PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
161. Kecurigaan Elisa.


__ADS_3

Maxime yang kembali pulang ke apartemen milik, melihat adiknya sedang sibuk dengan komputer, karena melacak semua data yang ditugaskan oleh sang kakak, untuk membaca kode rahasia tim unit gabungan pasukan dari Maura dan Andre.


...BAHASA JERMAN...


MAXIME : Apakah kamu sudah menemukan sesuatu dari data sebelumnya, kenapa lama sekali, apakah sesulit itu untuk melacaknya.


JEFRY : Apakah bisa mengembalikan data-data yang hilang itu, ke bentuk aslinya kembali, tuan. Pasti tuan kedua butuh waktu, itu pasti sangat sulit.


FANDO : Iya kak. Sangat sulit untuk menerobos masuk formasi sandi ganda seperti ini kak, hanya setingkat 4 atau 5 SS yang bisa berhasil. Tapi, akan aku coba untuk menerobosnya.


MAXIME : Satu lagi lacak juga markas-markas rahasia milik tuan ANDRILOS, kita juga harus menemukan seseorang ditempat persembunyian itu.


FANDO : Siapa yang ingin kakak cari, di markas-markas rahasia milik tuan ANDRILOS?


MAXIME : Kelemahan dari tuan ANDRILOS itu sendiri, tadi aku dapat kabar jika tuan ANDRILOS memiliki 1 kelemahan, yaitu takut pada istrinya, makanya kita harus cari wanita itu dengan segera.


FANDO : Kode atau datanya bagaimana, lalu aku baru tahu jika pria seperti itu ternyata lemah terhadap wanita, jika seperti itu. Maka akan mudah mengalahkannya, baiklah aku akan selesai satu ini dulu, baru kita akan cari wanita sumber kemenangan bagi kita itu kak.


MAXIME : Bagus, aku suka denganmu, inilah adikku yang aku kenal. Kamu telah kembali, cepat lacak data itu dengan cepat.


Maxime kembali duduk di sofa sambil menunggu kabar dari adiknya, walau dirinya terlihat santai tapi dia juga disibukan dengan rencana kedepannya, setelah dia menemukan kartu AS yah itu.


Fando yang sangat fokus mencari, hingga iya mengabaikan panggilan dari seseorang di hp miliknya. Lalu ia menemukan data-data yang di butuhkan oleh sang kakak terkait formasi sandi khusus, pasukan dari Maura. Tapi, tak bisa menembus formasi milik tentara elit milik Andre, karena Tim IT milik Brandon sangat terlatih. Jadi akan sulit untuk menembus formasi sandi khusus mereka, makanya Fando hanya bisa menembus formasi milik tentara internasional saja.


FANDO : Kak sudah kutemukan, cepat kesini. Lihat ini, ada data-data mereka juga sangat lengkap.


MAXIME : Kerja bagus marchel, kamu memang sangat jenius. Sekarang kamu tinggal lacak keberadaan soal nyonya Andrilos, itu adalah satu-satunya kunci kebebasan kita.


Fando hanya menurutinya apa yang di perintah oleh sang kakak, walau itu sangat repot baginya. Sambil mengotak-atik data, hingga cari kembali, Fando tak menemukan apapun. Satu datapun tidak dia temukan, membuat Fando agak frustasi dengan hal itu.


MAXIME : Bagaimana? apakah kamu menemukan sesuatu.


FANDO : Maaf kak, aku belum berhasil menemukan hasilnya, Nihil. Apapun yang aku cari, kode apapun yang aku reset tetap hasilnya sama.


Kakaknya yang baru bangun dari tidurnya, langsung mendekati adiknya itu. Fando yang semalam tidak tidur membuat dia mengantuk, kakaknya menyadari hal itu.


MAXIME : Marchel, sebaiknya kamu istirahat dahulu, lanjut nanti setelah kamu tidur. Aku ingin pergi dahulu, jadi kamu bisa istirahat.


Maxime pergi dengan bawahannya, sedang Fando mematikan data komputer lalu membaringkan tubuhnya di kasur, sambil menatap langit-langit atap kamarnya itu.


"Aku harus segera berhasil, jika kita berhasil melacaknya, maka mereka pasti akan menyerah untuk menangkap kita, dan aku akan tetap tinggal disini. Bersama Elisa, itu akan lebih baik. Aaah, aku sangat merindukanmu Elisa. Dia sedang apa yah sekarang? Hmph, hari Minggu yah. Pasti dia sedang liburan dengan keluarganya, andai saja aku bukan seorang pelarian, aku ingin mengajaknya kesuatu tempat, hanya ada kita." Dumalan sebelum tidur Fando.


...----------------...


Malam harinya, Azril yang merasa jika identitas teteh ya sedang diselidiki, azril langsung memasang portal formasi sandi khusus, agar tidak dibobol dengan mudah, karena akan bahaya.


"Dek, kamu kok belum tidur ini sudah malam loh?" panggilan khas itu, saat Elisa keluar dari dalam dapur, melihat ruang tamu ada adiknya masih duduk di depan notebooknya.


"Iya teh sebentar lagi, sekalian lagi nunggu ayah pulang." jawab Azril dengan senyuman lebar.


"Cielah setia bener sama ayah, sampai mau menunggu ayah pulang. Iya udah kalau malam banget, kamu langsung tidur yah." ucap Elisa.


"Iya pasti dong! Azril setia sama ayah, kan Azril anak ayah. Udah mendingan teteh tidur duluan aja, besok Senin teteh ada jadwal buat ngampuskan." ucap Azril yang khawatir sama Elisa.


"Iya, yaudah teteh tidur duluan yah." ucap Elisa yang akan masuk kamar kembali.


"Iya selamat malam teteh, jangan lupa baca doa yah!" ucap Azril yang mengingatkan.


"Selamat malam juga adek Teteh, kamu gak mau nemenin teteh tidur dek?" ucap Elisa yang kangen tidur dengan adiknya itu.


"Nggak ah! Nanti ada yang marah, udah good night my sister. I Love You."


"Cih, mentang-mentang kuliah di luar negeri, ngeri juga lagakmu itu dek. Iya, I Love You Too, my brother." ucap Elisa dengan senyuman mengembang.

__ADS_1


...----------------...


Keesokan paginya, Azril yang sudah rapi dengan stelan kaos panjang dan celana jeans, dan siap menjadi supir antar jemput tetehnya lagi. Motor gedenya juga sudah terparkir dihalaman, sedang di bersihkan oleh adiknya.


"Kamu lagi ngapain dek!" Elisa yang melihat adiknya sudah siap-siap didepan rumah, karena dia khawatir akan keselamatan tetehnya. Walaupun tetehnya bisa bela diri tapi namanya seorang adik, ya tetep mau jagain kakak perempuannya itu.


"Nggak lihat nih teh, aku lagi ngapain, tentu saja memandikan santiku." ucap Azril yang sedang menyiram motor gede yang sering di pakai Elisa.


"Apa sih dek, kayak nama orang saja pakai nama Santi. Nanti kamu bisa di marahi sama Santi loh, emang mau?"


"Santi itu singkatan teh, bukan nama orang aja. Jadi jangan salah sangka dulu dong!" ucap Azril yang gak mau kalah dari tetehnya.


"Singkatan, singkatan dari apa?" Saking penasarannya Elisa.


"Syantiknya aku." ucap Azril yang sangatlah bersemangat.


"Ha-ha-ha," Elisa malah tertawa sangat puas mendengar lelucon dari adiknya itu.


"Kamu ini dek, ada-ada aja. Kamu kok pas tinggal disana jadi nambah aneh, dan bucinan parah kayak gini." sambung Elisa yang langsung mengacak-acak rambut Azril.


"Et, jangan salah teh. Aku kayak gini itu karena wabah dari virus yang dibawa sama mas Andre, makanya aku jadi terjangkit." pembela Azril.


"Hah! Kenapa kamu malah bawa-bawa nama suami teteh, salah apa dia. Seingat teteh nih yah, mas Andre itu gak romantis dia hanya pria kaku yang misterius."


"Sudahlah, jangan di bahas soal itu. Nanti bisa panjang urusannya, mau berangkat sekarang atau nanti nih!" Tanya Azril yang sudah siapkan motornya.


"Iya sekaranglah, masa iya nanti. Bisa terlambat teteh, hari ini pelajaran pak killer." jawab Elisa.


"Yaudah, cepat naik nanti kesiangan loh. Dimarahi pak killer mau, aku udah siap nih" ucap Azril yang duduk di jok depan.


"Iya deh. Kamu yang nyetir, bukan teteh?" ucap Elisa yang agak ragu buat naik.


"Iyalah aku, mau siapa lagi. Suami teteh yang gak bisa di harapkan akan datang itu, karena gak mungkin mas Andre akan pulang hari ini atau jam ini juga kan, udah tenang saja. Aku sudah punya kartu SIM sendiri, dan kartu perdana dari IT untuk mengendalikan kendaraan." Dengan sombongnya.


" Ha-ha-ha, yuk naik, tenang di jamin akan sampai tujuan dengan selamat sehat walaafiat, soal kemananan dijamin. Bismillahirrahmanirrahim." ucap Azril yang langsung menyalakan mesin motornya.


Sesampainya di depan pintu gerbang universitas, Elisa gak mau masuk kedalam dengan adiknya takut ada Fando, adiknya bisa terancam.


"Hmph, gak sampai masuk nih. Masih ada gratis ngater, masa iya sampai depan doang! Kenapa, apakah teteh takut yah!" tebakan Azril yang membuat Elisa agak sedikit kaget.


"Nggak usah. Sampai sini aja, kamu balik gih. Bukannya takut, tapi kalau banyak temen-temen teteh yang naksir kamu, bisa repot nanti urusannya, jadi ke inget jaman teteh masih SMK, banyak orang yang ngasih kamu kado padahal teteh yang ulang tahun."


"Udah deh! Jangan bahas soal itu, masa lalu tuh. Ingat ya jangan bolos, belajar yang bener. Ouh yah teh, Teteh masih pakai jam tangan yang aku kasih gak?" ucap Azril yang mempermudah dalam proses pencarian.


"Iya nggak bawel, kamu kok semakin gede semakin banyak bicara yah, cerewet lebihin ibu sama ayah tahu gak." ucap Elisa yang langsung mencubit pipi adiknya.


"Teteh kok gak pake jam tangan itu, apakah rusak jam tangannya?" Azril tak melihat jam tangan itu melingkar di pergelangan tangan Elisa.


"Nggak teteh pakai zril, karena buat apa? kan gak ada musuh juga." jawab Elisa.


"Teh, walaupun gak ada musuh. Bahaya itu selalu mengintai kita, hmph! yaudah pakai punya Azril aja nih. Biar nanti bisa Azril pantau, aku dengar dari ibu. Bahwa teteh lagi dekat sama *******, hati-hati teh. Jangan bahayakan diri teteh, Azril gak mau teteh kenapa-kenapa." ucap Azril yang memasang jam tangan pada pergelangan tangan Elisa.


"Kamu ini dek perhatian banget sih, makasih yah. Teteh, udah ada niat kok. Jadi kamu gak usah khawatir, karena semuanya akan baik-baik saja." ucap Elisa yang membelai pipi adiknya itu.


"Iya udah aku pulang dulu, kalau ada apa-apa pencet tombol ini kalau gak bisa nelfon, jam tangan ini gak bisa kebuka begitu aja, karena pakai kode khusus, dengan kunci jarak jauh. Karena mengunakan sidik khusus bagaimana pun orang mengeluarkan atau melepaskan ya tak akan bisa. Yaudah, mau salaman." ucap Azril yang panjang kali lebar menjelaskan, seraya mengulur tangannya untuk salaman.


"Assalamualaikum tetehku yang cantik, adikmu ini pulang duluan yah. Belajar yang bener, nanti aku jemput kembali." ucap azril yang langsung pergi meninggalkan tempat.


"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh iya adikku tersayang." ucap Elisa.


Tak jauh dari tempat, mobil Rizki melintas dan melihat Elisa dan Azril yang baru saja pergi itu, tak lama mobil Fando juga melintas tapi tak melihat ada Elisa karena ditutupi mobil Rizki.


"ELISA!" Teriakan panggil Rizki, seraya membuka kaca jendela mobilnya.

__ADS_1


"Ouh, kak Rizki. Baru berangkat?" tanya Elisa yang balik menyapa.


"Iya, ayo naik biar kita masuk sama-sama." Tawar Rizki.


"Heheh gak usah kak, aku jalan aja sekalian olahraga." Jawab Elisa singkat sambil cengengesan.


"Kenapa kamu takut yah sama pacar kamu?" asal tebak Rizki.


"Hah? pacar dari mana, siapa kak?" tanya Elisa yang kebingungan sama apa yang di lontarkan oleh Rizki itu.


"Iya pacar kamu, yang tadi nganterin kamu, bukannya dia kekasih kamu?" asal nebak Rizki.


"Bukan, dia adik aku. Kak Rizki salah faham nih, orang tadi dia cium tangan aku. Dia emang agak suka jahil, jadi banyak yang salah faham sama hubungan kami." ucap Elisa menjelaskan.


"Ouh cuman adik? Beneran adik atau adik?" ucap Rizki yang agak tidak percaya.


"Memangnya kenapa? Penting banget yah aku jelasin ke kakak. Kalau gak percaya ya sudah, aku permisi." ucap Elisa yang tidak mau memperpanjang urusan.


Elisa yang pergi meninggalkan tempat menuju pintu gerbang kampus, dengan di susul Rizki yang masih mengejarnya. Elisa langsung di tarik oleh Fando, untuk masuk kedalam kelas bersama.


"Dia siapa, kok ngikutin kamu terus?" ucap fando yang melihat pria yang memarkirkan mobilnya.


"Kakak tingkat kita, dia senior kedokteran." jawab Elisa yang langsung jalan begitu saja memasuki lorong fakultas.


"Pacar kamu?" asal tebak Fando yang keluar dari mulutnya.


"Nih orang pada kenapa sih, pada nanya soal pacar." Elisa langsung seketika mengehentikan langkahnya karena mendengar hal itu.


"Hah, aku baru nanya sekali sama kamu." ucap fando yang protes pada Elisa.


"Iya tadi dia juga nanya hal yang sama kok, tapi sama orang yang ngater aku." jawab Elisa yang melanjutkan perjalanan.


"Kamu di antar supir, maaf ya aku gak jemput kamu. Karena udah siang banget ku pikir kamu sudah berangkat, jadi aku gak kerumah apa lagi gak ada kabar dari kamu." ucap fando yang merasa bersalah.


"Hmph! nggak apa-apa, semalam aku sibuk ngobrol sama orang tua aku, soal omset jualan udang dan ikan." ucap Elisa yang menjelaskan.


"Ouh gitu, Pantesan gak ada kabar berita yah kamu di grup." ucap fando yang tidak sadar mengatakan yah pada Elisa.


"Hah! Grup mana?" tanya Elisa agak curiga sama apa yang dikatakan oleh Fando.


"Grup obrolan kamu dan temen-temen geng kamu itu, Grup 4G." lanjutan Fando memperjelasnya.


"Itu singkatan Fando, kamu di masukan di grup itu?" tanya Elisa mengundang rasa penasarannya.


Mampus aku keceplosan, gawat kalau Elisa bisa sampai tahu aku melacak nomer ponsel mereka dan obrolan mereka. Dasar bodoh kau, kenapa bisa nih asal ucap sih. Dalam hati Fando yang langsung sadar kalau dia keceplosan.


"Fan, kok diam aja kamu di masukan di grup itu? sama mereka iya?" tanya Elisa yang penuh dengan tanda tanya.


"Hmm. Nggak kok, cuman tahu dari temen-temen kamu aja." Fando agak gelagapan Ucapnya.


"Ouh gitu."


Tunggu bentar, bagaimana Fando tahu soal Grup Obrolan di sosmed, gak mungkin Nacly, Diana atau Rere ngomong sama dia. Itu grup rahasia kita berempat, karena semua pembahasan ada disana. Apakah Fando melacaknya, hmph! patut di curigai nih orang. Dalam hati Elisa yang sangat penasaran.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Selasa 14 February 2023

__ADS_1


__ADS_2