PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
165. Telepati Denganmu.


__ADS_3

Saat mereka sedang asyik-asyiknya ngobrol, lalu terlihat banyak dosen-dosen dari berbagai fakultas semua pada datang. Mereka pikir ini hanya festival biasa, tak ada yang tahu para mahasiswa jika festival yang di adakan itu untuk penyambutan kedatangnya pemimpin penerus ANDRILOS.


Banyak dari mereka pada sibuk-sibuknya, ada yang mondar-mandirnya beresi ini itu, ada juga yang menyiapkan parkiran agar jangan berantakan, malah festival gak di adakan di gedung, berada di area di luar kampus. Di halaman belakang kampus, dengan persiapan yang sangat deteil


"Ini sebenarnya ada apa sih, kok kayaknya semua pada sibuk gitu! Sampai ada dosen juga tuh! Ini festival perayaan apa yah, aku jadi bingung sendiri lihatnya." Ucap Nacly.


"Jangankan kamu yang liat, aku aja pusing nih jadi yah." ucap Diana yang juga ikutan puyeng.


"Itu Milka, kita tanya aja yuk!" ucap Elisa yang melihat temen sekelas yah.


"Milka, eh ada apa sih! kok kayak mereka pada sibuk gitu!" teriak Nacly panggil namanya lalu menanyakan ada apa terjadi.


"Ada orang penting akan datang, makanya festival ini diadakan, pak rektor dan jejerannya juga akan datang makanya pada heboh dan sibuk." Jawab milka yang juga buru-buru akan pergi juga.


"Ada apa katanya Nacly?" tanya Diana.


"Katanya ada orang penting, siapa yah!" Nacly agak berfikir keras.


Hingga suatu titik fokus yang membuat Elisa tercengang, ia melihat jejeran para petinggi kampus, seperti rektorat dan pengurus kampus semuanya pada datang.


"Eh, guys itu lihat deh kayaknya itu mobil pak Donny deh! Tuh kan bener, pak rektor udah datang aja tuh!" ucap Elisa yang melihat mobil hitam milik pak rektorat.


"Waduh, pak Rektor sampai ganteng banget lagi, pakai jas hitam dan dasi biru kayak gitu!" ucap Nacly yang juga agak syok.


"Kayaknya nih orang benar orang yang berpengaruh banget yah? Apakah yang datang ini pemilik yayasan kah" asal tebak Diana.


"Nggak mungkin deh! Sampai ada persiapan kayak gini, semua dadakan lagi. Tapi, sumpah keren sih!" ujar Nacly.


Kok perasaan ini kayak gak asing yah, deg-degan gini sih aku, kayak mau ketemu sama siapa aja. Keinget kayak mau ijab qobul dulu pas nikah sama mas andre, terus deg-degan kayak mau ketemu sang pujaan hati. Dalam hati Elisa berbicara.


"Teh, ada apa? Apakah teteh baik-baik saja kok muka Teteh merah sih?" tanya Azril yang khawatir.


"Aku gak apa-apa zril! hanya punya firasat aneh aja, ada deg-degan ada juga rasa khawatirnya juga." Ucap Elisa yang wajahnya merah padam tapi agak murung sekali.


"Beneran nggak apa-apa, kalau gak enak badan kita pulang aja." ucap Azril yang memapah tetehnya itu.


"Beneran aku gak apa-apa, kamu jangan khawatir yah!" ucap Elisa yang berusaha menenangkan dirinya.


"Okey, kalau memang baik-baik saja. Teteh yakin nih?" Azril yang sangat khawatir sama kondisi tetehnya.


"Teteh sungguh tidak apa!" ucap Elisa yang nada sudah mulai meragukannya.


"Udahlah, kita pulang saja yah. Yuk!" ajakan Azril yang khawatir kepada tetehnya.


"Acaranya saja belum mulai zril, bentar lagi deh, yah!" ucap Elisa yang menyuruh Azril, untuk duduk dengan tenang lagi di tempatnya.


"festival seperti ini saja sangat ramai sekali yah! Sampai di hadiri pak rektor segala, dan para dosen juga semua hadir." Ucap Diana.


"Apakah ada tamunya sangat spesial yah sampai harus mereka juga hadir." ucap Nacly yang kebingungan juga.


"Udahlah kita nikmatin aja." ucap Diana, lalu ia melihat Azril yang berwajah sangat khawatir, lalu ia melihat arah pandangan Azril yaitu kepada Elisa.


"Ya ampun, El kamu baik-baik saja? wajah kamu kok agak pucat sih?" sambung Diana kembali yang memperhatikan Elisa.


"Eh, aku gak apa-apa kok! Sungguh, aku gak apa-apa." ucap elisa yang menenangkan semuanya.


"Udahlah mba, gak apa-apa lagian teteh gak akan jujur." ucap Azril.


Tiba-tiba dari arah jalan utama semua pada heboh, dan berlarian. Bahkan, semua pada berbondong-bondong kearah depan, terlihat banyak sekali mobil-mobil yang berdatangan.


"Eh ada apa ini, kok pada lari heboh banget, Kok semuanya pada lari kesana. Ada apa yah disana?" Ucap Nacly yang juga kesana.


"Eh, Jea ada apa sih?" ucap Diana yang sangat penasaran.


"itu ada Tuan ANDRILOS, sama jejerannya pada datang, ya ampun kata dia tampan sekali mengalahkan 7 primadona kampus kita loh. Aku gak sabar, kayanya dia menjadi bintang utama dalam perayaan festival saat ini, makanya semua para petinggi rektorat dan penghuni kampus pun datang." ucap jea dengan antusias.


Elisa yang mendengar hal itu, langsung melongo dan kaget, karena suaminya tidak mengatakan apapun padanya kalau dia sudah ada di Indonesia.


"Hah! Apa maksudnya, Tuan ANDRILOS datang?" tanya Elisa yang spontan kaget.

__ADS_1


"Eh, Tuan ANDRILOS. Diana kita lihat juga yuk! El, kamu mau lihat gak?" ucap Nacly yang sangat kegirangan.


Nacly langsung menarik Diana untuk pergi ke arah orang-orang pada berlarian, Elisa hanya diam mematung di tempat. Sambil termenung, dan duduk dengan syok.


"Dia nggak ngomong apa-apa, nyebelin banget sih." Dumal kesal Elisa.


"Jadi gimana, mau ikutan kesana?" Tawar Azril.


"Nggak perlu, ngapain. Aku sudah marah berat sama dia, udah gak ada harapan dia ku maafkan malam ini." Ucap Elisa yang ngambek.


"Beneran gak tuh, nggak dimaafin buat malam ini, toh nanti malah lebih manja sama mas Andre." sindiran berat Azril.


"Nggak bakal, aku akan pukul dia sekuat-kuatnya. Biar dia tau rasa sakit aku yang dia tinggal hampir sebulan lama yah! Titik." ujar elisa yang melipat tangannya dengan arogan.


Azril hanya tersenyum tipis melihat teteh yang sangat lucu kalau lagi ngambek, percis seperti anak kecil yang merajuk kalau tidak dibelikan mainan.


"Tuh kan teh, apa yang aku bilang. Ini adalah buah dari kesabaran itu sangat manis, mas Andre datang dengan surprise. Langsung tiba-tiba nongol aja kayak pangeran, mas Andre orang suka bikin kejutan iyakan."


"Apaan sih Zril, tetep aja aku kesel sama dia." Ucap Elisa yang masih agak jengkel.


"Jadi mau lihat Mas Andre nggak ke sana atau tetap di sini?" Tanya Azril kembali.


"Tetep di sini aja, males liat mukanya yang sok polos dengan senyuman palsu, lagian juga pantattt teteh udah berakar di sini, jadi susah gerak."


Azril hanya tersenyum saja sambil geleng-geleng kepalanya karena tingkah tetehnya itu. "Hah! Aku jadi kasihan sama mas andre, gimana dia akan tinggal seumur hidup sama teteh yang kayak gini, aku jadi kepikiran soal anak kalian gimana nantinya, semoga gak ada yang ikutan kayak teteh, suka ngambek susah di bujuk."


Andrepun yang baru keluar dari dalam mobil, langsung saja disambut dengan sangat meriah, oleh panitia kampus. Para rektoratpun juga datang untuk menyambut, mereka sudah siap berada di depan pintu mobil Andre.


Pengawal Andre langsung membukakan pintu untuk Andre, lalu langsung dapat salam dari semuanya, pak rektor mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan, dan Andrepun menyambut uluran tangan pak rektor dan orang-orang yang ingin mengajaknya bersalaman, dan semua anggotanya.


Riuknya para mahasiswa dan mahasiswi, saat melihat Andre secara langsung dan bertatapan.


"Gila itu beneran Tuan pemimpin penerus ANDRILOS? Masih muda lagi, kayaknya beliau seumuran kita iya gak sih?" Ucap salah satu mahasiswa.


"Ganteng banget yah! Beneran dia ngalahin 7 Idol kampus, ganteng sumpah ini apa yah aku mau deh jadi simpanan dia." ucap salah satu mahasiswa lainnya.


Dalam hati Elisa langsung memanggil nama Andre, saat Andre sedang berjalan menuju tempat duduk yang telah disiapkan khusus untuk dirinya.


'Mas Andre.'


Panggilan dalam hati Elisa, seketika seperti langsung didengar oleh Andre, karena Andre langsung menoleh kepada sumber suara itu. Elisa sampai terkejut sendiri, saat melihatnya.


Andre langsung tersenyum tipis, dan memberi kode pada Elisa dengan mengedipkan matanya, dengan isyarat.


"Teh, Mas Andre lihat ke sini tuh." ucap Azril yang menepuk bahu tetehnya.


"Azril, apakah mas Andre bisa dengar isi di dalam hati ya? atau mungkin chemistry kita sebagai suami istri terlalu kuat banget." ucap Elisa yang menatap adiknya dengan bingung.


"Hah! Apaansih teh?" ujar Azril yang melongo.


"Tadi teteh manggil dia di dalam hati, dia langsung noleh. Biasanya kalau orang normal, pasti akan nyari-nyari dulukan walau di panggil. Ini, udah manggil di dalam hati, dia langsung tahu teteh disini." ucap Elisa yang masih kebingungan.


"Itu tandanya Mas Andre, udah punya sinyal yang terhubung dengan wi-fi yang di upgrade oleh teteh." ujar Azril malah menjadikan tetehnya pemancar.


"Apa kamu bilang, emangnya aku ini kabel pemancar, atau satelit. Kamu ini ada-ada aja, kalau perumpamaan orang." ucap Elisa gak kesel.


"Iya buktinya Mas Andre langsung nolehkan, padahal Teteh nggak manggil mas Andre, iya kan."


"Iya sih. Coba deh zril kamu perhatikan wajahnya mas Andre kok agak kurusan yah? Atau cuman perasaan teteh aja."


"Mungkin lagi diet kali, atau mungkin gak keurus karena biasanya ada teteh. Iyakan."


"Coba deh kamu perhatiin lagi. Sejak kapan dia pakai sarung tangan item? terus juga agak asing tuh yang ada di lehernya, apa itu dasi yah?" Elisa heran perubahan suaminya.


"Yah emang diharuskan pakai dasi lah teh, kan dia sekarang bukan lagi Mas Andre yang kita kenal, dia sudah jadi pemimpin penerus ANDRILOS."


Elisa yang melihat banyak wanita-wanita yang berebutan minta foto, dan kenalan dengan Andre. Hingga pada mengharapkan menjadi istri andre, bikin naik darah.


"Ini nih yang teteh tidak paling suka zril, mereka selalu merebutkan suami orang. Hmph! Makanya malas banget, kalau keluar sama dia."

__ADS_1


"Kan mereka nggak tahu kalau teteh itu istrinya, kalau mereka tahu istrinya di sini, pasti agak akan ada yang berani deh! Apa azril bantuin ngumumin ke semua orang kalau teteh adalah istri dari pemimpin penerus ANDRILOS?"


"Ih, apaan sih Zril, gak lucu tau nggak candaan." ucap Elisa yang langsung menatap tajam.


"Udah dong! Jangan ngambek gitu! Keliatan lebih jelek, nggak cantik lagi." ucap Azril yang menenangkan tetehnya.


Nacly dan Diana datang, membuat Elisa terdiam sambil menatap kedepan, dimana Andre dan jejeran rektor duduk sedang menikmati hiburan.


"Coba deh! Ternyata Tuan Andrilos lebih ganteng ngalahin kak Rizki dan Fando, iyakan El. Tadi aku sudah foto loh sama Tuan ANDRILOS, gila nggak kelihatan pori-porinya mulus banget, tapi ada rambut dikit sih di bagian kumis sama dagunya." ucap Nacly yang sangat antusias.


"Tadi kamu gak ada di sampingnya Nacly, aku tadi pas disampingnya beliau, sumpah lengannya kekar banget." ucap Diana.


"Orang Diana fotonya sangat dekat banget, berada disampingin tuan ANDRILOS." ucap Nacly yang agak jutek.


"Apa dia suka olahraga yah, makanya badannya itu tegap dan sangat gagah, dia juga lihat itu, dari tadi natep sini terus. Aduh, berasa aku kayak istrinya. Gimana perasaan yang jadi istrinya, pasti senang banget."


"Selalu makan hati, gak pernah bahagia tuh!" ucap Elisa yang menyambar.


Membuat semuanya langsung menoleh kearah Elisa. Karena jawaban Elisa tersebut, Azril sangat kaget.


"El kok kamu yang kesel sih, emangnya kamu istrinya tuan ANDRILOS?" tanya Nacly.


"Lagi bad mood kayaknya, jangan diajak ngomong dulu deh mba." ucap Azril yang mengalihkan pembicaraan.


"Kayaknya kamu lagi PMS ya EL?" Asal tebak Diana.


"Iya gitu! teteh kalau lagi PMS, bawaan ya kesel gak jelas." ucap Azril.


"Haha... kayaknya tetehnya butuh di charger deh zril baterainya mau lowbet tuh, udah nggak kuat butuh di charger." ucap Diana.


"Kamu bawa charger nya nggak!" tanya Nacly yang menyambar.


"Kebetulan chargernya sudah ada, tapi colokannya ini yang nggak ada." ucap Azril yang mengikuti candaan mereka.


"Harus segera dicari Zril, kalau udah lowbet, dia akan lebih konslet." ucap Diana.


"Tenang aja mba Diana, semua aman kok." melihat apa elisa yang mengabaikan candaan mereka.


"Apaan sih kalian udah deh, jangan ngomongin orang di depannya." ucap Elisa yang agak kesel.


"lebih baik kita ngomongnya di depan orangnya, dari pada kita ngomong dibelakang iya nggak cuy!" ucap Diana.


"Aku setuju tuh sama mba Diana," Azril yang sangat antusias.


"Sebenarnya kamu itu adiknya siapa sih, kok malah belain mereka." ucap Elisa yang menatap tajam.


"Nggak apa-apa kok El, aku nampung kalau adiknya ganteng ini dan cool kayak gini." ucap Diana yang langsung nyeder ke punggung Azril.


"Ih enak aja adik, aku kan kakaknya masa kamu mau diembat adikku juga." Elisa langsung menarik Azril.


"Lah tadi bukannya kamu yang nggak mau ya?"


"Eh BTW, ini acara udah mau selesai kok Rere nggak nongol-nongol yah, katanya dia udah otw?" ucap Nacly yang baru sadar.


"Emangnya Rere mau datang?" tanya Diana.


"Ngomong ke aku mah terakhir telfon, dia mau datang. Tapi sampai detik ini kok gak nyempe-nyampe, kemana tuh anak?" ucap Nacly yang sangat khawatir.


"Coba deh kamu telepon." sambung Diana yang langsung mengambil hpnya.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Sabtu 18 February 2023

__ADS_1


__ADS_2