
Sebuah apartemen mewah di sebuah kota yang cukup besar, terlihat seorang pria yang sedang sibuk bicara dengan seseorang disana. Lalu melintaslah adiknya yang akan pergi ke kampus, dialah Fando dan kakaknya Maxime Nicolas. Dia terlihat agak kurang baik moodnya, saat melihat adiknya tampak rapih dan seperti akan pergi kesuatu tempat.
~BAHASA JERMAN~
MAXIME : Kamu mau ke mana? Sudah rapi seperti itu, apakah kamu akan menemui Julia di mansion?
FANDO : TIDAK! Aku hanya akan berangkat ke kampus kak, aku sudah telat aku pergi dulu.
Langsung membantah apa yang di katakan oleh kakaknya, terlihat dengan sangat rapi dengan baju kasualnya, Fando merapikan tali sepatu dan akan pergi.
MAXSIME : Apa! Kampus, apakah kamu kuliah?
Maxsime langsung bangun dari tempatnya, kaget karena mendengar penuturan sang adik. Saat di jelaskan jika adiknya itu, yah! kakak dalam suasana tidak baik saat ini karena mendapat kabar jika pasukan Andrilos sedang gencar mencari keberadaan mereka.
MAXIME : Apakah kamu sedang mengantarkan nyawamu sendiri, kau tahu jelas jika kita adalah buronan saat ini. Status kita sedang di incar, banyak yang mencari keberadaan kita. Tapi, kamu malah kuliah? Kau sudah benar-benar gila adikku. Bagaimana kamu bisa punya pikiran itu, kenapa kamu jadi bodoh seperti ini.
FANDO : Kak, kakak tenang aja aku nggak pakai identitas asli. Aku hanya ingin kuliah, itu juga hanya untuk hiburan ku saja di tempat ini, kakak tahu aku cukup bosan jika di dalam rumah. Apa artinya jika kita bebas dari penjara tapi, tetap malah terjebak di dalam apartemen.
Lagi-lagi Fando membantah apa yang di katakan oleh sang kakak, membuat Maxime agak kesal padanya.
MAXIME : Apakah kamu tahu jika pemimpin ANDRILOS sedang melacak kita, jika sampai tim gabungan itu menemukan kita. Tamat sudah riwayat kita, apakah kamu mau kita membusuk dipenjara?
FANDO : Sebenarnya Kakak punya masalah apa sih sama mereka, sampai mereka itu harus mengejar kita dan kenapa nggak ada habisnya. Kita juga selalu pindah-pindah tempat, jika boleh jujur Kak, aku capek. Aku juga sangat bosan, jika harus kabur-kaburan seperti ini, aku nggak punya teman sama sekali di manapun aku tinggal, tak satupun temen yang aku ingat.
Kata-kata Fando membuat kakaknya semakin geram, mengepal tangannya dan menggertak rahang dengan kuat.
MAXIME : Ternyata kamu sudah berani membantah ucapan ku yah, apakah kamu sekarang sudah mau membantahku.
FANDO : Aku hanya ingin tanya kak, alasan kakak selalu kabur dari kejaran mereka itu apa? Selama ini aku tak pernah mengerti kenapa kakak selalu menyembunyikan aku, dan selalu aku yang di kurung. Kak bukannya aku membantah perintah Kakak, ataupun ucapan Kakak, aku hanya ingin tahu alasan Kakak, kenapa harus pindah-pindah tempat, dan apa masalah yang sedang kakak hadapi, apa alasan mereka terus mengejar kita, hanya itu yang ingin aku tahu.
MAXIME : Kamu tidak perlu ikut campur dalam masalah ini, kamu cukup fokus aja dengan apa yang aku katakan.
FANDO : Tidak, aku tidak mau. Karena kakak tidak mau memberi tahuku, sampai kapan kak. Kakak akan bungkam, dan menyembunyikan kebenarannya. Bahkan aku juga tidak boleh tahu, kenapa aku bisa terlibat dalam kejahatan Kakak selama ini. Hingga aku masuk penjara pun itu juga semua gara-gara ulah kakak, apakah kakak sadar dengan hal itu, katakan kak ada apa? Apakah ada seseorang yang telah kakak membuat kesalahan padanya, hingga menjerumuskan adikmu juga, dan masuk dalam penjara dengan cara tidak baik.
PLAK!
Tamparan keras yang membuat Fando terdiam sesaat karena pukulan itu, membuat sudut bibir Fando berdarah. Fando melihat dengan tajam, dan tak mengerti kenapa kakaknya bisa marah.
FANDO : Apa salah ku kak, hingga kakak menamparku. Ini semua benar'kan, lagian jika kakak tidak punya salah untuk apa takut bertemu dengan pemimpin ANDRILOS, pasti kakak punya masalah dengan mereka semua.
MAXIME : Kamu sudah kurang ajar yah, sekarang kamu sudah berani membantah dan melawanku. Ingatlah akulah kakakmu, ingat Michael. Kamu ku hukum, masuk kedalam kamarmu jangan keluar dari tempat ini.
Ucap Maxime langsung menyuruh orang untuk menyeret Fando, atau Michael untuk masuk kedalam kamarnya.
FANDO : Kak! Kakak tidak bisa berbuat seperti ini, buka pintunya kak. Aku bisa telat berangkat kuliah, aku udah telat nih kak. Kakak!
Teriakan Fando tidak dihiraukan oleh sang kakak, walau pandu membanting semua barang yang di kamar. Kakaknya seakan tuli dan tidak mau mendengarkan apapun yang dikatakan oleh adiknya itu.
...........Selesai Translate...........
Di tempat lain ruang kelas. Terlihat agak ramai karena sebentar lagi akan mulai pelajaran pertama, jadi semua mahasiswa sudah berada di dalam kelas, hanya bel masuk saja yang akan di bunyikan, terlihat Elisa dan teman-temannya sedang duduk di kursi mereka masing-masing.
"BTW Fando gak berangkat ya udah jam mau masuk nih, kok dia nggak nongol-nongol sih. Masa baru sehari masuk, eh hari ini malah nggak masuk!" Dumal Resti yang sangat penasaran.
"Apa jangan-jangan dia kesiangan kali, padahal presentasi kita kan hari ini." ucap Nacly yang juga berharap banyak padanya.
"Mungkin saja dia lagi di jalan kita tunggu saja dia." pikirannya positif Elisa.
"Kan, rata-rata orang bule itu biasanya kalau bangun siang. Bisa jadi Fando itu kesiangan, dan malas-malasan gitu." sambung Diana.
__ADS_1
"Nggak juga tuh, apa prinsip orang aja. Aku kenal sama orang yang bangunnya jam 03.30 subuh, sebelum alarm kumandang adzan subuh bunyi dia sudah bangun." ucap Elisa yang teringat suaminya, yang kalau bangun suka pagi-pagi buta karena olahraga, kalau lagi malas mungkin ngerjain tugas kerjaan.
"Serius kamu El, ada bule yang bangun jam segitu. Aku mah gak tahu, tapi emang jarang sih bule yang bangun pagi." kata Resti yang agak kurang mempercayainya.
"Iya itu sih! Kembali lagi sama orang yah, kalau rajin mah pasti pagi-pagi juga udah bangun. Bener-bener, coba deh kalian telfon Fando ada dimana? Aku gak punya nomor kontak yah!" ucap Nacly.
"Sama aku juga gak punya, Re kamu gimana punya gak. Kan waktu itu kamu lebih dekat tuh sama Fando, kamu aja deh yang nelfon dia" ucap diana yang menyenggol Resti untuk menelepon Fando.
"Eh, aku juga gak punya cuy! Kemarin aku lupa minta nomor yah, habis kita kemarin fokus banget sama tugas jadi aku juga gak kepikiran buat minta nomor HP." ucap Resti yang juga angkat tangan.
"Lah terus gimana nih, kok gak ada satupun yang punya kontak Fando nih?" ucap Nacly.
"Minta sama ketu sana, kali aja dia punya?" ucap Resti yang punya solusi.
"Raditya," panggilan Diana memanggil ketua kelas.
"Ada apa?" Raditya langsung menoleh ke sumber suara.
"Kamu punya nomer Fando gak, anak baru itu" tanya Diana yang menanyakan pada Raditya.
"Nggk! Kenapa emang yah?" jawab singkat.
"Lah kamu juga gak punya nomer yah, kamu gimana sih. Ketua kelas kok gak punya nomer anak baru itu." ucap Nacly yang agak kecewa pada Raditya.
"Iya nih, masa gak punya nomor ya sih." ada sambung Diana yang juga agak kecewa.
"Walau aku ketua kelas, aku juga gak akan ngemis minta-minta nomer kali, lagian yang satu kelompok kan kalian, emang kalian gak minta gitu?" ucap Raditya yang menanyakan balik.
"Kita lupa, jadi gimana nih!" ujar Resti yang ikut frustasi.
"Lah apa lagi aku, cuman ketemu sebentar dan ngobrol juga soal pelajaran. Kalau dia aja gak kasih, mana mungkin aku tahu. Lagian aku juga gak mau minta-minta nomer orang yang gak mau," ucap Raditya.
"Hai guys! Kita minta ke TU aja, sapa tahu di sana mereka punya identitas Fando gitu, masa iya dia daftar kuliah gak ada data diri kan?" Saran masukan Elisa.
"Eh! Iya bener juga yang di katakan Elisa, usulan yang bagus El." ucap Diana yang ikut saran dari Elisa.
"Yaudah tunggu apa lagi, Yuk! kita kesana." ujar Nacly yang bangkit dari kursinya.
"Ayolah, cuss... berangkat." sambung Resti yang juga bangkit dari kursi mereka.
"El, ayo kamu ikut gak. Kan kamu yang telah kasih saran, yaudah kuyy guys!" Sambung Diana, menarik tangan Elisa.
Mereka akhirnya pergi ke ruang TU, yang ada di sebrang fakultas, gedungnya bersama-sama dengan area fakultas kedokteran. Saat di depan pintu ruangan TU, Elisa malah di cegat oleh seseorang.
"Elisa, nama kamu kan?" tanya salah satu cowok yang datang mendekat Elisa.
Diana, Nacly dan Resti semakin di buat bingung, kok ada kakak kelas yang kenal sama Elisa. Padahal Elisa tidak cukup populer dikalangan primadona kampus, selain dewan ospek sebelumnya yang mungkin kenal sama Elisa.
"Eh, iya kak. Ada apa yah kak?" Tanya elisa yang kebingungan.
"Itu. Kamu dicari sama Kak Rizki tuh!" Ujarnya seraya menunjuk ke bagian ruangan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kak Rizki? Mau apa yah dia mencari ku, dan mau ngapain?" tanya Elisa yang kebingungan sama apa yang di katakan oleh pria itu.
"Mana aku tahu, coba aja kamu temuin dia, dan nanya sendiri sama orangnya" ujarnya.
"Gue cabut dulunya." ucapnya seraya pergi begitu saja. Membuat Elisa memikirkan apa yang ingin di lakukan sama Rizki, mau apa ingin menemuinya. Pikiran Elisa gak karuan saat ini karena hal itu, makanya Elisa tak bisa berkata-kata.
"Iya kak," ucap Elisa yang singkat.
__ADS_1
"El kamu kok makin deket aja sama Kak Rizki. Jangan-jangan kalian punya hubungan tersembunyi yah di belakang kita? coba ngaku deh." Tebak Diana.
"Atau kalian lagi PDKT yah. El, kamu kok tega sih sama aku, kamu tahu kalau Kak Rizki itu idola aku" asal tebak Nacly.
"Nggak kok, aku gak punya hubungan apa-apa sama Rizki, kenal aja baru sekarang-sekarang ini mana mungkin lah dia suka selevel aku" ucap Elisa yang merendahkan diri.
"El yang nama cinta itu gak pandang bulu lah, udah mendingan kamu ngaku aja, sebenarnya kamu suka gak sama kak Rizki? Dia udah baik, ganteng plus tajir lagi. Cowok yang di idolakan satu kampus lagi, kapan lagi kan kamu di sukai sama cowok selevel Arjuna." Ucap Diana yang memanfaatkan peluang.
"Duh irinya aku ini, El aku gak apa-apa kok jika seandainya kamu jadian sama kak Rizki aku ikhlas, toh aku masih punya AA Fando." ucap Resti yang emang suka sama Rizki tapi rela ngalah demi temannya.
"Huuuu! Halu mu ini re, terus aja gitu. Gimana kalau ada yang jauh lebih bening dari Fando, apakah kamu akan suka lagi sama dia." ucap Diana.
"Ha-ha-ha, iya pastinya. Kan aku akan jatuh cinta jika cowok itu Ganteng!" ucap Resti yang penuh dengan semangat.
"Ngayalmu ini gak ada yang nandingin re, kamu ia the best kalau soal menghalu." ucap Diana yang sampe geleng-geleng kepala.
"Jadi, gimana El beneran kamu punya hubungan spesial sama kak Rizki, gak apa-apa, mendingan kamu jujur sama kita." ucap Nacly.
"Apaan sih enggak lah, mana mungkin guys. Dia pasti lagi pengen ngomong sama aku saja kok, lagian aku gak ada rasa sama dia. Suka juga gak, apa lagi ngidolain dia ganteng. Iya aku akui dia emang ganteng, tapi aku gak punya minat cuy!" ucap Elisa yang membantah mentah-mentah tuduhan mereka.
"Alah bohong banget sih kamu El, cowok seperfeck dia malah kamu tolak, bukan jajaran daftar cowok kamu kah?" ucap Nacly.
"Nggak ada cuy, udah ah! Jangan bahas itu, kita bisa di omelin nih berdebat dan ngerumpi di depan ruang TU, kalian mau masuk gak!" ucap Elisa yang akan membuat pintu.
"Kamu mau ikutan masuk? Kamu lupa di panggil sama kak Rizki tuh, masa iya kamu mau ikutan kami, udah kamu tenang aja. Soal ini biar kami yang urus, kamu temui kak Rizki aja sana. Jangan buat dia menunggu." ucap Diana yang mendorong Elisa untuk pergi ke ruangan yang di tunjukan tadi.
"Iiih Apasih kalian, kan aku..." ucap Elisa yang enggan untuk pergi, tapi karena di dorong-dorong terus oleh Diana makanya Elisa pergi menemui Rizki.
"Udah sana, hus-hus" ucap Nacly yang mengusir Elisa dengan tangan yang mengusirnya.
"Ih apa sih! Kayak anak ayam aja di hus hus" Elisa yang protes.
"Ya udah kalau kamu gak mau kayak ayam, cepat pergi sana." ucap Diana.
"Iya-iya aku pergi ke sana, kalau kalian udah selesai jangan tinggalkan aku yah, tunggu in." ucap Elisa yang gak mau di tinggal.
"Masa iya kita malah nunggu kamu yang lagi pacaran, mending ke kantin iya gak bestie" ucap Resti yang angkat bicara.
"Iya betul Banget, kuylah kita masuk kedalam" ucap Nacly yang langsung masuk kedalam.
"Daaah El!" ucap Serempak temen-temen yang saat ini akan masuk kedalam ruangan TU.
"Salamin ya buat Kak Rizki" ucap Resti yang agak sedih bohongan.
"Ya, nanti aku akan salamin, kamu mau berapa kilo salam yah, buat kak Rizki." ucap Elisa yang menawarkannya.
"Nggak banyak kok satu truk aja, terus satu truk cinta buat dia juga." ucap Resti yang sangat antusias.
"Okey, akan saya sampaikan nanti, tentang salammu satu truk, dan cinta satu truk juga." ucap Elisa yang tertawa masam.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Senin 23 Januari 2023
__ADS_1