PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
132. Terjebak Di Reruntuhan.


__ADS_3

Pekerjaan menjadi relawan semakin hari semakin banyak yang harus mereka kerjakan, Elisa yang membantu di dapur umum sedangkan Andre langsung terjun ke lapangan, dan selalu keliling posko-posko pengungsian lainnya yang ada 5 titik posko pengungsian karena banyaknya warga di daerah itu. Untuk mencari korban yang mengalami penyakit endemik, dan juga memberikan obat dan penanganan medis. Elisa juga harus menunggu kedatangan beberapa obat yang akan datang dari kota, atas permintaan Andre.


"Sayang aku mau ke posko lainnya, sekalian juga mau pengecekan apakah masih ada pasokan obat dan apa saja yang dibutuhkan disana, apakah kamu mau ikut?" tanya Andre pada istrinya yang sekarang sedang sibuk di dapur umum dengan relawan lainnya.


"Nggak deh mas, kerjaan aku di sini masih banyak. Bantuin mereka masak, kasihan gak ada yang di dapur umum kalau aku juga ikut terjun, udah kamu aja sama yang lainnya." ucap Elisa yang di sibukkan memotong sayuran.


"Yaudah kalau begitu, sayang nanti kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi aku pakai HT (handy talky) itu ya, sudah bisa pake ya kan?" ucap Andre yang memperlihatkan alat komunikasi darurat, walkie talk alat komunikasi jarak jauh.


"Iya mas kamu gak usah khawatir, gih pergi" ucap Elisa yang segera mengusir suaminya, agar jangan terlalu lama mengganggu dirinya yang sedang masak.


"Kamu juga disini baik-baik yah, aku pergi sekarang sama beberapa dokter medis. A–ah aku baru ingat sayang, nanti akan ada obat dari kota yang akan datang ke sini, nanti kamu handel ya sayang. Maaf merepotkan kamu, jika sudah sampai langsung hubungi aku ya." ujar Andre yang sudah balik badan lagi saat mengingat jika akan ada pasokan obat yang datang.


"Iya, aku tahu gih cepat kamu pergilah, kamu hati-hati di jalan." ucap Elisa yang segera mengusir Andre, karena menganggu pekerjaannya itu.


Tak lama pasukan Aoda pun datang juga mereka membawa semua pasokan bahan makanan untuk membantu, sedangkan pasukan Glenn ikut mencari korban dan membawa korban yang harus mendapat pertolongan eksklusif di rumah sakit, setelah Andre menjabat di rumah sakit milik Arafif sekarang berganti nama menjadi Rumah sakit ARDRELOS. singkatan nama dari Arafif dan Andre Clarlosen.


"Nyonya, apakah semua harus di letakan di sini?" ucap Aoda yang membawa bahan baku untuk makan.


"Iya di situ saja kalau sayuran jangan diletakan di situ, bawa ke pendingin saja?" ucap Elisa yang langsung menyuruh Aoda.


Terlihat semua sibuk karena jadwal makan siang, semua sudah menunggu makanan dan mengantri di lapangan pengungsian. Elisa menyuruh rekan lainnya untuk bersiap menyiapkan makanan untuk di bagikan, karena ada beberapa masakan yang sudah matang dan akan di hidangkan.


Disisi lainnya Andre juga dapat bantuan dari banyaknya orang-orang yang peduli, bahkan gubenur di kota tersebut juga ikut membantu rakyatnya. Andre dan para pasukan pun dengan senangnya meringankan beban warga.


Semakin banyak bantuan yang datang dari luar negeri untuk meringankan beban korban, ada yang membawa pasokan makanan, dan obat-obatan, hingga pakaian untuk membantu mereka yang ada di pengungsian.


Ditempat yang berbeda juga pasukan dari Alea juga datang, untuk membantu para dokter yang mungkin membutuhkan bantuan karena banyak korban juga di sana.


"Dokter Andre, saya sungguh berterimakasih karena kedatangan anda kemari untuk membantu." ucap Lukman yang sangat senang.


"Tidak masalah, ini sudah jadi tanggung jawab kita bersama, tak usah berterimakasih seperti itu dokter Lukman kita bersama-sama saling membantu satu sama lainnya." ucap Andre.


Mereka berjalan menyusuri jalanan setapak, akan menuju ke posko pengungsian lainnya di tempat lain.


"Korban jiwa cukup banyak, karena belum di temukan semua karena gempa letusan membuat kesulitan pasukan penyelamatan untuk mencari. Dokter Andre juga sungguh banyak sekali jasa dan bantuan yang anda berikan."


"Di daerah lainnya juga banyak terjadi musibah, tanah longsor dan angin kencang hingga badai juga. Terjadi tsunami kecil di daerah lainnya, setiap musibah pasti ada hikmah di balik, termasuk akan ada korban jiwa atau tidak adanya korban jiwa. Kita sebagai tenaga medis harus melayani semuanya bukan, makanya anda jangan berterimakasih padaku. Saya datang karena ini juga tanggung jawab saya sebagai seorang dokter, dan tenaga medis untuk melayani masyarakat luas." ucap penjelasan Andre.


"Hahaha iya anda bener, saya jadi malu dengan anda. Walau anda masih muda tapi jiwa anda dan pandangan anda sangat luas, aku cukup tersanjung dengan hal itu."


"Saya belajar juga belajar dari setiap pengalaman dalam hidup, karena semua dicapai bukan semata-mata untuk mendapat pujian tapi untuk pengembangan dan pengetahuan terhadap dunia yang luas."


Mereka berbincang sambil jalan-jalan menyusuri lorong, semua tempat posko pengungsian. Hingga terlihat seorang gadis cantik, yang sedang sibuk mengobati pasien yang baru saja ditemukan oleh pasukan penyelamatan.


"Herlina, kamu ada disini juga nak!" ucap Lukman yang melihat putrinya ada lokasi pengungsian.


"Ouh ayah, iya aku dan temen-temen kampus menjadi relawan juga di sini ayah. Karena ketua BEM mengadakan acara bansos untuk korban bencana, aku sama temen-temen kampus lainnya ayah. Ini agenda keliling si, kemarin baru di daerah K. Sekarang disini, ayah bertugas di sini juga?" ucap Herlina putri Lukman.


"Iya, jadi begitu pantas saja banyak mahasiswa yang berkeliaran tadi. Jadi itu semua temen-temen kamu, banyak orang yang membantu juga akan lebih baik" ucap Lukman.


Herlina lalu matanya tertuju pada Andre yang berdiri di samping Lukman, sempat terpesona dengan ketampanan dan kharisma dari seorang Andre yang saat ini dengan senyuman samar-samar terlihat.


"Ayah tidak mau mengenalkan aku sama..." ucap Herlina yang tak melanjutkan ucapannya hanya memberikan kode pada ayahnya agar dikenalkan dengan Andre.

__ADS_1


"Ouh iya sampai lupa, Dokter Andre ini putri kedua ku. Namanya Herlina, dia kuliah di jurusan kedokteran juga di universitas Negeri AMANDHIKA, nah Herlina ini dokter Andre. Dia senior ayah, walau beliau masih muda dari ayah tapi beliau punya segudang pengalaman, dan sudah jadi profesor muda yang berbakat." ucap Lukman yang memperkenalkan putrinya dengan Andre.


Herlina langsung terperangah dengan penjelasan ayahnya tersebut, tidak menyangka jika orang yang sering di cerita oleh ayahnya selama ini ternyata masih muda. Karena di pikirkan Herlina yang namanya profesor pasti tua, pendek, jelek dan botak. Ternyata ada profesor yang sangat tampan dan idaman tipe wanita, makanya Herlina hanya terdiam sesaat.


"Dokter Lukman bisa aja, saya hanya manusia biasa kok lagian saya bukan senior Anda hanya masa studi saya yang lebih cepat dari orang pada umumnya, saya tak sehebat anda" ucap Andre yang tersenyum lebar, sambil mengelus punggung Lukman.


Herlina langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Andre langsung mengulurkan lagi tangan untuk menerima uluran tangan Herlina tersebut.


"Senang bisa bertemu dengan anda secara langsung Pak, ayah selalu saja membicarakan anda. Hingga rasanya saya bosan, tak tahu kenapa ayah selalu mengidolakan anda. Kalau membicarakan anda seakan tak akan ada iklannya, hehehe" ucap Herlina.


"Begitukah, aku cukup tersanjung dengan hal itu Dokter Lukman. Saya tidak seperti itu, saya masih manusia biasa. Baiklah, saya sepertinya harus kembali posko 1, mungkin saja pasokan obat juga sudah sampai, saya juga meninggal tanggung jawab pada rekan kerja lainnya." ucap Andre yang pamitan akan kembali dimana posko pertama.


"Iya baiklah, anda hati-hati dijalan Dokter Andre." ucap Lukman.


"Apakah anda tak bisa tinggal lebih lama? kan anda belum keliling perkemahan lainnya, di posko 3 dan 4 gimana?" ucap Herlina yang ingin sekali Andre lebih lama.


"Saya sudah kesana, sebelum kesini makanya saya ingin kembali ke posko 1 karena sudah lama saya meninggalkan posko, saya permisi." ucap Andre yang meninggal tempat.


Andre yang menuju mobil dan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut, setelah kepergian Andre Herlina yang masih memperhatikan Andre pergi itu, kesem-sem sendiri jadinya.


"Ayah, Dokter Andre kira-kira sudah menikah atau belum?" tanya Herlina yang sangat penasaran.


"Tadi kamu tak lihat dia pakai cincin, sepertinya dia sudah menikah. Ayah lupa menanyakan hal pribadi seperti itu, karena jika ayah menanyakan masalah itu dia akan diam. Karena masalah itulah cukup privasi bagi Dokter Andre, makanya tak ada yang berani untuk mengukit masalah asmara Dokter Andre."


"Yah pergi deh, padahal aku pengen tahu lebih banyak tentangnya" ucap Herlina yang sangat kecewa karena kepergian Andre tersebut.


Keesokan paginya, semua langsung disibukan dengan masing-masing pekerjanya misi penyelamatan, Elisa yang ikut tim medis untuk menyelamatkan seseorang ke rumah-rumah, hingga suatu kejadian gempa yang membuat guncangan tanah itu membuat reruntuhan bangunan menutupi jalan keluar mereka.


Tapi semua itu sia-sia saja karena mereka terlambat untuk keluar, guncangan itu cukup besar membuat tanah bergoyang lebih kuat.


"Gawat! pintu keluar malah tertutup kita gak bisa keluar dari sini apakah bisa keluar hidup-hidup sekarang?" ucap perawat.


"Jangan khawatir, kita pasti akan selamat" ucap Elisa yang sangat tenang karena Elisa pernah mendapat latihan khusus militer selama dua bulan dengan Zever.


"Anda bisa cara seperti itu, tapi lihat kita terjebak disini. Bagaimana kita bisa keluar, bagaimana jika kita akan mati disini" ucapnya yang sudah putus asa.


"Tidak akan, jika kamu yakin kita bisa keluar maka kita akan keluar dari sini." ucap Elisa yang penuh keyakinan.


"Iya itu bener, mati itu adalah urusan sang kuasa jadi kita serahkan saja padanya, niat kita disini untuk menolong. Tugas mulia, jika mati disini itu artinya kita mati dengan syahid kan sama saja dengan perang suci." ucap dokter senior.


Elisa cukup senang ada yang punya pemikiran yang sangat dewasa dan luas, soal kehidupan. Semua terdiam saat dokter senior itu pergi di barisan depan, di ikuti oleh rekan lainnya Elisa.


Tak lama ia melihat seorang ibu-ibu yang sudah terjebak selama 2 hari di sana tanpa makan dan minum apa lagi dia senang hamil besar, sungguh besar pengorbanan seorang wanita. Kakinya malah tertindih reruntuhan batu, itu pasti sangat menyakitkan di tambah dia sedang hamil.


"Lihat disana ada seseorang cepat kita kesana" ucap sang dokter yang melihat beberapa orang yang terjebak, di duga mereka satu keluarga.


Ditempat lainnya Andre yang baru pulang dari pengecekan obat-obatan dan barang kebutuhan lainnya yang baru datang, seketika langsung mencari istrinya tak kelihatan sejak pagi.


Herlina yang sudah ada di sana membantu tim dapur umum, melihat Andre yang seperti sedang mencari seseorang.


"Dokter Andre, anda disini. Kenapa anda malah kesini? apakah mau membantu masak juga?" ucap Herlina.


"Kamu Herlina ya, anak dokter Lukman?" ucap Andre yang celingukan mencari Elisa.

__ADS_1


"Iya, kok lupa sih. Padahal baru juga kemarin kita kenalan kok bisa lupa, anda ingin kemana?" tanya Herlina.


"Maaf Herlina, saya buru-buru. Permisi," ucap Andre yang meninggal tempat.


Terlihat Aoda yang panik mencari Elisa tapi tidak ketemu, alhasil ia malah bertemu dengan Andre yang sedang mencari Elisa. Aoda yang disuruh Elisa untuk mengambil peralatan medis dan beberapa obat, malah di bohongi oleh Elisa. Aoda telah melarang Elisa untuk ikut terjun langsung atas perintah andre, tapi Elisa kekeh tak mau mendengarkannya.


"Aoda, dimana Elisa?" tanya Andre saat melihat Aoda yang berjalan sambil celingukan tersebut.


"Itu dia tuan, saya malah kehilangan jejak nyonya" ucap Aoda yang memang tidak tahu dimana keberadaan nyonya tersebut.


"Bagaimana bisa kamu tidak tahu dimana Elisa, bukanya kamu ku tugaskan untuk mengawasi Elisa" ucap Andre agak geram dibuatnya.


"Maafkan aku tuan, tadi nyonya memintaku untuk mengambil beberapa obat untuk pasien" ucap Aoda yang menjelaskan.


"Sudahlah, kita cari dia sekarang juga kenapa dia tak bilang mau kemana?" ucap Andre yang mencari Elisa.


"Tuan kita sebaiknya berpencar saja untuk mencarinya." ucap Aoda yang langsung ambil jalur lainnya untuk mencari keberadaan Elisa.


Hingga tiba-tiba dari stasiun infomasi mengatakan jika tim medis di lapangan sedang terjebak di dalam reruntuhan, beberapa dokter dan perawat ada di dalam.


"Dokter Andre," teriakan seorang tentara penyelamatan.


"Iya pak ada apa?" ucap Andre yang langsung mendekati sumber suara.


"Anda sendang cari apa? kenapa seperti orang kebingungan." ucapnya.


"Aku mencari istri saya, entah hilang kemana dia? apakah anda lihat" ucap Andre yang memperlihatkan foto Elisa di dompetnya.


"Apakah dia tim medis?"


"Iya, dia tim medis di bagian obat-obatan tadi aku mencari di lokasi pengungsian tidak ada."


"Sepertinya dia juga ikut terjebak dengan tim medis yang ikut serta dalam penyelamatan lapangan dokter Andre."


"Maksudnya bagaimana pak! Istriku ikut tim penyelamatan lapangan?"


"Karena tadi ada 8 orang, terdiri dari 3 perawat, 2 dokter, 2 pembawa tandu dan 1 apoteker, pergi ke lokasi rawan karena katanya ada beberapa warga yang terjebak disana tapi tidak menyangka jika akan ada kejadian gempa susulan, membuat mereka juga ikut terkubur di reruntuhan


"APA! Dimana itu lokasinya?"


Semua cukup panik akan hal itu, Andre yang tidak tahu jika istrinya terjun langsung ikut penyusuran korban, Andre seketika langsung pergi ke lokasi dimana jalan keluar dari tempat dimana tim medis terjebak.


"Bagaimana ini jalan keluar ya malah tertutup, nyonya ada di dalam sana?" ucap salah satu pengawal.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


SABTU 24 Desember 2022

__ADS_1


__ADS_2