PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
78. Putri Kecil Helana.


__ADS_3

Andre dan Elisa duduk di sana tinggal mereka berdua, Andre menatap Elisa yang biasa saja malah sedang sibuk makan. Andre sesekali di suapi oleh Elisa, heran dengan sikap dewasa Elisa yang tidak marah atau menujukan cemburu secara nyata.


"Sayang! Apakah kamu tidak marah?" ucap Andre setelah menelan makanannya.


"Huh, Marah? Elisa harus marah kenapa?" ucap Elisa tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Andre.


"Iya itu yang barusan kamu pergoki, soal Helena. Apakah kamu tidak marah? padahal sudah jelas aku memeluknya, kok bisa kamu tidak marah atau bisa saja kan kamu salah faham sama hubungan kami" ucap Andre.


"Kamu mau aku kayak gitu?" spontan Elisa menantang Andre.


"Nggaklah, aku mau Elisa yang bisa berfikir secara dewasa, tidak gampang tertipu dan tersinggung. Aku suka itu, aku juga suka jika Elisa bisa punya pertahanan diri lebih kuat karena punya pertimbangan cukup baik."


"Baguslah kalau kamu juga bisa menilai dengan baik, cepat habiskan makanan mu lalu kamu segera pulang, aku akan kembali ke kelas" ucap Elisa yang mempercepat makannya, Andre hanya bisa tersenyum luas.


"Baiklah, sayang! Terimakasih ya, sudah mengerti kondisinya" ucap Andre yang sangat bangga pada istrinya.


"Sama-sama, pada awalnya aku juga sangat marah dan cemburu, jika aku beneran salah faham, dan hampir saja tadi ingin menghabisi Helena karena telah memeluk-meluk kamu seperti tadi, aku pikir dia sengaja menggoda kamu."


"Lalu kenapa kamu urungkan niat untuk melakukan hal itu."


"Setelah aku cermati dengan baik, dan mendengar jika kamu akan membantu nona Helena untuk menyelematkan putrinya, aku langsung terasa berbedaanya."


"Ouh, jadi kamu sudah mendengarnya. Makanya kamu malah duduk disini, dan hanya menonton kami" ucap Andre yang baru tahu alasannya.


"Iya, karena aku ingin mendengar lebih jelas. Apakah kamu akan membantu yah atau tidak? makanya aku sengaja duduk di sini."


"Kamu tidak usah khawatir karena Zever dan Xeverio sedang pergi untuk menangani kasusnya, aku percaya jika mereka tidak akan pernah gagal dalam misi apapun."


"Aku tahu, pasukan Zever dan Xeverio bisa di andalkan, dan tidak di ragukan lagi soal kemampuan mereka. Tapi, mas aku jadi merasa kasihan pada Nona Helena, dia tidak mengatakan apapun padaku, tapi beberapa waktu lalu dia seperti dapat panggilan dari seseorang yang tidak dikenal, lalu tiba-tiba dia menangis histeris lalu aku melihat wallpaper diponselnya, saat di toilet ternyata ada foto dengan seorang anak perempuan sangat mirip dengannya, begitu cantik."


"Ouh, jadi begitu kejadiannya lalu dia tidak mengatakan apapun lagi padamu?" Andre seperti ingin mendengar lebih jauh soal masalah Helena tersebut, agar Helena juga bisa membantu Elisa melewati seleksi dengan baik.


"Justru karena itu, nona helena tidak memberikan tanda-tanda jika dia punya masalah, dia juga selalu menghindariku. Itu yang membuat aku binggung, tidak meminta nomor kontakmu jadi aku tidak enak untuk menanyakan soal masalah pribadinya, jika saja dia meminta bantuan kepadaku mungkin aku bisa mengatakannya padamu."


"Sudahlah kita berdoa saja untuk keselamatan anak perempuan Helena, aku jadi kesal kok ada pria bejat seperti itu ya."


"Memangnya semua pria harus sama seperti mu, wah kalau kayak begitu mungkin dunia ini akan aman dan damai iyakan. Kalau di perhatikan akhir-akhir ini, kamu sebenarnya menyukai anak kecil kan?" ucap Elisa yang menatap bidikan tajam.


"Kapan aku bilang aku membencinya? perasaan selama ini aku tak mengatakan bahwa aku benci sama anak-anak, kok bisa kamu menyimpulkan bahwa aku tidak suka anak-anak?" ucap Andre yang heran dengan pikiran Elisa.


"Itu karena kamu yang selalu menghindariku, saat aku ingin minta jatahku, hal itu yang membuatku berfikir kamu tak suka anak-anak" ucap Elisa jadi kepikiran.


"Sayang, sudah pernah ku katakan. Itu karena aku belum siap, semua juga belum siap. Bagaimana aku bisa menjadi ayah jika kondisi dan lingkungan juga belum siap."


"Belum siap bagaimana lagi, dan soal apa yang membuat kamu belum siap? Mas Andre, secara fisik kamu sudah sangat mapan, entah itu secara finansial, lalu apa yang kamu tunggu."


"Kenyamanan dan keselamatan untuk anakku, sayang aku punya harapan jika suatu saat anakku tidak mengalami penderita yang sama seperti ku, harus kehilangan orang-orang yang dia sayangi, kehilangan orang di depan matanya, itulah harapanku yang pasti. Aku ingin dia tak punya nasib yang sama seperti ku saat kecil, apakah kamu tahu. Jujur aku juga sudah menunggu kehadiran anak kita datang, tapi aku punya banyak kekhawatiran tentang keselamatan dan keamannya. Aku tidak mau anakku nanti seperti diriku, aku sangat takut dia tersiksa, dan harus berpindah-pindah negara seperti ku, juga harus berpindah sekolah, pendidikan yah jadi terbengkalai pokoknya aku nggak mau anak-anak kita menjalani semua hal yang sama sepertiku."


"Jadi itulah yang menghalangi mu, apakah hanya itu alasanmu mas, apakah ada alasan lainnya. Baiklah, biar aku katakan juga padamu, sebenarnya aku berada di sini dan kekeh tetap ingin ikut seleksi menjadi pendamping pemimpin, agar aku juga bisa membantu mu, aku juga ingin keberadaan ku di anggap, agar nanti jika ada apa-apa aku juga siap membantu mu."

__ADS_1


"Aku tahu kamu sudah berusaha sangat keras, terimakasih sudah membantuku. Aku sangat minta maaf karena sudah melibatkan kamu dalam masalah ini, dan aku terus saja merepotkan kamu." ujar Andre yang tampak sangat tertekan akan keadaannya.


Kasihan dia, dia selalu di kejar-kejar rasa ketakutan dan trauma akan kisah masa lalu yang menyeramkan itu, dan menyebabkan dia tak bisa melupakan ya. Akhirnya malah berdampak tidak baik untuk hubungan masa depan kita, terancam anak kita tidak akan lahir dengan cepat, jadi aku harus menunggu lebih lama lagi untuk bertemu dengan Andre junior atau Elisa kecil yang lucu dan imut, aku bahkan sudah membayangkan bagaimana anak-anak ku nantinya. Isi pikiran Elisa yang berkata-kata.


Di sisi lain, terlihat Helena dan Emily yang sudah sampai di kantin merasa bersalah dan masih khawatir. Emily yang masih kurang faham manjadi penuh dengan pertanyaan di otaknya, melihat Helena yang panik kalang kabut Emily memberanikan diri untuk bertanya.


"Nyonya Helena. Apakah pria tadi itu adalah suaminya nyonya Elisa?" dengan ragu-ragu bertanya pada Helena.


"Iya dia suami dari nyonya Elisa, Emily jawab pertanyaan aku jujur, apakah kalian memang benar sudah lama duduk di sana? lalu apakah nyonya Elisa mengatakan sesuatu, Emily aku merasa bersalah kepada Nyonya Elisa,"


"Iya kami cukup lama duduk di sana, nyonya Elisa hanya menatap kalian saja tidak mengatakan apapun, katanya tidak usah mengganggu waktu kalian, begitu. Makanya Nyonya Elisa melarangku untuk mengganggu kalian yang sedang berpelukan, jika aku jadi nyonya pasti akan marah tapi nyonya Elisa kok malah biasa saja."


"Aaduuuh gawat, aku di antara mereka. Bukan begitu maksudku, aku tidak ingin mereka bertengkar gara-gara aku, apakah nyonya Elisa mendengar semua percakapan kami?" tanya Helena, jika mengetahui isi percakapan mereka itu akan lebih baik, dan Helena lebih lega.


"Kami tidak terlalu jelas mendengarkan percakapan kalian, apa lagi tadi kami berdua sempat berdebat kecil jadi aku tidak tahu apa yang nona Helena dan suami nyonya Elisa bicarakan, tiba-tiba melihat nona Helena menangis dan memeluk suami nyonya Elisa.


"Gawat, aku jadi khawatir jika nyonya Elisa bisa salah faham, dan menyimpulkan sendiri. dan memiliki pikiran yang aneh dan jelek padaku."


"Tapi tadi sepertinya Nyonya Elisa baik-baik saja, bahkan suaminya juga seperti tidak terlihat ada masalah, menanggapi dengan begitu santai."


"Justru karena itu aku merasa lebih takut dan kurang nyaman karena ketahuan oleh nyonya Elisa, aku malu banget pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku cari kesempatan dari kesempitan, dasar kamu ini Helena tidak tahu malu" Helena memaki-maki dirinya sendiri, membuat dia harus memikirkan matang-matang kembali untuk menjelaskan.


"Nyonya Elisa itu sangat harmonis sekali dengan suaminya, suami juga sangat pengertian sampainya membawakan makanan untuk nyonya Elisa kesini" ucap Emily.


"Iya, kamu bener Emily aku juga cukup heran dan sangat kagum bagaimana nyonya Elisa bisa menaklukkan diding gunung es itu. Bagaimana caranya mereka membangun hubungan seperti itu, aku yang melihatnya kadang iri dengan hubungan yang seperti itu." ucap Helena yang sedang tenggelam dalam bayangan.


"Hmm- mereka sangat romantis dan rukun, suaminya sangat tampan? Tapi bagaimana mencari idaman seperti itu ya nona Helena."


"Aku jadi ikut senang, melihat kebahagiaan nyonya dan suaminya, tadi lihatnya sangat adem tentram sekali?" ucap Emily.


Keesokan paginya, seorang gadis kecil berada di pelukan Andre, dia sangat manis dan cantik Andre menjadikan dia seperti tuan putri dari negeri dongeng. Andre membawanya jalan-jalan ke suatu tempat, yaitu taman bermain sambil menunggu Helena datang menjemputnya.


"Glenn pergilah jemput Helena dan Elisa, anak ini pasti sangat merindukan ibunya" ucap Andre yang membelai lembut kepala gadis kecil yang sekarang tersenyum bahagia.


"Laksanakan perintah anda, saya permisi undur diri" ucap Glenn yang menunduk memberi hormat dan pergi.


Disisi lainnya, Helena yang mendatangi kelas Elisa saat ini sedang belajar kebetulan kelas Elisa juga sudah selesai. Ia langsung keluar kelas, Helena kaget karena saat ingin membuka malah Elisa sudah ada di depannya.


"Nyonya Elisa, apakah sudah selesai?" ucap Helena yang sangat penasaran.


"Iya baru saja, ada apa nona Helena apakah ada masalah yang genting?" ucap Elisa yang khawatir.


"Putriku? saya ingin menanyakan soal perkembangan, apakah sudah ada kabar?" ucap Helena yang sangat panik.


"Ouh! akan aku telfon dia dulu, jangan panik yah. Anda harus tenang, saya akan mencoba menghubungi" ucap Elisa yang langsung mengambil hp dari sakunya.


"Assalamualaikum, mas.... Gimana, apakah lancar?... Alhamdulillah kalau begitu, lalu kalian ada di mana?... Heh? di jemput... Oke, nanti aku beri tahu pada nona Helena... Yaudah aku tutup dulu panggilannya... Walaikumsalam." segera Elisa mematikan panggilan, langsung memberitahukan soal keberadaan putri Helena.


"Bagaimana?" tanya Helena paniknya.

__ADS_1


"Syukurlah Alhamdulillah, doa seorang ibu tidak akan sia-sia. Putrimu diselamatkan dengan baik tanpa luka dan cela sedikitpun, kita ke bawa yuk! karena katanya Glenn akan menjemput kita untuk menyusul putri anda Nona Helena."


Mereka sangat senang karena kabar tersebut, terlihat helena sangat terburu-buru berjalan ke pintu keluar. Tak sabar rasanya jika ingin bertemu dengan anak yang sudah tidak bersama selama 4 hari, rasanya sangat merindukan sang buah hatinya.


Sesampainya di tujuan terlihat Andre seperti ayah pada umumnya yang membuat anaknya bahagia, walau sudah layak menjadi ayah tapi dia selalu menolak.


HELENA : Cicilia, apakah kamu baik-baik saja nak? ini ibu, syukurlah kamu baik-baik saja dan selamat.


"Kapan anak itu datang?" tanya Elisa sangat penasaran, karena terlihat anak Helena cepat gampang akrab atau Andre memang bisa jadi pawang anak-anak.


"Semalam, karena ada badai jadi tertunda penerbangan, syukurlah anak itu baik-baik saja" ucap Andre yang sempat khawatir jika anak itu tidak selamat dari demam tadi malam karena serangan panik.


"Lihat ibu dan anak itu rasanya adem ya mas, nona Helena juga sangat senang dan bahagia. Dia anak yang manis sekali, siapa yang mendandani dia seperti seorang putri begitu?" ucap Elisa yang takjub dengan penampilan Cicilia anak Helena tersebut.


Glenn yang menjawab pertanyaan Elisa, karena jika Andre yang menjawab maka Elisa tidak akan percaya, kalau suaminya yang mendandani Cicilia. "Itu Tuan Andre nyonya, yang mendandaninya."


"Hey, hey itu tidak akan mungkin kalau dia yang melakukan yah. Kamu yakin! gak percaya aku, jika suamiku yang melakukan hal itu Glenn."


"Yaudahlah jangan bahas hal itu, percaya atau tidak terserah kamu saja sayang!"


ANDRE : Zever, kamu antar ibu dan anak itu pulang sampai tujuan dengan selamat.


ZEVER : Heh? kenapa harus aku? Andre kau tahu banyak urusan yang harus dilakukan.


Dengan satu tatapan tajam dari Andre, Zever sudah kalang kabut dan langsung pasrah begitu saja.


ZEVER : Iya baiklah, akan aku antar pulang dengan selamat.


ANDRE : Xeverio, kamu kembali lah. Terimakasih atas kerjasama kalian, telah menyelamatkan anak itu dengan utuh.


XEVERIO : Iya sama-sama, baiklah kami pergi sekarang. Baik-baik yah kak Zever, aku pergi duluan.


Zever langsung mengantarkan Helena kekediaman, sedangkan Elisa diajak Andre untuk makan siang di luar, Emily yang duduk di jok belakang bersama Elisa merasa tidak enak.


"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Andre pada Elisa.


"Ikan kakap bakar enak kayaknya mas, aku mau itu" ucap Elisa yang kepikiran ikan bakar.


"Baiklah, John kita cari restoran yang menyediakan makanan seafood."


"Baik Tuan," ucap sang supir yang langsung menuju tempat yang dikatakan.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Kamis 27 Oktober 2022.


__ADS_2