PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
170. Komplotan Ketangkap.


__ADS_3

Pergerakan dari dalam sebuah gedung tua, terlihat sebuah mobil Jeep hitam, telah memasuki area gedung tersebut. Terlihat ada tiga pria yang keluar dari mobil Jeep hitam, salah satunya adalah Maxime, orang yang telah dicari Maura dan Andre selama ini. Pengawasan Maura dan Andre, telah membuahkan hasil. Ternyata mereka tidaklah sia-sia menunggu, akhirnya mereka menemukan orang yang mereka cari.


"Itu bukankah mereka, sih Maxime. Sudah lama kita cari ternyata dia benar-benar kabur kesini. Ternyata dugaku benar." Ucap Maura yang sangat gram dibuatnya.


"Tapi, tidak melihat fando?" Andre tak melihat pria yang pernah datang ke rumah.


"Hah! Siapa fando?" Maura malah tidak tahu soal itu, menyipitkan matanya.


"Pria yang selalu mengekori Maxime, namanya Marchel. Tapi dia menyamar namanya, menjadi Fando." ucap Andre yang mendengar nama itu dari ibu mertuanya, kalau istrinya sedang di dekati oleh seorang pria.


Andre amat sangat cemburu dengan cerita itu, tapi dia tak menujukan pada Maura, walau dalam hatinya sudah sampai mendidih dibuatnya.


"Pasti ini ada hubungannya dengan hilangnya para wanita, apa sebaiknya kita masuk saja Tuan?" ucap Aoda yang menyarankan.


Andre yang tersadar dari lamunannya, langsung bersuara kembali. "Jangan, kita awasi sebentar lagi." jawab Andre yang langsung membantah.


"Kenapa, jika kita menunggu nanti. Mereka keburu kabur lagi, mangsa sudah ada di depan mata Andre, masa iya kamu biarkan saja?" ucap Maura.


"Tidak jangan sekarang, kita amati lebih lama, jangan terlalu kerasa-krusuk atau terburu-buru. Kita atur posisi terlebih dahulu, Maura dan pasukan Tim 1 masuk jalur depan, aku dengan tim dua di jalur belakang, Glenn kau dari jalur atas dengan tim 3, dan terakhir Aoda kau dan tim 4 kepung semua jalan keluar mereka."


"Laksanakan perintah Tuan." ucap serempak Aoda dan Glenn.


Maura hanya melongo, mendengar komando yang diarahkan oleh Andre untuk tim yang mereka bawa. Teringat jika Andre tidak memiliki rencana ataupun memikirkannya, tapi malah sudah memberikan perintah kepada anak buahnya.


"Cih, kau bilang tidak punya rencana ini apa? Kamu malah memerintah seluruh pasukan, bahkan terlalu gesit memberikan arahan, kamu pasti berbohong bukan, jika kau tidak memiliki rencana." ujar maura yang tidak percaya kalau Andre tidak memiliki rencana.


"Aku sudah terbiasa berfikir dengan cepat, jadi saat 0,01 perdetik bom akan meledak kita di tuntut untuk segara berfikir kalau tidak kita akan..." ucapan Andre terhenti karena mereka harus segera berpencar karena sudah ketahuan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Berada di rumah Yusman, terlihat Elisa mondar-mandir di depan Azril, yang saat ini sedang fokus di layar notebooknya, sambil terus mengawasi dan memantau pergerakan dari pasukan Andre. Sinyal-sinyal sudah bergerak naik turun sama di angkat standar, itu tandanya semua masih stabil. Tapi, yang lebih panik dan sangat cemas adalah Elisa, sambil menggigit ujung-ujung jarinya.


"Teh, bisa ngga berhenti. Azril lihat jadi pusing, teteh kaya gangsing. Muter-muter gitu, bolak-balik juga, aduh bikin penat."


"Hmm, teteh gak bisa diem zril. Apakah belom ada kabar juga?" ucap Elisa yang langsung panik.


"Belum teh, mendingan teteh duduk dulu deh. Dari pada kayak gitu."


"Azril kamu udah dapat kabar belum dari Mas Andre, kenapa sampai sekarang belum ada kabar apapun darinya."


"Sabar teh, mungkin butuh waktu untuk Mas Andre melakukan kontak, dan menunggu waktu untuk menghubungi teteh."


"Apakah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku takut dan sangat khawatir."


"Kita doa yang terbaik ya teh, lagi pula Mas Andre pergi tidak sendiri kok. Mas Andre bawa pasukan, teteh tidak usah khawatir. Mas Andre juga bukan orang biasa iyakan, dia juga anggota tim elit."


"Gimana aku nggak khawatir, gak panik gak cemas, aku tuh khawatir temen aku, apakah baik-baik aja atau tidak, aku nggak khawatir sama suami aku itu, dia pastinya akan baik-baik saja. Dia juga sangat kuat, mana mungkin aku khawatirin dia. Aku tahu dia itu bisa menangani semuanya, setidaknya dia kasih aku kabar kek."


"Iya sabar teh, nanti juga mas Andre akan ngasih kabar kok." Azril terus saja menenangkan hati dan pikiran Elisa.


"Aku harus menunggu sampai kan zril, aku susul aja kah dia kesana." ujar Elisa yang akan keluar dari dalam rumah.


"Eeeh.. teteh gak ingat apa pesan dari suami teteh, jangan kemana-mana, terus tetap didalam rumah. Mau ayah juga ikut marah hah!" ujar Azril membuat Elisa mengurungkan niatnya.


"Iya baiklah." Elisa tidak jadi untuk melangkah menuju pintu keluar.


Azril menuntun tetehnya agar duduk di tikar yang sudah di siapkan, ada kasur lantai juga bantal juga sudah letakkan disana.


"Sini deh! Mendingan tetap tidur saja dulu, nanti kalau sudah ada kabar nanti Azriel bangunin deh! Gimana? Ini udah malem loh." menyuruh teteh untuk duduk rileks.


"Nggak bisa zril, aku juga gak akan bisa tenang dalam tidur juga, terus kepikiran gimana dong!"


"Udah gini aja, teteh penjamin mata teteh sambil memegang tangan Azril kayak biasa teteh lakukan. Azril temenin teteh tidur disini, rebahin tubuh teteh. Azril Ambil selimut teteh dulu ya, tunggu sebentar." ujar Azril yang berlari menuju kamar tidur Elisa.


Setelah mengambil selimut dan guling, Azril langsung menyelimuti tubuh Elisa. "Kamu mau ngapain sih?" Elisa yang protes.

__ADS_1


"Udah merem matanya, jangan nunggu kabar terus. Sekarang waktunya istirahat, sudah malam." ucap Azril yang menyuruh Elisa tidur.


"Nggak bisa zril, mata susah buat merem. Aku harus nunggu kabar, gimana perkembangan mereka, ketemu atau tidak." ujar Elisa.


Azril menarik nafasnya panjang. "Yaudah, nungguin kabarnya sambil rebahan saja, Azril pusing kalau teteh terus mondar-mandir di depan Azril. Jadi sini nunggu kabarnya sambil rebahan lagi aja yah." langsung mendorong teteh untuk segera rebahan lagi.


...****************...


Saat ini Andre dan para pasukan khusus elit, sedang sibuk bertarung baku hantam, tembakan demi tembakan tak terelahkan lagi, beberapa sudah mati, hanya tim Andre yang hanya luka-luka.


"Andre, sekarang waktunya." ucap Maura.


"Kau masuklah, selamatkan semuanya. Aku akan menahan mereka disini, cepat." tarikan Andre.


"Baiklah " ucap Maura dengannya timnya masuk kedalam.


Sangat kumu dan gelap, bahkan tak bisa dikatakan layak untuk ditinggali, lalu suara banyak langkah kaki datang. Maura dsn pasukan lain segera bersiap, karena mendengar hal itu.


Benar saja, baku tembak segera diarahkan kembali. Tak terelahkan, Maura terkena sesuatu saat menghindar tembakan, membuat lengannya berdarah. Baju yang di gunakannya sobek, tapi dia masih sangat lincah.


"Cepat, gunakan formasi V." ucap Maura memberikan aba-aba pada anak buahnya.


...****************...


Tak lama mata Elisa lambat laun mulai memejam, langsung lelap karena melihat layar leptop yang berwarna warni, dan Azril yang sedang sibuk mengolah data, dan mengerti sana-sini. Otak-atik terus oleh Azril, saat melihat kebelakang tetehnya sudah nyenyak.


"Hmm... bilang gak akan bisa tidur, ini apa? dasar teteh. Kalau mau bohong, lihat-lihat siapa yang yang teteh mau bohongin." Dumal Azril melihat tetehnya.


Ibunya yang terbangun di malam hari, melihat lampu ruang tengah masih nyala membuat ibunya sangat penasaran, ia menoleh melihat anak-anaknya masih di sana. Azril yang masih sibuk dengan 2 leptop, sedangkan Elisa tertidur di sampingnya.


"Loh dek, kok kamu belum tidur, ini udah malam banget nak, Teteh kamu kok tidurnya di luar?" ucap Siti yang menegur putranya.


"Iya bu, masih ada tugas. Mas Andre juga belum pulang, jadi Teteh katanya nggak bisa tidur. Makanya tidur disini." penjelasan Azril.


"Iya, Mas Andre emang udah pulang tapi, belum pulang lagi ke sini, tadi Teteh nunggu lama. Eh malah otomatis ketiduran di sini. Nanti Azril bawa Teteh masuk kalau udah agak lelap." ucap Azril menenangkan ibunya.


"Ouh baiklah. Tapi, emang kamu kuat gendong Teteh kamu?" tanya siti.


"Kuat lah bu, segede apa sih teteh." ujar Azril yang langsung menjawab.


"Kamu ini, tetehmu ini berat loh." Siti Khawatir jika Azril tidak kuat ngangkat malah jatuh bersama.


"Teteh ini keliatan yah aja berat bu, tapi pas di gendong mah gak ada apa-apa sama karung beras." ucap Azril yang menyepelekan.


"Masa sih Zril teteh kamu gak berat, tapi dia salalu ngeluh kalau dia agak gendutan."


"He-he-he...nBeratan juga dosa Azril bu, ketimbang berat badan teteh. Gendut, dari mana si Bu bahkan lengannya aja masih gedean Azril." seraya mengukur lengannya.


"Kamu ini bisa aja bercanda yah. Yaudah, cepat masuk kalau nak Andre pulang. Coba di telfon dek!" ucap Siti cemas.


"Udah bu, tapi gak ada jawaban. Kayaknya masih sibuk deh!"


"Lagi tugas keluar, kayaknya kan pulang nanti besok kayak dek."


...****************...


Akhirnya mereka semua ketangkap, pasukan dari Maxime. Sayangnya, banyak anggota yang tewas dalam penyergapan ini. Andre yang langsung menyerah semua pada Glenn dan Aoda, sedangkan dirinya pulang bersama Maura. Semua wanita yang jadi tawanan, langsung akan di kembalikan ke negara dan keluarga masing-masing.


"Anda tidak akan ikut tuan." Tanya Aoda.


"Tidak, Alex juga akan mewakili aku. Jadi pergilah bersama mereka, aku harus bawa Maura ke rumah sakit, dengan anggota lainnya yang terlihat." ucap Andre yang membantu anak buah yang kaki pincang agar masuk mobil pengakut.


"Kalian semua naiklah, Maura kamu tidak apa-apa? kamu sebaiknya naik mobilku," ucap Andre membantu Maura masuk kedalam.


Sesampainya di rumah sakit, Andre sendiri yang langsung menangani semua pasukan yang terluka, di bantu dokter piket malam.

__ADS_1


"Kau, bisa menahannya. Hmph! ini tak butuh jahitan dalam, hanya 2 jahitan juga bisa. Tapi, kayak tak usah pakai lem saja yah!" ucap Andre.


"Terserah kau saja deh!" ucap Maura yang pasrah begitu saja.


Andre yang dengan lihai, mengunakan keahlian yah sebagai seorang dokter, membalut tubuhnya yang terluka. Beberapa pasukan juga sudah di rawat dengan baik oleh tenaga medis lainnya, Maura sampai terpesona melihat ketampanan Andre yang saat memakai masker menutupi sebagai wajahnya, lalu tangan yang lihat menggunakan alat-alat medis.


"Apakah kau sudah dapat izin dari Elisa, kamu pulang malam." tanya Maura.


"Ada adiknya, aku aman." ucap Andre.


"Hah! Maksudnya, adiknya?" Maura malah tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Andre.


"Iya, adiknya ini akan jadi pengganti ku sementara aku tidak ada, jadi aku bisa bebas untuk beberapa saat."


"Kamu, aneh. Kok ada pria yang sangat aneh seperti mu, padahal Elisa istrimu, lalu apa hubungan dengan adik Elisa itu."


"Kamu gak akan faham walau aku jelaskan. Intinya dia bisa menjadi diriku, lebih tepatnya aku adalah pengganti posisi adiknya."


...****************...


Jam 3 dini hari, Andre yang sudah sampai di halaman rumah, diantar oleh rekannya akan mengetuk pintu rumah. Terlihat pintu belum dikunci, Andre langsung masuk saja. Saat masuk Andre dikejutkan dengan Azriel yang sedang menggendong Elisa di tangannya.


"Assalamualaikum," Andre mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. Ouh mas Andre, baru pulang. Tadi gimana hasilnya, mereka ketangkap?" langsung dijawab oleh Azril.


"Gak gimana-gimana, udah nanti saja aku ceritain. Besok pagi, ini sudah malam menjelang pagi sih." jawab Andre, Seraya matanya fokus pada Elisa yang tertidur di gendongan Azriel.


"Okey!" jawab singkat Azril yang akan membawa Elisa masuk ke dalam kamar.


"Kamu mau bawa kemana istriku zril." ucapkan Andre yang terang-terangan mengatakan pada adik iparnya.


"Mau ku bawa masuk kedalam kamar, kasihan kalau tidur diluar, banyak nyamuk." jawab Azriel pada Andre.


"Tadi dia tidur disini?" Seraya menuju tempat di mana ada kasur dan bantal di sana.


"Iya, teteh nunggu kabar dari mas Andre. Sampai dia ketiduran, hilangnya sih nggak bisa tidur. 5 menit aku tengok udah lelap."


"Ya sudah berikan tugas itu padaku, kamu mendingan masuk kamar gih." Andre yang langsung mengambil Elisa dari gendongan Azriel.


Azril langsung menyerahkan tetehnya kepada sang suami, langsung aja kembali lagi ke depan 2 laptop di sana.


"Azril tidur sini Mas. Di dalam gerah, AC kamar mati." ucap Azriel.


"Ya udah kalau gitu, kamu langsung tidur zril. Jangan lupa pintu dikunci, mas lupa." jawab Andre.


"Iya mas." jawab singkat Azriel yang langsung menguji pintu depan,


Keesokan paginya, Elisa yang sibuk sedang mencuci pakaian, sedangkan ibunya sedang menyiapkan sarapan pagi di dapur. Andre setelah sholat subuh, langsung pergi kembali karena ada tugas yang mendadak di rumah sakit, jadi dia langsung datangi rumah sakit.


"Teh, bangunin adekmu sana. Jam segini kok masih tidur," Ujar yusman.


"Udahlah Ayah, biarkan adik tidurnya agak lama yang penting adek udah shalat subuh, dia tidurnya malam banget. Katanya bantuin nak Andre, jadi biarkan saja Azril tidur." sahut Siti.


"Tidur jam berapa emangnya adek?"


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Kamis 23 February 2023

__ADS_1


__ADS_2