PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
17. Firasat Sang Istri.


__ADS_3

Berada di dapur Elisa yang berjalan bolak-balik seperti setrikaan, sedangkan ayahnya yang sedang mengupas buat mangga sampai di buat binggung dan lelah.


"Teh, duduk atuh. Ayah pusing nih, teteh bolak-balik di depan ayah seperti itu udah kayak setrikaan, ada apa si teh" ucap Yusman yang menegur putrinya.


"Ayah, aku gak tenang sekali melepaskan mas Andre pergi" ucap Elisa yang masih bolak balik di depan ayahnya, Yusman tak mengerti apa maksudnya.


"Heh! maksudnya gimana endoh. Ayah kurang faham!" ucap Yusman.


"Ayah, menurut ayah. Mas Andre itu gimana?" Elisa menarik kursi langsung duduk di depan Yusman.


"Gimana apa sih teh, maksudnya" ucap Yusman kebinggungan dengan apa yang di maksud putrinya itu.


"Aduuuh ayah... Yaudah deh lupakan, teteh hanya khawatir saja sih" ujar Elisa yang kecewa.


"Tapi Ay... Aammm... Aaayyaaah... Teteh kan lagi mau ngomong, kebiasaan deh!" ucap Elisa yang tak lama suapan buah mangga dari sang ayah, yang mendarat di mulut Elisa yang sedang mengangga.


"Hehehe! Dari pada teteh mikirin hal yang gak penting mendingan teteh susul saja kalau teteh khawatir sama nak Andre, kenapa harus repot-repot mikirin sih" ucap Yusman seraya makan buah mangga ya.


"Ayah bener! Karena dari tadi firasat ku gak enak, mending aku tanya Azril deh! mas Andre pergi kemana" ucap Elisa yang langsung bangkit dari kursi, berjalan langsung mencari adiknya.


Yusman hanya geleng-geleng kepala sana tak faham sama tingkah putrinya itu, karena Elisa sangat penasaran mencari adiknya mengelilingi di dalam rumah tapi tak ke temu.


"Cari siapa si teh, kenapa bolak balik terus. Bikin kepala ibu pusing" ucap Siti yang melihat putrinya itu.


"Bu, liat Azril gak?" tanya Elisa yang refleks.


"Adik kamu ada di belakang tuh dihalaman lagi bantuin ibu jemur pakaian, kenapa?" jawab ibu yang yang berada di dapur.


Elisa bergegas menuju tempat yang di katakan ibunya. "Dek! sini duduk dulu" seraya menggerakkan lambaian tangannya.


"Ada apa sih teh, nanti dulu Azril belum kelar nih!" ucap Azril yang masih menjemur pakaian.


"Aduuh! cepet dong, ada yang mau teteh tanyakan sama kamu" ucap Elisa yang resa.


"Masih banyak nih! kalau mau cepat bantuin dong!" ucap Azril yang menyuruh tetehnya.


"Hmmm- kamu aja, teteh lagi males" ucap Elisa yang masuk ke dapur lagi.

__ADS_1


Azril hanya geleng-geleng kepala saja dengan tingkah laku Elisa. "Hmmm, teteh-teteh, gini kalau punya kakak perempuan yang gak tahu di untung. Sayang aja, dia teteh aku coba kalau bukan. Hmm- udah deh, gak tahu aku harus gimana" Dumalan Azril yang kesal tapi ya gimana lagi dia kakak satu-satunya yang dia sayangi.


Elisa di dapur bantuin ibu mencuci sayuran, dan memotong-motong bahan dan bumbu, sambil menunggu adiknya kelar jemur pakaian di halaman.


Setelah Azril yang sudah selesai dan akan masuk dari pintu belakang, langsung di halangi oleh Elisa yang sudah menghadang di ambang pintu.


"Ada apa si teh, sampai jalan Azril di hadang kayak gini?" ucap Azril yang kaget saat teteh sudah menghadang di ambang pintu.


"Jujur sama teteh, tadi mas Andre tanya apa sama kamu. Dia itu mau pergi kemana?" ujar elisa yang to the point.


"Teh, baru juga sehari di tinggal mas. Udah kengen aja, bentar lagi juga mas Andre akan pulang kok" ujar Azril yang menerobos tangan teteh yang menghalanginya.


"Bukan masalah itunya zril, teteh tuh gak bisa ngelepas dia itu pergi gitu aja" ucap Elisa yang langsung mengekor di belakang Azril.


"Hmm, itu sama aja teh. Kalau teteh itu udah kangen sama mas Andre begitu, emang kenapa emang sih teh. Sabar, nanti juga mas Andre juga pulang kok" ucap Azril yang meletakan ember di tempatnya.


"Riweh kalau teteh jelaskan, dia itu keras kepala. Jika sudah A maka harus A tidak boleh di ganggu gugat, lama untuk membujuknya kalau tidak di pikirkan cara untuk membujuk ya" penjelasan Elisa, adiknya langsung faham dengan apa yang di maksud oleh tetehnya itu.


"Terus apa hubungannya sama teteh, tanya soal dimana mas Andre berada?"


"Masalah dia itu pergi bersama papah, dan ini pasti ada kaitannya dengan ANDRILOS. Mas Andre gak suka soal itu zril. Makanya teteh khawatir karena itu zril, bukan khawatir sama mas andrenya ini sama orang-orang yang kan bujuk dia, pasti pada kebinggungan gimana"


"Iya mau gimana lagi, teteh harus kesana" ujar Elisa yang tegas.


Azril tersenyum simpul, dan langsung mengambil bolpen dan kertas.


"Tapi teteh akan pergi dengan siapa kesannya? Azril tidak bisa ikut karena masih ulangan"


"Tenang aja banyak bodyguard, kamu hanya perlu kasih alamatnya saja" ujar Elisa, tanpa di minta Azril sudah menyodorkan alamatnya.


"Baiklah, teteh hati-hati nih. Udah selesai aku tulis, hati-hati disana jangan menyusahkan orang yah di sana" ucap Azril yang cukup dewasa.


"Iya, kamu jangan khawatir soal itu" ucap Elisa yang agak kesal dengan adiknya.


"Yaudah sana siap-siap, hati-hati dijalan" ucap Azril yang mendorong teteh untuk keluar dari kamarnya.


"Iya-iya, ini juga mau keluar kok gak usah kamu dorong kayak gini. Alamatnya Terimakasih yah" ujar Elisa yang langsung keluar dari kamar adiknya.

__ADS_1


^^^New Zealand^^^


Perdebatan antara Andre, Brandon dan George, juga sangat panas. Andre yang kekeh dengan pendirian dan perasaan yah, tak mau mengikuti apa yang di katakan oleh para orang tua.


BRAAAKKK !


Suara meja yang di pukul sangat keras, semua terkejut Andre yang sangat tenang bisa melakukan hal tersebut, Brandon juga sangat kaget.


ANDRE : Maaf jika seperti itu aku tidak setuju, dan tidak berminat.


BRANDON : Alzam, coba kamu fikirkan baik-baik nak. Karena hanya kamu satu-satunya pewaris dan ahli waris, tidak akan ada yang bisa di gantikan.


ANDRE : Kalian boleh berencana, tapi aku punya jalanku sendiri. Permisi


Andre bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan tempat, tapi di depan asa Arafif yang berjaga dengan beberapa anak buah lainnya.


"Sudah selesai ngobrol, kenapa cepat sekali?" ucap arafif.


GEORGE : Black tahan dia, jangan biarkan dia lolos.


ANDRE : Hah! aku bukan tawanan mu, satu hal lagi orang tua, kamu di bawahku walau kau lebih tua dariku, maaf jika aku bertindak kurang ajar, dan perkataan kurang sopan, karena aku tidak mau di atur-atur oleh bawahan kakek ku sendiri.


Seketika George terdiam, dan mengingat status kembali hanya seorang pelayan dari ANDRILOS.


"Papah jangan ikut campur, cepat minggir atau papah ikut aku pulang ke Indonesia sekarang juga" ucap Andre meminta.


"Maafkan aku Andre, papah terpaksa melakukan hal ini" ujar Arafif.


Arafif langsung memberikan kode pada anak buahnya agar bisa menahan Andre, cukup memberontak. Tapi Andre langsung di bekap Dangan sapu tangan, Andre di bius hingga tak sadarkan diri.


Bersambung...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.

__ADS_1


Sabtu 6 Agustus 2022.


__ADS_2