PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
109. Ketahuan Deh.


__ADS_3

Dua hari kemudian setelah Andre di kabarkan siuman, Arafif juga baru saja kembali dari pulau kematian karena saking lelahnya ia tak merespon apapun saat orang lain bicara atau yang mengajaknya ngobrol, karena pikirannya sudah tidak karuan tak menentu. Jika sampai Andre menyadari jika istrinya telah hilang dan belum ditemukan, entah akan seperti apa nantinya.


Rasa panik, khawatir, gelisah dan rasa takut juga menyelimuti hatinya. Hingga suatu panggilan yang membuat langkahnya terhenti, dan membuyarkan semua pikiran buruknya saat ini.


"Pah! Papah—" seraya merai tangan suaminya yang kehilangan arah tersebut, karena tidak fokus, pikirannya juga melayang-layang.


"Ouh, iya mah ada apa?" tanya Arafif wajahnya sangat pucat dan lelah, tampak murung juga yang terlihat.


Membuat Monika khawatir dan penuh dengan tanda tanya, apa yang sedang di pikirkan Arafif saat ini. Monika tidak berani menanyakan soal itu pada suaminya, karena jawabnya pasti akan sangat rumit, jadi Monika mengurungkan niatnya untuk bertanya hal itu pada Arafif.


"Pah, papah dari mana aja si. Kok dua hari ini, mamah gak pernah lihat papah, lagi sibuk apa sih Pah. Kalau boleh mamah tahu, habis papah kok kalau pulang kesini, kayak capek banget terus terlihat sangat frustasi" ujar Monika yang sangat khawatir kepada suaminya.


"Nanti aja yah papah ngobrol sama mamah, sekarang ini papah sangat capek banget mau mandi dulu. Lebih baik mamah siapkan makan buat papah, laper nih" ucap Arafif mengalihkan pembicaraan dan perhatian istrinya itu.


"Yaudah deh, mamah pergi dulu untuk siapkan makan untuk papah ya" ucap Monika yang langsung pergi ke arah dapur, untuk menyiapkan makanan untuk suaminya yang baru pulang tersebut.


Disisi lainnya, terlihat Glenn dan Aoda juga baru akan berangkat kembali setelah mengambil beberapa barang-barang yang ketinggalan, untuk pencarian Elisa. Mereka sedang bejalan di lorong, tak diketahui jika Andre juga sedang belajar jalan di sekitar lorong tersebut.


"Gimana nih Glenn, kita belum juga menemukan keberadaan nyonya Elisa. Sedangkan tuan Andre sudah siuman, bagaimana kalau beliau tanya? Lalu kita harus jawab apa, kalau nyonya hilang. Nggak mungkin kita katakan hal itu kan," ucap Aoda yang minta pendapat dari Glenn.


"Aduh... Aku juga binggung, tuan Andre kalau marah bisa menghancurkan dunia kemiliteran. Bagaimana ini? Walau sudah di bantu oleh Tuan Brandon yang juga ikut serta dalam pencarian, tetap saja belum ada titik terang untuk ditemukannya nyonya." ucap Glenn yang sangat frustasi dengan hal itu.


"Kira-kira nyonya Elisa ada di mana ya? Jika dia masih hidup seharusnya kita bisa menemukannya, tapi jika nyonya Elisa sudah meninggal seharusnya kita bisa menemukan tubuhnya, ataupun kepingan-kepingan jasadnya!" ucap Aoda.


"Jangan tanya padaku Aoda, aku juga binggung untuk menjawabnya. Kita juga tidak punya kuasa apapun untuk mengatasinya, amukan tuan Andre juga pasti akan sangat luar biasa. Mengingat jika tuan sangat mencintai nyonya, ingat saat kamu mencoba mendekati nyonya? Dia kira kau melakukan hubungan gelap dengan nyonya di belakang tuan" ucap Glenn.


"Aku sudah gila apa. Aku tak punya pikiran begitu, gak ada selintas pun aku kepikiran hal itu. Nyonya Elisa itu sudah ku anggap seperti adik perempuan ku sendiri, sudahlah jangan bahas hal itu. Kita harus kembali segera, untuk mencari keberadaan nyonya" ujar pembelaan dari aoda.


"Ya ku kira kau melakukan hal itu, karena terlihat kamu sangat akrab sekali dengan nyonya Elisa, padahal kamu baru kenal dengan beliau waktu itu." Glenn yang salah kira, Jeffry yang dari tadi hanya menyimak apa yang mereka obrolkan selama ini.


"Tapi ngomong-ngomong soal nyonya Elisa yang kita bicarakan ini, apakah benar-benar hilang atau dia kabur. Atau bisa saja beliau sedang bersembunyi untuk menyusahkan kita atau menyusahkan kita kan. Karena gak mungkin bagi manusia yang hilang selama berhari-hari, tidak datang kemunculan itu akan baik-baik saja. Katanya terakhir kali beliau bersama dengan komandan satu, dan sekarang bagaimana yah keadaan pak komandan. Ku dengar beliau kembali dengan tak sadarkan diri, gara-gara dia selalu menolak untuk di obati gara-gara hanya karena merasa bersalah kepada nyonya. Hilangnya nyonya ini membuat semua orang khawatir, jika dihitung hari hilangnya nyonya mungkin saja sudah jadi tulang belulang kan?" ucap Jefry asal ceplok, mendengar hal itu, Jeffry malah dapat pukulan di punggungnya oleh aoda.


"Hussst kamu ini, jangan asal ngomong gitu. Nanti ada yang dengar, bagaimana jika tuan tahu soal keadaan Nyoya. Kita harus berdoa saja untuk kebaikan nyonya Elisa, beliau pasti masih diberikan hidup. Jadi diam lah, jangan bicara yang tidak penting seperti itu, jangan berdoa begitu" ucap Aoda yang agak kesal karena ucapan Jeffry.


"Iya jef, jaga omonganmu itu. Nyonya Elisa bukan wanita selemah itu, kamu hanya belum tahu saja kepribadian itu sangat seimbang dengan tuan Andre." sambung Glenn.


"Aku kasihan pada Tuan, gimana ya reaksinya jika tuan sampai tahu yang sebenarnya?" ujar Jeffry lagi-lagi bicara hal yang membuat kedua seniornya menatap tajam kearahnya.


"Jef bisa tidak kalau bicara itu jangan buat kita kesel, nanti bisa-bisa kita khilaf ku gunakan senjataku untuk menebus mulutmu itu." Glenn cukup geram saat ini dengan ucapan yang keluar dari mulut Jeffry, selalu terucap tidak baik dan selau membuatnya kesal.


Andre yang sedang belajar jalan di sekitar tempat itu mendengar hal itu, walau tidak sengaja mendengar percakapan mereka yang asik mengobrol itu sontak membuat Andre kaget, jadi ada rahasia yang di sembunyikan semua orang terhadap dirinya. Jika dia tidak sedang belajar jalan mungkin tidak akan bisa mendengar informasi penting ini, Andre yang langsung muncul dari arah belakang di balik tembok sontak membuat ketiga pria itu terkejut setengah mati.

__ADS_1


"Apa yang saya tidak tahu?" suara yang begitu kuat penuh dengan emosi.


DEG?


Mereka terkejut dan perlahan membalikan badan mereka dan melihat ada Andre yang berpegangan di tembok, seperti cicak yang menempel.


"Apa yang kalian sedang coba sembunyikan dariku, cepat katakan" sambung Andre kembali dengan tatapan mulai menajam.


Mereka semakin takut dan khawatir, Glenn, Aoda, dan Jeffry terdiam. Seakan bibir mereka membeku dan tak bisa membuka sama sekali. Mata mereka hanya melongo dengan bibir yang bergetar, seakan tak bisa mengucapkan apapun.


"Hah! Tu..Tu.. Tuan, anda ada di sini?" ujar Aoda yang sekarang tergagap-gagap untuk membuka pembicaraan.


"Iya ini aku, lalu kamu pikir siapa? Jadi apa yang coba kalian tutupi dariku. Coba kalian katakan, apakah itu benar. Apa yang sebenarnya terjadi, coba kalian katakan dengan sejujurnya" ujar Andre yang merambat jalan mendekati ke tiga pria itu.


Mereka yang ketakutan dan panik, karena Andre seperti mendengar semua percakapan mereka. Aoda, Glenn dan Jeffry membeku di tempatnya.


"Tu...tuan mungkin anda salah dengar, karena kami tadi tidak membicarakan apapun kami hanya sedang bercanda kok. Jadi jangan di anggap sangat seriusnya, karena semua percakapan kami barusan" ujar Aoda yang menenangkan Andre.


"Jangan basa-basi aku tidak terlalu suka jadi cepat jawab aku, apa yang sebenarnya terjadi dan ada masalah apa yang tidak aku ketahui. Apa yang coba kalian sembunyikan dariku... Cepat jawab, apakah kalian tuli atas apa yang aku katakan" ujar andre yang sudah mengaskan nadanya.


"Tuan, itu anu... kami... Aaah, maafkan kami tuan. Kami tidak bisa mengatakannya, itu sangat sulit untuk kami jelaskan" ujar glenn yang membantu untuk menjelaskannya.


"Apa yang sebenarnya kalian coba sembunyikan dariku. Kenapa? apakah kalian lupa siapa tuan kalian? Apa yang sebenarnya kalian obrolkan tadi, cepat katakan." ucap Andre yang sangat penasaran.


"Apa benar begitu? Jangan coba main-main denganku, jangan bermain siasat denganku? jika kalian sudah bosan hidup, aku siap untuk mengakhiri hidup kalian dengan tanganku sendiri" ancaman Andre yang tidak main-main.


Seketika mereka langsung kaget saling menatap satu sama lain dan berlutut di depan Andre, agar segera diampuni. Walau seperti itu mulut mereka tidak mau membuka, karena melihat kondisi Andre yang baru membaik.


Karena tidak dapat informasi dari ketiga pria itu Andre langsung pergi meninggalkan mereka, seketika mereka sedikit agak lega. Walau masih sedikit was-was dalam hati mereka, semenit yang lalu Andre memang sangat menakutkan tapi mereka juga tidak tega untuk memberitahu soal hilangnya Elisa kepada tuannya saat ini, jika sampai tahu Andre pasti akan memaksa untuk pergi ikut mencari keberadaan Elisa saat ini.


Di sisi yang lain Zever yang saat ini sedang ditangani oleh Alea kondisinya dan juga belum sadarkan diri, ayahnya yaitu Keyshu sangat kebingungan dengan kondisi Zever saat ini yang belum juga stabil, dia masih belum sadarkan diri semenjak ditemukannya sepatu Elisa tiga hari yang lalu.


ALEA : Bagaimana ini paman, Kak zever belum juga sadar. Kondisinya juga semakin memburuk, karena lukanya, ini sudah terinfeksi oleh air laut dan angin.


KEYSHU : Aku juga bingung Alea, Aku akan coba menghubungi temanku yang ada di kota, bisa aja dia mau membantuku untuk menyembuhkan putraku.


ALEA : Ya sudah sekarang saja menghubunginya, jangan pakai lama karena kondisi kak Zever saat ini tidak memungkinkan untuk dia bertahan lebih lama.


ZOYA : Cepat lakukanlah sesuatu suamiku untuk selamatan putra kita, agar dia cepat sembuh dan pulih kembali.


KEYSHU : Kamu tidak usah khawatir soal itu, karena putra kita pasti akan baik-baik saja dia anak yang sangat kuat, kamu berdoa saja agar dia cepat sembuh dan segera beraktifitas kembali.

__ADS_1


Kembali kepada markas di pusat Andre yang saat ini langsung mendatangi sebuah kediaman di mana Monia dan Arafif sedang makan siang, dengan menggunakan tongkatnya Andre mempercepat langkahnya agar segera sampai ke tempat tujuan.


BRAKKK!


Pintu rumah yang di dobrak dari luar oleh Andre dengan sangat keras itu membuat orang yang berada di dalamnya terkejut, Monika sampai berdiri sambil memegangi jantungnya. Terlihat bola mata Andre yang meluap-luap, karena menahan emosi dan penasaran.


"Mama-Papa, ada yang ingin Andre tanyakan pada kalian?" ucap Andre yang langsung berjalan cepat menuju meja makan.


"Kalau kamu ingin bicara, seharusnya lebih sopan sedikit Andre, dan bisa kan pakai cara yang pelan-pelan tidak seperti ini. Apakah mamah dan papamu ini mengajarkan seperti itu, kau masuk dengan kekerasan hampir jantung mamah melompat keluar gara-gara kamu. Atau kamu ingin membunuh Mama dengan serangan jantung mendadak ya?" omelan amarah Monika terhadap putranya itu ya sudah bersikap kurang ajar terhadap orang tua ya.


Tapi ucapan Monika yang tidak kubis oleh Andre, dia langsung menatap kepada Arafif sang papah, Arafif yang saat ini masih terlihat tenang, walau tangannya sudah bergetar hebat.


Saking kesalnya pada Andre ditambah ucapannya tadi tidak dihiraukan, Monika sangat geram menarik Andre menjauh dari Arafif. "Ada apa ini Andre sampai kamu harus seperti itu, kamu sudah tidak sopan mengagetkan kami, dan tidak mendengarkan apa yang Mama katakan." Ucap Monika yang sangat geram dengan tingkah Andre yang seperti itu.


Andre yang kesalnya sudah di puncak membuat Arafif sang ayah tidak bergeming sama sekali, bahkan terdiam saja di tempatnya, walau kakinya juga sudah gemetar saat ini, Andre yang datang dengan amarah yang meluap-meluap tidak bisa dijelaskan dengan ucapannya, hanya ingin minta penjelasan dari sang ayah.


"Baiklah Andre akan menunggu sampai papa selesai makan, Andre akan duduk di sini." ucap Andre yang menarik kursi di samping ayahnya itu.


Sambil terus mau melototin ayahnya yang terdiam memaku di sana, tidak tahu harus bagaimana untuk menjelaskannya pada Andre.


"Sebenarnya ada apa nak sampai kamu harus datang dengan terburu-buru seperti itu, hati-hati kalau jalan kau bisa terluka kembali" Arafif yang berusaha semaksimal mungkin untuk tenang.


"Andre tidak akan bicara apapun atau menjawab apapun saat ini, karena yang saat ini ku inginkan adalah informasi akurat dari papah, hanya itu yang ingin Andre dengar. Makanya aku rela harus menunggu sampai papah selesai makan, jadi lanjutkan segera makannya" ucap Andre yang duduk di samping Arafif.


Kerena ketidak nyamanan Arafif saat Andre terus saja memelototinya, saat makan itu yang membuat Arafif tidak menyelesaikan makannya karena selalu ditatap sangat tajam oleh Andre. Setelah selesai makan, Andre masih bisa menunggu, Arafif menelan ludahnya pelan-pelan.


"Coba papa katakan dengan jujur, apa yang sedang terjadi saat ini. Apakah ada rahasia yang kalian sembunyikan dari Andre?" asal tebak Andre yang saat ini tidak membidikan tatapannya.


"Apa sih maksud kamu Andre tiba-tiba kamu menanyakan hal itu pada papahmu yang tidak tahu apapun" ucap Monika menyela membela Arafif sang suami, di tahan oleh Monika.


"Monika jangan ikut campur, jangan ikut bicara diamlah. Duduk saja jangan membuka mulutmu sekarang, karena anakmu saat ini sedang tertutup dengan hawa emosinya." Ucap Arafif yang memeringati istrinya.


"Papah, cepat katakan? apa yang sebenarnya pah, Andre hanya minta jawaban dari kalian, tapi kenapa kalian juga hanya diam, malah kebingungan dan malah balik bertanya padaku?" ucap Andre yang sangat kesal dibuatnya.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Senin 28 November 2022.


__ADS_2