PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
177. Lamaran Fando.


__ADS_3

Mansion milik Tuan muda yang sangat aneh dan misterius, karena Elisa baru tahu sisi lainnya dari Fando, ternyata dia bukan pria polos yang di manfaatkan kakaknya, tapi malah kakaknya lah yang di bodohi, dan di jadikan dia tameng, hingga sebagai kambing hitam agar kebejatannya tidak terdeteksi.


Fando sungguh sangat licik, Elisa yang menyadari ada hal janggal ini langsung bisa menyimpulkan, dan memikirkan jika fando bukan korban. Melainkan pelaku sebenarnya, atau otak dibalik semuanya.


Jadi begini cara kerja yah, sekarang aku mengerti, bukan kakaknya yang menjadi otak pemberontak, atau otak dari kejahatan. Ternyata tidak aku duga, Fando adalah dalang semua kerusuhan selama ini. Dalam hati Elisa yang melihat fando penuh dengan rasa amarah dan sangat kesel.


"Seharusnya kamu tidak melakukan hal gila, dan konyol sampai sejauh ini Fando, aku jadi merasa kamu itu orang yang polos tapi menghanyutkan yah." ujar Elisa yang sangat agak marah, tapi tertahan karena elisa tidak mau memicu emosi Fando. Karena Elisa tidak tahu soal Fando sepenuhnya, takut emosi Fando lebih-lebih nantinya.


Fando hanya tersenyum tipis, lalu menatap Elisa yang seperti kecewa padanya, tapi dia berusaha tenang dan menyakinkan Elisa. Bahwa Elisa adalah satu-satunya wanita yang dia miliki, itulah kenapa dia berusaha sekali ingin mendapatkan Elisa.


"Elisa jangan kamu katakan hal seperti itu, aku tidak seburuk itu. Aku hanya ingin hidup damai, dan hidup bahagia denganmu. Kita akan membangun istana kita disini, dengan anak-anak kita nantinya." pembelaan dirinya dengan bangganya.


Elisa bukannya senang mendengar hal itu malah sangat jijik, karena ada pria yang begitu sangat pede akan hal itu. Elisa tetep berusaha tetep tenang akan semuanya, karena ingin mengontrol emosi.


"Fando, kakakmu juga tinggal disini?" tanya Elisa yang berpura-pura bertanya soal keadaan kakaknya.


Walau dia tahu jika kakak fando telah di tangkap, tapi Elisa ingin tahu reaksi dari Fando, saking penasarannya dengan dugaannya itu. Apakah bener jika fando, adalah dalang di balik semua kejadian yang dialaminya.


"Kenapa tiba-tiba mengubah topik pembicaraan dengan cepat, apakah kamu sudah memaafkan aku?" Tanya Fando yang sangat heran.


"Jawab saja apa yang aku tanyakan tadi, apakah kakakmu ada disini juga?" Elisa gak kesel.


"Tidak ada, kakakku tidak ada disini. Aku tidak tahu kakakku ada dimana sekarang." ngelesnya dengan wajah memelas.


Apa-apa ini, kamu pikir dengan wajah memelas begitu, apakah aku akan terpikat, dan berbelas kasih yah. Dasar pria kejam, kamu gunakan kakakmu sebagai umpan, agar kamu bisa kabur yah. dalam hati Elisa yang agak kesal.


"Elisa kamu jangan pergi meninggalkan aku seperti kakakku yah, dia seperti sudah membuang ku karena aku sudah tidak berguna baginya." ucap fando yang manja meletakan kepalanya di pangkuan Elisa.


Elisa sejujur muak dengan hal itu, demi sandiwara yah, ia berpura-pura merasa ibah dan kasihan. Dia memberikan belaian lembut pada Fando, dengan tatapan sangat sinis.


"Aneh, terus kenapa kamu meninggalkan kakakmu, kalau kamu gak tahu kakakmu ada dimana? Seharusnya kamu mencarinya, bukannya malah kabur. Kalau aku jadi kamu, pasti akan mencari tahu keberadaan yah." ucap Elisa.


Fando yang mendengar hal itu langsung mencari cara, agar Elisa tidak menyalahkan, atau menjadi salah faham terhadap dirinya itu.


"Elisa, aku juga sedang mencarinya kok. Kakakku bilang akan bertemu ditempat ini, tapi aku malah datang lebih awal. Niat hati, aku ingin mengenalkan mu padanya, sebagai calon istri ku. Tapi, malah kakakku belum datang juga." wajahnya tiba-tiba berubah lagi menjadi pemurung.


Alasan macam apa ini. Cih! Omongan kosong mu ini, hanya ingin menutupi kebohongan mu. Kamu salah orang Fando jika ingin membodohiku seorang wanita, aku Elisa bukan wanita seperti itu yang gampang tertipu. Dalam hati Elisa.


"Elisa dari pada kita ngobrol terus disini, mendingan kita jalan keluar dan makan malam yuk!" ajakan Fando yang bangkit dari jungkuknya.


Lalu Fando membantu Elisa untuk bangun dari sofa, dan mereka keluar dengan bergandengan tangan, para pelayan hanya bisa menonton adegan tersebut.


"Fando, sebenarnya ini rumah siapa sih jujur saja padaku, ini terlalu besar disebut rumah tahu gak! Kayak istana, atau sebuah gedung pertemuan." ucap Elisa yang saat ini berjalan beriringan dengan Fando.

__ADS_1


"Ha-ha-ha kamu ini lucu sekali sih Elisa, kamu pasti gak percaya ini rumah adalah istana yang aku bangun, untuk istriku. Yaitu kamu," ucapnya seraya menyentuh hidung Elisa.


"Hah! Bukannya kita baru saja ketemu, dan aku merasa tidak nyumbang apapun di rumah ini." ucap Elisa yang langsung membantah.


"Tentu kami menyumbang banyak, karena nanti setelah kita menikah. Kamu akan menyumbang menjadi ibu dari anak-anakku, dan kamu akan mengurus mereka juga." penjelasan Fando.


"Hehehe gitu yah! Ih, kamu ini bisa aja candanya." ucap Elisa pura-pura genit. Padahal aslinya sangat jijik, tapi dia tetep menahannya.


Idih, siapa yang mau jadi istri dan ibu dari anak-anakmu. Aku gak Sudi melahirkan benimu, aku juga gak Sudi jadi ibu dari anak-anakmu itu. Dalam hati Elisa yang menolak keras.


"Bagaimana tempat ini bagus kan. Kamu juga bisa lihat Aurora, di halaman. Dari kamar tidur kita juga bisa kok lihat, nanti setelah makan malam yah akan aku tunjukan padamu."


"Aiya, kita lihat bersama-sama yah." ucap Elisa yang sangat jijik sekali.


"Kau tahu gak kenapa, kita bisa ada disini?" tanya Fando.


"Kenapa emangnya?" Elisa mala balik nanya.


"Karena kita itu di takdir untuk bersama-sama sekarang dan masa nanti, tak akan terpisah lagi. Dan tak akan ada lagi yang memisahkan kita berdua, untuk selamanya, kecuali maut. Tapi, sampai maut juga aku tak akan mau berpisah denganmu, pokoknya sampai kapan pun aku tak mau. Karena kita ditakdirkan untuk bersama satu sama lainnya. Kamu pasti nggak sadarkan, bahwa kita berdua itu cocok, dan kita berdua itu berjodoh. Takdir telah mempertemukan kita, untuk menjadi sepasang kekasih dan akan menjadi sepasang suami istri juga, yang akan menjalani kehidupan bersama selamanya, hingga abadi." ucap fando yang sangat penuh harapan.


Idih najis, tahu gak! Bikin mual aja nih orang, lama-lama aku stress sama orang model kayak gini, kamu pede benget sih. Siapa lagi yang mau sama kamu, ingetnya aku menyukai Suamiku lope-lope, my husband. Dalam hati Elisa muak.


"Hah! Apa yang kamu katakan, apakah gak salah denger aku. Kamu gila yah, hidup abadi sama cowok kayak kamu?" Elisa yang spontan isinya keluar karena saking syoknya.


"Kenapa emangnya Elisa, kamu gak suka sama apa yang aku katakan, atau kamu nggak percaya yah!" ucap fando yang mencoba menyakinkan Elisa.


"Iya enggak lah, dari mana kamu bisa tahu kita akan hidup abadi, itu adalah kata-kata paling konyol tahu gak! Kebanyakan nonton telenovela, atau kebanyakan nonton sinetron kamu."


"Eh aku serius tahu gak, kamu mau buktinya. Akan aku buktikan sama kamu, sebentar yah." Fando langsung pergi meninggalkan tempat.


Meninggalkan Elisa yang masih berdiri mematung di atas Anak tangga, Elisa akan jijik sama sikap Nora Fando ini, sangat membuat dia geli sendiri.


"Cih sejak kapan dia seperti ini, apakah otaknya sudah rusak yah?" ucap Elisa yang mendumal.


"Elisa coba lihat ini," ucap fando yang menujukan sesuatu.


...****************...


Andre akhirnya terbang ke sebuah pulau yang agak mencurigakan baginya, karena tempat itu tidak bisa terdeteksi oleh radar yang super canggih, makanya dia melacaknya sendiri, dengan turun ke lokasi.


Pulau sebuah yang agak asing, dengan hamparan pasir merah dan hutan yang masih sangat lebat, Andre sangat hati-hati turun dari helikopter yah. Saat melihat ada yang aneh di bawa pasir, Andre sadar jika pasir-pasir itu sangat berbahaya.


"Andre pasir bergerak, ada sesuatu di sana cepat naik lagi." Teriakan Zever yang khawatir.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Andre naik lagi ke helikopter, mereka hanya memutar pulang tersebut, Andre juga melihat malah banyak binatang buas dan aneh-aneh yang tinggal disana.


"Gila nih tempat, serem juga. Tapi, apakah kamu yakin jika Elisa ada disini. Tempat ini pasti tak ada manusia yang akan tinggal lama, lihat kondisi ini sangat mencekam." ucap Maura.


"Apakah tidak apa-apa? Manusia bisa hidup hutan rimba seperti hutan Amazon tahu gak! Ayo, sebaiknya kita pergi dari sini." Ujar Zever pada pilot.


Akhirnya mereka meninggalkan tempat tersebut, lalu mereka berada di beskem perkemahan darurat. Mereka membuat perkumpulan di suatu tempat, bibir pantai yang terletak tidak jauh dari pulang asing itu.


"Sedang apa dia, sejak tadi dia hanya diam tak bersuara sama sekali. Apakah Andre tipe pria yang pendiam, kenapa dia seperti patung begitu." ucap Maura.


"Hmm, Andre memang pria yang sangat ditakuti di markas, dalam diampun itu sebagai ancaman amarahnya. Jika boleh memilih nihnya, lebih baik Andre marah-marah meledak-ledak. Dari pada diam seperti ini, karena akan lebih berbahaya jika diam seperti ini." Saran Zever seraya berbisik.


...****************...


Di mansion Elisa yang sedang duduk dengan Fando di meja makan, malah dikejutkan dengan beberapa pelayan yang datang.


"Nah, Elisa kamu pasti suka kan makan dengan iringan lagu seperti ini."


"Hehehe iya terserah deh!" ucap Elisa senyum terpaksa.


Setelah selesai makan, mereka menikmati waktu mereka lalu sesekali Fando menari-nari kegirangan, dan seleksi mengajak Elisa untuk ikut menari juga dengan yah. Tapi, Elisa yang selalu menolak ajakan Fando, dengan alasan bahwa dia tak bisa menari.


Hingga malam pun tiba, Fando mengajar Elisa untuk lihat Aurora malam. "Indah bukan, tempat ini adalah favorit ku. Apakah kamu suka?" Fando sangat penasaran dengan jawaban dari mulut Elisa.


Hanya senyum keterpaksaan yang di tunjukan oleh Elisa, Fando lalu mengucapkan semua keinginan dia untuk menjadikan Elisa wanita seluruh yah.


Fando yang berjungkuk di depan Elisa, dengan penuh harapan jika Elisa mau menerima dia sebagai suaminya, dan mau menerima lamarannya itu.


"Elisa... Will you marry me?" sambil menujuk sebuah kotak cincin di tangannya.


Elisa hanya mematung disana, karena bingung mau menjawab apa? Jika dia tolak, maka dia benar-benar tak akan bisa kabur dari lingkaran zona siksaan. Tapi, jika dia terima maka dia bener-bener tak akan bisa lepas seumur hidupnya.


"Fando, bukannya aku menolakmu tapi... Aku butuh restu dari kedua orang tuaku dulu."


"Elisa, anggap mereka sudah tidak ada. Kamu tak usah memikirkan mereka lagi, anggap kita tinggal berdua saja."


"Maaf, aku tidak bisa seperti itu. Orang tuaku adalah segalanya, jadi tak bisa ku tukar."


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Rabu 8 MARET 2023


__ADS_2