PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
192. Makan Malam Dengan Bestie.


__ADS_3

Akhirnya mereka pergi dari sana menuju kedai cahaya pantai, yang akan mereka datangi saat ini untuk makan malam. Setelah sampai di parkiran, mereka memarkirkan motor masing-masing di tempat yang tersedia.


"Kalian cari tempat dulu deh! Aku mau ke mushola mau shalat, biar makannya bisa tenang. Nggak diburu-buru waktu sholat." ucap Elisa yang sudah celingukan mencari mushola.


"Eh, aku juga ikut El." ucap Diana, yang langsung berdiri disampingnya.


"Aku sama Nacly lagi halangan, jadi kita aja yang pesenin makanan, kamu mau pesan makanan dulu." ucap Resti yang saat ini merangkul Nacly.


"Iya el, kita yang masuk duluan yah udah laper juga nih perut udah mulai dangdutan." sambung Nacly.


"Okey. Yaudah aku kesana yah." ucap Elisa yang berjalan menuju musholah, sambil jalan bergandengan dengan Diana.


"Kalian mau pesan apa, nanti aku photo ya menunya biar kalian selesai shalat makanan udah hadir." ucap Resti yang saat ini berinisiatif.


"Iya, begitu saja lebih tepat. Yaudah, kita kesana dulu yah." ucap Elisa yang sudah mau pergi meninggalkan tempat parkir, mereka akhirnya berpisah.


...****************...


Disisi lainnya tempat dimana Andre saat ini sedang berada di kantor ANDRILOS, dengan gulftaf mereka yang sibuk melakukan tugas mereka masing-masing. "Tuan anda tidak apa-apa, kok wajah anda sangat pucat sekali, apakah kita lanjutkan saja besok pagi. Sekarang anda pulang saja untuk beristirahat dirumah, jangan memperburuk kondisi anda." saran gulftaf khawatir.


"Aku tidak apa-apa, kita lanjutkan saja dahulu, kalau menunggu besok takutnya tidak keburu." ucap Andre yang saat ini terlihat emang kurang bertenaga sejak pagi hari ini.


"Tuan anda jangan memaksakan diri seperti ini, kondisi anda juga sudah sangat lelah, biar sisanya saya akan kerjakan." ucap gulftaf yang menyarankan untuk tuannya segera untuk pulang.


"Gulftaf, aku baik-baik saja." ucap Andre yang saat ini mencoba untuk berdiri.


Tapi, malah sempoyongan karena kepalanya tiba-tiba kunang-kunangan lalu ambruk terduduk di lantai. Seketika gulftaf langsung memapah tubuh Andre tersebut, langsung membawa Andre ke sofa agar bisa duduk disana dengan tenang. Mengambil segelas air putih, untuk Andre.


"Tuan minumlah dulu, agar anda lebih baik." ucap gulftaf.


Andre langsung minum air putih yang dibawakan oleh gulftaf. "Terimakasih." ucap Andre.


"Sebaiknya anda istirahat saja dulu dirumah yah, nanti aku siapkan mobil untuk mengantarkan anda pulang ke rumah." ucap gulftaf yang langsung menelepon supir pribadi Andre.


Setelah sampai di rumah, Andre langsung ganti pakaian dan merebahkan diri di ranjang. Meraih ponselnya, langsung melihat layar hp untuk mencari kontak nomor Elisa. Tapi, nomor yang dia tujuh ternyata tidak aktif, itu sungguh mengherankan bagi Andre. Akan tetapi tidak diambil pusing oleh Andre, karena dirinya juga pernah melakukan hal yang sama jadi tidak heran jika nomer telepon istrinya saat ini tidak aktif.


Andre langsung menelpon rumah, langsung diangkat orang yang ada rumahnya. "Assalamualaikum, bi unah. Apakah istri saya sudah pulang... Ouh belum yah, apakah dia kerumah orang tuanya... Tidak, ouh ngerjain tugas dan jalan-jalan sama temen-temen yah... Bi unah, boleh minta tolong telfon kan temen-temen apakah dia bersama Elisa... Iya, terimakasih yah... Saya minta tolong hubungi saya kembali setelah mendapatkan kabar... Walaikumsalam."


Mematikan panggilannya, untuk menunggu jawaban dari orang rumah, sebelum itu Andre membersihkan diri dulu. Menyalakan shower dengan air hangat, lalu membiarkan setiap tetesan air membasahi seluruh tubuhnya.


Lalu setelah dia selesai, keluar dari kamar mandi mengganti pakaian, dan menunaikan ibadah shalat. Hp-nya berdering di saat dia sedang shalat, Andre abaikan. Iya tetap fokus dan khusu dalam shalatnya, melanjutkan sampai rakaat terakhir. Dia meraih hp-nya kembali, duduk di tepi ranjang menekan tombol panggilan tidak terjawab tertera telepon dari rumah.


"Assalamualaikum bi unah... Maaf, tadi saya lagi sholat... Gimana?... Ouh gitu, yaudah kalau begitu. Kalau dia sudah pulang, suruh dia menelponku yah... Baiklah, terimakasih. walaikumsalam." ucap Andre yang langsung mematikan kembali panggilannya.


Meletakan hp, sambil di charger. Dia merebahkan diri karena kepalanya tak bisa diajak kompromi, tak kuat rasanya berlama-lama untuk duduk.


...****************...


Kembali ke Indonesia dimana Elisa saat ini sedang menikmati hidangan makan malamnya bersama teman-temannya, disebuah kedai dipinggir pantai dengan pemandangan lautan yang saat ini sedang tenang ombaknya. Hari sudah gelap, terlihat sangat jelas langit yang saat ini di hiasi oleh bintang-bintang yang sangat terang di langit, makan yang dekat dengan pantai. Hanya menggunakan langit, sebagai atap dan pasir sebagai lantai, mereka sangat menikmati makanan dan tempatnya juga sangat nyaman, karena tempat duduknya lesehan membuat mereka menikmati pemandangan sore menjelang malam itu dengan sangat alami.


"SubhanAllah, cantik banget ya El." ucap Resti yang saat ini sangat senang.


"Iya sangat cantik ciptaan Tuhan. Andai kita datang sama doi ya, lebih mantap lagi." ucap Resti.


"Huuuu... Itumah pengennya kamu re." ucap Nacly.


"Kamu gak nelfon Delon?" tanya Elisa pada Nacly.

__ADS_1


"Aku lagi berantem sama dia." ucap Nacly yang saat ini sedang minum dengan emosi.


"Kenapa lagi sih, pacaran aja berantem terus, gimana nanti kalian sudah menikah. Kayaknya akan perang dunia ke 4 yah." sindir Diana.


"Kamu sendiri mana doi kau, gak kamu chat juga." ucap Resti yang menyindir Diana.


"Aku dah putus sama dia." jawab entengnya.


"APA!" semua kaget dengan apa yang dikatakan oleh Diana.


"Putus kenapa? Coba ceritakan." ucap antusias Resti.


Elisa dan Nacly juga sangat penasaran dengan cerita dari Diana, alasan kenapa dia bisa putus dengan kekasihnya.


"Panjang." ucap Diana yang saat ini tak mau berkomentar banyak.


"Pendekin, intinya aja." jawab Resti.


"Dia selingkuh sama temen kerjanya." ucap Diana sambil matanya berkaca-kaca.


"Hah! Kok bisa, kamu tahu dari mana kalau dia selingkuh." ucap Nacly.


"Aku lihat sendiri, pas pulang kampus 2 Minggu yang lalu. Dia diantar sama mobil cewek, terus aku mau deketin dia, karena mau ngasih surprise buat merayakan anniversary kita yang ke 3 tapi dia malah kiss sama cewek itu." ucap Diana.


"Kamu labarak dia dong! Jangan diam aja, jangan kayak sinetron. Jadi wanita teraniaya, plis deh!" ucap Resti yang sangat emosi hingga menghantamkan gelas ke meja dengan brutal.


"Eh sabar re. Aku tahu kamu kesel, tapi kalau gelas pacah bisa panjang urusannya nanti." ucap Nacly yang menenangkan Resti.


"Kok bikin kesel yah. Terus kamu gimana samperin nggak mereka?"


"Nggak, aku cuman videoin mereka. Terus setelah itu aku telepon, jawabnya dia malah masih di kantor. Padahal aku udah sampai di depan rumahnya, lalu perlahan aku deketin mereka, dengan posisi aku masih nelpon, dia sampai syok pas udah lihat aku di belakang yah. Tapi aku udah nggak peduli, aku langsung minta putus sama dia."penjelasan Diana dengan ringkas.


"Tumben banget yah, teman kita ngomongnya bener. Iya, biasanya dia kalau ngomong suka belepotan, kok sekarang nggak!" sindiran untuk Resti dari Nacly.


"Kalau nasehatin orang dia nomor satu, tapi kalau soal asmaranya sendiri nol." Sambung Diana yang ikutan.


"Ya udah kalian ini suka banget deh ngeledekin Resti, jangan saling sindir gitu ah... Nggak baik sesama geng yang dicampakan." ucap Elisa yang ikutan menyiapkan sindiran.


"Yah elah kalau dipikir masih mending gue dong! Jomblo tapi happy, dari pada kalian pacaran tapi rasanya cabe. Kan jadi pedas, yang satu suka berantem gak kelar-kelar sekali akur malah berantem lagi, terus aja gitu melulu setiap hari. Terus yang satunya pacaran lama, tapi pada akhirnya diselingkuhin juga, masih mending gue dong! Bebas, masih bisa larak lirik cogan, dan cowok-cowok yang ingin aku pilih dan ku sukai, iyakan. Bener nggak El." minta pendapat dari Elisa.


"Iya kamu emang paling bener deh! Kalau soal itu. Ya udah Diana kamu nggak usah khawatir, nanti aku kenalin kamu sama temen-temen aku saja, jadi gimana? Apakah kamu mau, kalau kamu mau nanti kamu tinggal pilih aja ada Zacky, Zever, Xeverio, Alex, Kevin, Aoda dan Glenn."


"Eh tunggu-tunggu, mereka siapa yah?" tanya Resti yang heran.


"Masa kamu lupa re, yang tadi siang aku tunjukan photonya." ucap Elisa mengingat.


"Iya, aku ingat tapi perasaan ada yang aneh deh! Kamu sebutkan nama banyak banget, perasaan tadi cuman 4 orang yang kamu tunjukkan fotonya ke kita, kok namanya jadi banyak, apakah kamu tambahkan yah, kok bisa jadi banyak. Emang selera kamu agak ekstrim ya El sampai aku syok sendiri mendengar dari kamu." ucap Resti sambil geleng-geleng kepala saja.


"Hahaha iya dong! Jadi gimana kalian mau nggak!" tanya Elisa pada semua temen-temen yah itu.


"Mauuu dong!" ucap serempak dengan sangat antusias sekali.


"Okey, kita rencanakan setelah semesteran nanti kita liburan keluar negeri gimana?" ajakan Elisa.


"Keluar negeri?" Ucap serempak temen-temen Elisa yang syok berat.


"Iya, kenapa sih kalian kok syok gitu?" ucap Elisa yang bingung.

__ADS_1


"Kamu serius El, kita di ajak kamu keluar negeri emang mereka tinggal dimana?" Tanya Nacly bingung.


"New York, dan Chicago." ucap Elisa yang membuat temen-temen gak bisa berkata apa-apa lagi.


"Udah deh kalau kayak gitu, mendingan kita nyerah aja." ucap Diana yang langsung angkat tangan.


"Iya el, kejauhan. Terus kita juga kendala sama bahasa kan, lagian sampai jauh benget kenalan kamu El." sambung Nacly yang langsung angkat tangan juga.


"Emangnya kamu kenal mereka gimana?" tanya Resti ya b saat ini malah penasaran dengan semua kenalan Elisa itu.


Halah mampus aku ini yang nama senjata kena sendiri, niat hati mau kenalkan mereka sama temen-temen ku malah aku sendiri yang pusing ini. Dalam hati Elisa yang spontan kelaparan.


"Iya mereka masih saudara sama aku. Jadi kenal deh!" ucap Elisa yang ngomong apa adanya.


"Mohon maaf nih El, emakku nanti sendiri dirumah. Nanti siapa yang akan ngurus emak dan adik-adik aku kalau aku pergi." ucap Nacly yang kepingin tapi tak bisa meninggalkan rumah.


Elisa malah jadi terdiam keringat kalau Nacly adalah tulang punggung keluarga yah, karena ekonomi keluarga setelah ayahnya meninggal dan mengalami kebangkrutan maka terpaksa Nacly harus mengurus ibu yang sudah sakit-sakitan, dan adik-adiknya yang masih sekolah.


"Iya, sorry ya Nacly aku gak pernah mikirin itu. Aku malah mikirin diri sendiri maafin aku yah." ucap Elisa merasa bersalah.


"Nggak apa-apa. Kita cari yang dekat aja deh El, karena kalau sampai jauh keluar negeri gitu bikin paspor juga lama kali." ucap Nacly yang mikir biaya yang harus dikeluarkan nantinya.


"Tapi, ada kok yang di Indonesia. Aoda dan Glenn kalian mau aku kenalkan, dia selalu stay kok." ucap Elisa yang penuh semangat.


"Ouh yah, wah kita bisa ketemu langsung deh!" ucap Nacly yang sangat antusias sekali dengan apa yang dikatakan oleh Elisa.


"Iya kalau mau nanti besok ya, kalau malam kayak gini biasanya mereka nggak bisa didadak kayak tahu bulat, karena biasanya mereka masih ada di markas buat latihan." ucap Elisa keceplosan.


"Hah, markas?" ucap Diana dan Nacly kompak.


Aduh, kenapa mulutku malah keceplosan ngomong gitu sih ini gimana kalau mereka sampai tau. Bisa panjang nih urusan, aku ini gimana sih. Dalam hati elisa yang menyalakan dirinya sendiri.


"Mungkin maksudnya Elisa rumah mereka masing-masing. Iyakan El, itu yang kamu maksud." Resti membenarkan itu.


"Nah iya itu maksudnya, itu Rere paham. Kok kalian gak faham, mereka kalau udah nyampe rumah suka males buat keluar kalau hanya buat nongkrong-nongkrong gitu! Karena mereka anak rumah, jadi gak suka ugal-ugalan di jalanan." penjelasan Elisa.


"Ouh gitu!" semuanya langsung faham dengan apa yang dikatakan oleh Elisa.


Syukurlah, aku selamat mereka nggak curiga, untung Resti ngomong itu kalau gak aku bisa tamat. Elisa menarik nafas lega.


Setelah makan malam Elisa yang membayar semua tagihannya, setelah mereka pulang masing-masing kerumah mereka. Elisa baru sampai rumah, langsung dihampiri oleh asisten rumahnya.


"Maaf Bu, tadi Tuan telfon tanyain ibu dan katanya disuruh telfon tuan balik." ucapnya menyampaikan pesan.


"Ouh gitu, oke nanti aku telfon dia baik. Makasih ya bi, boleh istirahat." ucap Elisa yang menyuruh pembantunya itu untuk istirahat.


"Iya Terimakasih Bu." ucapnya seraya kembali ke ruang asisten rumah tangga tinggal.


Elisa yang langsung pergi ke kamar untuk istirahat karena, ingin membersihkan diri dan ingin menyegarkan tubuhnya yang sudah mulai lengkap itu.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Minggu 9 Juli 2023.


__ADS_2