
Diana pun langsung mengambil hp-nya dan menelpon Rere tapi tidak diangkat, lalu dia menelpon pacarnya Rere, tidak diangkat juga, akhirnya Diana kirim pesan pada Resti.
Diana : (Resti, kamu dimana? Kamu datang gak!)
"Gimana, di angkat gak!" tanya Nacly yang ikut panik.
"Nggak, aduh kok aku khawatir yah?" ucap Diana.
"Mungkin Rere gak jadi datang, atau mungkin hp low jadi ia charger." sambung Nacly.
"Anak itu kalau gak datang atau hp low dia pasti ngasih tahu, nggak mungkin gak ada kabar." ucap Diana.
"Mungkin gak sempet kali Diana, udahlah kita nikmatin waktu ini saja sambil Videoin momentum, biar Resti cemburu lihatnya." ucap Nacly.
Andre sesekali memperhatikan kondisi Elisa yang bersama temen-temennya, dan terlihat ada adik ipar juga, Andre agak tenang.
Lalu ada nada dering dari hp Diana, tertera nama Resti. (Sorry, guys. Aku gak datang!")
Acarapun ditutup juga dengan sangat meriah, satu persatu pada pulang. Elisa yang pulang bersama adiknya, sampai akhir dia tak menyapa suaminya.
Sesampainya di halaman, Elisa turun dari motor. Wajah ia tekuk dengan bibir ia majukan beberapa senti, Azril hanya tersenyum tipis karena tetehnya itu sedang mode ngambek.
Elisa akan masuk, cuman di tanah oleh Azril. "Eeeh, teh mau kemana?"
"Mau masuk lah, terus mau kemana lagi" ucap Elisa yang menjawab dengan agak ketus.
"Helm ya, masa iya mau di pake aja." ucap zril yang mendekati tetehnya.
Dengan sabar Azril membukakan helm, terlihat dari jauh Andre juga datang. Azril yang tahu hanya diam, lalu tiba-tiba memeluk Elisa dari belakang. Membuat Elisa kaget, dengan refleks tubuh. Elisa memukul dengan siku, dan membanting suaminya.
"Aduh! Sayang, kamu terlalu kuat." ucap Andre yang sudah tersungkur di tanah.
"Mas Andre!" Elisa agak kesal, tapi puas karena melihat suaminya jatuh itu.
Azril hanya melongo melihat kejadian itu. "Teteh, kasar banget sih sama suami sendiri, kasihan mas Andre kan sampai kesakitan gitu!" protes Azril.
"Biarin, suruh siapa dia bekap aku kayak gitu, itulah akibatnya." ucap Elisa yang langsung masuk begitu saja tanpa memperdulikan suaminya.
"Teh, nggak di bangunin mas Andre yah! Main masuk aja." ucap Azril yang menegur tetehnya.
"Kan ada kamu, bangunin dia zril. Lagian dia kan punya kaki dan tangan, ngapain minta bantuan sama aku." ucap Elisa yang lagi mode ngambek.
"Mas nggak apa-apa?" tanya Azril yang membantu kakak iparnya berdiri.
"Nggak apa-apa zril, cuman kayaknya lengan agak kelir dikit nih!" jawab Andre sambil memeganginya lengan tangannya.
"Ya ampun mas, terus gimana. Besok nanti suruh ayah deh buat ke tukang urut, biar di urut. Mas Andre sih, udah tahu teteh akhir-akhir ini lagi agak waspada sama lingkungan, mas Andre malah main-main sama Teteh" penjelasan Azril.
"Suka lupa zril kalau teteh kamu itu kuat, bahkan lebih kuat dari 1000 pasukanku hahaha..." ucap Andre sambil cengengesan.
"Hahaha mas Andre bisa aja. Teteh bisa denger loh!"
"Dia pasti lagi ngambek sama aku iya?" tebakan Andre yang tepat sasaran.
"Betul sekali, dari tadi dia marah-marah terus." jawab Azril.
"Hmm aku tahu, sudahlah ayo masuk!"
"Iya mas, kapan mas datang ke Indonesia."
"Baru tadi pagi subuh, terus banyak acara juga. Kamu sendiri kapan pulang, kok sudah ada di rumah."
"Azril baru kemarin pulangnya mas."
"Ouh, gitu."
Mereka ngobrol sambil berjalan menuju pintu rumah, terlihat Elisa lagi duduk di ruang tv. Sambil makan cemilan, melihat ibunya yang akan masuk kamar.
"Assalamualaikum" salam Andre dan Azril yang kompak.
Bu Siti yang baru masuk langsung keluar lagi karena mendengar suara anaknya ada dua, melihat Elisa yang tidak merespon salam.
"Walaikumsalam." jawab ibu seraya berjalan keluar dari ruang tv.
"Eeh... Anak-anak cowok ibu semua sudah pada pulang yah, kapan datang nak?" ucap siti yang menghampiri Azril dan Andre.
__ADS_1
"Ini Andre baru datang bu." seraya mengulur tangannya untuk meminta salaman, dan langsung mencium tangan ibunya. Di susul Azril yang juga mencium tangan ibunya, mereka langsung jalan ke ruang tengah.
"Yaudah sini masuk, sudah makan nak?" tanya Siti menawarkan makanan pada Andre.
"Ih ibu, teteh yang dari tadi disini nggak di tawarin makan, liat mas Andre malah langsung ditawarin makan." ucap Elisa yang langsung protes.
Andre dan Azril hanya diam sambil senyum-senyum, karena tingkah Elisa yang seperti anak kecil.
"Aduh aduh putriku ini kok irian gitu sih, nak Andre kan baru saja datang." ucap Siti yang menengahi.
"Hmph! Ibu itu hanya sayang sama anak laki-laki, padahal aku satu-satunya anak perempuan dirumah ini." ucap Elisa yang sebel.
"Eh, kenapa sih sama teteh kamu zril" ucap Siti yang bingung juga sama tingkah putrinya.
"Nggk tahu bu dari tadi pagi juga udah kayak gitu! Tapi, puncaknya sih pas ada mas Andre, teteh tambah kayak gini." ucap Azril.
"Hmm- teteh lagi nyidam yah!" ucap Siti.
"Iya nyidam anaknya kucing, ibu ini ada-ada. Udah ah, capek mau tidur." ucap Elisa yang malah jalan sambil dihentakan langkah kakinya.
"Ya ampun anak itu." ucap Siti yang malah jadi heran sendiri.
Azril dan Andre malah cekikikan melihat tingkah Elisa yang lucu dan konyol, Siti langsung memukul pelan Azril. "Adek, jangan gitu ah!"
"Habis lucu banget teteh kalau lagi ngambek gitu, semua apapun teteh betein sampai di marah-marahi nggak jelas gitu!"
"Ah... Kayaknya ini akan jadi PR buat aku zril, siap-siap kena semprotan marahnya dia, kalau udah betmood gitu susah buat di bujuk." ucap Andre yang agak frustrasi.
lalu Andre berjalan keruang tengah mengambil tasnya yang ia tinggalkan di sofa, mengambil beberapa kotak kecil dari dalam tasnya.
"Emangnya teteh kamu kenapa sih dek?" ibu Siti masih nggak mengerti juga.
"Biasalah, ngambek sama mas Andre, gara-gara banyak cewek-cewek yang godain tadi di kampus." penjelasan Azril.
"Di kampus? Emang nak Andre kesana." Siti agak sedikit bingung sama apa yang di katakan oleh putranya.
"Iya bu, mas Andre jadi bintang tamunya." jawab Azril.
"Ouh gitu," Siti langsung faham. Melihat Andre kembali lagi ke ruang tv, Siti langsung menawarkan minum.
"Ngga usah bu, Andre mau mandi saja. Udah gak betah, gatel banget nih. Bu, ayah mana?" Andre celingukan mencari mertua laki-laki yah.
"Biasalah ngaterin pesanan ikan lele, lagi banyak orderan ikan lele sama udang." ucap Siti.
"Walah Alhamdulillah yah bu, lagi banyak orderan mah. Bu, ini buat ayah. Ini buat ibu, Azril yang ini." ucap Andre memberi kotak-kotak itu pada anggota keluarga.
"Ini apa mas?" ucap Azril yang mengambil kotak yang di berikan.
"Hmph, oleh-oleh." jawab Andre yang langsung mengambil tasnya.
"Ya Allah, ini cantik banget. Gelang apa ini nak, kok bisa sebagus ini. Tapi kayaknya ini kekecilkan deh nak, buat teteh aja. Nggak Muat buat ibu, tuh gak masuk." ucap Siti sambil mencobanya.
"Ini kerajinan tangan gitu bu, bisa di lepas kayak gini, Andre kasih tahu. Kalau secara langsung dipake kayak gini emang gak muat bu. Nah, kayak gini nih bu, tuh sekarang pas kan." ucap Andre membantu memasangkan pada pergelangan tangan Siti.
"Ini emas ya mas, kok berkilau gitu." Ujar Azril yang melihat gelang yang di pakai ibunya.
"Iya dek, kalau buat cowok bukan emas kok. Ini satu set, buat ayah ada jam tangan sama cincinnya. Kalau ibu ada gelang sama kalung, kamu cuman jam sama gelang, nggak mungkin kamu pakai cincin kayak gini kan." ucap Andre yang tahu selera keluarganya.
"Mas cuman beli buat kita aja, buat teteh mana?" ucap Azril yang tak melihat kotak lainnya.
"Dia gak akan suka zril, Perhiasan mahar pernikahan aja dia gak pernah pake, di simpan terus tuh dilemari, bulan lalu mas beli lagi satu set yang sama kayak ibu, cuman beda model. Cuman di pake sehari besok ya lehernya merah-merah. Ibu sama Azril tahulah sebab yah, iyakan."
"Teteh kamu kan alergi emas, makanya dia gak akan pakai benda-benda itu. Gak bisa bertahan lama, nggak betahan juga." penjelasan ibu Siti.
"Teteh mah tomboy, gak bisa jadi cewek. Feminim dikit napa sih teh, baju aja gak ada gaun atau rok panjang. Semuanya celana, untung ada yang mau nikahin." ucapan Azril yang teriak-teriak.
"Adek, jangan gitu ah!" ucap Siti yang menenangkan Azril.
"Terus mamah dan papah mas Andre gak di kasih juga." ujar Azril.
"Mama sama Papah itu udah punya koleksinya sendiri, jadi buat apa ada bagiannya. Udah ah, mas mau mandi udah bau asem." ucap Andre yang berjalan ke arah belakang.
"Yaudah, ibu ambilkan handuknya." ucap Siti yang akan pergi ke arah belakang.
Tapi tangan Siti di tahan oleh Andre. "Nggak usah repot-repot bu, Andre bisa kok ambil sendiri, kayak sama siapa aja." ucap Andre yang menahan tangan Siti.
__ADS_1
Setelah mandi Andre yang keluar dari dalam kamar mandi, hanya pakai handuk langsung masuk kamar tidur. Elisa sedang duduk menyender di punggung penyangga ranjang, melihat suaminya yang basah habis mandi.
"Kamu baru mandi?" tanya Elisa sinis.
"Iya," jawab singkat sambil membuka lemarinya.
"Mandi dimana?" tanya Elisa yang melihat punggung Andre yang ada bekas-bekas sayatan luka baru.
"Di kamar mandilah, masa di gudang." ucap Andre yang menjawab dengan nada sebel.
"Kenapa gak disini aja, udah bener kok kamar mandinya."
"Sekalian tadi ambil handuk disana juga, sayang. Baju aku pada kemana? Terus dalaman aku juga, kamu taro dimana sih." ucap Andre.
"Hmm- harus ya Elisa yang langsung turun tangan, awas minggir." ucap Elisa yang bangkit dari kasur.
Mencari pakaiannya dalamann Andre. "Ini apa? Ini baju kamu, mau pakai baju apa?" ucap Elisa yang memberikan CD dan KD pada Andre.
"Baju tidur aja, yang samaan kayak kamu ini." ucap Andre.
"Iya bentar." ucap Elisa yang jongkok di bawa mencarinya sedangkan Andre pakai CD dan KD.
"Itu kenapa, kamu berkelana lagi?" tanya Elisa yang tidak menoleh.
"Ouh ini, karena latihan kok sayang." ucap Andre yang menjawab.
"Bohong banget sih kamu. Jujur ini kenapa, aku gak suka di bohongin gini." ucap Elisa yang memberikan baju pada Andre sambil mendorong tubuh Andre.
"Beneran sayang, ini hanya bekas latihan kok." Ucap Andre yang melepaskan handuk, dan mulai pakai celana tidurnya.
Melihat istrinya masih marah dan ngambekkan, Andre memeluk istrinya sangat erat.
"Iiiih apa-apa sih, kamu pakai baju dulu, jangan deket-deket. Aku tuh lagi marah sama kamu." melepaskan diri dari pelukan Andre.
"Kenapa lagi sih, apa salah ku?" tanya Andre yang pakai baju yah.
"Kamu pura-pura gak sadar aku marah kenapa hah! kalau kamu jujur sama aku, terus bilang sama aku. Tahu gak aku itu khawatir disini, kamu gak mikirin perasaan aku apa?"
"Iya-iya mas minta maaf, disana gak ada sinyal sayang."
"Minta maaf saja gak akan mempan, kamu udah bikin kesalahan terbesar tahu gak!"
"Terus aku harus gimana, melakukan apa buat kamu?" ucap Andre.
"Di bujuk dong masa gak peka-peka, udah hampir setahun juga."
"Iya iya. Sayang ya aku, kamu mau apa sayang? hmmm-" seraya memeluk Elisa, dan menciumi Elisa full muka.
Keesokan paginya, berada di halaman pintu gerbang Elisa yang di antar suaminya, karena Elisa gak mau ada yang tahu kalau dia adalah istri dari Andre.
"Kamu yakin sayang, hanya di antar sampai sini, gak sampai depan sana." ucap Andre.
"Kamu mau aku jadi bulan-bulanan dikampus, kan udah aku bilang tadi. Kamu gak usah antar aku, kenapa sih kamu gak nurut banget."
"Ya ampun sayang, aku ini suami kamu. Ya masa istriku dibiarkan naik angkutan umum, aku juga pengen ngaterin istriku inikan, kamu ini aneh deh! Semua istri pada mau ya di anterin suaminya, ini aku lagi perhatian ke kamu malah marah-marah."
"Terserah deh! yaudah Elisa masuk dulu, Salim." ucap Elisa yang mengulur tangannya untuk mencium tangan suaminya.
"Assalamualaikum." ucap Elisa yang akan keluar dari dalam mobil. Tapi, ditahan lagi sama Andre.
"Tunggu sebentar sayang." Andre menahan tangan Elisa, sebelum Elisa keluar dari dalam mobil.
"Apa lagi sih mas, Elisa bisa telat nih." ucap Elisa yang agak kesel. Andre menarik tangan Elisa dan menahan kepala istrinya itu, satu ciuman kecupan mendarat di bibirnya.
"Aah! apa-apa sih? bilang-bilang dong kalau mau kiss, aku kan belum siap!" ucap Elisa yang agak protes sama sikap suaminya itu.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Minggu 19 February 2023
__ADS_1