PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
171. Suamiku Lagi Manja.


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian itu, Resti yang sudah ditemukan langsung berangkat ke kampus lagi, sehabis cuti selama 2 Minggu. Setelah kejadian penculikan itu, Resti tidak banyak bicara seperti biasanya. Tapi, Elisa sangat senang, karena bisa bertemu dengan bestienya lagi, dan geng grup mereka menjadi lengkap kembali.


"Resti, sini..." Ucap Nacly yang menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.


Resti hanya senyum tipis, lalu duduk di sebelah Nacly, dengan wajah yang masih agak takut. Tapi, sekarang sudah lebih baik.


"Kamu naik apa berangkat ke kampus, mau aku antar jemput aja gimana?" tawar Elisa yang menyediakan layanan untuk antar jemput.


"Naik mobil, sama kakak." ucap Resti yang parau.


"Kejadian itu pasti membuat kamu syok dan trauma ya re?" Elisa yang khawatir, langsung memegang tangan Resti.


"Kok bisa sih mereka menculik kamu, apa yang mereka cari sebenarnya." tanya Diana yang sangat penasaran dengan apa tujuan mereka.


"Kamu mau di jual yah?" celetuk Nacly yang membuat Diana dan Elisa langsung menatapnya.


"Guys, mereka sebenarnya mencari 1 wanita, tapi yang sial adalah aku. Malam itu, aku mau pergi naik motor buat datang ke festival, ada beberapa orang yang memepet aku. Aku panik dong! jadi aku gas sampai perempatan jalan, tiba-tiba mereka langsung buat aku masuk kedalam mobil." ucap Resti yang menceritakan tentang kejadian itu.


"Terus kamu gak apa-apa kan," ucap Diana yang sangat cemas.


"Lalu kamu di bawa kemana?" tanya Nacly sangat penasaran.


"Nggak tahu, aku gak ingat. Lalu, pas aku sadar sudah ada di tempat itu, dan banyak wanita-wanita yang juga disana, tapi aku gak ngerti mereka bicara apa!" ucap Resti yang mengingat jika banyak wanita dari berbagai negara yang ikut di culik dengan-nya.


Elisa yang tahu hanya bisa diam, tak bisa berkomentar banyak. Gara-gara dirinya banyak wanita yang menjadi korban, semenjak kejadian itu juga. Elisa tidak bertemu dengan Fando, setelah kakaknya di tangkap.


"Tapi, ngomong-ngomong si Fando juga gak berangkat-berangkat yah? kemana dia." Diana yang juga mencari keberadaan Fando.


...----------------...


Terdiam di teras rumah, sambil menatap bunga-bunga di halaman belakang yang sedang bermekaran. Lalu, terlihat bi Inah membawakan teh anget dan beberapa cemilan.


"Mba Elisa, nih bibi bikinin teh jahe merah anget. Enaknya kalau cuaca kayak gini minum yang anget-anget, mau susu anget juga ada." ucap bi Inah yang menyodorkan sebuah minuman teh.


"Matur nyuwun bi, gak usah repot-repot kayak gini." ujar Elisa yang tersadar dari lamunannya.


"Hujannya, kayak gak akan redah deh mba, terus Nyonya sama Tuan Arafif gak akan pulang lagi hari ini." ucap bi Inah.


"Iya kayaknya bi, papah bilang mah masih banyak tugas juga di New York. Jadi gak akan pulang dalam waktu dekat ini, mamah juga kayak akan ikut papah deh." suara Elisa yang agak parau.


"Ouh gitu yah mba, terus mba Alea sama den Alex juga gak pulang-pulang. Apa pulang lagi ke negaranya?" tanya bi Inah.


"Alea, lagi ada tugas di luar negeri katanya lagi ikut praktek susulan, kan dia kuliah juga bi, kalau Alex kayaknya sibuk ngurusin tugas yang di berikan kakaknya deh! Mas Andre kan, lagi sibuk jadi Pengurus ANDRILOS." jelas Elisa.


"Ouh iya yah." Ina hanya manggut-manggut saja mendengarnya.


"Bi, kok aku gak pernah lihat anak bibi yang sering bantu-bantu itu yah, kemana bi?" tanya Elisa yang sangat penasaran.


"Ouh, ada kok mba rumah, Lagi nyidam, jadi suka mual-mual kalau ada bau-bauan." ucap bi Inah


"Ouh gitu, anak pertama bibi ya?" tanya Elisa yang sangat penasaran.


"Iya mba," ucap bi Inah.


"Hmm, padahal baru dua bulan ya bi. Aku yang hampir 10 bulan sama dia, gak jadi-jadi." ucap Elisa ngelantur.


"Sabar mba, nanti juga di kasih diwaktu yang tepat, dan akan diberikan yang terbaik sama Allah." ucap bi Inah yang mendoakan yang terbaik.


"Aamiin Yarobalalamin semoga aja bi, tahun depan." ucap Elisa yang penuh harapan.


"Insya Allah mba. Usaha gak akan mengkhianati hasilnya, Allah tahu mana yang terbaik buat diberikan." tungkasnya.


Hujan mulai turun kembali, dengan sangat deras. Elisa masih duduk menatap halaman yang sekarang seperti ada aliran sungai kecil, saking derasnya air. Andre yang baru pulang, melihat istrinya duduk di depan teras belakang.


"Den bagus baru pulang," ucap Andre yang baju agak basah.


"Iya bi, dia lagi ngapain di sana." tanya Andre yang langsung jalan menuju Elisa.


"Den, bentar. Bibi mau ngomong sama Den bagus, mba Elisa kayak lagi moodnya jelek deh! Di bujuk atuh, kasihan. Dari pulang kampus tadi, dia bengong aja disitu, nggak masuk-masuk. Bibi bujuk untuk masuk, malah masih betah disana." jelas bi Inah.


"Iya bi, nanti aku bujuk." ucap Andre yang langsung jalan menuju pintu samping.


"Assalamualaikum," salam Andre yang berdiri di sisi Elisa yang sedang duduk.


"Walaikumsalam." jawab Elisa parau, sambil mencium tangan suaminya.


"Sayang, kamu lagi ngapain si disini. Masuk yuk! Nanti kamu bisa masuk angin loh sayang, kalau lama-lama di luar kayak gini." ucap Andre yang membelai kepala Elisa lembut.


"Kamu mandi aja dulu sana, kepalamu harus basahin pakai air anget. Biar kamu gak kena flu, kamu habis ujan-ujan yah?"


"Iya. Sayang, dingin..." ucap Andre yang meluk Elisa.

__ADS_1


"Ya kalau dingin, cepat sana mandi terus ganti baju." ucap Elisa yang menepuk-nepuk lengan yang melingkar di tubuhnya itu.


"Iya mandiin dong!" bisik Andre, buat Elisa memerah.


"Hah?" Elisa kaget, langsung melihat wajah anak kucing itu memohon.


"Aku gak tahu cara mandinya gimana, jadi bolehkan minta bantuan dari Bu Elisa yang bijak." ucap Andre yang merayu, sambil menggosokkan wajahnya di leher Elisa seperti anak kucing.


"Yaudah." Elisa hanya bisa pasrah dengan tingkah Andre yang kadang bikin dia juga geleng-geleng.


"Beneran." Andre dengan sangat antusias.


"Iya."


"Asik, yuk!" langsung bangkit.


Andre langsung menggandeng tangan Elisa, dan langsung naik ke atas. Bi Inah dan 3 pembantu lainnya hanya bisa jadi penonton, dan senyumin berjamaah pasangan suami istri itu.


"Ngomong-ngomong kenapa yah mba Elisa akhir-akhir ini banyak bengong dan ngelamun terus, kalau gak ada den bagus suka nginap dirumah orang tuanya." ucap salah satu pembantu.


"Kamu kan tahu, kalau di sini kalau ada nyonya Monika, selalu aja di sindirin terus, yang tanya kapan punya momongan, aku kalau jadi mba Elisa juga risih lah." sambung yang lainnya.


"Mertuaku dulu juga kayak gitu! Ya maklum saja, disini kan sudah lama gak ada bocil, jadi pada kangen lah." ucap bi Inah.


"Mba Elisa wanita kuat kok, menurut saya. Buktinya masih bisa ketawa, dan senyum." sambung yang lainnya.


...----------------...


Kamar mandi Elisa menyiapkan segala keperluan untuk Andre mandi, dari sampoh dan sabun mandi, hingga hal-hal lainnya. Air anget juga di bathtub, sudah di siapkan.


Andre yang masuk dengan baju handuk, melihat istrinya yang sudah menyiapkan segalanya dengan baik.


"Udah boleh masuk nih!" melihat Elisa yang duduk di tepi bathtub.


"Iya, sebelum itu dilapas dulu lah bajunya." ucap Elisa yang melihat Andre masih pakai baju handuk.


"Hmph, jangan lah sayang. Takut, nanti aku bisa khilaf, terus keperjakaan ku bisa hilang." ujar Andre yang mengencangkan tali bajunya.


Elisa menghela nafasnya. "Hmm... Udah deh jangan banyak canda, kamu itu sudah menerobos dua kali, masih bilang kamu perjaka, udah mau jadi seorang papah. Udah selesai candaainya, sini cepetan, nanti airnya keburu dingin." ucap Elisa agak jutek.


Kayaknya lagi mood yang kurang baik nih, hmm... Susah nih buat bujuk kalau kayak gini, apapun yang aku katakan pasti akan bisa dia tipis. Dalam hati Andre yang saat ini menatap wajah Elisa yang agak cuek.


"Air yah kalau sudah dingin, kita berdua aja panaskan?" Ujar Andre yang mulai mendekati Elisa.


Andre menarik nafasnya panjang. "Huuuufffss...Iya, pakai, tubuh kitalah." ucap Andre yang memeluk istrinya.


"Hah! Apasih Maksudnya?" Elisa langsung mendorong suaminya itu.


"Mau nggak!" mata Andre mulai agak sedikit genit.


"Mau apa?" Elisa agak heran sama tingkah suaminya kayak kucing besar itu.


"Kita belum pernah loh bikin disini, mau nyoba suasana baru gak?" seraya memeluk Elisa kembali.


Elisa yang baru ngeh sama apa yang di maksud Andre saat ini hingga tujuan Andre, langsung Elisa syok. "Astaghfirullahalazim, mas Andre."


"Apa sih! kok malah. Istighfar, "


"Kamu siapa?" Elisa yang saking kagetnya, Andre yang tiba-tiba mengajak sendiri membuat dia syok.


"Aku ini suamimu, kamu lupa siapa suamimu, sayang?"


"Suamiku? Hah! Andre Azzam Arafif atau Alzam Andriano Charlosen?"


"Dua-duanya. Kenapa sih, kok ngomong kamu kayak gitu? kayak gak tahu siapa aku."


"Kayak bukan deh! Suami aku gak, kayak gini. Kamu bukan suami aku, dan mas Andre gak semeesuum ini, bahkan saat dia ajak pun, pasti nolak."


"Tapi, sekarang aku yang minta? Nggak buruk juga sih, yuk!" ucap andre yang saat ini langsung mendekati Elisa kembali.


"Kamu yakin mau bikin di sini mas, tapi ini toilet, bukan tempat yang baik." ucap Elisa yang mengingatkan.


Andre terdiam karena ucapan istrinya yang agak parau dan murung. "Maafin aku yah! Selama ini aku selalu meninggalkan kamu, mas gak bisa terus ada di dekapan kamu, setiap kamu membutuhkan banyak sekali perhatian dariku." ucap Andre yang memeluk Elisa.


"Iya, nggak apa-apa. Udah cepetan mandi." ucap Elisa.


Andre langsung menggendong istrinya kek bathtum, membuat Elisa basah kuyup. "Aaah, apa-apa sih mas. Kan Elisa jadi basah nih."


"Kita mandi sama-sama," ucap Andre melepas baju handuknya dan juga masuk ke dalam bathtum, Andre pakai celana dalamm saja. Sedangkan elisa masih pakai baju lengkap.


...----------------...

__ADS_1


Setelah selesai mandi dan main di dalam kamar mandi, mereka sudah ganti pakaian dan malah sedang santai di ranjang sambil sibuk dengan aktivitas mereka, Elisa yang menyenderkan di tubuh Andre sedang baca Email dan dokumen masuk di ipad-nya, sedangkan Elisa sedang baca buku tentang jenis obat dan fungsinya.


TOK TOK TOK


Hingga sebuah ketukan pintu, membuat mereka saling menatap. " Iya, ada apa?"


"Anu den, malam ini mau di masakin apa?" suara dari luar.


Andre langsung bangkit dari ranjang, lalu menuju pintu. "Ada apa bi, maaf gak denger tadi." setelah membuka pintu kamarnya.


"Itu, buat makan malam mau di masakin apa?" tanya bi Ina.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Andre menoleh ke belakang.


"Hmm-aku gak makan deh, males." ucap Elisa yang menolak untuk makan.


"Nggak usah masak deh bi, buat bibi aja sama yang lain. Andre sama Elisa mau makan di luar aja, yah sayang." ucap Andre yang bergantian bicara dengan elisa.


"Ouh, gitu. Yaudah kalau gitu, mau keluar sekarang den?"


"Iya, nanti habis isya bi. Sholat dulu, iya sayang." ucap Andre.


Bi Ina langsung pergi meninggalkan kamar Elisa dan Andre. "Jadi. Mau makan apa sayang, seafood di pinggir pantai itu, atau soto bang Mamat, atau sate. atau Nasi goreng." Andre yang menyebut semua makanan kesukaan


"Hi hi hi..." Elisa malah ketawa.


"Ih ditanyain malah ketawa, gimana sih! apa yang lucu." Andre mendekati Elisa lagi.


"Kamu yang lucu tahu gak! Aku tadi bilang gak mau makan, tapi kamu malah menawarkan segala macam menu makanan sama aku. Lagi jualan yah!" ucap Elisa yang sangat nyindir.


"Iya, jadi gak mau makan? Tapi, aku lapar yang." ucap Andre yang merengek-rengek.


"Yaudah suru BI Inah, bikin apa kek. Tapi Elisa gak makan! Lagi Diet."


"Apa sih yang, diet diet. Nggak-nggak, aku nggak setuju."


"Ih kenapa sih, kok gak setuju. Kan aku yang gak makan."


"Makan lah yang, aku gak mau nanti kamu bisa sakit. Siapa yang repot, kan kamu juga."


"Males mas, lagi gak mood." ucap Elisa yang langsung menatap wajah Andre.


"Why? kasih aku alasan."


"Ribet yah ngomong sama kamu mas."


"Tapi, aku laper yang."


"Yaudah suruh bi Ina, atau bi Sumi, mba Lela gih."


"Ouh gitu! Yasudah, aku nikahin aja semuanya, biar di masakin terus setiap hari."


"Kamu gak nikahin mereka aja, mereka udah mau masakin ini itu buat kamu, setiap hari lagi. Berbagai menu, bahkan tadi nawarin kan, kenapa kamu tolak."


"Ah! Kamu gak asik deh!" ucap Andre yang ngambek.


"Ih kok malah kamu ngambek sih?" Elisa malah di jutekin sama Andre yang muka jadi bete.


"Mas, mas Andre... Iya udah, mau di maskin apa sama Elisa?" ucap Elisa membujuk suaminya.


"Kita makan, diluar." nada bete.


"Di halaman? atau di teras, di balkon. atau di kolam renang."


"Apa sih yang! Nggak lucu tahu gak!"


"Katanya makan di luar, luar yang mana? makanya kasih tahu yang jelas dong!"


"Ya tempat-tempat makanlah yang, lesehan kek, saung kek atau Restoran kek. kayak gak biasa aja." ucap Andre yang agak bete.


"Hmmm, ceritanya lagi ngajak Ngedet nih!" Elisa langsung faham sama maksud dari perkataan suaminya.


"Nah tuh faham." ucap Andre yang sumringah lagi.


"Hehehe iya udah iya, habis sholat isya yah." ucap Elisa yang mengiyakan saja.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Jumat 24 February 2023


__ADS_2