
~MARKAS LION KING ~
Terlihat Andre duduk dengan Maura dan beberapa orang di sana, sedang merencanakan semua yang mereka akan lakukan selanjutnya, dengan sangat matang jika ada pergerakan mereka akan langsung tahu.
Sedangkan Andre sedang duduk di sofa, sambil melihat layar monitor transparan dengan seseorang yang sedang mengutak-atik sistem. Maura yang tadinya ikut mengawasi, jadi ikut duduk di samping Andre.
"Sistem sudah terlacak, dan menyeluruh dengan baik. Tinggal kita operasikan saja, gimana menurut kamu Al." tanya Maura pada Andre yang sedang fokus ke layar.
"Oke, aku juga sudah bilang pada dadyku jika nanti aku minta tolong tim IT, disana juga ada adikku Azril dan Zever." ucap Andre yang menjelaskan.
"Hmm- cukup banyak juga personil anda Tuan ANDRILOS, aku gak sia-sia kerjasama dengan anda telah membantu dengan maksimal." ucap Maura yang bangga.
"Untuk apa setengah-setengah itu bukan prinsip ku, karena sebagai seorang dokter jika membedah penyakit tumor harus sampai tuntas ke akarnya agar jangan menjadi jaringan kanker yang akan membahayakan keselamatan lainnya. Jadi harus tuntas, itulah prinsip Dokter ku." penjelasan ringkas Andre.
"Ha-ha-ha jadi kamu mengunakan pemikiran medis, juga untuk modal kamu mengembangkan situs Kepemimpinan kamu di Andrilos." ucap Maura yang salut banget banget sama Andre.
Andre tidak berani mengatakan apapun di markas, karena takut jika ada mata-mata yang tersembunyi. Makanya dia hanya diam tak berkomentar banyak, dan gak bilang apapun soal rencana hingga ide gila Elisa itu, Maura yang langsung menatap Andre seperti sedang punya banyak pikiran, dan beban tapi tak ia katakan.
"Ada apa Alzam apakah terjadi sesuatu akhir-akhir ini? Wajahmu tampak agak pucat, apakah ada masalah." ucap Maura yang sangat penasaran.
"Tidak juga, hanya kepikiran soal hal yang gak penting sih." ucap Andre yang melipat tangan kedepan.
"Ouh yah, tapi sepertinya memang ada yang kamu pikirkan saat ini? Gak mungkin itu gak penting, sampai menganggu pikiran kamu seperti itu. Apakah ini ada hubungan dengan masalah di rumah sakit, atau tentang Andrilos. Hmph! Biar aku tebak lagi, apakah ada yang mengganjal di pikiranmu soal pria itu, ouh bukan. Pasti penyebab utama yang bikin kamu pusing tujuh keliling pasti karena, istrimu? iyakan. Tuan Alzam, " tebakan maura yang tidak meleset.
"Iya, semua yang kamu katakan itu adalah kebenaran. Aku memang memikirkan banyak hal, terutama istriku itu." ucap Andre yang membenarkan pernyataan maura.
"Hmm- Iya kan aku pikirkan, tebakanku ini memang gak pernah salah. Karena kamu itu orangnya agak aneh, nggak pernah memikirkan hal yang sederhana, kok bisa?" ujar Maura yang keheranan sama tingkahnya Andre.
"Apa maksudmu, aku tidak pernah berpikir sederhana? Iya, bebanku ini memang terlalu berat itu saja sih, karena semalam dia bilang jika pria itu sekarang sudah ada di dekat yah." ujar Andre yang membuat Maura salah paham sama apa yang diucapkannya.
"Apa maksudnya. Jangan bilang Elisa sedang mencoba selingkuh dari kamu?" tebakan Maura yang sedikit melenceng dari sasaran.
"Iya bisa di bilang begitu, tapi bukan hanya itu. Dia malah bilang terang-terangan padaku, bawa dia akan berpacaran sama pria itu. Gimana jiwa priaku tidak merontak-rontah, aku sampai tidak bisa tidur semalam karena memikirkan hal itu. Bagaimana bisa seorang wanita yang sudah menikah, malah membicarakan pria lain untuk menjadi selingkuhannya, dan itu di depan suaminya. Kamu bisa bayangkan betapa aku kesel sekali malam itu."
"Hah! Lalu kamu membiarkan perbuatan itu akan terjadi, alzam. Istrimu sudah jelas-jelas merencanakan hal yang gak wajar, kamu akan membiarkan istrimu melakukan perselingkuhan itu!" Maura jadi terbawa suasana.
"Aku harus bagaimana lagi, dia sangat ngotot ingin melakukan yah, dan malah minta izin dari aku. Mungkin itu sudah jadi keputusan terakhirnya, aku bisa apa!"
"Ya kamu seharusnya lebih tegas dong! sama istri kamu Al, masa iya kamu kalah sama istri kamu yang salah itu, jangan mau kamu di perlukan tidak baik begitu. Istrimu sudah keterlaluan tahu gak, pertegas lagi dia mau ya bagaimana?" ucap Maura yang ikut emosional.
"Akan aku coba, karena selama ini aku tak pernah membahas soal itu dengannya," ucap Andre melemah.
"Gimana cerita sih, perasaan kemarin kalian baik-baik saja, kok sekarang banyak banget debatnya. Aku juga nggak ngerti sama jalan pikiran istri kamu itu, entah kenapa Elisa bisa-bisa yah punya pikiran, kalau dia ingin selingkuh dari kamu."
"Entahlah Maura, aku juga kadang tidak mengerti jalan pikiran istriku itu," ucap Andre yang agak frustasi tersebut.
"Coba deh! kamu bilang baik-baik sama Elisa soal rencana gilanya itu, lebih baik diurungkan saja. Karena apa yang dia lakukan itu tidak baik, merugikan dirinya sendiri." penjelasan Maura.
__ADS_1
"Iya akan aku coba bicara lagi dengannya, yang lebih parahnya lagi katanya, si pria itu sudah memasuki kampus!" ujar Andre yang saat ini mengatakan kepada Maura.
"Apa! Kamu serius, yang bener saja dia sudah berani nekat seperti itu, bagus sekali usaha yah. Kamu seharusnya bertindak lebih cepat, jangan sampai Elisa sampai terperangkap jebakannya." Maura ikutan panik.
"Di duga, dia memata-matai Elisa. Karena nggak mungkin dia tahu keberadaan Elisa, hingga tahu kelas dan fakultas yah." penjelasan Andre pada Maura.
"Itu mungkin bisa terjadi, apalagi sebelumnya Elisa pernah mengatakan jika dia bertemu dengannya? mungkin itu ada kaitannya. Atau bisa jadi dia sudah merencanakan untuk bertemu dengan Elisa, dan pertemuan mereka disengaja olehnya. Lalu setelah itu, baru deh! dia mencari tahu keberadaan Elisa?" penjelasan Maura yang sangat detail.
"Aku setuju dengan firasat mu itu, dia mungkin sudah melacak keberadaan Elisa sebelum yah. Atau mungkin dia sudah tahu identitas Elisa yang sesungguhnya, makanya dia mencoba mendekati Elisa. Kok aku baru mengerti sekarang yah, aku takut jika istriku itu terjebak dalam rencananya. Bukannya dia yang menangkap, tapi dia sendiri yang terjebak, rencananya itu. Maura aku jadi khawatirkan, soal Elisa."
"Kamu sudah bicarakan ini dengan Elisa? coba kamu omongkan lagi, tentang rencana gilanya ini."
"Aku sudah mencobanya, tapi dia sudah kekeh dengan keputusannya itu. Jadi Aku harus bagaimana untuk membicarakan dengannya, apakah kamu punya solusinya?"
"Sepertinya Elisa bukan wanita yang seperti itu, dia juga cukup pintar dan sangat teliti hingga deteil begitu, jadi gak mungkin dia termakan bujuk rayuan pria asing. Terlihat dia begitu sangat menyukaimu, jadi aku yakin Elisa gak akan melakukan hal konyol."
"Kau mempercayainya?" tanya Andre yang melihat Maura seperti punya penilaian sendiri terhadap Elisa.
"Tentu saja, karena nggak mungkin cewek seperti dia yang punya kekuatan pemikiran yang sangat baik, bisa melakukan hal yang konyol. Apalagi dia lebih memilih pria lain yang belum jelas, dan belum tentu akan sebaik kamu memperlakukan dia."
"Bagaimana jika dia lebih memilih pria yang lebih muda dan seusia dengannya?" Andre yang tidak percaya diri.
"Alzam, kamu itu harus nya percaya diri dong! dengan diri kamu sendiri, kamu yang sudah sah menjadi suaminya, kok malah ia tinggalkan kamu, itu kayak gak mungkin bagi seorang wanita normal, kalau dia rela ninggalin kamu demi cowok lain yang belum jelas itu namanya wanita yang bodoh. Dan mungkin dia memang nggak pantas buat kamu, itu saja sih menurut aku." penjelasan Maura membuat Andre tersenyum tipis.
Muara kamu punya produk yang tidak bisa di dapatkan dengan mudah, aku jadi penasaran siapa yah pria yang akan bermodal besar untuk memiliki kamu. Dalam hati Andre sambil senyum-senyum sendiri.
"Iya, karena aku lihat dia cukup berani. Dia punya kemandirian yang sangat kuat, dan punya pemikiran yang begitu cerdik juga."
"Sebenarnya, rencana gila Elisa ini sudah ku bantah, tapi gimana lagi aku tak cukup kuat sekali dari yah." ucap Andre melemah. Mode suami-suami takut istri.
"Memang apa yang dia rencanakan, jangan jadi suami takut istri lah, kalau dia salah kamu tegur dia." ucap Maura.
"Katanya dia akan menggunakan pesonanya, untuk mengikat pria itu, dan akan langsung menangkapnya dengan tangannya sendiri, menangkap mangsanya hidup-hidup. Jadi dirinya sendiri yang akan jadi umpan, aku cukup khawatir soal itu." ucap Andre yang memang agak ragu dengan rencana Elisa itu.
"Menjadi umpan? untuk menangkap ikan yang besar seperti tahanan internasional harus punya trik yang cukup kuat kan, pasti Elisa sudah merencanakan ini dengan matang Alzam."
"Seperti yang kamu pikirkan itu benar, aku juga belum di beritahu rencana lebih lanjut. Itu semua baru intuisi rencana awalnya saja, entah tahap selanjutnya bagaimana?"
"Rencana Elisa itu, memang sedikit agak ekstrim ya, lalu apakah kamu akan baik-baik saja Alzam, karena istri mu akan bersama pria lainnya."
"Entahlah! Lalu menurutmu bagaimana? kondisi ku mungkin tak akan stabil, tapi mau gimana lagi sudah jadi jalan takdirku ku" Andre yang cukup pasrah dengan keadaan.
"Sepertinya kau juga pasti akan kuat untuk menghadapi semua ini, buktinya kamu fine-fine aja. Malah membolehkan istri kamu deket sama pria lain. Sama halnya sama Elisa! Dia mungkin cemburu sesaat, tapi setelah itu dia baik-baik aja."
...----------------...
Universitas, di dalam kelas. Elisa dan temen-temen sedang duduk di meja mereka masing-masing, melihat banyak sekali mahasiswa yang masih di luar, karena bel masuk juga belum berbunyi.
__ADS_1
"Elisa kamu akan buka bakery kapan?" tanya Diana yang sangat penasaran.
"Aku belum.dapat izin dari keluarga, karena emang belum beres juga sih. Tempat masih banyak perbaikan, belum diplafon juga. Tapi, udah ngomong sih sama orang tua aku, katanya nanti dulu, karena banyak karyawan aku yang masih sakit."
"Kenapa kamu nggak rekrut orang baru aja dulu, untuk sementara waktu. Ya mereka lagi masa pemulihan gitu!" sambung Nacly.
"Iya juga sih, tapi kalau nyari orang baru itu pasti akan lama lagi." ujar Elisa.
"Ya elah gampang el. Kamu tinggal pasang iklan aja, promosi lowongan kerja di Bakery. Pasti banyak lah orang yang mau daftar, ke toko kue kamu, lagian kamu juga nggak usah susah-susah nyari orang, biar mereka sendiri yang nyari kamu, toh kalau orangnya butuh nanti datang sendiri." ucap Diana.
"Iya El, kamu tinggal pasang wacana aja gitu. Terus di sebar kan di sosmed, atau iklan selembar kertas." ucap Resti.
"Tapi aku nggak mau cari ganti dulu untuk sementara, ya cukup 20 orang saja. Ini karena nggak mungkin aku nambah personil, takutnya nggak cukup buat gaji mereka, apalagi kan aku baru buka bakery, pasti masih banyak keperluan yang belum nyukupin. Nanti deh, kalau udah ada modal lebih baru mikirin hal lainnya, untuk saat ini sih belum cukup dikenal sama orang jadi masih sepi-sepi aja" ucap Elisa yang menggaruk-garuk kepala tidak gatal.
"Iya juga sih?" semuanya langsung mengiyakan saja karena apa yang di katakan Elisa, benar.
Pengamatan Elisa memang sangat luar biasa kalau soal untuk pemilik toko, Elisa yang dulu juga seorang pekerja, agak tahu soal sistem bekerja untuk karyawan yah. Apa lagi dia dulu bekerja pari waktu, jadi sedikit faham.
"Ya udah bertahap aja El, jangan ngeladenin Resti. Kalau wacana iklan masih harus kamu buat, karena untuk buka bakery kamu, supaya banyak yang minat gitu." ucap Diana.
"Bikin iklan yuk, aku punya subscribe banyak juga di sosmed" Cetus Resti.
"Iya kita bantuin El, kamu gak usah khawatir soal iklannya." ucap diana.
"Aku juga bantuin kamu, gimana?" ucap Nacly yang sangat antusias ingin membantu.
"Terimakasih banyak semuanya, aku sangat senang karena kalian ingin membantu ku. Oke! pulang kampus nanti aku akan siapkan keperluan untuk membuat iklan, mohon bantuannya." ucap Elisa yang meminta bantuan teman-teman yah itu.
"Oke! kamu nggak usah khawatir kita pasti akan bantuin iklan dan promosiin tempat kamu itu?" ucap Resti yang sangat antusias.
"Udah, soal perekrutan karyawan itu nanti aja kamu pikirin yang sekarang kamu harus utamakan adalah pembukaan bakery nya dulu." ujar Diana yang memberi saran masukan.
"Iya, oke. Terimakasih, aku maunya sih gitu bertahap. Tapi, ya kalau memang harus mencari anggota baru ya mungkin aku akan pikir-pikir dulu, karena takutnya. Jika menambah personil, terus pemasukan aku nggak nambah, nanti kasihan dong! Sama Mereka, nggak kasih gaji. Walaupun orang tua aku kaya, tapi itu kan bukan usaha ku sendiri. Aku nggak mau merepotkan mereka, jadi sedikit demi sedikit saja untuk menabung, maksudnya jika aku pakai uang orang tua itu namanya bukan jerih payah aku sendiri dong!" ucap Elisa menjelaskan kepada teman-temannya itu agar dimengerti kondisinya saat ini.
"Iya kamu memang benar Elisa, Aku bangga sama kamu" ucap Diana yang langsung memeluk Elisa.
"Aku setuju sama pendapat kamu El" sambung Nacly semangat.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Sabtu 21 Januari 2023
__ADS_1