PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
173. Siapa yg Mengawasiku.


__ADS_3

Elisa yang merasa ada yang aneh hari ini, karena sejak dia berangkat ke kampus tadi pagi, selalu saja nggak tenang. Elisa sangat gelisah, dan tidak nyaman. Dia chat Azril, lalu menelfon adiknya.


"Azril, teteh bisa minta di jemput kamu gak?... Mas Andre kayak gak bisa jemput kembali deh!... Okey, makasih yah." ucap Elisa yang manja sekali pada adiknya.


Sampai jam pulang Elisa langsung mendatangi temen satu kelompoknya. "Guys, jadi gak buat ngerjain tugasnya?" tanya Elisa pada temen satu kelompoknya.


"Iya. Enaknya dimana nih buat ngerjain tugas yah?" tanya salah satunya.


Setelah mereka membicarakan soal dimana tempat yang cukup baik dan nyaman untuk ngerjain tugas, mereka langsung menuju ke tujuan mereka. Elisa yang masih seperti sedang di awasi hanya bisa diam, tak merespon hal itu Elisa berusaha semaksimal mungkin untuk mengabaikan yah.


"El, nanti kamu yang cari materi soal ini yah. Soal print, aku dirumah ada print biar agak ringan aja, nanti kalian kirim file ada deh sama aku. Biar aku buat makalah yah, gimana?"


"Jangan kamu semua, print biar aku aja. Bagian merangkum siapa, lalu tinggal finishing." sahut Elisa.


Sejam kemudian setelah fokus ngergai tugas, akhirnya kelar juga. Jemputan Elisa juga sudah sampai, mengunakan mobil milik ayah yusman karena habis ngaterin pesenan udang juga.


"Aku duluan yah, aku sudah di jemput sama adekku tuh." ucap elisa.


"Ouh, iya kamu hati-hati yah Elisa." ucap salah satunya.


"Iya, kalian juga yah!" Elisa langsung masuk begitu saja kedalam mobil.


Perjalanan mereka sudah agak jauh dari tempat, Elisa yang langsung menutup kaca jendela mobil pick up. Adiknya yang merasa curiga dan rasa aneh dengan tingkah tetehnya itu.


"Ada apa teh?" tanya sang adik yang khawatir sama tetehnya.


"Zril, kayak teteh seperti ada yang mengawasi deh!" Elisa sesekali melihat kebelakang.


"Hah! Di awasi sama siapa teh?" tanya Azril yang cemas.


"Pertanyaan konyol yang kamu tanyakan zril, mana teteh tahu. Kalau tahu juga gak mungkin teteh cemas begini ngaco, karena teteh gak tahu siapa, makanya teteh khawatir zril."


"Pokoknya teteh tenang dulu yah, sapa tau itu hanya halusinasi teteh karena terlalu lelah dan kurang istirahat, jadi teteh merasa begitu."


"Apakah seperti itu? Kayak yah gak deh zril, firasat ini mengatakan bahwa jika ada orang yang akan mengincarku, aku tidak tahu siapa dia." seraya memegang dadahnya.


"Teh, jangan ngomong kayak gitu! Ingat ucapan adalah doa, aku gak mau teteh sampai kenapa-kenapa."


"Hmmm, teteh juga mau ya gitu, udah gitu banyakkan kejadian sebelumnya, itu yang bikin teteh cemas zril."


"Serius teh? Jadi sebelumnya sudah ada kejadian lainnya," Azril yang syok karena tetehnya sering mengalami hal itu.


"Ngapain sih teteh bohong sama kamu, nggak ada untungnya juga kan. Makanya teteh khawatir dan cemas takut bersalah sama yang lainnya juga, dan khawatir berdampak pada ibu dan ayah atau orang lain yang tidak bersalah lainnya. Itu sih yang Teteh pikirin sekarang, kalau hanya aku saja mungkin tidak masalah. Tapi, kalau sudah menyangkut orang lainnya ini yang bahaya."


Azriel yang ikut penasaran langsung menoleh ke kaca spion atas, tapi ia tidak melihat ada yang mencurigakan, dan tidak ada siapapun di belakang yang mengikuti mereka. Azril langsung mengambil botol minum dari samping, kalau ia berikan pada tetehnya.


"Mendingan Teteh minum dulu deh, agar teteh tenang. Mungkin Teteh terlalu cemas, atau mungkin teteh sangat kelelahan itu yang membuat perasan Teteh nggak tenang, dan malah berhalusinasi."


"Kamu nggak ngerti zril, apa yang Teteh rasakan ini sangat nyatanya tahu." pertegas Elisa.


"Udah coba telepon sama Mas Andre, siapa tahu Mas Andre bisa membantu."


"Belum juga dibalas zril, ke mana ya dia? kenapa suka ngilang-ngilang kayak siluman, baru juga ada terus noleh sebentar sudah hilang aja. Itulah mas Andre, bikin kesel tapi ngangenin."


"Hmmm- sabar teh. Nanti juga dibales kok sama mas Andre yah, kuncinya hanya sabar."


"Iya aku tahu kok." ujar Elisa yang mukanya mulai bete.


"Terus sekarang gimana? Mau pulang ke rumah atau ke rumah besar?" tawaran Azril.


"Ke rumah ibu aja dulu deh! Aku takut, kalau di rumah besar sendirian, walau ada pelayan kan gak enak juga kalau gak ada orang rumah."


"Ya udah kita ke rumah ya, okey!" ucap Azril yang melakukan. kemudinya.


Hingga tujuan mereka sampai, setelah berada di halaman rumah, Elisa langsung masuk begitu saja, meninggalkan adiknya yang saat ini sedang parkir mobil.


"Assalamualaikum Bu." seraya mencium tangan ibu dan langsung akan masuk kedalam kamarnya.


"Waalaikumsalam. Loh, teh. Ada apa teh? kok mukanya di tekuk gitu, jelek. banget pulang kerumah muka sudah bete gitu."


"Nggak apa-apa bu, hanya kecapean aja." ucap Elisa tangan ya sudah ada di knop gagang pintu.


"Kalau gak ada apa-apa, gak mungkin muka di tekuk kayak gitu."


"Nggak ada apa-apa bu, Elisa langsung masuk kamar ya." Elisa langsung mengabaikan ucapan ibunya.

__ADS_1


"Apakah teteh sakit?" tebakan sang ibu, tapi langsung di bantah oleh Elisa.


"Enggak kok Bu, Elisa cuma pengen istirahat aja, capek. Pengen langsung rebahan, karena punggung Elisa agak sakit banget, seharian ini duduk terus." ucap Elisa yang memegangi pinggang.


"Udah mau adzan maghrib teh, nanti jangan tidur ya teh."


"Iya bu, aku tahu kok!" ujar Elisa langsung masuk saja ke dalam kamar.


"Nak Andre belum datang emang yah teh." Teriakan sang ibu dari luar kamar.


"Katanya masih di rumah sakit bu, Dokter rekannya sakit, jadi dia yang langsung ngejaga." ucap Elisa yang baru dapat pesan dari suaminya.


"Makan malam di rumah yah teh, ibu bikinin sayur SOP, sama dadar gulung kesukaan teteh." ucap Siti.


"Iya terserah ibu saja deh!"


...----------------...


Andre yang di sibukkan berada dirumah sakit banyak sekali yang dia urus disana, agak kewalahan biasanya dia di bantu oleh dua sahabatnya, sekarang mereka tidak dapat membantu, Try sedang sakit. Sedang Jun sudah pergi dari dunia ini, itu membuat Andre kadang merasa merindukan sahabatnya itu.


"Ternyata tanpa bantuan mereka aku kewalahan juga yah, hmm... kayaknya aku butuh asisten, untuk membantuku di sini." Dumal Andre yang saat ini memutar kursinya.


"Bagaimana aku harus mengurus 3 profesi dalam sekaligus aku harus pintar membagi waktuku, sebagai dokter untuk pasien ku, menjadi pemimpin ANDRILOS untuk rakyat ku, dan menjadi suami untuk Elisa." ucap Andre yang memikirkan posisi dirinya cukup berat.


Tok tok tok


Sebuah ketukan pintu membuat Andre langsung menatap pintunya, dan langsung terbukalah. Terlihat seorang pria masuk kedalam, dia adalah Rudi yang membawa laporan.


"Dre, ini laporan yang kamu minta, ada lainnya?"


"Maksimalkan proyek selanjutnya Rudi, karena aku gak bisa standby di sini, aku juga harus lompat-lompat juga, agar semua terlaksana. Harus bagi waktu, dengan urusan ANDRILOS, capek dan melelahkan juga yah hidupku." ucap Andre yang agak lesu dan sangat lemas.


"Hahaha... Aku baru kali ini mendengar kamu mengeluh Dre, apalagi soal pekerjaan, padahal kamu orang yang gila kerja, sampai tak ingat waktu."


"Itumah dulu sebelum aku menikah, kalau sekarang mah aku ditendang keluar sama Elisa, dia akhir-akhir sering ngambek dan mood-nya kadang bikin aku juga bingung."


"Elisa yang aku kenal gak kayak gitu loh, dia anaknya gak gampang baper, mungkin kamu sudah jadi pawang yang tepat buat dia, kamu berhasil dan sukses menaklukan cewek tomboy itu." ujar Rudi sumringah.


"Emang dia seperti apa dulu?" Andre sangat penasaran.


...----------------...


Malam harinya, Andre yang langsung datang ke rumah ibu mereka menginap disana lagi. Elisa menceritakan apa yang dia rasakan pagi ini pada suaminya, andre hanya diam saat istrinya curhat itu.


Elisa punya sensitif lebih peka pada lingkungan 2x lipat, bahkan dia juga menyadari bahwa dia ada yang mengikuti, hmph! sepertinya si Fando itu sudah mulai bergerak, jika aku katakan ini pada Elisa dia pasti akan lebih panik, jadi aku harus bagaimana pada Elisa. Dalam hati Andre yang saat ini bimbang.


"Sayang, seperti firasatmu ada benarnya, Fando teman kampus kamu itu apakah berangkat ke kampus akhir-akhir ini?"


"Nggak! Sudah hampir 2 Minggu dia gak berangkat-berangkat mas, apakah ini ada hubungannya sama kakaknya yang waktu itu ditangkap, dia lalu ingin balas dendam. Iya, begitu yah?"


Naluri Elisa ini cukup peka, aku harus beralasan apa lagi, terpaksa aku harus katakan padanya soal itu. Jika tidak Elisa pasti akan mencari sendiri semua ini, ke ingin tahuan Elisa ini cukup mendetail. Dalam hati Andre yang bimbang.


"Aku juga tidak tahu sayang, makanya kita hanya perlu waspada saja, kita juga jangan langsung ambil kesimpulan buruk. Boleh waspada dan berencana dengan apa yang akan terjadi, untuk mengantisipasi bahaya dadakan, kita juga harus punya persiapan yang matang juga."


"Iya benar mas. Lalu apa yang akan kita lakukan, rencana apa yang akan kamu gunakan sekarang, aku bingung nih." Elisa yang jadi kepikiran mau merencanakan apa.


Andre dan Elisa sama-sama berfikir keras, mereka bertukar ide dan pendapat. "Mas gimana kalau Elisa pakai cara lama," Elisa kepikiran sesuatu.


"Cara yang mana?" tanya Andre.


"Elisa akan bikin umpan agar di makan oleh ikan. Gini, ide Elisa mas. Mereka kan lagi cari nyonya Andrilos, gimana kalau aku muncul kepermukaan."


"Tapi, yang jadi pertanyaan aku adalah. Memangnya, kamu sudah di Lantik jadi nyonya Andrilos?"


"Emangnya kamu gak mau gitu kita sama-sama diatas panggung yang sama, kejam ya kamu mematahkan ide gemerlap ku. Nggak pernah dukung, selalu di jatuhan mulu nih."


"Hehehe maaf-maaf, lanjutkan gimana rencana selanjutnya."


"Udah ah! Males, percuma aku mengusulkan ide dan pendapat alhasil nanti di patahkan lagi, kamu pikirkan saja sendiri. Udah malam mau tidur aja, good night." ujar Elisa yang agak kecewa sama ucapan suaminya itu.


"Kok malah marah sih Yang. Aku minta maaflah, sayang. Istriku tercinta, aku tadi bercandalah." ujar Andre yang terus membujuk istrinya, karena tidak dapat respon juga dari Elisa, Andre langsung membaringkan dirinya disebelah Elisa dan memeluknya dari belakang.


"Maaflah Yang, janganlah marah." ucap Andre yang memeluk tubuh Elisa dari belakang.


...----------------...

__ADS_1


Keesokan paginya, Elisa yang sedang membantu ibunya masak di dapur, Andre yang membantu menjemur pakaian. Andre yang tidak malu menjemur pakaian, sedangkan adiknya sedang nyapu halaman rumah.


"Rajin banget ini, mas yah udah jemur aja, istrinya kemana?" tanya ibu Tuti.


"Ada kok di dalam bu, lagi masak. Dari pasar nih ibu-ibu?" sapaan Andre ramah.


"Iya nih mas, pagi-pagi sudah nyuci aja mas, nyuci dari jam berapa? Jam segini sudah jemur nih." Sahut bu unani.


"Iya bu, dari subuh-subuh." jawab Andre yang tersenyum lebar.


"Mas ini itu mantunya pak Yusman yah?" tanya bu Tuti.


"Iya." jawab Andre sambil tangannya sibuk melebarkan pakaian.


"Lagi nginep disini mas." tanya bu Unani.


"Iya. Istri yang lagi pengen main kesini." jawab Andre.


"Jarang ngeliat si mas, kemana aja, biasanya ikut ngeronda."


"Hehehe, iya ibu-ibu."


"Sekali-kali mampir mas, main kerumah."


"Iya, isyaAllah main kerumah ibu-ibu."


"Kalau ada waktu yah mas, kan kakak ipar aku ini kerja ibu-ibu, mas ku ini orang yang sibuk." sambung Azril yang menyambar.


"Hehehe iya, emang jarang ngeliat sih Wara-Wiri yah."


Lalu tak lama seorang bapak-bapak yang pernah jadi temen ngeronda Andre mendatangi kediaman pak yusman yang saat ini Andre belum selesai menjemur pakaian, harus di kejutkan dengan panggilan pak Luthfi.


"Pak dokter, assalamualaikum maaf menganggu." seraya ngos-ngosan.


"Walaikumsalam, pak Luthfi ada apa? bicara pelan-pelan." ucap Andre yang langsung menghampiri Luthfi.


"Tolong istri saya pak, tolong pak." ucap pak Luthfi yang menggenggam tangan Andre.


"Istrinya bapak kenapa?" Andre masih nada bicara baik-baik.


"Mau, mau melahirkan pak!" ucap Lutfhi panik.


"Pak Luthfi, kok malah datang ke rumah pak Yusman bukan ke bidan, kalau istrinya mau melahirkan seharusnya ke bidan kan." ucap Tuti.


"Iya gimana sih pak, emangnya mantu pak Yusman ini bidan?" sambung Bu Unani.


"Sudah saya panggilkan bidan, tapi kata bidan harus segera ke rumah sakit, tapi istri saya malah... Bayinya. Pak Andre tolonglah."


"Iya-iya, sebentar yah. Azril tolong kamu selesaikan ini dulu, pak saya masuk dulu ambil alat saya. Sebentar yah" Andre yang masuk dulu untuk menuju kamarnya.


"Ada apa itu? diluar, aku keluar dulu yah Bu." ucap Elisa yang keluar dari dapur.


"Kayaknya ibu Erna mau melahirkan deh teh. Itu kayak suara pak Luthfi, coba deh kedepan." ucap Siti yang menyahutinya.


Melihat suaminya buru-buru Elisa langsung menghampiri Andre. "Ada apa mas? cari apa sih."


"Sayang kamu bantu aku cari alat medis aku, jangan banyak nanya cepatan." ucap Andre yang sibuk mencari.


"Iya-iya. Nih, udah ketemu." ucap Elisa yang langsung mengambilnya.


"Kotak satunya mana, ini yang di tas. Ada yang kayak di kotak itu, takutnya, ada operasi dadakan." ucap Andre.


"Udah, kamu kesana aja dulu. Biar aku cari, aku lupa naro dimana? aku nanya ibu dulu." ucap Elisa yang lupa menaruhnya.


"Iya sudah kamu nanti ke rumah pak Luthfi yah, aku disana." ucap Andre yang langsung pergi.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Senin 27 Februari 2023

__ADS_1


__ADS_2