
Andre yang sedang duduk diantara dua wanita beda usia tersebut, sangat asik mengobrol. Siti yang bangkit dari sofa karena ingin belanja ke warung tetangganya.
"Jadi bener nih, gak mau dimasakin apa-apa sama ibu, emang nak Andre suka ya apa? katakan saja sama ibu. Nanti ibu masakin, katanya nak Andre orangnya pilih-pilih makanan, masa ibu masaknya sesuka hati ibu saja. Ibu mau masakan yah harus dimakan bersama keluarga, bukan hanya ibu sendiri saja." ucap Siti yang menanyakan pada menantunya.
"Bu, kalau masak itu sesuai selera ibu dan masak ya harus sesuka hati ibu. Masa harus sesuai keinginan orang lain, dan kebutuhan orang. Lagian masak itu butuh ketrampilan, kalau Andre nanti minta ke ibu tolong bikinin pasta atau Sushi gimana? apakah ibu bisa?" ucap Andre yang bercanda dengan ibunya.
"Waduh! Itu makanan apa nak, kok ibu baru tahu. Makanan orang sana ya?" ucap Siti yang langsung kebingungan dengan hal itu.
"Nah kan, ibu bingung sendiri jadinya. Makanya ibu itu harus masak sesuai keinginan sendiri, lagian Andre akan makan dirumah ibu. Kecuali, Andre makan direstoran, nah baru Andre akan minta dimasakin sama chef, sesuai pesanan di daftar menu." penjelasan ringkas Andre.
"Udah bu kalau berdebat sama mas Andre pasti gak akan ada habisnya, mendingan ibu cepat pergi gih. Nanti keburu warung Mpok Leha tutup loh, Mas Andre suka sayuran bu. Udah masakin aja sayur asem kek! Atau sejenisnya, dia orangnya gak terlalu suka makan daging. Dia juga gak terlalu suka makanan laut, pokonya dia suka sayuran dan kacang-kacangan kayak tempe. Dia orang gak ribet kalau soal makanan, tapi emang suka pilih-pilih gitu." Sambung Elisa.
"Walah, sama kayak mertuanya. Si ayah juga suka banget sama sayuran, tapi gak terlalu suka sama daging dan ikan air tawar, yaudah ibu bikin sayur SOP sama telur ceplok dan tempe goreng, terus sambel terasi enak kayak teh, gimana nak Andre apakah suka." ucap Siti yang meminta pendapat menantunya.
"Walah itumah suka banget aku bu, apa lagi di masakin sama ibu. Hmmm... Itu rasanya akan semakin lezat sekali dan pasti akan sangat enak banget. Terimakasih ya bu, maafin Andre masih ngerepotin ibu dan ayah, harusnya kan Andre diurusin sama bini sendiri, tapi ya bagaimana lagi. Biniku lagi nggk bisa masakin Andre, hmm-cepet sembuh dong sayang!" ucap Andre yang menatap Elisa.
"Eleleh, merayumu bisa saja kamu mas. Udah bu cepat pergi ke warung, jangan ladenin mas Andre. Kalau kumat emang suka gini, obat kamu habis mas?" ledek Elisa pada suaminya.
Siti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena perdebatan keduanya itu. "Nggak apa-apa teh, lagian ibu senang kok masak buat kalian berdua. Lagian kalian berdua kan anak-anak ibu juga, apa lagi kalian gak terlalu sering datang, sekali-kali gak apa-apa ibu masakin. Ibu masih di kasih sehat dan masih kuat buat kalian, semoga ibu masih bisa diberikan kesehatan dan kesembuhan sampai ketemu sama cucu ibu." ucap Siti yang membuat Andre terdiam sejenak.
Mertua jarang untuk mengatakan hal itu, tapi saat mendengar kata itu Andre seperti tersengat listrik. Lagi-lagi ada yang mengukit soal anak, Andre jadi berfikir apakah harus ada anak biar hidupnya damai.
"Apaan yang sekali-kali, orang kita sering banget kok ngerepotin ibu dan ayah. Padahal seharusnya Andre yang jagain Elisa, ini malah harus melimpah pada ibu dan ayah." ucap Andre yang merasa bersalah, menyamping segala perasannya itu.
"Elisa'kan anaknya ibu, terus kalau bukan ibu sama ayah yang jagain. Terus mau siapa lagi, apa lagi kalau suaminya nggak ada disampingnya, Elisa masih jadi tanggung jawab ibu, kalau orang tuanya masih hidup." ucap Siti.
"Bu, Andre terima kasih banget sama ibu. Sudah mau jadi ibu bagi Andre, dan terimakasih banget sudah melahirkan seorang putri seperti Elisa buat Andre, tapi putramu ini masih saja membuatmu menderita belum bisa bahagia ibu sama ayah. Andre juga belum bisa memastikan menjadi putra ibu yang terbaik, tapi Andre akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa menjadi putra ibu dan ayah." Ucap Andre yang memegangi tangan ibunya.
Siti sampai menitikkan air matanya karena ucapan Andre tersebut, Elisa juga sudah berkaca-kaca karena ucapan lembut Andre tersebut menyentuh hati mereka. Elisa sadar jika ucapan Andre tadi, untuk mewakili perasaan dia yang menolak tak ingin punya anak, tapi diharuskan mempertimbangkan soal itu, makanya Andre sekarang harus memikirkan soal itu kembali.
"Iya sama-sama, kamu ini bikin ibu mewek bisa aja nak andre. Hik... Kamu ini anak yang sangat baik, bahkan ibu sudah bahagia kok. Sekarang, berkat Nak andre keluarga kami jadi lengkap. Nak Andre, sudah banyak jasa sama keluarga ibu, dan ayah. Kok masih ngomong gitu nak, ibu sama ayah yang harusnya berterima kasih sama nak Andre. Aaah... ibu jadi nangis nih, udah ah! Jangan diajakin ngobrol terus, nanti ibu nggak jalan-jalan nih ke warungnya mpok leha, keburu habis nanti sayurannya." ucap Siti yang langsung menghapus air matanya segera pergi dari tempat.
"Ya udah Ibu hati-hati yah di jalannya, mau Andre antar nggak naik mobil, iya biar cepet nyampe gitu" ucap Andre yang menawarkan dirinya.
"Aalah, cuman beberapa langkah doang dari rumah sampai pakai mobil, terus kalau pakai mobil mau pakir di mana? kamu ini ada-ada aja si nak Andre," ucap Siti yang tersenyum karena candaan Andre tersebut.
"Ya kirain gitu, ibu mau dianterin Andre pakai mobil, nanti Andre tinggal ambil kunci, terus langsung Andre antar sampai tujuan dengan selamat, kirain mau jalan-jalan dulu memutar gitu buat agak jauhan dikit" ucap Andre.
"Gimana sih kamu nak, semua orang pengennya jalan yang jauh di deketin ini yang sudah dekat malah mau di jauhkan, nanti keburu tutup atuh nak warung ya! Wis toh, Ojo selebay seperti itu, ibu berangkat sekarang. Assalamualaikum" ucap Siti yang langsung bergegas menuju warung Mpok Leha.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." ucap Andre dan Elisa.
"Hati-hati ya bu," ucap Andre yang agak sedikit berteriak.
"Udah jauh ibunya juga, ngapain juga sampai teriak-teriak begitu sih." ucap Elisa yang menegur suaminya.
"Ibu masih di halaman tuh, yaudah mas mau mandi dulu ya. Kamar mandi di kamar sudah di beresin belum sama ayah?" ucap Andre.
"Kok sama ayah sih, kan ayah bukan tukang beresin air." ucap Elisa yang melihat suaminya heran.
"Iya maksudnya, udah di beresin belum sama tukang ledeng atau tukang suka beresin saluran air dan semacamnya itulah." ucap Andre yang bicara seadanya.
__ADS_1
"Iya udah. Seminggu yang lalu, udah di beresin sama orang. Udah sana mandi, kamu bau asem tahu." ucap Elisa yang meledek suaminya.
"Asem-asem kayak gini juga kamu nempel terus tuh, kayak gak mau lepas dari aku" ucap Andre yang mulai mencandai istrinya itu.
"Hmmm- apa sih, itu karena aku tuh kangen sama kamu makanya gak mau ku lepaskan pelukanku." alasan Elisa.
"Iya deh iya, yaudah mas mandi dulu ya. Jangan ngintip, nanti matanya bintitan loh" ancaman Andre pada Elisa.
"Hey, malah nyumpahin orang lagi, mau emang bininya kayak gitu. Nanti siapa lagi yang dibuat repot, kamu mau emang?" ucap Elisa yang tak mau kalah juga.
"Eeeh gak jadi lah, nanti aku juga yang repot" ucap Andre seraya masuk kamar.
"Cih, dasar orang itu bikin naik darah aja kalau ada. Tapi kalau gak ada bikin kangen, sumpah ini gimana sih buka tas ranselnya" ucap Elisa yang kebinggungan membuka resleting tas milik Andre.
Beberapa menit kemudian Andre yang sudah rapi dengan pakaiannya, duduk lagi di sofa melihat istrinya sedang merapikan barang bawaan milik Andre yang ada di ransel.
"Kamu bawa apasih ini, kok kayak gini" ucap Elisa yang melihat beberapa seperti kerajinan tangan lainnya.
"Itu seni sayang, dari warga desa ngasih itu buat kenang-kenangan. Nggak enak kalau aku tidak menerima dan ku tinggalkan di sana, nanti di anggap gak bisa menghargai karya seni mereka. Itu kreasi dari warga kampung, ini dari anak-anak yang ada di sana. Lucu kan!" ucap Andre yang memperlihatkan semua yang dia bawa.
"Iya kreatif semua ya, yaudah bikin tempat karya seni aja mas. Kayak pameran gitu, kayak asik bisa bantu warga di sana." ucap Elisa spontan membuat Andre kepikiran sama dokumen yang dia baca kiriman dari Gulftaf.
"Eh, kok aku gak kepikiran soal itu yah. Kadang kamu memberi aku ide yang cukup ideal sayang, terimakasih ya." ucap Andre kegirangan sambil mengecup bibir Elisa.
Membuat Elisa kaget dan kebingungan dengan sikap Andre yang diluar pikiran, reaksinya terlalu berlebihan.
"Apa sih mas, kok kamu kayak senang gitu. Emang ada apa? aku cuman bicarakan ini sama kamu, itu cuman ide aku aja buat bercanda sama kamu." ucap Elisa.
"Tapi, itu membuat aku semakin mewujudkannya, aku dapat laporan dari Gulftaf jika ANDRILOS, membutuhkan sesuatu kreasi usulan untuk sebuah taman diskusi yang lebih harmonis tapi terlihat santai aku kebingungan dengan hal itu. Makanya, aku langsung senang pas kamu ngomong itu."
"Zever dan Xeverio, aku kabur dulu. Pusing mikirin itu, habis kak Sean dan kak Zacky gak mau bantuin aku, buat ngurusin ANDRILOS." ucap Andre yang agak frustasi.
"Nama juga mereka punya pekerjaan masing-masing mas, kak Sean punya bisnis ya sendiri, dan kak Zacky kan juga sibuk. Kamu tahu dia orang paling sibuk, sama kayak kamu" ucap Elisa.
"Iya sih. Sayang, boleh gak! Aku minta sesuatu sama kamu?" tanya Andre.
"Minta apa?" Elisa mengerut dahinya, karena sangat penasaran dengan apa yang di minta oleh sang suami.
"Kita ke kamar yuk! mumpung ibu sama ayah gak ada!" ucap Andre yang agak genit pada Elisa yang saat ini pikiran nakalnya mulai liar.
"Emang minta apa sih, kok sampai ke kamar segala?" ucap Elisa yang sudah merona jika di ajak Andre ke kamar.
"Ada yang aku mau omongin sama kamu, sekalian mau urut kamu, yuk!" Andre mengedipkan sebelah matanya.
"Iya udah ayo, ini kursi gimana!" ucap Elisa yang gak mungkin dia masuk pakai kursi roda.
"Sebentar, mas bantu kamu bangun dulu. Gak usahlah bawa kursi lagi, kita tinggalkan saja disini" ucap Andre yang mengendong Elisa.
"Yaudah terserah kamu aja deh mas, kalau kamu kuat gendong aku mah" ucap Elisa yang sudah ada di pelukannya.
"Kuatlah, lagian beratan mana kamu sama bebannya dosa hidup aku yang tidak keliatan ini" ucap Andre yang membawa Elisa masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Hahaha, bisa aja jawabnya. Kok aku deg degan yah, kita mau ngapain si mas? mau servis ya?" ucap Elisa yang langsung membuat Andre menyipit matanya.
"Emang kamu mau sekalian gitu?" ucap Andre yang menyipit matanya mendengar hal itu.
"Lah, Terus kamu niatnya ngajakin Elisa ke kamar buat apa? bukan mau serius melakukan servis kah. Hmmm, atau hanya Elisa saja yang pengen." ucap Elisa yang sudah berharap.
"Hahaha, bentar deh! Mas keluar dulu ada yang lupa mas bawa masuk." ucap Andre yang keluar kamar lagi sambil menutup pintu depan. Mengambil minyak zaitun yang ia tinggalkan di meja.
"Ngambil apa si mas, pintu ya gak sekalian dikunci? Gimana kalau ibu pulang, terus buka pintu kamar kita pas kita lagi enak-enakan." ucap Elisa yang khawatir akan ketahuan sama ibu.
"Gak akan, ibu pasti tahulah kita lagi ngapain? kalau mau masuk ya tinggal masuk saja kenapa kamu ambil pusing." ucap Andre
"Malu mas, masa iya kita melakukan hal otu kepergok sama ibu. Aku gak mau lah ditonton sama ini ku sendiri." ucap pikiran liar Elisa yang traveling.
"Malu kenapa? lagian itukan ibu kamu. Terus kepergok gimana maksudnya, kamu bayangin apa sih!"
"Kok bisa ada sih cowo yang kayak kamu mas, nyebelin tapi kok ngangenin kayak gini" Dumal Elisa yang kesel.
"Jadi kamu ceritakan kangen sama aku, tapi kesel lihatnya begitu?" ucap Andre memperjelas.
"Iyalah, kangen banget sama kamu mas," ucap Elisa, sambil senyum-senyum sendiri.
Andre terdiam sejenak melihat Elisa, lalu ada handuk dibelakang Elisa, Andre mendekati Elisa. Hingga membuat Elisa sudah Ge-er, jika suaminya akan menciuminya, tapi bukan itu yang akan di lakukan Andre malah mengambil handuk di samping Elisa.
"Kamu kenapa? kok mulut kamu di monyong-monyongin gitu, terus kenapa mata merem-merem begitu" Ucap Andre yang kebingungan sama tingkah Elisa.
Andre meletakkan handuk dipangkal paha Elisa, seraya menatap wajah Elisa yang terlihat aneh. "Hah! ku pikir kamu mau..." ucapan Elisa yang tak ia lanjutkan.
"Mau apa? orang aku mau ngambil handuk, kan ada di belakang kamu" ucap Andre.
"Iiih— Mas Andre! Nyebelin banget sih, orang Istrinya udah pede gini malah dibikin salfok sendiri." ucap Elisa yang melempari Andre dengan bantal.
"Hah, emang ya tadi kamu mau apa?" ucap Andre yang sudah mengoleskan minyak zaitun.
"Katanya kamu mau minta jatah servis, kok malah pakai baju, Elisa juga udah lama loh gak di kasih jatah, terakhir kan hanya malam pertama kita saja itu, Elisa udah gak haid lagi" ucap Elisa yang to the poin.
Andre tersenyum tipis, geli dengan sikap manja Elisa yang bikin Andre mendekati ranjang dan menciumi seluruh wajah Elisa.
"Apa-apa sih, kenapa malah cium-cium gini aku gak suka!" ucap Elisa yang mulai bete.
"Maaf ya sayang, aku gak peka. Maaf udah buat kamu salah faham, tapi jangan sekarang yah. Kamu lagi kayak gini sayang, aku gak bisa maksain kamu untuk memenuhi kebutuhan itu."
"Tapi, mas. Elisa yang mau—" ucap Elisa yang terhenti karena satu jari Andre.
"Tapi mas gak bisa sayang, mas gak tega lihat kamu sakitnya dobel. Jadi lain kali saja kalau kamu sehat lagi sayang."
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Rabu 28 Desember 2022