
Semua berjalan sesuai rencana Arafif ingin memberi tahukan Andre soal stempel dan cerita dirinya pada putra angkat ya itu, belum termasuk cerita lainnya, tidak mau membuat Andre kaget lebih lagi ia putuskan untuk menceritakan soal stempel tersebut.
Elisa yang baru pulang setelah selesai dengan urusannya di toko kuenya, melihat Andre dan papah keluar dari mobil yang sama itu menjadi pertanyaan bagi Elisa.
"Pah, Mas. Kok bisa pulang bareng?" tanya Elisa sambil mencium punggung tangan kedua pria di depannya.
"Iya Elisa, tadi papah mengajak Andre REFES otak dulu biar gak pusing terus-terusan bergelut dengan obat dan jadwal yang padat di rumah sakit" ujar Arafif seraya tersenyum tipis.
"Hmm- gitu, ya bagus sih. Papah dan mas Andre kan jarang keluar bersama-sama kayak gini, jadi agak asing aja kalau kalian bisa keluar bareng gini, hehehe" ucap elisa dengan candaan.
"Kamu ini bisa aja, lagian kita kan ayah dan anak masa iya gak pernah keluar bersama, sebelumnya juga aku sering tuh jalan-jalan bersama papah. Yah walaupun semenjak aku dewasa saja papah jadi sedikit agak malas untuk jalan-jalan keluar" ucap Andre seraya mata ia kedipkan satu mata.
"Enak aja, kamu yang sekarang mulai sibuk dengan pekerjaan kamu dre" ucap arafif yang tidak mau kalah dari putranya.
"Yasudahlah, yuk kita masuk. Kalau begini terus nanti kita gak akan masuk-masuk rumah nih" ucap Elisa yang memutuskan percakapan mereka agar tidak berkelanjutan.
Sesampainya di dalam ruang Monika yang sedang asik nonton acara kesukaannya, dengan khusu sekali menatap layar TV.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokahtu" Ucap Elisa, Andre dan Arafif bersamaan.
"Walaikumsalam warohmatulwo hiwabatokatu. Papah, Andre dan Elisa kok kalian bisa datang bersama-sama. Udah janjian jalan-jalan tanpa mengajak mamah yah, kenapa kalian tega banget" Monika yang melihat mereka datang bersama dengan wajah yang riang membuat Monika salah faham, karena wajah mereka senang sekali.
"Jalan-jalan kepala mu, orang aku ada urusan mendesak yang harus aku obrolin dengan Andre, kalau Elisa tadi ketemu di depan" Penjelasan Arafif seraya mencubit pipi istrinya itu.
Monika kaget saat suaminya mencubit pipi ya di depan anak-anaknya, sedangkan Elisa dan Andre hanya tersenyum melihat tingkah pasangan tua itu. Cukup iri dengan sikap papah yang cuek tapi sangat perhatian pada mamah, kadang kalah tanpa kata-kata papah melakukan hal yang di luar dari ekspetasi.
"Ih apa sih kak. Kebiasaan deh! suka banget nyubit pipi adek, malu tahu di liat Elisa dan Andre" reflek Monika memanggil Arafif dengan kak karena dulu saat sebelum menikah Monika memanggil Arafif dengan sebutan kakak.
"Kenapa, ya nggak apa-apa walau ada mereka juga. Lagi pula nanti juga mereka terbiasa dengan kita, mereka juga sering buat kita risihkan. Apa lagi Andre terlalu, apa tuh kata anak-anak jaman sekarang. Hmmm... ouh ya. Terlalu bucin, iya kan dre" ucap arafif membuat Andre tersenyum tipis.
"Haduuuh! Yaudah yuk mas. Kita mendingan naik ke atas saja, jangan ganggu mamah dan papah. Kalau kita di sini malah jadi nyamuk" ucap elisa yang menarik suaminya untuk pergi dari tempat.
"Kita juga mau pacaran dulu ya mah Pah. Habis kan lah kemesraan kalian" sambung Andre sambil mengikuti langkah kaki istrinya.
Setelah sampai di atas, Andre yang baru saja menutup pintu dan duduk di tepi ranjang sambil meletakkan sepatu di bawah. Elisa juga ikut duduk di samping Andre, dengan bidikan tajam.
"Mas Andre dari mana? kok bisa bareng sama papah, karena gak mungkin kalian bisa bareng tanpa janjian. Apa lagi seharusnya jadwal kamu itu seharusnya di lapangan dengan karyawan kamu, kok bisa bareng papah? kan itu mencurigakan" Ucap Elisa yang mencecer Andre dengan banyaknya pertanyaan.
__ADS_1
"Iya tadi emang janjian sama papah, buat ketemuan. Ada acara sendiri sama papah, jadi ya gitulah akhirnya, sayang!" ucap Andre yang menjelaskan.
"Hmm- gitu, ouh yah mas. Tadi Azril ngasih formulir, katanya dia jadi kuliah, tapi dia mau kuliah di New York, gimana menurut kamu" ucap Elisa yang penuh kekhawatiran.
"New York? nanti dia sama siapa di sana" Andre juga agak kaget dengan kabar tersebut.
"Katanya Daddy menjamin semua kebutuhan dan keperluan Azril selama di sana. Tapi Elisa cukup khawatir mas, takut ada apa-apa sama dia di sana. Jadi aku sarankan jangan kesana, tapi gimana lagi dong! Itu artinya aku menghentikan langkah keinginan adikku sendiri" ucap Elisa yang frustasi.
"Nanti deh, mas pikirkan gimana baiknya. Sekarang mas capek banget, mau mandi terus istirahat dulu ya sayang!" ucap Andre yang bangkit dari tempat lalu mengambil handuk.
"Gak mau makan malam dulu" Elisa yang menoleh ke arah suaminya melangkah.
"Nanti kamu bangunin, saat waktunya" ucap Andre yang masuk kedalam kamar mandi.
"Oke!" Elisa langsung turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam, membantu asisten rumah yang sedang sibuk.
Ternyata Andre tidak tidur. Setelah selesai mandi, ganti baju dan sholat. Arafif malah masuk ke dalam kamar Andre, untuk membahas masalah yang tadi dia obrolin yang belum di jawab oleh Andre. Karena Andre masih ragu dengan keputusan yang akan dia ambil nantinya, gimana dia akan membawa keluarga nanti masih banyak lainnya yang ia khawatir kan.
...Tok-tok-tok...
"Iya Pah, buka saja nggak di kunci kok" jawab Andre yang sedang melipat sajadahnya.
"Baru selesai sholat nak?" tanya Arafif.
"Iya Pah, ada apa pah?" tanya Andre yang kebingungan.
"Anu, papah tadi dapat telfon dari Brandon. Dia menanyakan soal jawaban kamu, jadi papah belum bisa memastikan hal itu, jadi menurut mu gimana?" tanya Arafif.
"Pah, Andre juga binggung. Gimana Andre menjalankan tugas nantinya intinya Andre belum siap untuk menghadapi hal itu, ini masalah bukan 1 atau 2 desa tapi 1 dunia, gimana Andre akan menjadi pemimpin ANDRILOS pah" ucap Andre yang langsung menatap tajam papahnya.
"Jadi gimana keputusan kamu, apakah akan lanjut ke tahap selanjutnya atau tidak?" ucap arafif yang membuat Andre makin tambah binggung.
"Pah, aku masih binggung dan belum yakin dengan hal itu, karena resiko yang akan aku tanggung akan sangat berat. Lalu gimana dengan rumah sakit, akan terbengkalai jika Andre menjadi seorang pemimpin keluarga bangsawan" penjelasan Andre yang meruncing.
Di luar terlihat ada Elisa yang ingin membuka pintu tapi karena mendengar ada seseorang di dalam dan tak sengaja mendengar sedikit isi percakapan mereka, Elisa langsung masuk menyambar dan memotong percakapan.
"Bissmillahiromanirohim, mas Andre. Jika itu sudah jalan takdir mu maka kamu harus laksanakan hal itu. Jangan kamu tunda-tunda hal yang baik, itu menurut ku, tapi selebihnya terserah kamu. Mas, di dunia ini memang gak ada yang enak jika ada, itu hanyalah fantasi kita saja, makanya kamu harus bisa menguasai dirimu dan hanya kamu yang tahu kemampuan mu di mana dan yang kenal dirimu adalah kamu sendiri. Tapi, aku yakin kamu bisa melakukan dan menyelesaikan tugas mu dengan baik, jika mereka menginginkan kamu yang naik tahta lakukan lah. Aku mengikuti apapun keputusan kamu, dan akan selalu mendukung kamu" ucap Elisa yang panjang kali lebar.
__ADS_1
"Tapi sayang, aku belum yakin" ucap Andre yang langsung menajamkan kata.
Elisa menarik tangan Andre, karena tubuh mereka yang cukup berbeda. Dalam bisikan Elisa cukup keras hingga membuat Arafif tersenyum-senyum dengan tingkah laku anak-anak yah itu
"Sini deh! aku bisikin sesuatu" ucap Elisa yang menarik tangan Andre, agar Andre menusuk.
"Kita sholat dulu yuk! semoga saja ada petunjuk yang bisa membuat kita ke jalur terang yang di ridhoi ilahi, yuk!" ucap elisa bicara di telinga Andre tapi agak keras.
"Sayang, itu namanya kamu bukan bisikin tapi kamu ngomong langsung, keras banget gendang telinga aku sampai mau lepas" ucap Andre yang menatap tajam.
"Hehehe... Sengaja biar kamu faham apa yang sedang aku katakan" ucap Elisa yang saat ini ketawa tanpa dosa.
"Yasudah, papah akan keluar sekarang kalian...Aaah sudahlah, papah permisi" ucap Arafif yang langsung pergi meninggalkan kamar tidur Andre dan Elisa.
"Kamu ini bisa saja ngusir orang, jangan dengan cara begitu untuk mengusir papah dong!" ucap Andre yang agak sedikit khawatir.
"Tapi kamu seneng kan, kalau papah pergi. Coba jujur" ucap Elisa yang menebak.
"Nggak tuh!" ucap Andre yang memalingkan wajahnya.
"Iiih apa itu kok, memalingkan wajahnya" ucap Elisa yang menahan lengan Andre.
"Nggak! sok tahu kamu" ucap Andre yang masih memalingkan wajahnya.
"Hmm- tapi ucapan ku serius loh. Bukan bercanda, buat membujuk kamu mas, aku gak mau kamu terus-terusan ragu. Aku ingin kamu menjadi yakin, InsyaAllah dengan seizin Allah semua akan menjadi lebih baik, kamu akan jadi pemimpin yang amanah, dan warohmah. Aamiin Yarobalalamin" ucapan Elisa dengan doa yang tulus untuk Andre.
"Iya Amin Yarobalalamin semoga saja terlaksana sesuai doamu ya Elisa, karena doa istri juga kuat kata ibu" ucap Andre yang mengingat ucapan mertuanya dan mamahnya.
Bersambung...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Rabu 13 JULI 2022
__ADS_1