
MANSION MEWAH...
Kediaman tempat tinggal dari seseorang pria misterius yang telah membawa Elisa ketempat seperti ini, sangat luas dan sangat indah bangunan arsitekturnya. Karena saking megah tempat ini, hingga memiliki banyak sekali pelayan dan penjaga di sekitarnya mansion.
Di kamar dimana pria itu meletakan Elisa yang sekarang, terlihat sudah sedikit demi sedikit membuka matanya. Lalu melihat sekeliling tampak berbeda, lalu dia menyadarkan dirinya. Langsung terduduk terbengong, di atas kasur yang empuk tersebut.
"Aduh- kenapa kepala ku sakit sekali yah, badanku juga semua pada sakit lagi. Hmm— ini tempat apa yah? Gila ini, tempat yang sangat serem banget sih. Apaan sih sama model kamar kayak gini, di kasih lampu tapi gak guna banget." ucap Elisa yang saat ini melihat sekeliling kamar tersebut.
Berjalan-jalan menyusuri kamar yang luas tersebut, hingga ia membuka tirai panjang yang menutupi seluruh jendela kaca kamar tersebut.
"Ini dimana sih, kok di luar masih gelap kayak gini. Aku sudah berapa lama tertidur ditempat ini, aku gak tahu keadaan dirumah seperti apa yah? Lalu, bagaimana keadaan adikku. Aku kira ini sudah pagi, hmm- Tempat ini sangat seram, aku mau pulang mas Andre. Kamu dimana, aku mau pulang." Dumalan dan rintihan sedih Elisa yang meratapi nasibnya.
"Ibu dan ayah pasti syok nih, pasti mereka juga sangat mencemaskan aku iyakan. Aku tidak suka kamar seperti ini, sangat seram dan gelap kayak gini, percuma tahu gak ada lampu. Tapi aku masih gak bisa lihat dengan jelas dan masih gelap gulita begini." Dumalan Elisa yang menyalahkan lampu kamar tersebut.
Elisa langsung keluar dari dari dalam kamar tersebut, ia sangat terkejut tempat itu ternyata lebih luas dari Pa yang dia bayangkan, mungkin lebih luas dari rumah Arafif yang di Indonesia, bahkan lebih luas dari istana Monarfi.
"Waduh! Aku ada dimana si ini, kok tempat ini kayak labirin yah? kemanapun jalan yang ku pilih selalu bertemu dengan tangga." Elisa masih mengomel kesal, karena dia dibuat pusing sama gaya rumah tersebut.
"Aku kesel banget deh! Coba aku ingat-ingat lagi... Aaah, aku baru ingat. Tadi, ada pria asing yang masuk kedalam kamarku dan aku sempat bergulat dengannya, lalu setelah itu aku tidak sadar. Tapi, pas aku bangun, malah sekarang aku ada disini. Apakah aku di jebak seseorang, atau ada seseorang yang menculikku lagi, kok agak berbeda yah. Tapi yang jadi pertanyaan ku adalah ini rumah siapa yah? Aku kok nggak ingat sama sekali sama tempat ini. Iya wajar aja lah aku gak ingat, kan aku di culik orang.Tapi, bajuku kok masih lengkap, bau asem lagi. Kayak aku gak mandi berhari-hari saja nih." Elisa yang menggerutu dan sibuk memperhatikan sekeliling tempat, dan mencium tubuhnya sesekali.
"Ini sangat aneh, jika aku diculik oleh seseorang seharusnya bajuku sudah bergantikan, terus nih yah aku di ikat kayak tawanan gitu, lah ini enak banget kayak Sang Ratu, tidur di kasur mewah. Rumah ini dekornya gak ada cantik-cantik banget sih, suasana mencekam terus... Upsss, tunggu apakah aku diculik sama boss Mafia?" Elisa syok dan heboh sendiri karena hal itu.
Hingga tak sadar jika ada seseorang yang membututi dia dari belakang. "Nona sudah bangun." Suara itu sukses membuat Jantung Elisa lompat.
"Astaghfirullah! Aduh, pak jangan ngagetin orang kayak gitu dong! Untung yah aku gak ada riwayat penyakit jantung, jangan kayak gitu lagi yah pak, nih jantung udah loncat tadi." ucap Elisa.
"Saya mohon maaf nona, karena telah mengejutkan anda." ucapnya sangat sopan.
Elisa malah jadi tambah bingung karena hal itu, ada pelayan yang begitu sopan padanya. Walaupun wajahnya terlihat agak bengis, tapi dia sangat sopan sekali pada elisa.
"Iya tidak apa-apa, aku bisa memaklumi hal itu, ngomong-ngomong ini dimana yah pak, dan rumah siapa ini?" Elisa yang ingin langsung bertanya.
"Anda ada di mansion milik Tuan Muda kami, nona." ucapnya seraya memperlihatkan kewibawaan dia sebagai pengurus rumah.
"Hah? Tuan muda? Siapa namanya pak, apakah aku mengenalinya. Karena seingatku, telah di culik seseorang, pas aku bangun malah ada disini."
"Sebaiknya anda tanyakan sendiri pada Tuan muda, saya tak dapat menjawab pertanyaan anda ini." ujarnya seraya membungkuk hormat.
"Hemm, begitu yah. Baiklah dimana dia berada? Aku akan menemuinya, katakan saja dimana."
"Beliau pasti ada di gedung selatan, sedang bekerja. Sebentar lagi Tuan akan datang, anda mau saya siapkan makan malam apa?"
"Hmm- terserah saja, tapi sebelum aku makan malam, boleh minta tolong aku sangat tidak betah, dengan tubuhku yang saat ini bau sekali. Dimana kamar mandinya, aku ingin membersihkan tubuhku ini." ujar Elisa yang mencium bau tubuhnya yang sudah bau asem.
"Baiklah saya akan tunjukan kamar mandi pribadi yang biasa Tuan muda gunakan. Silakan ikuti saya, lewat sini Nona." ucapnya seraya menujukan jalan menuju kamar mandi.
Elisa hanya mengikuti dari belakang dengan sangat patuh. Hingga masuk kedalam kamar sebelumnya, kamar dimana Elisa keluar tadi.
"Ini kamar mandinya, nanti akan ada pelayan wanita yang akan membantu anda menyiapkan pakaian ganti untuk anda gunakan."
"Okey, baiklah." ucap Elisa yang hanya mengiyakan saja.
"Baiklah saya undur diri, jika ada apa-apa bisa hubungi saya kembali." ucapnya sangatlah sopan.
Kamar mandi yang sangat mewah, dan megah tersebut sangat luas, dengan banyak sekali spot-spot bagus di dalam kamar mandi tersebut.
"Elisa kamu sebelumnya perna berbuat apa di masalalu, hingga reinkarnasi di masa ini sangat sial sekali." dumalnya.
Elisa mulai membuka baju dan masuk ke dalam bathtum, dan menyalakan keran langsung air mulai keluar. Elisa menenggelamkan tubuh polosnya kebathtum.
...----------------...
Ditempat lainnya terlihat Andre yang saat ini masih saja berusaha, untuk menemukan titik temu, tentang keberadaan Elisa masih saja belum ditemukan juga.
"Dre, istirahat dahulu." ucap Zever yang melihat Andre masih beraktivitas, tanpa memikirkan kesehatan dirinya saat ini.
__ADS_1
"Dia seperti tak akan mendengarkan siapapun saat ini, percuma saja kamu mengajaknya Zever." suara Maura yang berada di sudut ruangan.
"Maura, coba kamu ajak dia untuk istirahat. Sapa tahu, dia mau mendengarkan kamu, jika seorang wanita yang bicara mungkin saja dia menurut."
"Percuma, jika aku memberitahunya, dia juga tidak akan mau menuruti apa yang aku katakan padanya, karena aku kan bukan istrinya. Karena dia akan mendengarkan apa kata ucapan sang istri, bukan aku. Walau kita sama-sama wanita, tapi kalau Elisa yang ngomong akan beda rasa dan reaksinya." Jelas Maura tegas.
"Iya juga sih, kamu baru kenal Elisakan. Gimana dia?" tanya Zever yang ingin cari pendapat lainnya tentang Elisa.
"Gimana maksudnya." Maura yang langsung menatap Zever agak bingung.
"Orangnya, sampai Andre itu tergila-gila padanya?"
"Elisa wanita biasa-biasa saja sih, tapi dia orangnya mau belajar. Dia tipe wanita yang pantang menyerah, jika dia gagal sekali akan terus mencobanya lagi. Dia juga wanita yang punya pendirian sangat kuat, teliti dan sangat polos juga. Satu bagian terpenting dia itu imut, dan sangat lucu. Aku sangat menyukainya, karena dia orang asik aja,ndiajak join." jelas Maura.
"Aku juga sependapat denganmu." ucap Zever yang saat ini menatap Andre yang masih fokus di sana.
...----------------...
Kembali ke mansion milik seseorang, Elisa yang baru selesai mandi ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi, hingga dia dikejutkan dengan suara dari arah pintu.
Iya, itu terdengar knop pintu yang berbunyi, seperti ada seseorang yang akan membuka gagang pintu tersebut. Elisa seketika panik, karena dia saat ini sedang tidak pakai baju, hanya pakai kain piyama handuk.
Click, pintu itupun terbuka...
Elisa syok, lalu reflek langsung lompat kedalam selimut di kasur. Saat terlihat seorang wanita yang masuk kedalam, Elisa agak lega. Ia mulai keluar kembali, lalu berjalan mendekatinya.
"Ouh, syukurlah seorang wanita. Aku pikir cowok aneh yang mesumm, ternyata seorang pelayan wanita." Dumal Elisa yang langsung menatap lega.
"Nona, saya bawakan baju ganti untuk anda, apakah anda sudah selesai mandi? Maaf saya terlambat untuk datang, jadi tidak membantu anda untuk membersihkan diri."
"Ouh tidak apa-apa kok, lagian aku juga akan tidak nyaman, jika ada orang lain dikamar mandi. Apa lagi harus membantu saya untuk mandi, aku juga masih sehat dan masih bisa mandi sendiri." perjelas Elisa.
"Izinkan saya untuk membantu anda berdandan, bolehkan nona?" pelayan itu meminta izin pada Elisa.
"Iya silakan saja," Elisa tidak menolaknya.
"Ouh begitulah, iya aku juga datang secara dadakan kesini, ouhnya ini hati apa yah?" ucap Elisa yang tidak tanya hari.
"Ini hari Minggu nona." ucap sang pelayan.
Elisa syok karena ucapan itu, ternyata dia sudah tidak bangun selama 3 hari lamanya semenjak kejadian itu.
"Hah, yang bener saja, apakah aku tidur selama itu." ucap Elisa yang seketika syok berat.
"Iya perjalan anda dari negara tempat anda tinggal saja cukup memakan waktu banyak nona, apa lagi anda juga sudah sangat kekalahan jadi baru bangun sekarang." perjelas.
"Hem ini dimana sih, aku ada di negara mana?" Elisa masih bertanya-tanya.
Seketika si pelayan itu terdiam, tak mau menjawab pertanyaan dari Elisa. Itu membuatnya semakin bingung, karena tak ada satupun yang memberitahu keberadaan dirinya saat ini.
Ini aneh kenapa dia seketika diam saat aku bertanya tentang ini dimana? apakah ada rahasia yang tidak bisa dia katakan? Aku harus cari tahu sendiri soal ini. Dalam hati Elisa.
"Kenapa kamu diam, apakah kamu juga tidak tahu ini dimana yah?" asal tebak Elisa dengan gurauan.
"Maaf nona, saya tidak bisa bilang soal itu. Tuan pasti akan marah, jika saya membeberkan informasi ini." ucapnya seperti ketakutan.
Pelayan itu membantu Elisa untuk segera memakai baju, karena gaunnya sedikit agak ribet di pakai, Elisa sangat kesulitan jika tidak di bantu pelayan wanita tersebut.
Elisa juga di dandani sangat cantik sekali, itu membuat dirinya saja tak mengenali wajahnya.
"Wah, apakah ini aku?" ucap Elisa yang sangat kaget dengan hasil akhirnya.
"Tentu saja ini adalah nona, anda sangat cantik." ucap sang asisten make up yang membantu berhias.
"Ah, bisa aja nih. Tapi terimakasih atas pujiannya, aku jadi agak malu." ucap Elisa yang tersipu malu.
__ADS_1
"Nona, jika anda sudah selesai berdandan mari ikut saya. Karena Tuan memanggil anda untuk menemuinya, silakan lewat sini." ucap sopan pengurus rumah.
"Hah, bukannya seharusnya dia jemput aku yah, kok malah aku yang harus menemui dia. Aku gak mau pergi, enak aja. Aku di bawa kesini dengan tidak terhormat sekali, sekarang aku malah harus pergi menemui dia. Aku gak butuh tuh, untuk apa aku mencari dia." ucap Elisa yang melipat tangannya dengan angkuh.
"Hah? Tapi nona, Tuan pasti sudah menunggu anda di ruang makan." ucap pengurus rumah yang bingung harus bagaimana.
"Yaudah kamu tinggal bilang aja sama dia, kalau aku gak mau turun kalau bukan dia yang jemput aku." ucap Elisa agak sinis.
"Ah, baiklah saya akan mengatakan ini pada Tuan." ucapnya seraya pergi meninggalkan kamar tersebut.
Elisa yang berada di kaca jendela sedang melihat pemandangan di luar jendela, di langit malam yang sangat gelap tapi ada Aurora yang sangat cantik, membuat dia terpesona dibuatnya.
MasyaAllah, cantik banget ciptaan mu ini Ya Tuhan. Aurora ini sangat indah, aku baru pertama kali melihat secara langsung seperti ini, hmm tapi aku berada di daerah apa sih ini. Dalam hati Elisa yang terus saja bertanya-tanya.
Karena mengangumi keindahan malam itu, Elisa hingga tidak menyadari jika ada seorang pria yang masuk kedalam kamar. Suara langkah kaki yang tak terdengar sama sekali, membuat Elisa kaget saat melihat bayangan pantulan di kaca.
"Astaghfirullah! Fando?" Elisa yang syok karena melihat bayangan tersebut.
"Hai cantik, kamu sungguh cantik Elisa." ucapnya seraya mengecup lekuk leher bagian belakang Elisa.
Refleks tubuh Elisa menghindari itu, dan langsung berbaik badan melihat langsung pria yang ada di depannya. Wajah Elisa syok dan kaget, bercampur jadi satu, Fando hanya menunjukan senyuman di wajahnya.
"Maaf, kamu pasti kaget yah! Tadi, aku melihatmu masih tidur, jadi aku meninggalkan kamu sendirian, setelah aku kembali aku dengar kamu sudah bangun, Elisa." Ucap fando yang mendekati Elisa, sambil memainkan beberapa anakkan rambut Elisa.
"Fando, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Elisa yang langsung tersadar kembali dari lamunannya.
"Hmm- coba kamu tebak sendiri, apa yang bisa kamu ketahui tentang semuanya." Ujar fando menyudutkan Elisa ke jendela kaca.
"Hah, kok malah balik nanya bukannya di jawab, kamu ini aneh deh!" ucap Elisa yang berusaha semaksimal mungkin bisa tenang.
"Karena ada kamu disini. Makanya ada aku disini." ujar Fando yang langsung memajukan wajah sangat dekat.
"Hah? Apa maksudnya, aku sama sekali tak mengerti." Elisa yang mengerutkan kedua alisnya.
"Sini duduk dulu, biar enak kita ngobrol yah. Biar aku jelaskan, sambil duduk." ucap fando yang menarik tangan Elisa agar mau duduk di sofa single.
Fando yang berjungkuk di hadapan Elisa yang saat ini duduk di sofa, menghadap ke ranjang itu. Menggenggam kedua tangan Elisa dengan sangat erat, menghela nafas panjangnya.
"Aku mau minta maaf padamu, karena aku harus melakukan hal seperti ini." ucap fando yang menatap Elisa.
"Kenapa kamu tidak sopan begini padaku, walau kita seumuran tapi gak seharusnya kamu melakukan hal konyol dan kekanak-kanakan Fando." ucap Elisa yang melepas tangannya.
"Iya aku tahu, ini salah. Makanya aku mau minta maaf langsung padamu, aku mohon maafkan aku Elisa." ucap fando sambil mengecup kedua tangan Elisa.
"Kenapa kamu bawa aku kesini, sebenarnya ini tempat apa?" Elisa yang masih ingin mencari tahu.
"Tempat ini adalah rumahku, sudah aku katakan bukan."
"Dimana ini?" Elisa masih ingin mengetahui dirinya ada dimana.
"Jauh dari tempat sebelumnya, aku juga tidak tahu ini dimana. Tapi, yang pasti ini adalah tempat tinggal baru untuk kita berdua."
"Gak bisa begitu, kamu malah memutuskan secara sepihak. Kenapa tak tanya dulu padaku, kenapa kamu malah menyimpulkan sendiri bahwa tempat ini untuk kita berdua. Seharusnya kamu tanya dulu pendapatku bagiamana? Fando."
"Aku pikir kamu akan sangat menyukainya Elisa, ini tempat yang sangat indah bukan."
"Kamu salah menilai aku jika seperti itu. Kamu jangan samakan aku dengan wanita lainnya, yang akan suka dan senang saat kamu bawa dia ke tempat indah dan mewah seperti ini."
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
__ADS_1
Selasa 7 Maret 2023