PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
199. Mandi Suci.


__ADS_3

Teriakan Andre yang saat ini tak bisa ia kendalikan karena aktivitas yang Elisa lakukan terhadap dirinya saat ini, Andre mencengkram erat seprainya dan memohon pada sang istri agar jangan melakukan hal itu. Tapi, lagi-lagi seakan Elisa tak dengar rintihan Andre yang memohon tersebut.


"Elisaaa. Tolong.... Hentikan itu sayang, jangan lakukan hal itu. Itu kotor, aku tidak mengajarimu seperti ini. Aku-aku akan, Elisa kau keterlaluan... Elisa, aku keluarr..." itu adalah pertama kalinya Andre mengeluarkan air lengket karena permainan lidah Elisa yang telah berhasil melakukan tugasnya dengan baik sekali.


Andre langsung mengatur nafasnya dengan baik, nafasnya yang sudah tidak beraturan karena aktivitas yang di lakukan oleh Elisa membuat dia kalang kabut dibuatnya.


Masih asik memainkan benda tersebut, memutar dan melilit dengan kedua tangannya, walau Andre melarang hal itu. Permainan Elisa itu membuat Andre tak tahan lagi, mulai menegang kembali dan untuk kedua kalinya Andre mengeluarkan kelenjar cairan getahnya yang cukup lengket itu kembali.


"Hihihi, mas kamu sudah menyerah padahal Elisa belum mulai tahu" ucap Elisa yang langsung menatap wajah Andre.


"Cukup! Aku tak tahan lagi, dan aku tak akan menerima semua kekalahan ini Elisa, apakah kamu sudah puas memainkan peranmu. Sekarang giliranku, kamu tak akan ku beri ampun kesempatanmu telah habis, aku sudah memperingatkan mu untuk berhenti. Tapi, kamu malah tak mau mendengarkannya" ucap Andre.


Andre membalikan badan dan Elisa saat ini ada dalam genggaman tubuhnya, melihat Andre yang samar-samar ada di atasnya membuat Elisa hanya bisa tersenyum tipis.


"Ouh, kamu sudah mulai banyak kemajuan. Lakukanlah, aku tak akan takut dengan ancamanmu" ucap Elisa yang menantang Andre.


Andre melakukan aktivitasnya dari mulai menciumi sekitar leher dan memijat kedua gundukan sedang milik Elisa itu, hingga memakannya seperti buah, secara bergantian.


Andre juga melakukan hal yang sama. Mengabsen semua bagian tubuh Elisa, hingga sampai di bagian intinya. Andre naik lagi ke atas, dan membisikan sesuatu pada telinga Elisa.


"Sayang, apakah kamu yakin kita akan melakukan hal itu. Aku tak ingin kamu akan menyesal dipagi harinya, kau tahu kan ini adalah yang pertama bagi kita berdua. Jadi aku tidak mau menimbulkan trauma untuk kamu, kita lakukan nanti saja gimana? Karena aku juga belum cukup mahir melakukan ya."


"Kalau tidak belajar sekarang lalu mau sampai kapan kamu akan mahir dan bisa mas, jadi lakukan saja sekarang agar nantinya kita bisa melakukan dengan lebih baik lagi" ucap Elisa yang menyakinkan suaminya.


"Kamu bener! Walau aku faham teorinya tapi aku masih gugup dan belum bisa melakukannya, kita juga telah melakukan hal yang salah, tanpa wudhu dan sholat sunah. Tapi, setidaknya kita harus baca doakan" ucap Andre ditelinga Elisa.


"Hmmm- tapi Elisa tidak tahu doa ya?" ucap elisa yang polos.


"Kamu hanya cukup mengikuti apa yang aku katakan, lalu mengucapkan ulang" ucap andre yang masih membisikkan kepada telinga Elisa.


Elisa hanya mengangguk kepalanya tanda dia setuju, dan menatap mata Andre. "Bismillahi Allahumma jannibnaa asy-syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa."


Aamiin Yarobalalamin " ucap Elisa, dalam hati semoga penyatuan malam ini bisa membuahkan hasil.


Andre terdiam sejenak melihat wajah istrinya kembali, lalu Elisa menganggukkan kepalanya. Untuk memberikan kesempatan pada suaminya, saat sudah dapat persetujuan dari sang istri Andre melakukan tugasnya dan perannya.


Saa mengerahkan pedang itu ke suatu tempat, Elisa yang awalnya diam tiba-tiba merasakan sensasi rasa sakit saat ada tekanan dalam tubuhnya.


"Aaah, mas Andre sakit. Aduuh, sakit banget, pelan sedikit dong, aduuh! sakit mas." Ucap Elisa dengan sigap Andre melahap kembali bibir Elisa. " Hmph- Hmm... Kyaa... Mas Andre, aduhhh" ucap Elisa yang mengeluh pada suaminya. Seraya mencengkram lengan Andre dengan kuat.


Andre yang menerobos masuk kedalam dengan sedikit mendorongnya agak sesak, tapi dengan sangat hati-hati Andre melakukan.


Elisa kembali mengeram dan meringis kesakitan, saat ujung milik Andre membobol tembok pembatas miliknya. Setelah berhasil masuk, walau masih ada sebagian yang tak bisa masuk kedalam, tak lama ada darah segar yang mengalir keluar dari sana.


"Mas, itu sakit tahu?" ucap Elisa yang mencengkram lengan kekar Andre.


"Maafkan, apakah di sudahi saja. Lagian sudah gol, aku gak bisa melanjutkan yah. Tak tega melihat kamu, darah mu juga yang keluar cukup banyak sayang" ucap Andre, yang tak kuat melihat istrinya kesakitan itu melukai hati nya sendiri saat melihatnya.


"Apa-apa yang kamu bilang itu. Sudah kepalang tanggung, lanjutkan" ucap Elisa yang langsung bangun dari tempat, tanpa melepas penyatuannya.


Melihat kondisinya saat ini, Elisa yang melihat milik Andre yang masuk kedalam miliknya itu. Walau milik andre masih ada yang sisa, Elisa sadar jika milik Andre lebih dari 7 cm.


"Berapa itu? kok gak bisa muat?" ucap Elisa yang memegang bagian yang sisa itu dengan tangannya.


"Jangan dipaksa, didalam sudah tidak muat sayang" Ucap Andre yang langsung mengecup kening Elisa.


"Lanjutkan, cepat. Lakukan mas" ucap Elisa yang berbaring tubuhnya kembali.

__ADS_1


"Apakah kamu yakin?"


"Iya, aku yakin. Bila perlu lakukan itu sampai menyembur kayak pas awal itu, banyak. Biar cepet kontrak dengan rahim dan jadi baby, ayo!"


"Gak secepat itulah sayang, kamu ini. Masa iya bikinnya juga baru sekali masa langsung jadi" ucap Andre yang protes.


"Bisa ajalah, kalau milikmu itu tokjep" ucap Elisa yang menggoyang pinggulnya.


"Ada-ada aja kamu ini, jadi ini mau dilanjut atau disudahi saja?" ucap Andre yang ragu.


"Iya mas! Lanjut, ayo cepat jangan banyak nanya deh! Capek jawabnya" ucap Elisa yang sudah siap.


"Oke jangan menyesal yah" ucap Andre yang langsung memainkan kembali dengan melakukan ritme keluar masuk perlahan, dan jeritan demi jeritan nikmat dari keduanya semakin panas, hingga keringat juga bercucuran.


"Aduh! Kenapa ini terasa sakit tapi kok malah enak ya" ucap Elisa membuat Andre tersentak.


"Jangan banyak bicara, aku lagi konsentrasi... Hngh, hah! Jadi jangan ajak aku ngobrol terus, gak fokus."


Andre yang dengan hati-hati untuk melayani Elisa. Butuh tenaga sangat ekstra, pada istrinya untuk memuaskan kebutuhan keduanya. Elisa yang membantu memainkan perannya sebagai sang istri, untuk melakukan kewajibannya.


Keesokan paginya, matahari sudah terik, karena jendela kamar tirainya belum dibuka, maka belum ada sinar yang masuk kedalam kamar pasangan yang masih terlelap itu dalam mimpi mereka.


Hingga sebuah panggilan dari phonsel Andre yang bergetar menimbulkan bunyi, dan getaran di lantai karena berada di saku celana yang dilempar Elisa semalam, saat melepaskan pakaiannya.


Andre mencoba melepaskan diri dari pelukan Elisa saat ini sedang nemplok seperti cicak. Dengan sangat hati-hati Andre melepaskan dirinya, setelah berhasil melepaskan diri Andre bangkit dari ranjang merai sebuah piyama yang tergantung di pinggir laci tempat tidurnya.


DRRRRTTT


DDRRRTTTT


Andre langsung memakai piyama dan mencari sumber suara yang bergetar itu, merai pakaian yang berjatuhan di lantai semua ia pungut dan merogoh saku bajunya. Melihat panggilan dari Glenn ia langsung mengangkatnya, karena pasti itu masalah yang sangat penting.


Panggilannya itu segera ia tutup, karena masih harus ada yang ia selesaikan. Menoleh ke belakang, melihat Elisa yang ganti posisi tidur membuat selimut yang di pakainya agak turun. Hingga terlihatlah, memar di punggung Elisa. Andre agak kaget saat melihat hal itu, ia membalikan tubuh Elisa.


Wajah Elisa yang pucat dengan bibir membiru keunguan, Andre mulai panik ternyata efek dari racun di gaun Elisa belum hilang malah menjalar ke seluruh tubuh Elisa.


Huh? Ada apa ini kok tubuhnya menjadi seperti ini. Apakah Elisa baik-baik saja, selama semalam dia baik saja kok bisa ini tidak hilang, ku pikir saat aku menceburkan ke dalam baktum air es racunnya akan ikut hilang. Ternyata tidak, sepertinya aku butuh ramuan herbal.


Dalam hati Andre yang langsung menutupi tubuh Elisa dengan selimut, lalu merai hp ya kembali untuk menelfon seseorang yang akan mengambil beberapa tanaman obat di kebun keluarga di istana Monarfi.


Andre langsung masuk ke kamar mandi untuk bersihkan dirinya, setalah selesai ia ganti pakai kaos lengan pendek dengan celana panjang bahan, saat sedang mengeringkan rambut Elisa terbangun.


"Hmmm, mas kamu sudah bangun kok gak bangunin aku si." Protes Elisa yang mengucek matanya, lalu melihat suaminya sudah rapi.


"Good morning sayang, kamu sudah bangun" ucap Andre yang berjalan mendekati Elisa.


"Mau kemana kok sudah rapi," tanya Elisa yang melihat suaminya sudah sangat tampan.


Andre mendekati ranjang dan duduk di sisi Elisa. "Masa cuman mandi doang, harus pergi gitu. Kenapa malah tanya gitu si, kan biar fress aja sayang" ucap Andre yang mengecup kening Elisa.


"Ouh, kirain mau kemana?" Ucap Elisa yang sangat penasaran.


"Yaudah giliran kamu yang mandi," ucap Andre yang menggendong Elisa dengan tubuh polos yang tak pakai seutas kainpun, Elisa hanya pasrah saja digedong suaminya itu.


Meletakan Elisa dengan sangat lembut dan hati-hati dibaktum, menyalakan keran dan mengambil perlengkapan mandi seperti sabun dan pasta gigi lengap dengan sikatnya.


"Kamu bisakan mandi sendirikan" ucap Andre yang langsung bangkit dari bungkuk karena mencondongkan tubuh kearah Elisa.

__ADS_1


"Mandiin dong," ucap Elisa menarik kain celana Andre.


"Lain kali, kan aku baru selesai mandi masa iya harus mandi lagi, lagian aku juga harus menyiapkan sarapan untukmu. Kamu sudah laparkan, yaudah mandi dulu ya" ucap Andre yang akan berjalan meninggalkan kamar mandi.


"Ingat loh sayang, kamu harus mandi suci. Tahu nggak doa mandinya?" Ujar Andre yang nonggolin kepala dari balik pintu.


"Nggak! Tahunya mandi habis selesai haid saja." Ujar Elisa yang cukup jujur, Andre menepuk jidatnya.


Langsung kembali ke kamar mandi, dan berjongkok di samping baktum. Menghela nafas karena istrinya ini bikin Andre ekstra sabar, tapi Elisa malah cengengesan penuh kemenangan.


"Mas Andre tahu gak! Semalam Elisa puas banget loh, sama pelayan kamu. Apa lagi itu, milikmu bikin aku aku tidak bisa lupa, rasanya seperti masih terasa mengganjal dan sangat nikmat. So big and love it, rasanya sangat nagih. Jadi pengen lagi, kapan kita melakukan ya lagi. Sangat besar dan nikmatnya, hingga masih terasa sampai sekarang dan masih terasa mengganjal. Tapi, Elisa tetap suka kok malah sangat menyukainya."


Kesal dengan apa yang dikatakan oleh Elisa, Andre menyelentik jidat Elisa hingga membuat wanita yang selalu memiliki pikiran itu mulai merintis kesakitan.


"Aduh! mas Andre kok Elisa malah diseltik sih, sakit tahu" ucap Elisa yang memegangi jidatnya.


"Cukup berhalusinasi ya, cepat mandi" ucap Andre yang langsung bangkit dan langsung meninggalkan Elisa yang masih memegang jidatnya.


"Eh, mas kamu belum beri tahu soal doa mandi junub ya, woy! Mas, eeeh malah di tinggal gitu aja" ucap Elisa yang berteriak memanggil sang suaminya.


Andre yang turun kebawa sambil membawa seprai, selimut dan beberapa pakaian kotornya karena bekas pergulatan semalam. Memasukan ke dalam wadah sudah dicampur dengan sabun, dan mendiamkan saja.


Andre kembali ke kamar untuk merapikan kamar tidur, menganti seprai dan atributnya. Elisa juga belum selesai mandi, jadi Andre masih bisa bersih-bersih kamar. Menyapu dan mengepel lantai, hingga menyiapkan pakaian untuk Elisa. Karena mereka tidak tinggal di istana Monarfi, pakaian baru di belikan oleh pelayan Andre.


"Sayang, kamu sudah selesai belum mandinya?" Ucap Andre dari luar kamar masih sibuk mengepel lantai.


"Belum baju juga mulai keramas, mas Andre kamu memberi ku sakit hingga aku gak bisa jalan nih, kamu harus tanggung jawab dong!" Ujar Elisa yang berteriak dari dalam.


"Kalau kamu sudah selesai tinggal panggil aku," ucap Andre yang saat ini berada di balik pintu.


"Oke. Adududuh.... Mas tolong sirami air dong. Mata ku perih nih, gak liat" ucap Elisa yang matanya terkena air sabun dari rambutnya.


Andre langsung masuk kedalam kamar mandi, dan membantu Elisa dengan shower. "Kamu ini ada-ada sih sayang, masa iya bisa sabun kemata" ucap Andre yang membantu membersihkan wajah Elisa dan rambutnya dari sampoh.


Setelah selesai Andre mengambil handuk dan memakaikan Elisa piyama handuk dan mengendong Elisa ke atas ranjang kembali, jadi Elisa sama sekali tidak menginjak lantai.


"Saat kamu mandi tadi, apakah kamu gak lupa baca doa mandi suci kan sayang" seraya menggosok-gosok rambut Elisa dengan handuk.


"Kan kamu aku gak kasih tahu doa ya, saat aku tanya kamu tadi malah meninggalkan aku. Jadi gimana aku akan doa coba, salah siapa?" Ucap Elisa yang memejamkan matanya karena rambutnya sedang di keringkan oleh Andre.


"Kamu ini bener-benar yah, yaudah mandi lagi deh! Nggak SAH tuh."Andre udah siap menggendong Elisa kembali ke kamar mandi.


"Eh eh mau di bawa ke mana lagi nih" ucap Elisa yang memukul tubuh bidang Andre yang sudah berjalan menuju kamar mandinya.


"Ke kamar mandilah, kan kamu belum mandi SAH." Ujar Andre yang membuka kamar mandi lagi.


"Iya apa-apaan sih. Elisa sudah mandi malah suruh buat mandi lagi, gak ah!" Elisa menahan dengan berpegang pada pintu.


"Lepaskan gak, kamu bisa terluka nanti" ucap Andre yang memaksa berjalan masuk.


"Aku baca doa kok, sumpah aku baca doa mandi kok tadi. Itu Hp Elisa aja masih ada di wastafel masih ketinggalan di sana, iya Elisa sempat google dulu."


Andre melirik dengan tajam kearah Elisa yang saat ini masih berada digendongannya. Lalu Andre membawa Elisa ke kasur lagi dengan menjatuhkan tubuhnya dengan agak keras, membuat Elisa meringis kesakitan.


"Addduh mas kamu ini, kok malah banting Elisa sih. Sakit tahu, kok kamu kesel. Mas marah ya, maafin Elisa ya suka bercanda. Elisa suka banget godain kamu, mas jangan marah yah" ucap Elisa yang memohon pada suaminya.


"Cepat ganti baju kamu, setelah itu turun kebawa sendiri." Ucap Andre yang langsung keluar dari kamar.

__ADS_1


"Cih, kalau lagi marah dia lucu benget si. Rasanya ingin aku menciumnya hahaha... Manisnya suamiku itu, hampir buat aku diabet." Gumam Elisa saat Andre sudah pergi.


__ADS_2