
Semua heboh dengan tren terbaru di berita semua booming karena soal kemunculan, para pemimpin penerus dari 5 grup terbesar dari mulai Flay, Dragon, Flower, Wolf dan Andrilos. Semua muncul satu persatu, di jumpa pers. Karena untuk mulai debut mereka, sebagai pemimpin penerus dari masing-masing grup mereka.
Di layar berita pagi hari ini telah menampilkan tayangan berita internasional, Yusman sedang menonton hal itu. Tak menyangka bisa melihat menantunya tampak elegan, dan sangat berwibawa dilayar kaca.
Dengan parade yang sangat meria, para pemimpin penerus itu di arak keliling kota, mengunakan mobil yang terbuka, seperti kereta kerajaan. Layaknya Raja-raja yang sedang di arak, menuju istana pemerintah pusat.
"Teh, teteh cepet sini deh! Lihat ini siapa yang ada di TV, teteh." panggilan Yusman yang sangat nyaring, membuat Elisa sampai harus buru-buru pakai bajunya.
"Iya ayah sebentar lagi pakai baju dulu nih!" ucap Elisa yang langsung bergegas langsung berjalan ke pintu keluar, sudah rapi dengan pakaiannya.
"Ada apa si ayah, pagi-pagi udah ribut aja." Siti yang dari arah dapur juga, langsung berjalan cepat dari arah belakang, karena kehebohan suaminya itu.
"Nggak tahu nih si ayah orang nonton tv aja rame bener, kayak lagi nonton bola." ucap Elisa yang langsung menyahut.
"Itu lihat di tv siapa?" ucap Yusman yang menujuk kearah seorang pria, dengan senyuman yang lebar, menujukan gigi putih yang tersusun rapih.
"MasyaAllah, itu bukanya mantu kita ayah. Si Andre, bener gah si teh." ucap Siti yang melihat menantunya muncul di layar tv.
"Cih, bahkan dia masih bisa tersenyum lebar seperti itu, walau saat ini dalam masalah yang cukup serius!" ucap Elisa yang melihat raut wajah yang dibuat-buat oleh Andre.
"Ih si teteh, kenapa atuh jangan seperti itu. Walau bagaimanapun masalahnya, harus dibuat happy dong, masalah berat dibikin ringan, kalau yang ringan dianggap nggak ada." ucap Siti.
"Iya nduk, yang dikatakan ibumu itu bener. Yaudah, kamu mau siap-siap berangkat ngampus kan?" ucap Yusman.
"Iya ayah. Dia itu sengaja aja ayah, mau tebar pesona." ucap Elisa yang melihat suaminya di layar TV.
"Teteh, udah atuh. Orang yah gak ada disini, dia mana mungkin denger sama apa yang di keluhkan oleh teteh saat ini." ucap Siti.
"Elisa juga tahu bu orangnya gak ada di sini, nggak usah di perjelas gitu." ucap Elisa yang cemberut.
Elisa melihat ada sesuatu yang agak berbeda, karena Andre mengunakan sarung tangan hitamnya, persis saat Andre melakukan tugas kemiliteran. Elisa lalu teringat sesuatu soal sarung tangan itu, percakapan dia dengan sang suami saat di markas rahasia di pulau.
"Eh bentar deh! Kenapa dia pakai sarung tangan? jangan-jangan..." elisa semakin dibuat tidak tenang karena hal itu.
"Jangan-jangan kenapa teh?" ucap Siti yang langsung melihat ekspresi wajah elisa yang agak berbeda.
"Tidak ada apa-apa bu, itu hanya perasaan teteh aja." ucap Elisa yang menenangkan dirinya.
Yusman dan Siti lagi-lagi saling menatap satu sama lainnya, karena melihat Elisa yang sangat serius sekali saat ini melihat layar TV. Hingga suara chat masuk dari Fando bahwa dia sudah sampai di depan rumahnya, Elisa belum sempat baca.
"Iya udah bu ayah. Teteh mau berangkat dulu, assalamualaikum." ucap Elisa seraya mencium punggung tangan ibu dan ayahnya.
"Walaikumsalam, ati-ati teh?" ucap sang ibu yang langsung mengikuti putrinya dari belakang untuk mengantarkan sampai depan rumah.
"Naik motor lagi teh?" tanya Siti yang sudah di depan pintu.
"Nggak bu, Fando sudah jemput Elisa kok tuh anaknya" ucap Elisa yang menujuk pada orang yang baru keluar dari dalam mobil.
"Ouh! Fando... Eh! Apa! Anak yang kemarin?" ucap Siti yang langsung menarik tangan putrinya.
"Iya ibu ku tersayang, anak yang kemarin. Itu yang ngajak teteh keluar malam, ya udah ah! nggak enak ada orangnya." ucap Elisa yang menyuruh ibunya untuk melepaskan tangannya.
"Permisi, selamat pagi bu." ucap fando yang saat ini berjalan mendekati Elisa dan ibunya.
"Ouh, iya selamat pagi juga." ucap Siti dengan senyuman yang terpaksa.
"Udah siap El. Kita bisa berangkat sekarang, karena udah jam 7 lewat nih!" ucap fando yang melihat jam tangannya.
"Iya, yuk kita berangkat. Yaudah bu, kita Berdua berangkat dulu yah." ucap Elisa yang saat ini mencium tangan ibunya.
"Iya, kalian hati-hati yah." ucap sang ibu
"Iya, mari bu. Kami berangkat dulu yah, permisi." Fando membungkuk dengan sopan.
Setelah Elisa pergi dengan Fando, ibu langsung masuk kembali ke dalam rumah. langsung jalan ke ruang TV di mana Ayah masih menonton acara berita internasional, langsung duduk di sebelah suaminya.
__ADS_1
"Kok teteh semakin agak aneh ya ayah, apakah karena terlalu banyak fikiran." tanya pada suaminya.
"Aneh bagaimana maksudnya bu, orang teteh biasa aja tuh!" ucap Yusman yang menjelaskan.
"Itukan menurut ayah, tapi beda firasat seorang ibu, karena yang ibu rasakan saat ini agak berbeda ayah." ucap Siti yang menjelaskan pada suaminya.
"Bu, teteh pasti bisa menyelesaikan semua masalah yah kok, ibu harus mempercayai saja. Ibu juga bisa apa, kita berdua tak bisa membantu banyak bukan, ini semua jadi urusan teteh. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik dan mendukungnya sebagai orang tua. Jika teteh sudah melenceng dari jalur, baru kita arahkan kembali, semoga saja teteh baik-baik." Ucap Yusman yang menenangkan pikiran sang istri.
"Iya ayah, kadang ibu kasihan sama teteh. Sama hubungan pernikahan mereka, ibu kok jadi was-was yah." ucap Siti yang malah lupa sedang masak.
"Kita berdoa saja yang terbaik untuk Teteh, dan berdoa semoga langgeng hubungan pernikahan mereka, sampai maut memisahkan, dan semoga di pertemuan kembali ke dialam lainnya. Toh teteh juga anak yang bijak, dia pasti bisa memilah dan milih mana yang baik dan yang buruk." ucap Yusman yang menjelaskan pada istrinya.
Siti menghela nafasnya, lalu tercium seperti bau gosong. "Ayah, apakah ayah cium bau-bau gosong?"
"Iya bu, ini kayak ban yang di bakar yah?" ucap Yusman.
"Astaghfirullah, ayah. Ibu lagi goreng ikan, aduh si ayah." ucap Siti. Seketika Yusman dan Siti panik kalang kabut, langsung lari kearah dapur untuk membantu istri mematikan kompor.
...****************...
Sampai di kampus, semua mahasiswa heboh melihat Elisa yang baru keluar dari dalam mobil, pintu yang di bukakan oleh Fando dengan sangat sopan dan baik.
"Eh! Siapa itu, pacarnya Fando yah?" ucap salah satu mahasiswi.
"Kayak si begitu, yah kita gak bisa deketin dia lagi dong!" ujar mahasiswi lainnya lagi.
"Selagi jalur kuning belum melengkung, kita masih di perbolehkan untuk berharap memilikinya,"
"Setuju, kita masih bisa bersaing kok buat dapati dia."
"Cakep tuh, kuy lah jangan takut. Maju pantang menyerah, karena kita juga tidak tahu. Sapa saja dia akan berubah pikiran nantinya. Tiba-tiba melirik kita buat jadi istrinya juga, ha-ha-ha"
"Huuu.. Ngimpi tuh!" seraya mereka menoyor kepala temennya itu.
"Hahaha iya kamu bener, yang udah punya status SAH saja masih bisa direbut, iya nggak, apa lagi masih status pacaran iya gah"
Elisa yang sudah memasuki lorong-lorong fakultas farmasi, langsung temen-temen menghampiri Elisa dan Fando yang berjalan beriringan.
"El kok bisa bareng sama Fando, itu mobil kamu fan?" tanya Resti yang heran ada mobil bagus parkir dijejeran mobil lainnya.
"Bukan, itu mobil dapet minjem sama kenalan aku" jawab Fando yang menjelaskan.
"Cih dasar kau, bilang aja kali kita juga gak akan ledek kau. Tapi, sumpah itu kalian bikin heboh satu kampus, tahu gak!" ucap Nacly yang agak kesel tapi merasa kagum juga.
"Itu gara-gara kau Fando, malah bukain pintu buat Elisa, BTW kayak pasangan aja?" ucap Resti yang seperti sedang memojokkan Elisa dan Fando.
Tapi, Elisa saat ini sedang tidak fokus. Dengan apa yang sedang dibahas oleh temen-temennya itu.
"Haha... Itu sudah jadi kebiasaan aku kok, kalau soal membukakan pintu buat para ladys." ucap fando.
"Hmph! Jadi begitu, Fando kamu belum jawab pertanyaan aku loh." ucap Diana yang sangat bersemangat.
"Pertanyaan yang mana Diana?" ucap fando yang lupa akan pertanyaan Diana.
"Itu yang tadi, kok kalian bisa datang barengan, apakah ketemu di jalan atau kalian sengaja janjian sih." ucap Diana yang sangat penasaran.
"Aku sengaja jemput Elisa di rumahnya." ucap fando yang langsung menjawab, Elisa yang berjalan di belakang tak mendengar karena masih fokus sama apa yang dipikirkan.
"Ih aku juga mau kali Fando di jemput kayak Elisa, kalau kamu yang jemput aku gak masalah deh, Fando" ucap Resti yang ikutan pengen di manja juga.
"Ha-ha-ha okey kalau gitu. Tinggal kamu dimana, nanti sekalian aku jemput juga?" ucap fando yang malah mengikuti apa yang dikatakan Resti.
"Aaah beneran nih, kalau iya gitu nanti di antar jemput yah." ucap Resti yang semangat banget.
"Yaelaah, elu re. Kalau ada gratis aja semangat bener, jangan mau fan, dia cuman modus tuh." ucap Diana.
__ADS_1
"Ih apa sih, orang Fando aja gak masalah kok. Iri bilang bos, jangan menikung begitu." ucap Resti yang tidak terima.
"Cih, nggak terimakasih, aku masih punya kendaraan sendiri." ucap Diana yang agak gak menerima.
Nacly yang agak aneh sama sikap Elisa yang saat ini hanya diam saja, entah kenapa dengan Elisa di pagi hari sudah melamun.
"Yeh aku mah mau bangetlah fan, masa iya menolak rezeki nomplok." ucap Resti yang masih semangat.
"Gitu, okelah satu persatu deh! Aku jemput gimana?" ucap fando yang mencairkan suasana.
"Hahaha iya aku mau begini tuh fan, biar Diana itu gak iri sama aku." ucap Resti yang masih berdebat dengan Diana.
Dibelakang Nacly, langsung menggandeng tangan Elisa. Membuat Elisa kaget, dan tersadar dari lamunannya.
"El, kamu kenapa sih. Kamu gak suka ya di jemput sama Fando, karena akan jadi pusat perhatian kayak gini?" tebakan Nacly.
"Eh, aku... Ouh iya, sebenarnya aku agak malu sih, tapi gimana lagi aku gak bisa nolak Nacly, Fando orangnya pemaksaan." ucap Elisa yang mengalihkan pembicaraan.
"Hmph, mau aku bilang ke Fando soal kamu gak nyaman, kalau di jemput begitu sama fando?" ucap Nacly.
"Eh itu... Nacly, aku..." suara Elisa tergagap, saat ingin mengatakan sesuatu.
"Nggak apa-apa kalau kamu gak nyaman gak usah di paksa El, itu akan berat juga dikamunya, suatu hubungan yang di jalani dengan keterpaksaan itu, tidak akan baik pada ujungnya." ucap Nacly yang entah setan baik mana yang merasuki pikiran yah itu.
"Hahah, kamu ini bisa aja deh! Bikin aku meleleh." ucap Elisa yang langsung menepuk tangan Nacly yang melingkar di lengannya.
...****************...
Tidak terasa jika waktu, telah berjalan dengan cepat singkat cerita, di pertengahan pelajaran ke empat tadi Fando, tiba-tiba izin katanya ada keperluan yang cukup mendesak, itu menambah rasa khawatir akan suaminya, takutnya si Fando dan kakaknya sedang merencanakan sesuatu.
"El, kamu kenapa sih dari awal masuk mukamu gitu terus." tanya Nacly.
"Lagi PMS kau El." asal tebak Resti, Diana juga ikut melihat kearah Elisa saat ini.
"Nggak guys, entah kenapa perasaan aku gak enak aja gitu, kayak punya firasat buruk." ucap Elisa yang menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini.
"Apakah, jangan-jangan kamu malah kepikiran sama Fando yang tiba-tiba pulang itu, iyakan." tebakan Resti yang setengahnya bener.
"Enggak juga re, aku gak tahu aja kenapa gitu!" ucap Elisa yang langsung membantahnya.
"El, mendingan kamu makan dulu deh! Biar pikiran kamu agak tenang sedikit, mungkin karena tadi belajaran biokimia jadi kamu sedikit agak bleng!" ucap Diana yang menyarankan.
"Hahah iya apa lagi nanti, pas selesai istirahat kali ini, ada pelajaran struktur jenis obat, aduh pala ku kelingan eeeh! nggak ada Vitamin CG lagi." ucap Resti yang langsung memegangi kepalanya.
"Hah! apa itu vitamin CG, re. Aku kok baru tahu, jika ada vitamin jenis itu?" ucap Nacly.
"Hahaha kamu nanya, kamu bertanya-tanya. Kepo kamu Nacly, CG itu. Cowo Ganteng, itu vitamin buat aku semangat lagi." ucap Resti yang semangat.
"Ya elah, kirain apaan. Ternyata itu toh! Dasar kamu, mata genit." ujar Nacly yang langsung menutup muka Resti dengan tisu.
Elisa masih kepikiran soal sarung tangan hitam yang di pakai oleh suaminya itu, bagaimana bisa dia datang ke sana. Hanya ingin tahu keadaan suaminya saja, siapa yang bisa di mintai tolong.
Aku sangat khawatir akan kondisi yah, apakah dia baik-baik saja yah. Kok, saat jumpa pers kayak gitu dia malah pakai sarung tangan. Ada apa sebenarnya yah, aku kok tambah khawatir yah. Apakah sedang perang lagi, apakah mas Andre sedang menjalankan sebuah misi rahasia lagi? Tapi, dia nggak ngomong apa-apa sama aku sih, jadi siapa yang harus ku minta tolong buat tanya, aku gak bisa menyusul dia kesana. Karena disini ada Fando, dan kakaknya, jika aku datang kesana maka semua rencana ku akan sia-sia juga. Dalam hati Elisa yang kebingungan.
"ELISA!" Kompak semua temannya, malah mengagetkan Elisa yang saat ini sedang asik dengan pikirannya dirinya.
"Hahaha, kamu kaget yah. Maafkanlah habis kamu dari tadi bengong mulu sih, jadi kita kagetin deh!" ucap Resti.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
__ADS_1
Kamis 9 February 2023