
Elisa yang tidak tahu lagi harus minta bantuan pada siapa lagi karena tak ada yang bisa dia minta tolong, hingga seorang pelayan yang datang mendekati yah sedang sibuk merapikan barang-barang tuannya di kamar. Sekalian menyiapkan makan untuk Elisa, melihat Elisa yang saat ini baru terbangun.
"Sebaiknya anda makan dulu, baru kita bicara lagi. Maaf aku harus segera pergi dari sini, aku tak bisa berlama-lama dikamar anda. Saya permisi,"
"Aah- ku mohon tunggu... Aku sungguh-sungguh meminta bantuan darimu, kamu maukan membantu ku. Aku pasti akan sangat berterimakasih padamu, jika kamu mau membantuku. Aku juga akan memberikan kebebasan untukmu, sungguh aku tidak akan melupakan kamu." ucap Elisa yang sungguh sangat memohon pada si pelayan itu.
Si pelayan itu juga merasa kasihan terhadap Elisa, tapi dia juga gak bisa berbuat banyak untuk membantu Elisa, dia juga tak tahu harus bagaimana untuk menolong Elisa.
"Nona, saya minta maaf. Saya tak bisa membantu anda, saya permisi." ucapnya seraya pergi begitu saja.
Elisa sangat kecewa saat ini karena tak ada yang mau membantunya dengan baik, lalu dia berdoa pada Tuhan, agar diberikan keajaiban agar dia bisa selamat dan melalui semua cobaan yang di alami yah saya ini.
Elisa menangis dalam diamnya karena tak bisa bertemu dengan sang suami dan keluarga yah, dia hanya bisa terdiam di tempatnya, sambil terus membaca doa-doa pendek dengan berdzikir.
...----------------...
Ditempat lainnya Ibu, dan ayah Elisa yang masih saja sangat cemas, akan keadaan sang anak yang belum juga ada kabar, tentang keberadaannya membuat mereka sangat khawatir.
"Gimana zril, belum juga kamu mendapatkan kabar soal teteh kamu. Kok, agak lama yah. Ini sudah hampir seminggu, apakah teteh kamu sudah..." ucapan Siti yang terhenti tidak bisa ia lanjutkan.
"Bu, jangan ngomong sembarangan gitu ah! Doain anak yang baik-baik, jangan asal gitu, pamali." tegur Yusman.
"Yang dikatakan Ayah itu ada benarnya Bu, Teteh pasti ditemukan kok." ucap Azril yang menenangkan hati ibunya.
"Amin semoga kita bisa ditemukan ya dek, di manapun keberadaannya, semoga dia selalu diberikan sehatan, dan semoga selalu dalam lindungan Allah." doa sang ayah untuk putrinya.
"Amin Yarobalalamin yah." ucap semua serempak.
...----------------...
Berada di perkemahan Andre saat ini menemukan tanda-tanda keberadaan Elisa, bergegas ia langsung menggunakan pasukannya untuk melacak keberadaan pulau terpencil, dan tidak jauh dari pulau berbahaya yang berada di perbatasan tersebut.
"Jalur itu jarang dilalui oleh banyak orang, jadi mana mungkin akan ada manusia yang akan tinggal di sana?" ucap Zever yang hanya mengira-ngira saja.
Tapi, Andre begitu yakin jika istri ada disana, ia hanya bisa terdiam sambil menatap serius kearah tujuannya, sambil mengunakan teropong jarak jauh. "Aku akan menceknya sendiri kesana." ucap Andre yang langsung berjalan menuju helikopter.
"Woy, Dre tunggu sebentar." ucap Zever yang saat ini langsung berlari mengikuti Andre.
"Walau tidak mungkin bagi orang lain, tapi akan mungkin bagiku, karena ini adalah satu jawaban yang membuat kita harus mencarinya ke sana." ucap Andre yang sangat percaya diri.
"Kenapa kamu begitu sangat yakin kalau Elisa berada di sana?" ucap Zever yang tidak tahu kekuatan cinta sesungguhnya.
"Itu hanya firasatku saja, tapi rasaku ini tidak pernah salah selama ini, aku hanya mengikuti kata hatiku saja." ucap Andre yang sangat jujur.
"Bisa saja intuisi dan firasatmu itu salah Andre, tapi cobalah aku akan ikuti apa yang kamu katakan ini." ucap Zever yang merasa aneh dengan sikap serius Andre saat ini.
"Kita belum mencobanya, kenapa kamu sudah menyerahkan lebih dulu, kalau kamu gak bisa tidak apa-apa tidak usah membantuku, kamu kembali saja ke markas aku bisa mencarinya sendiri." ucap Andre yang sudah Pundung.
"Eh jangan marahlah, aku hanya... Tapi, yasudahlah aku akan ikuti apa yang kamu katakan, aku akan pergi bersamamu ayo!" ucap Zever yang menerbangkan helikopternya.
Akhirnya beberapa orang digerakkan untuk menuju lokasi yang dikatakan oleh Andre, saking penasarannya dia sendiri yang turun tangan untuk mengecek lokasi area lingkungan di sekitar. Andre mulai curiga karena ada sebuah bangunan megah yang terlihat dari atas ketinggian, pulau yang dikatakan oleh Zever sangat berbahaya itu ternyata ada beberapa kehidupan di sana, karena Andre bisa melihat sebuah pengangkut barang yang berada di suatu tempat, sedang memotong hasil kebun dan ladang.
__ADS_1
"Wah sekarang aku boleh mempercayaimu, bahwa kamu benar-benar seorang Dewa, bahkan kamu bisa memprediksi hal ini dengan baik." mengatakan jika Andre punya insting yang sangat kuat.
"Sekarang aku mulai yakin kalau Elisa berada di sini, tapi kita harus cari tahu ini tepat apa karena ada bangunan di tempat yang sangat berbahaya seperti ini." ucap Andre yang saat ini sangat penasaran.
"Lalu apa kita harus menyerang sekarang?" tanya Zever yang bersiap dengan tembakannya.
"Jangan sekarang karena kita belum tahu itu tempat musuh atau kawan. Setidaknya kita amati dulu tempat ini? tunggu sampai ada tanda-tanda mencurigakan lainnya." ucap Andre.
"Baiklah jika itu adalah permintaanmu, aku akan siapkan beberapa pasukan untuk mengawasi tempat ini, jadi sekarang kita kembali?" tanya Zever.
"Iya untuk sekarang kita kembali saja dulu, setelah ada cela, baru kita kembali untuk menyerang jika itu adalah markas musuh." ucap Andre.
"Baiklah kita harus segara kembali," ucap Zever yang menarik setirnya untuk kembali.
"Ingat jangan sampai ketahuan, kalau sampai ketahuan, kita bisa tamat. Kita kan tidak tahu tempat ini milik siapa, apakah milik musuh atau milik kawan yang tidak bisa kita prediksi sama sekali. Kita juga susun rencana lainnya untuk jika ada terjadi masalah yang sangat serius, kita harus segera diskusi dengan yang lainnya." ucap Andre yang sangat.
"Baiklah jenderal!" ucap Zever yang hanya bisa menuruti apa yang di katakan oleh Andre.
...----------------...
Di dalam mansion mewah, terlihat Elisa yang masih melamun, ia hanya bisa terduduk di atas ranjang, karena bingung mau melakukan apa lagi. Ditambah kakinya saat ini tidak bisa ia rasakan, karena terbalut dengan perban, dia juga bingung harus bagaimana sekarang, tidak tahu lagi untuk melakukan apa.
Tiba-tiba sebuah pintu terbuka, dan terlihatlah beberapa pelayan masuk ke dalam kamar tersebut, memperlihatkan mereka membawa beberapa pakaian, dan gaun hingga, sepatu dan aksesoris lainnya.
"Ada apa ini, kenapa kalian berbondong-bondong masuk ke sini." tanya Elisa yang sangat penasaran.
"Tuan menyuruh kami untuk mendandani anda, jadi kami sengaja datang kemari." ucap salah satu pelayan.
"Untuk apa aku didandani. Aku bukan boneka?" protes keras Elisa.
"Aku tidak lapar. Silakan kalian pergi saja dari sini, aku tidak akan sudi makan dengan pria seperti itu." ucap Elisa yang sangat kesal.
"Maaf Nona jika kami tidak sopan, dan bertindak kasar. Tapi, ini adalah printah dari Tuan, kami harus mematuhinya." ucapnya lagi.
Mereka langsung menggendong Elisa, agar bisa masuk ke bak mandi, Elisa dimandikan bagaikan seorang putri kerajaan, setelah selesai mandi ia langsung dihias, dan didandani sedemikian rupa hingga pada akhirnya dia dijemput oleh pengurus rumah untuk segera turun ke bawah.
Sesampainya di bawah Fando juga sudah bersiap, dengan setelan jas lengkap, ada beberapa orang juga yang sudah berdiri di sana, untuk menyambut kedatangan Elisa.
Karena banyaknya orang yang berada di tempat itu, Elisa sedikit agak bingung karena melihat situasinya tidak seperti ingin makan siang, melainkan seperti perayaan besar-besaran tapi hanya dihadiri oleh pelayan, bodyguard, dan semua antek-antek milik Fando.
"Apa-apaan ini Fando?" tanya Elisa yang spontan.
"Kamu bisa melihatnya sendiri kan, tapi duduklah dulu Ratuku!" ucapnya masih agak lembut untuk mengatakannya.
"Aku malah tidak mengerti apa yang sedang kamu rencanakan saat ini?" ucap Elisa yang agak kesal saat ini.
"Elisa ini adalah hari di mana. Kita seharusnya bahagia, jangan marah-marah terus lah sayang."
"Apa maksudmu aku tidak mengerti, memangnya hari ini adalah hari apa? Hingga aku harus bahagia!" ucap Elisa yang sangat marah.
"Elisa aku mengumumkan pada semua orang, bahwa kamu adalah nyonya di rumah ini."
__ADS_1
"Wah luar biasa kamu ini Fando, sangat fanatik tahu gak! Tapi mohon maaf, aku tidak tertarik menjadi Nyonya untuk rumah ini, aku ingin pulang ke rumahku yang sebenarnya. Dimana keluarga ku tinggal, cepat anyar aku pulang." ucap Elisa yang ngotot minta di antar pulang.
"Ini rumahmu sekarang, dan aku adalah satu-satunya keluargamu." ucap fando yang memaksa keinginan yah.
"Siapa yang bilang kalau ini rumahku, aku juga tidak sudih menganggap mu sebagai keluarga ku, aku akan pergi dari sini jika kamu tidak membawaku pulang kerumah." ucap Elisa yang sangat kesal.
"Aku yang bilang kalau ini adalah rumahmu, jadi rumahku ada rumahmu juga. Silakan jika kamu bisa pergi dari sini, karena semua itu akan mustahil kamu bisa keluar hidup-hidup dari sini." ucap Fando yang mengancam.
"Aku tidak mau tinggal satu rumah dengan orang seperti mu, pokoknya aku tak bisa betah."
"Kenapa kamu begitu berbeda sekarang ini Elisa, kamu jadi emosional."
"Apa kamu baru sadar aku berbeda, karena kamu yang sudah mulai berbeda Fando, sebenarnya siapa dirimu. Hingga kamu terlihat sangat berbeda hah! Apakah ini wujud aslimu?" tanya Elisa.
"Iyah! Inilah diriku yang sebenarnya Elisa, tapi jika kamu menyukai aku yang dulu, maka aku bisa melakukannya untukmu."
"Itu semua tidaklah perlu, aku sudah tahu semua topengmu itu. Jadi untuk apa kamu berpura-pura menjadi dirimu yang lama, sedangkan dirimu yang asli seperti ini." ucap Elisa yang marah sekali.
Fando sangat marah dengan apa yang diucapkan oleh Elisa, tanpa harus babibu lagi. Fando menarik Elisa hingga dia duduk di sampingnya, langsung pelayan menuangkan air, dan makanan hidangan itu tersaji, dengan indah di atas meja. Tapi, Elisa lagi-lagi terus saja menolak untuk makan bersama dengan Fando. Itu membuat fando agak marah pada Elisa, dan membuatnya harus menujukan taring yah.
"Aku sudah mengatakannya, aku sudah kehilangan kesabaran ku Elisa, jadi ini kesempatan terakhir mu. Dengar kan aku, besok aku akan membawamu ke suatu tempat, jadi mau tidak mau kamu harus ikuti aku, dan menurut jika tidak maka aku akan membunuh seluruh orang-orang yang kamu sayang itu, ibu dan ayahmu bahkan adik kesayanganmu itu." dengan penekanan.
Mendengar hal itu Elisa sangat kaget, dia terdiam lalu menyakinkan bahwa keluarganya akan baik-baik saja. Tak akan terjadi apapun, karena pasukan Andre pasti akan melindungi keluarganya.
"Silakan saja kalau kau berani melakukannya. Fando, aku tidak takut dengan ancaman murahanmu itu."ujar Elisa yang sangat kuat aurahanya.
Fando jadi terkejut dengan aura yang keluar dari Elisa saat ini, menunjukkan bahwa Elisa seperti bukan wanita biasa saja.
"Baiklah. Sepertinya kamu belum pernah menerima hukuman dariku, aku akan mengerti apa yang kamu katakan. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, dalam beberapa hari kau akan menerima kabar kematian dari keluargamu." ancaman Fando.
"Iya silakan saja." ujar Elisa yang tebal muka.
Fando dibuat marah oleh Elisa, akhirnya Elisa digendong oleh Fando menuju kamarnya.
Saking marahnya Fando pada Elisa, ia membanting meja itu hingga semua hidangan yang ada di atas meja berantakan ke mana-mana, Elisa hanya bisa menatap amarah Fando.
Sedangkan semua orang yang di sana sudah ketakutan dengan amarah tuannya itu, tapi Fando tidak menggunakan senjatanya untuk menyakiti Elisa, melainkan dia menggendong Elisa dengan satu tangan di atas punggungnya, Elisa meranta-ronta minta dilepaskan, tapi karena kondisinya tidak baik makanya dia tidak bisa melawan Fando.
"Lepaskan aku pria brengsekkk. Aku gak sudih, denganmu lepaskan aku. Aku bilang lepas aku, kamu akan menyesali apa yang kamu perbuat padaku, sebelum terlambat jadi lepaskanlah aku. JIKA KELUARGAKU DATANG DAN SUAMIKU SUDAH BERTINDAK, maka habis sudah semuanya."ancaman Elisa.
Tapi, Fando tidak memperdulikan hal itu dia terus saja membawa Elisa menuju ruang kamarnya. Sampai berada di atas ranjang milik fando, lagi-lagi Elisa berada di kungkungan dibawa tubuh Fando, dia di cumbuu oleh Fando tanganya di tahan keatas, kakinya juga ditangan dengan barat tubuh Fando. Hingga Elisa sesak nafas dibuatnya, Elisa meludahi wajah Fando. Itu menjadi satu-satunya cara pembelaan dirinya, fando sekian dibuat sangat marah.
Saat masih asik di atas puncak, baju Elisa yang sudah compang-camping karena dirobek dengan kasar, tiba-tiba mereka dikagetkan suara dari halaman belakang yah. Sepertinya ada ledakan yang sangat dahsyat, semua juga sih heboh.
"Suara apa itu, kamu tunggu disini." ucap fando yang langsung meninggalkan Elisa yang sedang menangis tersedu-sedu.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Sabtu 11 MARET 2023