PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
140. Kecurigaan Temennya.


__ADS_3

Beberapa hari setelah acara masa orientasi kampus, Elisa yang sekarang akan memasuki masa-masa sebagai mahasiswi di sebuah universitas negeri dimana dia resmi memasuki menjadi mahasiswa apoteker. Hari ini Elisa di buat kesal, oleh sang suami. Seperti biasa bukanlah Andre yang mengantar Elisa untuk pergi ke kampus, malah supir pribadi yang diutus oleh Andre.


Mobil sedan abu-abu berhenti di halaman kampus, Elisa turun dari dalam mobil dengan wajah lesuh dan muram karena sudah hampir seminggu Andre tak memberi dia kabar apapun, bahkan hp ya tidak dia aktifkan sejak Elisa masuk kampus.


"Nyonya Elisa, kita sudah sampai!" ucap sang supir yang menghentikan mobilnya dan melihat kaca spion di atas.


"Ouh iya, terimakasih." ucap Elisa sambil membuka pintu mobil dengan wajah yang kurang baik.


"Nyonya Elisa, saya akan jemput nyonya jam berapa?" ucap sang supir yang ingin tahu jawaban dari Elisa.


"Nanti akan aku hubungi, jika aku akan pulang?" ujar Elisa yang langsung pergi meninggalkan sang supir yang tidak tahu salah, dan dosa malah kena getah ngambek Elisa.


"Sepertinya mood nyonya kurang baik, biasanya beliau gak seperti ini" ucap sang supir yang menggeleng kepala.


Elisa memasuki lorong-lorong, untuk menuju kelasnya. Hari ini adalah hari pertama dia masuk kampus setelah masa orientasi mahasiswa selesai, terlihat banyak sekali mahasiswa yang masih berada di luar ruangan. Elisa langsung masuk saja ke kelasnya, ia mencari temannya. Resti, Diana, dan Nacly. Temen-temen baru Elisa di kampus, mereka duduk berjejer di barisan yang sama.


"Elisa disini..." teriak Resti dari tempat duduknya saat ini.


"Resti, Nacly, Diana. Kalian kok udah pada datang, aku telat ya? Hari ini mata pelajaran apa?" tanya Elisa yang melepaskan tas yah dan meletakkan buku-buku di meja.


"Kimiawi bahan obat. Iya, kamu telat banget padahal hari pertama masuk kuliah udah telat aja El." jawab Resti yang saat ini membuka buku catatan yah.


Tak lama dosen pun datang, dan segera memulai mata pelajaran hari ini. Singkat waktu, jam pelajaran telah usai semua beristirahat. Elisa dan kawan-kawan akhirnya pergi ke kantin bersama, mereka membicarakan banyak hal dari mulai pelajaran hingga dosen-dosen mereka, dan akhirnya mereka membicarakan soal cowok yang mereka incar.


"Gila, ganteng juga kak Rafik lah. Dia udah mau S2, sarjana hukum lagi" ucap Diana.


"Yeh, justru ganteng juga kak Yudha yang jurusan ekonomi," ucap Maura.


"Stop, semua gak kalah dari kak Riski yang cukup beken disini. DP waktu MPK aku lebih love-love deh!" sambung Resti.


"Itu karena Luh di rawat langsung sama dia, makanya Luh suka sama dia dasar kamu Resti, kok bisa-bisa cari kesempatan dalam kesempitan." ucap Diana


"Gila emang, sumpah Res gue iri sama Luh aahh... Kesel banget deh!" ucap Nacly.


Saat semua pada asik-asik membicarakan tentang cowok, Elisa malah muka bete dan kesel malah gak merespon apapun percakapan mereka. Bahkan berasa saat ini Elisa berada di dunia lainnya, ada wujud tak ada jiwa, Elisa tak fokus sama pembahasan temen-temennya itu.


Lalu temen-temennya saling menatap satu sama lainnya, karena Elisa yang dari tadi hanya melamun dan tak mencerna apapun, Elisa juga yang satu-satunya tidak merespon pembicaraan temen-temennya.


"ELISA!" semua temen-temennya dengan serempak memanggil namanya untuk mengagetkan Elisa.


"Eh! Iya, ada apa yah!" ucap Elisa sontak gelagapan saat di kagetin sama temen-temennya.


"Kamu kenapa sih El, are you oke! beby?" ucap Nacly yang mengelus punggung Elisa.


"Yes I am fine," ucap Elisa yang menjawab dengan lesu karena masih kepikiran suaminya.


"Kamu kenapa si Elisa, dari mata pelajaran pertama kamu kayak lemes banget, nggak ada semangat dan tenaga, kamu belum makan?" tanya Resti yang sangat kebinggungan dengan sikap Elisa yang seperti gak semangat.


"Nggak apa-apa re, cuman lagi banyak pikiran aja" ucap Elisa yang menyakinkan temennya.


"Kamu lagi galau sama cowok yah!" tebak Nacly yang ngasal.


"Hmmm, gak kok!" ucap Elisa yang saat ini ngeles sama temen-temen yah.


"Kenapa, kekasih kamu lagi susah di hubungi yah?" ucap Resti yang melanjutkan apa yang dikatakan oleh Nacly.


"Nggak kok!" Elisa masih menyakinkan temen-temen bahwa dirinya itu tak lagi galau sama cowok.


"El, kita tahu kok kamu pasti lagi kepikiran sama kekasih kamu. Karena bedalah orang yang banyak pikiran soal masalah umum sama masalah pribadi termasuk cowok, El." ucap Diana.


"Kok bisa tahu? kalian peramal yah, kok pada menebak seperti itu." ucap Elisa yang langsung menatap semua temen-temen yah.


"Iya sudah ke tebak kok, karena itu sudah terlihat jelas di wajah kamu." ucap Resti.


"Bagaimana bisa kalian bisa menyimpulkan begitu sih" ucap Elisa alasan.


"Karena itu bisa terlihat sangat jelas di wajahmu itu Elisa. Jadi, kamu tak usah menyangkalnya lagi." ucap Resti.


"Hehehe " Elisa tersenyum kaku karena hal itu bisa di ketahui oleh temen-temennya itu.

__ADS_1


"Tuhkan, apa yang kita katakan. Elisa kamu gak bisa menyembunyikan itu semua dari kita, karena kamu kalau lagi bet mood bisa terlihat sangat jelas." Ujar Diana.


"Coba kamu katakan sama kita ada masalah apa sama cowok kamu, kalian berantem?" Tebakan Resti sambil merangkul punggung Elisa.


"Nggak!" Jawab singkat Elisa sambil lesu, dan tak bertenaga karena hal itu.


"Terus, dia gak ada kabar?" Sambung Nacly, yang asal tebak.


"Iya," Elisa menganggukkan kepalanya pelan, dan wajah lemah lembutnya.


"Sudah berapa lama?". Tanya Diana yang juga ikut khawatir.


"Semenjak orientasi mahasiswa waktu itu, dia susah benget di hubungi" Jawab Elisa yang menceritakan tentang suaminya itu. Tapi temen-temen Elisa belum ada yang tahu jika Elisa sudah punya suami.


"Jangan-jangan dia punya selingkuhan di luar sana?" Tebak Nacly.


"Itu gak mungkin, dia sangat mencintaiku kok!" jawab elisa yang langsung melotot kaget.


"Aduh sayangku, kamu ini terlalu polos banget sih. Nih dengerin yah, yang namanya cowok kalau udah jauh radar sinyalnya, pasti akan cari perangkat bluetooth terdekat yang artinya pasti dia punya orang lain selain kamu." ucap Resti yang menjelaskan.


"Iyakah! Hmm- tapi selama ini dia fine-fine aja kok. Pasti dia sangat sibuk benget sama kerjaan ya" ucap Elisa yang langsung menatap sedih.


"El, sesibuk apapun kalau kamu adalah prioritas utamanya, gak mungkin dia nggak ngasih kamu kabar malah mengabaikan kamu, sampai gak ada kabar apapun dari dia. Jangankan untuk nanya kabar kondisi kamu, bahkan ngasih kabar kondisi dia sendiri saja nggak dia beri tahu." ucap Resti yang menekankan.


"Benarkah begitu, masalahnya cowok aku ini ganteng banget loh. Kalau iya begitu, terus aku gimana dong!" ucap Elisa yang sudah terbawa suasana.


"Kamu cari lagi lah!" sambung Diana yang asal ceplok.


"Emang ya cowok kamu udah kerja lis?" Tanya Nacly.


"Iya, dia 6 tahun lebih tua dariku. Jadi lebih dewasa lah dari aku." Jawab Elisa yang menjelaskan.


"Udah mapan?" Tanya Nacly kembali.


"Udah!" Jawab singkat Elisa.


"Kaya raya banget!" Tanya Nacly lagi.


"Fik!" Diana, Resti, dan Nacly yang serempak mengatakan hal yang sama.


"Pada kenapa sih, kok bareng-bareng mengatakan. Fik?" ucap Elisa yang menatap temen-temen bergantian.


"Elisa, rata-rata cowok yang ganteng, kaya, dan mapan, apa lagi dewasa pasti cari wanita lainnya buat temen dia di tempat kerjanya." ucap Nacly.


"Iyakah, aku..." ucap Elisa yang sudah tak bisa berfikir jerni semakin di buat pikiran karena masalah itu.


Singkat waktu pulang kuliah, jam mata pelajaran sudah selesai. Elisa berjalan bersama temen-temen, Resti yang pulang naik motor dan temen-temen Elisa naik kendaraan pribadi mereka masing-masing.


"El beneran kamu gak mau kita anter pulang, emang gak apa-apa?" ucap Diana.


"Nggak usah, lagian aku di jemput kok sama supir. Kalian duluan aja gak apa-apa, lagian Nacly sama Diana kerja kan" ucap Elisa yang menyuruh temen-temen untuk duluan.


"Ciyus nih El, kita gak tega loh" ucap Resti.


"Udahlah kita anter aja yah?" ujar Nacly.


"Aku gak apa-apa, nah tuh mobil jemputan aku, gih kalian duluan aja" ucap Elisa yang menyuruh teman-teman pergi duluan.


"Yaudah kita duluan yah, By by Elisa kita duluan yah!" ucap Resti yang sudah menyalakan motornya.


"Daaah, kalian ati-ati yah" ucap Elisa yang melambaikan tangan pada teman-teman yah.


Mobil tersebut ternyata sebenarnya bukan mobil miliknya, tapi hanya untuk menenangkan temen-temen Elisa, dari kaca spion mereka melihat Elisa yang tidak naik mobil hitam itu. Resti berhenti saat melihat hal itu, dan di susul Diana dan Nacly.


"Ada apa Re kok berhenti!" ucap Nacly yang saat ini berhenti dan menoleh kebelakang.


"Kayaknya Elisa bohongin kita deh!" ucap Resti yang memberikan tahukan.


"Bohongin gimana maksud kamu re?" ucap Nacly yang heran.

__ADS_1


"Katanya dia udah di jemput, tapi kok masih berdiri disana" ucap Resti yang melihat elisa masih berdiri di halte.


"Masa sih, katanya mobil ya sudah jemput yah?" Ujar Diana yang menegaskan lagi.


"Kalian merasa ada yang aneh gak, apakah Elisa lagi bohongi kita?" Ujar Resti yang curiga.


"Aneh gimana maksud kamu" tanya Nacly.


"Elisa, dia bilang punya mobil, tapi karena dia malu sama kita jadi dia pura-pura bilang kalau sudah di jemput mobil miliknya, padahal dia itu gak punya mobil" Tebakan Resti.


"Aah, masa sih. Elisa orangnya seperti itu, dia kan anak baik tuh" ucap Diana.


"Maksudnya kamu apa sih re? Jadi kamu bilang Elisa bukan orang kaya, tapi bilang anak orang kaya dan punya mobil gitu?" Tebak Nacly.


"Karena aku ke ingat sama Jesica, temen kelas aku, dia anaknya sombongnya minta ampun, tapi dia bilang anaknya pengusaha sukses yang kaya raya padahal bukan kolongmerat. Aku juga khawatir jika Elisa seperti itu, karena pakaian Elisa itu bukan pakaian bermerek cuman pakaian sederhana teruskan, gak ada pakaian bren yang dia pakai, iyakan" ucap Resti yang semakin di buat curiga.


"Iya kamu bener banget, apa kita tunggu saja di sini sampai Elisa bener-bener di jemput atau tidak, aku shift malam sih kamu gimana Nacly?" ucap Diana.


"Aku juga ikut, aku juga sangat penasaran sama Elisa." ucap Nacly.


"Ok! Fik, kita cari tempat buat sembunyi dulu deh! Agar gak ketahuan sama Elisa, yuk!" ucap Resti yang langsung mencari tempat untuk sembunyi.


Lalu tak lama terlihat motor gede milik Rizki yang menghampiri Elisa, saat ini sedang berdiri dengan kesel disana. Karena memikirkan suaminya yang tak menghubungi dirinya, tak ada kabar apapun jug.


"Elisa, kok belum pulang?" panggilan yang khas, seraya membuka kaca helm.


"Ouh, kak Rizki. Iya belum," jawab Elisa yang melihat sumber suara.


"Ayo, biar aku antar kamu pulang?" ucap Rizki yang menyuruh Elisa untuk segera naik ke motornya.


"Nggak usah kak, aku di jemput kok" ucap Elisa yang langsung menolaknya.


"Ouh yaudah!" ucap Rizki yang melepaskan helm dan mematikan mesin motor, karena tak mau jika Elisa harus menunggu sendirian disana.


Elisa heran karena melihat Rizki yang melepaskan helm dan turun dari motor." Kak Riski mau kemana?" ucap Elisa yang heran.


"Kamu kan gak mau aku antar pulang. Jadi aku akan temani kamu buat nunggu jemputan, kalau gak di jemputkan kamu gak punya alasan lagi buat nolak ajakan aku." ucap Rizki yang duduk di kursi di halte.


"Hah! Jadi kak Rizki mau nunggu sampai aku di jemput gitu?" ucap Elisa.


"Iya, emang kenapa? Gak boleh!" ucap Rizki yang saat ini kebinggungan sama sikap cowok yang saat ini duduk di belakang yah.


Elisa tak mempedulikan hal itu, tapi tatapan orang-orang yang keluar dari gerbang kampus, hingga mahasiswi dan lainya juga melihat Rizki yang duduk di halte menjadi pusat perhatian semuanya.


Elisa tak mempedulikan hal itu, banyak yang mendekati Rizki saat ini hingga Elisa tersingkir dari posisi. Lalu menatap kebelakang ternyata sudah penuh dengan wanita yang ingin dekat dengan Rizki, sedangkan temen-temen Elisa yang dari tadi mengawasi dari jauh hanya bisa diam dan melihat dari jauh.


"Gila kak Rizki emang sangat populer banget yah, baru juga duduk sebentar di sana sudah di kerumunin sama cewek-cewek aja tuh." ucap Nacly.


"Tapi, sejak kapan yah Elisa bisa sedekat itu sama kak Rizki?" ucap Resti.


"Mungkin pas waktu MPK itu deh! Iya gak si" ucap Nacly.


Kembali lagi pada Elisa yang saat ini langsung pergi cari tempat yang agak sepi dari kerumunan. Lalu tak lama mobil spot mewah milik seseorang berhenti di tepat di depan Elisa saat ini berhenti, iya itu adalah mobil spot milik Andre yang di kendaraan oleh Alea.


"Kak Elisa! Maaf ya aku terlambat?" ucap Alea yang keluar dari mobil spot tersebut.


"Ale, kok kamu yang jemput aku. Supir aku mana?" ucap Elisa yang mencari supirnya.


"Ouh, dia ku suruh buat jemput Alex di bandara. Dia pulang dan akan tinggal sama mamah monik dan papah Arafif, jadi aku deh yang jemput kak Elisa?" ucap Alea.


"Ouh gitu, jadi Alex akhirnya mau tinggal sama kita di sini" ucap Elisa yang masuk kedalam mobil spot mewah bersama-sama dengan Alea. Mereka langsung meninggalkan tempat, dengan


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Minggu 8 Januari 2023


__ADS_2