang yang spesial dihatinya. Iya masih memikirkan hal itu, hingga mereka tidak sadar hingga para orang-orang dari kakaknya telah mengikuti mereka.


"Ouh iya fan, nanti kita cari tempat foto yang bagus yuk! Yah menurut kamu dimana yang paling eksotis gitu, pemandangan disini bagus-bagus iyakan." ucap Elisa yang mengalihkan perhatian Fando.


"Iya, mau foto bareng kayak pasangan?" tanya Fando yang langsung agresif.


"Eh, iya dong masa foto sendirian. Lagian kita datangnya berdua masa iya aku foto sendiri, kamu ini aneh deh!" ucap Elisa yang langsung masuk kedalam permainan pertama.


"Hehehe, jadi kamu mau foto sama cowok yang paling ganteng nih!" puji diri sendiri.


"Ha-ha-ha, kamu ini narsis banget sih." ucap Elisa yang geleng-geleng kepala.


Hello, gantengan juga suami aku kali. Walau dia tampan tapi gak pernah bilang bahwa dirinya pria tampan, kamu hanya segelintir saja. Gak ada apa-apa sama mas aku nantinya, karena dia jauh lebih tampan dari kamu. Dalam hati Elisa.


"Eh, kenapa emang aku salah ya? Kamu tahu gak gini-gini aku mantan boyband loh" ucap fando yang membanggakan dirinya.


"Iya-iya aku percaya kamu kok, kalau kamu mantan boyband, udah ah kamu ngelawak terus dari tadi kapan kita akan pesan makanan nih." ujar Elisa yang pasrah gitu saja. Karena gak mau berdebat terlalu panjang, terlihat pelayan datang bawa menu makanannya.


"Aku bisa kayak gini, cuma di depan kamu doang loh, apakah kamu percaya nggak?" ucap fando yang bicara didepan Elisa.


Walau di sisi mereka ada pelayan tapi Fando menujukan kemesraan itu tanpa ragu, Elisa tidak terlalu suka karena hal itu. Karena Elisa lebih suka romantis di lakukan dengan tindakan bukan ucapan, itulah elisa. Mungkin karena sudah terlalu bucin, sama pria kaku yang jarang romantis. Tapi sekalinya romantis, bikin baper semua orang.


"Enggak! Tampang model Playboy kayak kamu itu udah ketebak, hmm gaya kau seperti itu. Udahlah, btw mau makan apa nih!" ucap Elisa yang langsung matanya fokus ke menu makanan.


"Hmph! Mba aku pesan udang dan cumi saja." sambung Elisa yang menujuk ke menu yang ada.


"Baik, lalu masnya mau yang mana?" ucap mba, menatap Fando biasa saja.


Aneh, kok mba-mba ini yang suka banget godain mas Andreku, tapi dia malah diem aja yah padahal ada fando, dia juga ganteng kok... Dalam hati Elisa.


"Ada apa El, kamu mau pesan apa lagi?" ucap fando yang langsung melihat Elisa.


"Nggak! udah itu aja, tinggal kamu" ucap Elisa yang langsung melihat fando.


"Minumnya apa yah mba dan masnya?" ucap si pelayan yang melihat kearah Elisa.


"Hmph, aku es kelapa muda aja deh!" ucap Elisa yang menjawab.


"Disamain aja mba!" fando malah mengikuti apa yang dipesankan Elisa.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Sabtu 4 February 2023

__ADS_1


__ADS_2