PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
144. Strategi Penanganan.


__ADS_3

Setelah selesai membagikan kotak makanan, mereka berkumpul di suatu tempat untuk istirahat sekaligus bercengkrama bersama. Tim gabungan bantuan sosial yang dilakukan seminggu dua kali, setiap hari Senin dan sore Jum'at. Tim ini di naungi oleh pemerintah, dan tim sosial, Elisa hanya ikut bergabung mencari kesibukan lainnya.


"Ouhnya, Lis kamu kenal dimana sama cowok ini di mana sih" ucap sarah yang sangat penasaran, Sarah terlihat seperti menyukai Fando yang duduk anteng di ujung kursi panjang.


"Kenal gitu saja di jalan, hari ini sih" ucap spontan Elisa yang selesai meneguk minumnya.


"Walah kirain pacar kamu lis?" ucap Hamza.


"Kalau Elisa bawa pacarnya kamu auto akan punya saingan paling berat, jadi jangan sampai Elisa bawa pacar" Samber Naya.


"Hahaha bener deh! Kirain kita, dia itu pacar kamu tahu gak! Kalian keliatan cocok benget sih, kalau di lihat!" ucap Oom.


"Kenal aja baru sekarang, gimana jadi pacar. kalian ini ada-ada aja deh!" Ucap Elisa yang menatap ke fando.


"Hmm, sapa tahu saja kita bisa jadian." Sambung Fando.


"Ha-ha-ha, bisa aja nih! Tapi, aku juga belum tahu namamu? Siapa namamu, kalau aku Elisa" ujar Elisa bergantian bicara.


"Aku Fando!" ucap pria asing itu sambil melebarkan senyumnya.


"Ouh! Fando, kamu jangan dengerin ucapan mereka yah. Mereka memang suka bercanda, karena itu jangan di masukkan kehati, buat lelucon saja, oke! Apa yang dikatakan mereka itu, hanya ingin memojokkan aku saja" ucap Elisa langsung menepisnya.


"Ha-ha-ha, tidak masalah kok" ucap Fando yang sesekali melirik Elisa walau dia sedang menegak air minumnya.


"Fando, kamu dari mana asalnya." Tanya Naya yang sangat penasaran, karena Fando agak berbeda wajahnya.


"Aku, Manado dan Jerman. Lahir di Jerman, besar di manado" ucap fando yang menjelaskan.


"Ouh Pantesan. Wajah kamu sangat tampan, aisss...." rayuan gombal Naya.


Fando hanya tersenyum tersipu malu, langsung dapat cibiran dari temen-temen yah karena sudah berani merayu anak baru. Naya sesekali melihat dan curi-curi pandang pada Fando, yang saat ini masih sibuk melihat kesana kemari.


"Fando, kalau aku Sarah." Ujar Sarah yang mengulurkan tangannya untuk kenalan.


"Kalau gue Sonny, dan sebelah sana Hamza, dan ini nama ya Naya, itu oom. Kamu dah kenal sama Elisa kan, kita gabungan bantuan sosial." ucap Sonny yang mengenalkan anggota timnya.


"Salam kenal semuanya!" Ujar Fando yang senang sekali dapat teman baru.


"Terimakasih yah sudah mau bantuin kita, ouh! Iya. Btw, Lis kamu lupa yah. Seharusnya pulangkan, karena katanya kamu gak bisa pulang larut jam 7 kan" ucap Hamza.


"Oh iya aduh! Aku sampai lupa, aku duluan yah. Mamah pasti udah berdiri di depan pintu saja nih, kalau aku telat pulang buat makan malam, Fando aku duluan ya. Bye semua." ucap Elisa yang mengambil jaketnya dan bergegas bangkit.


"Ati-ati Lis!" Ucap Sarah yang melambai tangannya.


"Iya, aku duluan ya guys. Sorry banget gak bisa ikuti kegiatan malam bareng," ucap Elisa yang langsung menuju motornya dan memakai helm yah.


"Oke, gak apa-apa Lis. Bisa lain kali, daaah!" ucap Sarah yang melambai tangannya untuk menyapa Elisa.


"Iya, udah deh! Bye-bye" ucap Semuanya yang melihat kepergian Elisa.


"Gila, tuh cewek keren banget" ucap fando yang kaget, saat melihat Elisa mengunakan motor spot edisi terbatas.


"Elisa emang anak orang kaya, tapi dia orang simpel dan sederhana. Kita salut banget sama dia, walau anak orang berada. Tapi, dia gak sombong atau pernah jijik sama kaum rendahan, bahkan mau bergaul sama kita-kita iya nggak guys." ucap Sarah yang menjelaskan.


"Gitu yah! Pantesan dia mengunakan motor Sport mewah, edisi terbatas lagi." cetus fando, yang agak tertarik dengan motor milik Elisa.


"Wah! Kamu tahu banyak soal otomotif fando?" ucap Hamza.


"Dikit doang yang aku tahu, tapi itu motor juga keren si" ucap fando yang agak iri dengan motor yang dikendarai Elisa barusan.


Tiba-tiba jam tangan milik Fando berbunyi tanda dia harus kembali, untuk pulang. "Aduh guys, kayaknya aku juga harus cabut deh! Karena masih banyak urusan yang harus aku lakukan, aku duluan yah. Besok juga aku harus kerja, jadi mohon maaf tak bisa ikut kegiatan selanjutnya nih." ucap fando yang langsung bersiap-siap.


"Oke! Gak apa-apa, hati-hati yah." saut Hamza.


"Ouh, iya. Fando, kamu mau ikut gabung gak sama tim bansos kita?" tawaran Sarah.

__ADS_1


"Hmmm~ apakah Elisa juga ikut anggota tim ini" ujar Fando yang berharap akan bertemu lagi dengan Elisa.


"Cie cie, udah mau PDKT aja nih sama Elisa, apakah kamu akan ikut gabung di sini kalau ku kasih tahu, nanti kamu punya banyak saingan fan. Hamza dan Sonny juga lagi mau dapatin Elisa tuh, jadi kamu akan bersaing sama mereka juga, apakah kamu sanggup melawan mereka." ucap Naya.


"Ha-ha-ha begitu ya. Wah! Kayaknya aku juga harus usaha lebih baik lagi nih, iya deh! Jadi gimana apakah Elisa ikut tim gabungan ini juga?" candaan Fando yang seketika tertawa, dan berkata penekanan.


Berada dihalaman rumah, Elisa langsung memarkir kendaraan di halaman. Terlihat Glenn yang baru keluar dari dalam rumah, bersama Aoda yang juga membawa sesuatu dalam tas.


"Kalian dari mana?" tanya Elisa yang melihat Aoda dan Glenn yang baru keluar dari dalam rumah Arafif.


"Ouh! Nyonya Elisa, anda sudah pulang" ujar Glenn yang gelagapan saat melihat Elisa sudah berada di depan jalan mereka.


"Ada apa, kok kalian sampai kaget dan ekpresi macam apa itu, seperti lihat hantu saja." ujar Elisa yang agak kesel dengan tingkah dua bodyguard yah itu.


"Aaah! Nggak kok, ini kami hanya kaget saja karena melihat nyonya datang tiba-tiba begini" ngeles Aoda agar tidak ketahuan.


"Beneran, kalian hanya kaget bukan menyembunyikan sesuatu dari aku?" ujar Elisa yang mendekat, pada mereka.


"Eh, nggak kok. Sungguh nyonya, kami gak ada maksud lain kok" ujar Aoda yang masih dengan pikiran yang saat ini campur aduk.


"Yaudah, lupakan itu. Sekarang kalian mau kemana?" tanya Elisa melihat keduanya secara bergantian.


"Kami akan kembali ke markas, nyonya" Jawab Glenn yang tak anggap beban.


"Ouh, baiklah. Kalian hati-hati saat kembali, satu lagi aku mau tanya. Apakah mas Andre ada di dalam, kalian baru menemuinya kan?" tanya Elisa.


"Iya, nyonya. Beliau ada kok di dalam, sama dengan Kapten... uppps!" Aoda yang keceplosan, langsung menutupi mulutnya rapat-rapat.


Elisa yang sudah tahu hanya diam saja tak merespon apapun, sedangkan Glenn langsung menatap tajam pada Aoda yang keceplosan tersebut.


Kau ini Aoda, malah salah ucap lagi. Nyonya pasti sudah berfikir aneh-aneh sekarang, aduhhh... Gimana ini, Pasti rencana Tuan akan gagal. Dalam hati Glenn yang kebingungan.


"Yaudah, kalau kalian mau kembali. Silakan pergi, aku akan masuk dulu" ujar Elisa yang menepuk punggung kedua pria itu dan jalan melewati mereka berdua, dengan wajah yang biasa-biasa saja.


"Sepertinya nyonya sudah tahu, tadi beliau biasa saja. Tidak merasa terkejut, kamu tidak melihat ekspresi wajahnya tadi?" tanya Aoda yang sadar jika Elisa tak berubah raut wajahnya.


"Nyonya emang orang seperti itu kan, beliau sudah bisa membacanya. Walau dia tidak tahupun, dia bersikap biasa saja tak akan berubah. Kamu seharusnya sudah hafal dengan tingkah laku nyonya, Hmmm... Memang sulit menjadi pengawal bagi nyonya Elisa." Ucap Glenn agak frustasi dengan hal tersebut.


Berada di dalam ruangan terlihat Maura dan Andre sangat khusu sekali di meja ruang tengah, Elisa masuk dengan diam-diam tanpa suara. Karena tak mau menganggu mereka yang sedang serius, seperti sedang membicarakan tentang sesuatu yang sangat penting. Elisa diam-diam mengintip, dari jauh.


Ouh! Apa yang sedang mereka lakukan, sampai sangat serius banget, hingga aku datang pun mereka tidak sadar. Apasih yang sedang mereka bicarakan, hingga sampai fokus begitu. Dalam hati Elisa yang melihat ekspresi wajah keduanya secara bergantian.


"Sepertinya kita harus tambahkan jumlah pasukan, apakah aku harus ambil 1 tim lagi? Karena satu unit saja kayaknya gak akan cukup, kita masih saja kewalahan." Saran Maura yang mencari solusi dari semuanya.


"Jangan, itu tidak di perlu deh! Karena jika terlalu banyak pasukan yang terlibat, maka akan sulit di kendalikan. Ke tangkepnya enggak, malah akan menambah beban bagi kita nantinya, kalau menambah jumlah koloni. Maka resikonya juga akan lebih besar, dan akan banyak korban jiwa, ini terlalu bahaya." Masukan dari Andre yang menegaskan yah.


"Bikin umpan balik saja!" suara itu tiba-tiba menyambung, membuat Maura yang tidak sadar seketika kaget karena suara itu ia kenal.


"Kau bener... Aaah. ELISA!" ucap Maura yang bergantian menjadi kaget dan panik.


Andre juga kaget saat melihat istrinya sudah ada di samping saja. "Kapan kau datang, kenapa aku gak mendengar kamu mengucap salam." Andre protes.


"Oh oh oh. Aku sudah ucap salam tadi, kalian tidak dengar. Makanya aku sangat penasaran kalian sedang apa makanya aku langsung mendekati kalian, Cih!" ucap Elisa yang mengambil tangan Andre dan mencium punggung tangannya.


"Ouh maaf, kami terlalu fokus makanya tak dengar kamu datang dan mengucapkan salam." Andre yang merasa bersalah.


"Sudahlah, lupakan hal itu. Sedang apa yang kalian rencanakan, siapa yang sedang kalian incar?" tanya elisa yang sangat penasaran.


"Aaah~ soal itu, kami tak bisa mengatakan yah!" ucap Maura yang tak mau Elisa tahu.


"Sebaiknya kamu ganti baju dan beristirahat lah, karena nanti aku antar kamu kerumah ibu untuk sementara waktu" ucap Andre yang langsung menatap Elisa dan mendorong istrinya untuk pergi.


"Cih, padahal kalau kalian beri tahu aku mungkin bisa bantu kalian loh." ucap Elisa yang sangat antusias.


"Tidak perlu repot-repot, kamu fokus saja sama kuliah kamu" ucap Andre yang langsung mendorong istrinya pergi.

__ADS_1


"Iya baiklah, aku akan naik keatas" Elisa yang langsung naik ke lantai atas untuk ganti baju.


Andre dan Maura lanjutkan percakapan mereka dan rencana mereka tertunda, karena ada Elisa. Di kamar, Elisa mendapat nomor kontak gak dikenal, tulisan kontak Nomer Pribadi.


"Eh? siapa yang menelepon ku, kok namanya nomer pribadi, aku gak tahu siapa dia" ucap Elisa yang meletakkan lagi hp miliknya.


Phonsel Elisa yang telah di sadap oleh tim unit gabungan, langsung melacak nomer tersebut. Karena sangat mencurigakan, tim IT ini langsung bergerak.


"Hallo, ada masalah apa?... Phonsel istriku? ada apa dengan hp miliknya, baiklah aku akan cek... Terimakasih..." panggilan di tutup.


"Ada apa Alzam, apakah terjadi sesuatu?" Maura ikutan khawatir.


"Katanya ada yang melacak hp milik istriku, tapi itu sudah bukan jadi masalah karena sudah ditangani" ucap Andre yang tak memusingkan soal itu.


Elisa lagi-lagi datang saat mereka sedang fokus, dan membuat kaget Maura dan Andre yang sedang sibuk. Dengan rencana yang sedang mereka susun, hingga mengejutkan mereka.


"Astaga elisa! Lagi-lagi kamu mengagetkan aku" ucap Maura yang memegangi dadahnya.


"Biasa aja dong, kagetnya kayak lihat hantu. Sebenarnya kalian ini sedang merencanakan apa sih? aku kepo tahu" ucap Elisa yang ikut gabung.


"*******, kita disuruh untuk menangkapnya" jawab Andre, seketika Maura terbelalak karena Andre langsung memberitahu informasinya.


"Alzam, katanya tak usah di beri tahu kenapa kamu katakan" ujar Maura yang kebingungan.


"Percuma Maura. Dia tak akan menyerah begitu saja kalau rasa penasaran itu terlalu tinggi, jadi mau sampai kapan pun dia pasti akan tahu dengan sendirinya" ujar Andre menjelaskan pada Maura.


"Hehehehe, itu bener" ujar Elisa membenarkan hal itu.


Maura hanya tepok jidat nya, dia tak mengerti sama sekali dengan pasangan yang ada di hadapan mereka.


"Bisakah kamu memberitahu klunya atau mungkin Ciri-cirinya orangnya gimana?" tanya Elisa yang memegangi dagu.


"Muara, kamu punya fotonya kan. Coba kamu beri tahu, mungkin saja jika Elisa tahu kita juga akan lebih mudah untuk menemukan ya" ucap Andre yang membuat Maura semakin tidak mengerti.


"Iya, baiklah. Tunggu sebentar biar aku ambil dulu di kamar" ujar Maura yang bergegas pergi naik ke kamarnya.


Saat Maura sedang naik ke lantai atas untuk mengambil beberapa gambar, Elisa langsung duduk di sofa sambil menyimpangkan kaki dan tangannya.


"Kamu dari mana? Kamu gak dari bakery kan" tanya Andre yang sangat penasaran.


"Iya, kok kamu bisa tahu. Kamu memata-matai aku yah?" tebak Elisa yang membuat Andre memalingkan wajahnya.


"Cih, apakah kamu sekhawatir itu. Hingga melacak istrimu sendiri, lagian aku bukan kamu, yang akan tiba-tiba muncul dengan membawa pasangan, dan langsung mengenalkan dia sebagai orang yang istimewa" ucap Elisa yang menyindir.


"Apasih, nyindir nih ceritanya? Melanggar saja apa yang dilarang, jangan pakai motor malah naik motor, bilang yah ke bakery malah gak kesana? Jadi kemana tadi"


"Sudah tahu masih aja ditanya, bukanya kamu memakai jasa tim IT kan untuk memata-matai aku, kenapa masih bertanya soal aku kemana. Aneh deh!" ucap Elisa.


"Kamu aja kenapa bohongin aku?" protes Andre yang gak mau kalah.


"Aduuuh! Seharusnya aku yang marah sama kamu, kok jadi kamu yang sensitif sih. Jujur padaku, siapa sebenarnya Maura. Apakah dia mantan pacar kamu, atau mantan selingkuhan atau mantan tunangan kamu?" ucap Elisa yang bertanya bertubi-tubi.


"Satu-satu dong kalau nanya, ini belum juga aku jawab kamu sudah melempar pertanyaan lainnya, jadi mana dulu nih yang aku jawab?" tanya Andre.


"Yang mana aja deh! Bebas, yang penting semua itu di jawab biar dapat nilai dari ku" ucap Elisa.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Selasa 17 Januari 2023

__ADS_1


__ADS_2