
Fando yang saat ini sangat bernaffsuu sekali karena Elisa telah membuat dia sangat marah, dan kekesalan Fando kepada Elisa. Membuat dia hilang akal dan, yang dia luapkan semua emosinya. Fando yang tidak bisa mengendalikan diri, dan emosinya ingin sekali memperkaos Elisa. Dengan kekuatan yang lebih kuat, Elisa sekuat tenaga untuk menjauhi pria tersebut.
Hingga membuat bajunya tak karuan, di saat seperti ini Elisa sama sekali tak punya tenaga untuk melawan, bahkan seni beladiri sekarang tak ada apa-apa. Dalam hati Elisa, selalu memanjatkan doa agar dia bisa selamat dari hewan buas tersebut.
"Fando hentikan kegilaan ini, kenapa kamu bisa seperti ini. Tolong lepaskan aku, Fando." Rengekan Elisa.
"Melepaskan mu, apakah kamu tahu Elisa aku begitu sangat menyukaimu. Tapi, kenapa kamu selalu menyakiti perasaan ku terhadapmu." ucap fando yang masih mencengkram tangan Elisa yang ada di atas kepala.
"Ini bukan perasaan yang tulus tapi kamu terlalu terobsesi, tahu gak." ucap Elisa yang menjelaskan.
"Aku sangat mencintaimu Elisa. Apakah kamu mencoba mengajari aku cara mencintaimu hah! Elisa, kamu yang tidak bisa membedakan yah." ucap fando yang menjelaskan yah.
"Bahkan seperti ini, jika kamu mencintai aku. Jika seperti ini, kamu membohongi dirimu sendiri. Karena kamu menganggap yah jika aku memiliki perasaan yang sama seperti kamu. Fando yang kamu rasakan itu bukanlah benar-benar mencintai aku, melainkan hawa nafsumu hingga membuat kamu kehilangan akal. Jika kalau kamu cinta aku, tidak mungkin akan menyakitiku, wanita yang kamu suka." pertegas Elisa yang menjelaskan tentang semuanya.
"Kamu yang salah. Elisa, apapun yang aku katakan ini adalah kebenaran. Aku gak akan salah tentang perasaan ku terhadapmu."
"Itu hanya menurutmu, kebenaran yang kamu katakan itu cuman kata-kata yang kamu ucapkan. Bukan dari filosofi atau arti sesungguhnya, coba buka pikiranmu Fando."
"Lalu bagaimana cara agar kamu percaya aku?" Tekanan Fando, membuat Elisa semakin geram.
"Sudah aku katakan di awal tadi kan, kamu harus minta izin dulu kepada kedua orang tuaku, walau bagaimana pun mereka adalah orang tuaku. Tidak ada mereka tidak ada aku, jadi seharusnya kamu tunjukan rasa hormatmu pada mereka." Elisa mempertegas.
"Tentu saja, kamu tak perlu khawatir soal itu. Tapi, setelah kita melangsungkan pernikahan kita. Maka aku akan izinkan kau pulang, dan menemui orang tua mu." jawab Fando dengan sangat gila.
"Kamu sudah gila Fando, kamu sudah di butakan oleh pikiran kamu. Dengar, aku bukan wanita yang tidak bisa kamu anggap remeh. Aku bisa mematahkan tulangmu jika aku mau, Fando saat aku masih memberikan kesempatan untuk kau bertaubat maka lakukan lah. Sebelum kamu menyesali apa yang telah kamu perbuat, Fando dengarkan saranku ini." ucap Elisa memberikan peringatan.
"Kamu sedang mencoba mengancamku Elisa, itu tidaklah mempan bagiku. Bagaimana kamu mau membohongi dan membodohi aku, sedangkan dirimu yang saat ini ada di bawah kungkungan ku." ucap fando dengan sombongnya.
"Begitukah, baiklah aku akan membalikan keadaan yang seharusnya jika kamu mau." ucap Elisa yang saat ini sudah akan bersiap-siap.
"Elisa kamu jangan lupa bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang sangat aku sukai, jadi jangan buat aku marah sekali." ucap fando.
"yang membuatmu marah itu siapa fando, kenapa kamu selalu menyalahkan orang lain padahal kamu sendiri yang berulah. Seharusnya bercermin di kaca jangan di air, dan kamu harus melihat wajahmu benar-benar disana, bagaimana pantulannya. Kamu malah bercermin di air yang keruh yang tidak kelihatan. Makanya kamu tak bisa melihat wajah aslimu dengan jelas, dan tidak bisa memikirkan perbuatan kamu ini salah, atau benar Fando." ucapan Elisa penuh dengan tekanan.
"Jangan sok mengajariku Elisa, aku tahu apa yang aku lakukan, aku juga tahu apa yang sedang aku perbuat. Dan ini sudah benar, kau faham." jawab Fando yang sangat geram.
"Ha-ha-ha kamu keliru Fando. Apakah dengan cara seperti ini, yang akan kamu lakukan. Dasar bodoh! Jika kamu seperti ini maka kamu tak akan mendapatkan balasan atas cintamu. Tidak ada, wanita yang akan benar-benar menyukai kamu. Dia malah akan sangat membencimu, bahkan dia akan mengutukmu. Apakah kamu sanggup menerima hal itu, kamu akan di benci oleh orang yang kamu cintai." ucap Elisa yang membuat serangan mental Fando.
Dengan perlahan, cengkram Fando menggedor, dan pikiran fando sekarang mulai kacau, dia gak bisa memikirkan matang-matang kembali. Elisa hanya bisa tersenyum senang, serangan psikologi cukup mempan pada pria tersebut.
"Coba kamu pikirkan itu Fando, fikirkan baik-baik." ucap Elisa yang mulai bisa menggerakkan tangannya.
"Tidak! itu tidak mungkin, apa yang ku lakukan sekarang ini sudahlah bener, iya ini sudah benar." ucap fando yang sekarang seperti orang yang linglung.
"Benarkah sudah benar, kamu telah menculik ku dari negaraku, bukan dari negara ku saja, tapi dari tempat kelahiran dan keluarga ku, bahkan kamu tidak berpamitan dengan mereka. Apakah itu benar, wah kamu memang sangat kejam yah!" ucap Elisa yang sekarang malah bisa melepaskan dirinya dari cengkraman Fando.
"Tidak, ini tidak mungkin. Tidak ini semua adalah salah, iya ini salah." ucap fando. Seraya jalannya mundur-mundur, hingga ia terduduk di tepi ranjang.
"Jujur, aku tidak menyukai kamu dan aku tidak mencintaimu. Hatiku, sudah ada yang pemiliknya. Tapi, itu bukan namamu yang terukir disana, melainkan seseorang yang rela berkorban, dan mau menghormati seorang wanita, bukan malah melecehkan yah seperti ini. Sepertinya budak sekkss, caramu ini sungguh memuakkan dan membuat aku sangat jijik melihatmu. Jujur saja saat awal-awal aku bertemu denganmu, aku juga emang sempat terpesona akan ketampananmu itu Fando, dan karena kamu juga pria yang lembut baik hatimu. Kamu juga sangat ramah, dan pandai bergaul. Kamu humoris, dan ramah senyum. Hampir aku ketipu dengan semua itu, maaf sekali lagi. Aku tegaskan disini, aku tidak mencintaimu Fando. Atau aku panggil nama aslimu, Marchelino Zavalion."
ucapan Elisa membuat Fando sangat terkejut. Karena tak ada yang tahu soal nama lengkap Fando, bahkan kakaknya sendiri tidak pernah hafal namanya.
"Kamu tahu dari mana soal nama itu, siapa kamu sebenarnya." ucap fando yang sangat kaget dengan apa yang dikatakan oleh Elisa.
"Itu tidaklah penting aku tahu dari mana yang harus kamu fahami adalah, aku bukan wanita lemah yang akan menuruti apa yang kamu ingin kan. Lagi pula aku bukan seorang gadis lagi, aku juga bukan seorang wanita single, tapi sudah bersuami. Pria yang ku Maksudnya tadi, yang namanya terukir jelas di hatiku adalah..." belum sempat Elisa melanjutkan ucapannya.
Pintu kamar itu di dobrak dengan sangat kasar oleh seseorang, dan masuklah banyak pasukan ANDRILOS, yang di pimpin langsung Andre.
__ADS_1
"Lepaskan Istriku. Marchelino Zavalion, dia adalah wanita ku." dengan wajah sangat sangar.
"Siapa, kamu? Beraninya kamu menerobos masuk ke kamarku. Penjaga, Zon. Mark. Kemana mereka, siapa kamu..." Ucap fando yang sangat marah saat Andre berdiri di depan Fando.
"Apakah kamu tidak mengenali musuhmu Fando, dia orang yang selalu kau coba untuk di hancurkan. Tuan ANDRILOS. Pria yang selalu kamu ingin usik, dan pria yang menangkap kakak tersayang mu." ucap Elisa yang berbisik di telinga Fando.
"Itu... Itu tidak mungkin, tidak mungkin dia mengetahui tempat ini, karena sulit terlacak dan terindikasi oleh satelit manapun, teknologi apapun tak akan bisa menemukan tempat ini."
"Kamu pikir hanya kamu satu-satunya yang hebat dalam mengunakan teknologi. Pasukan elit gabungan, IT. milik Putra agung ANDRILOS tuan Brandon sangat kuat, dan ada adikku yang mengunakan pelacak. Apakah kamu sadari, aku memakai gelang kaki di pergelangan ku dan ini hanya bisa lepas jika kaki ku patah atau orang yang memasangkannya membukanya kembali. Semua kekuatan apapun tidak mungkin tidak memiliki efek samping atau tidak ada kekurangan semua pasti ada sisi kekurangan walau itu 0.01%"
"Elisa kamu wanita yang..." ujar Fando yang akan memukul Elisa.
Saat genting itulah, Fando akan menyerang Elisa, sudah duluan di pukul oleh Glenn hingga membuat dia terkapar pingsan.
BLUG!
"Bawa dia." ucap Glenn.
Lalu semua pasukannya pergi dari kamar tersebut, Elisa agak lega dan sangat bersyukur karena suaminya telah datang.
Elisa yang tersenyum tipis pada Andre, lalu di dekati oleh Andre yang tanpa Ekspresi saat ini. Wajah datar yang sangat dingin, seperti sedang marah padanya.
"Apakah seperti ini wajah yang baru setelah berhasil menemukan istri mu. Wajah apa ini, kenapa dingin sekali... Tolong tersenyum lah, aku hanya..." seketika Elisa langsung jatuh pingsan, Andre meraihnya. Lalu, membawanya keluar dari dalam kamar tersebut.
Andre juga mengatakan pada pasukan untuk membakar seluruh tempat itu tanpa sisa, amarah Andre sudah sampai di puncak ubun-ubun kepala yah.
...----------------...
Kediaman markas Timur, Andre sendiri yang merawat istrinya yang saat ini belum sadarkan diri. Seraya menyeka keringat Elisa yang selalu saja bercucuran, Elisa malah demam tinggi saat ini, karena belum yah dia pernah kabur. Di malam hari saat hujan salju, makanya sekarang dia malah demam tinggi.
"Tuan, saya bawakan obatnya." suara seseorang dari luar.
"Ini obatnya Tuan." ucap seorang pelayan.
"Letakan saja disini, kamu sudah hubungi keluarga ku di Indonesia?" tanya Andre.
"Iya, sudah. Tuan, apakah tidak sebaiknya anda istirahat. Biar kami yang bergantian berjaga." sarannya si pelayan
"Tidak usah! Lebih baik kamu kembali saja bekerja, saja bisa tangani hal ini. Lagi pula dia adalah istri saya, jadi tak masalah."
"Baiklah, saya undur diri." pelayan itu meninggalkan tempat.
Andre yang melihat Elisa yang saat ini tertidur sangat pulas sekali, lalu mengecek suhu tubuh Elisa yang belum juga kunjung turun demamnya.
"Mas," suara parau itu membuat Andre segera mungkin mendekati Elisa.
"Elisa, ada apa? apakah ada yang kurang nyaman, mana yang sakit." Andre malah kalang kabut.
"Aku minta maaf yah!" kata pertama yang terucap dari mulut Elisa.
"Hah! minta maaf kenapa?" Andre malah di buat bingung oleh Elisa.
"Karena aku gak menurutin apa yang kamu katakan lagi, sebagai seorang istri, aku selalu saja membangkang perintah kamu, aku bahkan meminta izin yang tidak perlu untuk berzina sama pria lain. Elisa sangat menyesali semua itu, maaf ya mas." suara Elisa lemah.
"Sudahlah, aku sudah memaafkan kamu kok! Kamu lapar gak? Mas ambilkan makanan yah, sebentar." Andre yang langsung bangkit dari sofa samping ranjangnya.
...----------------...
__ADS_1
Di Indonesia semua sangat bersukacita karena Elisa sudah ketemu, itulah membuat orang tua Elisa juga agak nyaman dan sangat senang. Mereka semua juga sangat lega, putrinya akhirnya ditemukan kembali dengan selamat dan sehat.
"Syukurlah kalau teteh kamu sudah di temukan zril, ibu sampai. khawatir jika tetehmu ada apa-apa, kapan mereka akan pulang ke sini?" tanya Siti.
"Gak tahu, tadi aku gak sempat tanya. Nanti kalau teteh sudah bisa di hubungi, aku akan tanya sama teteh yah Bu." jawab Azril.
"Iya, kamu tanya yah. Lalu, bilang jangan di ulangi lagi hal seperti ini. Kalau terjadi seperti ini lagi bisa repot urusannya." ucap Siti.
"Iya iya iya Bu." jawab Azril pasrah.
...----------------...
Di kediaman keluarga Arafif, semua juga sangat lega karena mendengar hal itu, mereka juga sangat senang ucapan syukur juga selalu mereka ucapkan.
"Andre memang sangat bisa di andalkan iya kan pah, apa lagi Elisakan istrinya jadi dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukannya kembali."
"Hmmm kekacauan apa ini, kenapa semua jadi tambah rumit seperti ini, dan siapa sebenarnya mereka kenapa bisa datang ke sini." ucap Arafif yang saat ini kebingungan.
"Sudahlah jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting, lebih baik kita memikirkan matang-matang kembali rencana membuat Elisa juga duduk di singgasana ratu ANDRILOS. Secepatnya, agar Public juga mengetahui jika Andre tidak sendirian." ucap Monika yang sangat bersemangat.
"Ya ampun, kenapa malah kamu yang sangat bersemangat Monika, sedangkan Andre dan Elisa saja biasa saja tuh." protes dan teguran Arafif.
"Aduh sayang, mana mungkin seorang pemimpin mencalonkannya dengan sendirinya, pasti harus ada pendukung yah dong! Gak mungkin ada rumah gak ada tembok, dan ada pintu gak ada jendela." ucap Monika.
"Apa maksudnya itu, kamu mau jadi kuli bangunan? Pakai perumpamaan seperti itu hah!" ucap Arafif agak kesel.
"Hmmm dasar pria tua yang tak mengerti." ejekan Monika pada Arafif.
"Wah apa-apa itu. Monika kamu sedang meledekku?" suara Arafif melihat istrinya menjauh.
Alea yang hanya bisa jadi penonton dua sejoli yang kadang akur, kadang berdebat kayak tom dan Jerry itu, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Lihatlah papahmu, Lea. Semakin tua, dia menjadi sosok yang sangat aneh."
"Mamah, jangan seperti itu papah hanya sering khawatir saja kok." ucap Alea yang membela.
"Iyakah, sudahlah jangan kamu bahas dia, sudah pasti kamu akan membela dirinya. Mamah mau ke kamar dulu mau mandi." ujar Monika menjauh.
...----------------...
Andre telah membawakan makanan untuk Elisa yang saat ini masih agak panas, karena Andre sendiri .yang telah membuat dan memasaknya.
"Nih, aku sudah buatkan bubur SOP untuk kamu, sini aku suapin yah." ucap Andre yang meniup-nuipnya.
"Terimakasih ya mas" jawab Elisa sedang menatap suaminya.
"Elisa bagaimana kondisi kamu sayang?" tanya Andre khawatir.
"Alhamdulillah, berkat perawatan dari suamiku, aku jadi baik-baik saja. Terimakasih yah. Maskusay, I love You sayang."
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
__ADS_1
Sabtu 18 MARET 2023