
Elisa yang disuruh untuk kembali ke kamar oleh Arafif, karena setengah sadar dan sangat ngantuk. Saat Elisa berjalan tak menyadari jika ada anak tangga menurun, hingga membuat Elisa terpeleset menyebabkan kakinya terluka, dan kaki satunya malah terkilir. Itu membuat Elisa tak dapat bangun dari tempat, tengok kanan tengok kiri tapi tak ada seorang pun yang lewat jalan tersebut. Binggung harus bagaimana, Elisa berusaha sendiri untuk bangun.
"Aduuuh! Ya ampun aku ini ceroboh sekali. Bisa-bisa ya aku gak lihat ada tangga di sini, padahal sudah sering bolak-balik jalan kesini" gumam Elisa yang saat ini sedang mendecak sangat kesal sekali pada nasib dirinya.
Saking lelahnya Elisa tak sadar jika ada anak tangga di depannya membuat ia jadi terjatuh, kakinya lecet-lecet dan juga keseleo. Elisa meringis kesakitan karena hal itu, membuat Elisa menangis karena tak ada satupun orang yang datang untuk menolong dirinya.
"Kenapa hanya tempat ini saja yang tidak ada penjaganya, aku harus minta tolong kepada siapa? Aaaduh– ini sakit sekali, Mas Andre! Kamu dimana?" ujar Elisa yang sudah menangis tersedu-sedu sendirian disana.
Elisa berusaha bangkit tapi karena kaki satunya keseleo, menyebabkan Elisa tak bisa bangun. "Aaaw! Ya Allah, kaki aku yang satunya malah keseleo. Gimana ini, aku minta bantuan kepada siapa? Gak ada orang di sekitar sini. Aku juga gak bawa hp, Huaawwwaaaaa— Ibu-Ayah. Elisa mau pulang, gimana ini?" kebinggungan Elisa saat bersusah payah bangun dari tempat.
Elisa tak bisa bangun akhirnya ia menyeret tubuhnya, jadi hanya ngesot sampai pilar penyangga lainnya karena tempat tersebut sangat sepi, tidak ada orang. Area itu sangat di khususkan menjadi tempat penginapan bagi para tamu, halaman dan sekitarnya itu hanya di huni khusus untuk para tamu yang datang saja, di tambah hari juga sudah malam jadi tak akan ada orang lagi yang wara-wiri di sekitar penginapan karena semua tamu pasti sudah pada terlelap dalam mimpi mereka.
"Apakah beneran gak akan ada orang yang bantu aku disini?" gumam Elisa, seraya masih mengesot jalannya.
Hingga bajunya sudah sangat kotor gara-gara ngesot itu, tiba-tiba kedua telapak tangannya yang menjadi tumpuan satu-satunya malah tertusuk serpihan papan kayu lantai.
"Awwwhhh, aaaduuuh? Apaan lagi ini. Ya Allah, cobaan apa lagi si ini. Ya Tuhanku, kenapa banyak sekali yang engkau berikan padaku" ujar Elisa yang sangat kesel pada nasib buruknya saat ini.
Disisi lainnya Andre yang saat ini sedang sibuk dengan urusannya di beskem pasukan khusus karena ada pelatihan tim untuk gabungan kekuatan pasukannya. Tim gabungan saat ini sedang di latihan khusus oleh Joseph untuk menguatkan benteng pasukan di bagian barat dan timur, Andre juga disana untuk menjadi pendamping bagi para pasukannya tersebut.
"Tuan, apakah seluruh pasukan akan di bawa ke London?" tanya Joseph.
"Tidak, semuanya akan di bagi menjadi Kub-kub dalam takarannya masing-masing. Ingat tak akan ada pasukan yang pergi secara diam-diam atau terpisah, semua harus secara langsung bersamaan karena bersatu akan lebih baik dari pada sendirian."
"Iya anda benar Tuan, baiklah kami akan menurut apa yang anda perintahkan, dan akan memberikan secara semaksimal mungkin kekuatan kita."
Elisa yang baru saja terjatuh kakinya terluka dan satunya terkilir hingga membuat jalan pun sangat kesulitan, Elisa yang bersusah payah jalan merayap-rayap semaksimal mungkin tidak mau merepotkan orang lainnya. Tangan Elisa malah tertusuk serpihan kayu, itu sudah lengkap menambah daftar penderita Elisa hari ini.
Seraya menangis yang tersedu-sedu karena nasibnya itu, ia tak bisa mengelak pada deritanya. "Elisa kamu pasti kuat, ayo! dikit lagi sampai kok, lihat pintu kamarnya sudah keliatan" ucap Elisa seraya masih merayap-rayap.
Sesampainya di kamar Elisa langsung saja tidur tak mempedulikan luka pada tubuhnya tersebut, atau sekujur tubuhnya kotor. Karena sudah kehabisan tenaganya, dia mengunakan sisa energinya untuk berjalan ngesot dan sudah lelah juga habis menjadi relawan dan menangis, dan ditambah berjuang untuk sampai ke kamar tidaklah mudah.
Saat Andre datang dari suatu tempat lalu mengambil kunci dari saku celananya, saat akan memasukan kedalam lubang kunci, malah lubang kunci pintu malah tidak bisa masuk karena di sana masih ada kunci milik Elisa yang tergantung.
"Kenapa ini gak bisa masuk?" ucap Andre yang sedang bersusah payah memasukan kunci ke lubangnya.
Saat di lihat dari lubang intip di pintu, Andre melihat ternyata ada Elisa yang sudah berbaring di atas kasurnya, Andre akan mengetuk pintu kamar tapi ia urungkan niatnya karena tidak mau membangunkan istrinya tersebut.
Ternyata dia ada di dalam, sudahlah nanti saja kalau dia bangun. Aku harus kembali ke tempat beskem saja, tak mau menganggu waktu istirahatnya. Dalam hati Andre yang langsung pergi dari tempat.
Keesokan paginya, Azril yang khawatir pada Elisa tidak kelihatan sampai siang jadi Azril pergi ke kamar tetehnya. Saat sampai di depan kamar tetehnya, Azril mengetuk pintu pelan tapi tak ada respon dari tetehnya. Jadi Azril mengetuk pintu lebih keras, karena Elisa tak kunjung bangun.
"Teteh! Teh, udah siang. Teteh masih di dalam kan. Ayo! bangun kita sarapan sama-sama, sudah di tungguin tuh" teriakan Azril yang membangunkan Elisa.
...Tok Tok Tok...
"Teh, teteh ayo bangun kita sarapan bareng-bareng yuk teh!" ujar azril yang masih berusaha membangun tetehnya.
Tapi tak ada jawaban dari dalam, Azril terus saja mengetuk pintunya kembali, sampai terdengar suara dari tetehnya yang baru menyahut panggilnya.
"Iya, zril" ucap Elisa yang sangat sulit untuk bergerak saat ini.
"Yaudah ayo! teteh siap-siap dulu ya, Azril nanti kesini lagi buat jemput teteh. Azril juga mau mandi terus ganti baju, nanti Azril jemput teteh kesini. Tunggu ya!" ujarnya Azril.
Azril langsung pergi setelah membangun kan tetehnya itu. Elisa yang sudah tidak mendengar lagi suara adiknya, Elisa mulai berusaha bangkit dari kasur. Tapi tubuhnya terlalu berat dan kedua kakinya sama sekali tidak bisa di gerakan buat jalan, Elisa kebinggungan mau masuk kamar mandi untuk bersiap-siap juga.
"Ya ampun, kok jadi kayak gini jadinya. Kenapa kakiku kok gak bisa aku gerakan malah kaku, lalu gimana aku jalan ke kamar mandi sedangkan kakiku buat melangkah saja sangat berat. Ku pikir setelah bangun kakiku sudah akan membaik tapi kok malah kayak gini, kok tambah sakit ya. Aaawww! Aduh, sakit banget" ucap Elisa di selah-selah rintihannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Azril sudah bersiap sedangkan Elisa baru setengah jalan menuju kamar mandi, saat Elisa berusaha membuka pintu kamar mandi ketukan pintu itu terdengar lagi.
...Tok Tok Tok...
"Teh, gimana sudah siap belum? Yuk teh, kita sarapan" ucap Azril yang sudah sampai lagi di tempat.
"Iya zril bentar, teteh lagi mau mandi nih" ucap Elisa dari dalam.
"Loh kok baru mau mandi, dari tadi teteh ngapain aja kok baru mandi?" ucap heran adiknya tersebut.
"Iya zril teteh sudah bangun jadi teteh jalanya agak lama ke kamar mandinya, bentarnya" ucap Elisa yang tidak kepikiran buat buka pintu kamarnya agar Azril membantu dia bangun.
"Iya deh! Azril tunggu di luar aja, cepet ya teh" ucap Azril yang berdiri di samping pintu kamar Elisa.
"Iya zril, maaf ya kamu harus menunggu lama" ujar Elisa yang tidak enak pada adiknya yang sudah sangat baik itu.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar, membuat Azril kaget dan panik.
BLUG !
Plaaak!
Craangg !
"Awww!" teriak Elisa lalu tak terdengar suara lagi, Azril yang ada diluar sangat kaget dan khawatir di luar ruang kamar Elisa.
"Teteh! teteh baik-baik saja kan?" ucap Azril yang khawatir dan sangat panik.
Saat Elisa merai sebuah meja didepannya untuk dia bangun karena tidak ada tempat lagi untuk menyanggah tubuhnya, jadi Elisa harus meraih sesuatu agar dirinya bisa bangun, tak tahu jika di atas meja ada hiasan sebuah guci keramik, karena meja itu tidak bisa menopang tubuh Elisa. Alhasil malah meja itu jatuh menimpah tubuh Elisa, dan kepala Elisa terkena pecahan guci tersebut.
Karena tidak ada lagi jawaban dari teteh ya Azril mulai panik dan khawatir, ia berusaha untuk membuka pintu kamar Elisa tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk mendobrak pintu. Akhirnya azril pergi meninggalkan tempat untuk meminta bantuan kepada orang, lalu mencari Andre yang berada di tempat latihan.
Azril berlari mendekat kepada Andre yang yang sebagai pelatih disana, Andre yang tidak tahu jika Istrinya sedang sekarat di kamar.
"Mas Andre, tolong teteh" ucap Azril yang panik dan suara ya tak beraturan.
"Ada apa zril, kamu tenangkan dirimu dulu. Tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan pelan-pelan, jangan buru-buru" ucap Andre yang masih santai.
"Aaduh! Nggak ada waktu buat melakukan itu mas Andre, cepatlah tolong tetehku sepertinya dia dalam masalah di kamarnya?" ucap Azril yang panik.
"Memang apa yang terjadi pada tetehmu zril. Ada apa dengannya?" ucap Andre yang jadi ikut khawatir.
"Aku gak tahu apa yang terjadi, sudahlah cepat pergi sekarang. Nanti akan Azril jelaskan, Ayo mas Andre. Aku khawatir pada teteh, kita harus segera menolongnya" ucap Azril yang sudah tidak sabar.
"Baiklah ayo kita pergi sekarang buat membantu teteh mu itu zril" ucap Andre yang ikut panik.
"Cepatlah! Mas Andre, kita gak ada waktu lagi" ucap Azril yang berlari di depan untuk segara menuju kamar tetehnya.
Sebelum pergi Andre ingin memberikan pesan pada anggota yang sedang berlatih saat ini, agar setelah selesai latihan mereka sarapan dahulu dan baru berlanjut.
ANDRE : Aku pergi dulu, kalian semua kalau sudah siap lanjutkan latihannya setelah selesai sarapan ya.
PASUKAN : Baik Tuan!
Andre langsung pergi meninggalkan tempat mengikuti Azril sudah ada di depan, lari Azril sangat cepat hingga Andrepun segera menyusulnya. Sesampainya di tempat, Azril kembali mengetuk pintu kamar tapi gak ada jawaban.
"Teh, Teteh. Buka pintunya, ini Azril sama mas Andre teh?" ucap Azril. Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Elisa yang ada di dalam kamar.
__ADS_1
"Elisa, Elisa buka pintunya. Ini aku, cepat buka?" ucap Andre yang ikut berteriak memanggil namanya.
Karena tidak ada jawaban sama sekali dari Elisa, saking penasarannya Andre mengintip dari lubang pintu, melihat tempat tidur sudah tidak ada orang lagi, lalu Andre melihat seperti sepasang kaki yang tertindih oleh sebuah meja yang jatuh.
"ELISA!" teriak Andre yang begitu keras saat melihat hal itu.
Lalu dengan sekali tendangan, pintu itu terbuka, betapa terkejutnya Andre saat melihat istrinya sudah tidak berdaya dilantai, dengan kepalanya yang sudah berlinang darah.
"TETEH! Mas Andre ini gimana?" ucap Azril, yang mengangkat meja dari tubuh Elisa.
Andre langsung mengangkat tubuh Elisa, lalu pergi dari tempat, sambil menggendong tubuh Elisa yang saat ini sudah tak bergerak. Azril yang panik dan Andre juga tak kalah panik dan khawatir, mereka langsung membawa Elisa ke ruang rawat.
"Paman key, Papah. Tolong Elisa?" Teriak Andre yang memasuki kamar rawat.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya" Keyshu sangat syok saat melihat Elisa yang di gendong Andre, dengan berlumur darah seperti itu.
"Sudahlah jangan tanya itu sekarang, paman tolong cek kondisi Elisa dulu" ucap Andre yang tidak bisa berpikir jernih saat ini karena kepanikan yah.
"Andre sepertinya Elisa butuh penanganan lebih intensif, Arafif tolong bantu memeriksa bagian lainnya?" ucap Keyshu yang memerintah Arafif.
"Heh? kenapa harus aku jika disini ada suaminya, Andre. Periksa tubuh istrimu sendiri, bagaimana kamu meminta papah angkat mu yang melakukan hal itu. Kak Keyshu berhenti, biarkan Andre sendiri saja yang melakukan sendiri. Dia juga seorang dokter, kenapa dia meminta kita untuk mengecek kondisi tubuh istrinya. Sedangkan dirinya tak mau menyentuh tubuh istrinya sendiri, Andre jangan membuat kami berdosa nak!"
"Papah ini gak ada hubungannya sama hal itu, bisa gak si papah menyampingkan masalah pribadi dengan masalah darurat. Bukan waktunya untuk memperdebatkan hal-hal tersebut, jadi jangan mempermasalahkan soal pribadi hubungan kamar kami. Ini masalahnya nyawa Elisa, Papah seharusnya bisa menyamping itu" ucap Andre yang emosi.
"Nak, aku hanya lulusan kedokteran umum. Sedangkan kamu khusus dan sudah spesialis, bahkan kamu di juluki tangan malaikat karena keterampilan kamu dalam menangani kasus seperti ini. Jadi—" ucapan Arafif terpotong lalu Arafif di dorong Andre, tak banyak babibu lagi Andre mengecek kondisi Elisa yang sudah di ujung tanduk itu.
"Paman key, siapkan operasi sepertinya Elisa butuh jahitan di kepalanya" ucap Andre yang berusaha setenang mungkin untuk menanganinya walau berkecamuk didalam hatinya.
"Baiklah, aku akan ambil semua alat-alat yang kamu butuhkan" ucap Keyshu yang langsung mengambil alat-alat dari sebelahnya.
Andre mulai melakukan operasi mendadak, sedangkan Azril tak tega melihat hal itu jadi ia menunggu di luar, Arafif hanya bisa membantu Andre untuk menginfus dan melihat detak jantung Elisa yang sangat melemah.
Disisi lainnya di Indonesa rumah kediaman Yusman dan Siti, sedang asik makan berdua tiba-tiba foto panjang dan lukisan putrinya jatuh dari atas ketinggian padahal sudah di paku cukup kuat, tidak ada angin yang kencang.
"Astaghfirullahalzaim, aduh jantung ibu sampai mau copot" ucap siti yang kaget.
"Ya Allah kok ini bisa jatuh? apakah pakunya kurang kuat?" ucap ayah, yang mendatangi pajangan yang jatuh tersebut.
"Ayah kok prasangka ibu buruknya, kepikiran Teteh. Gimana ya kabar teteh disana, lagi apa dia? Udah ketemu sama Azril belum yah?" ucap Siti.
"Pasti sudahlah Bu, udah jangan khawatir soal mereka pasti sehat-sehat. Coba kakinya di angkat Bu, masyaAllah ibu. Lihat kaki ibu berdarah kena pecahan kaca bingkai, sini Bu di obati dulu" ucap ayah.
Yusman mengobati luka istrinya dulu, setelah selesai. "Nah sekarang luka ibu sudah ketutup, udah ibu jangan bergerak-gerak dulu ya. Biar ayah beresin pecahan kaca dulu, jangan kemana-mana ya bu" ucap Yusman.
Tiba-tiba saja, saat merapikan pecahan itu tangan Yusman malah ikut terluka karena serpihan kayu dari sisi bingkai foto yang terbuat dari kayu.
"Astaghfirullah, saya tidak hati-hati sampai tertusuk serpihan kayu begini. Tapi entah kenapa kok malah perasan saya gak enaknya. Bener yang di katakan ibu, kok saya jadi ikutan kepikiran teteh ya? Sebenarnya ada apa yah sama teteh. Adek juga juga jarang menelfon setelah sampai di New York, mereka seharusnya sudah sampai dari tadi kan?" Gumam Yusman yang khawatir.
"Ayah, ayah kenapa?" tanya Siti menghampiri suaminya yang terbengong itu.
"Eh, Bu nggak apa-apa? ibu duduk saja" ucap Yusman.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Minggu 20 November 2022.