
Berada di ruang dimana Rizki dan anggota gabungan BEM lainnya berada didalam ruangan, Elisa yang masuk tanpa tahu jika di dalam sedang mengadakan rapat.
"Permisi, mengganggu." ucap Elisa yang masuk dengan sangat hati-hati saat memasuki dalam ruangan yang banyak sekali kakak tingkat dari fakultas kedokteran dan fakultas farmasi.
"Kamu siapa? Kok main masuk-masuk ke dalam ruangan rapat sih, mahasiswi baru yah?" tanya setalah satunya.
"Eh, iya kak. Tadi, ada kakak tingkat yang memberitahu saya, katanya saya di panggil untuk masuk kesini, jadi saya ke sini kak." ucap Elisa yang menjelaskan kejadian.
"Kata siapa? Kamu jangan bohongin kita yah, karena bukan satu atau dua orang yang akan seperti ini. Alasan klasik tahu gak, udah banyak yang kayak gitu. Modus banget sih, jujur saja, kalau kamu caperkan sama kita-kita. Dasar cewek gak tahu diri, genit banget." Ucapnya lagi membuat semua tatapan semua orang ke arah Elisa.
"Eh, ini konsepnya gimana sih. Yaudah maaf kak kalau saya datang untuk menganggu, lagian aku kesini memang di panggil kok, kau gak juga gak usah nyolot dong! Bilang aja baik-baik." ucap Elisa yang ikut agak kesel.
"Lah, nih anak baru berani banget yah. Kamu ini sudah punya gaya, lagak yah malah kayak nantangin yah!" ucapnya bangkit dari kursi dan menatap tajam pada Elisa.
"Ya kakak sendiri kenapa gak sopan, aku sudah baik-baik ngomong yah, situ yang nyolot, disini hanya beda tingkat doang. Kalau soal berani jangan di tanya, toh kalau situ yang salah gimana? Udah ngomong gak bener nuduh yang gak-gak. Kalau punya mulut itu di jaga jangan di umbar-umbar gitu, percuma gak kakak senior tapi attitude gak tertata dengan baik." ucap Elisa yang mantap tajam ke arah pria yang menghinanya itu.
Rizki yang melihat hal itu, menjadi ketegangan di antara mereka langsung menengahi antara Elisa dan teman tim itu. Terlihat, suasana di dalam ruangan itu sedikit agak tegang.
"Sudah-sudah. Jangan kalian lanjutkan, Elisa kamu tenang ya. Kamu juga Don, terlalu banyak omong tahu gak! Tapi, yang di katakan oleh Elisa ada benar yah. Kalau punya mulut dijaga, kenapa kamu bisa katakan hal itu." Ucap Rizki yang menjelaskan.
"Kamu lebih membela anak baru ini, dibanding teman kau sendiri?" protes temennya itu.
"Kalau kamu salah mau temen atau orang lain, sama saja bagiku. Jika salah tetep salah, aku hanya meluruskan saja don." ucap Rizki yang meluruskan itu.
"Alah kamu ini selalu katakan hal itu, dasar kamu aja yang caper iyakan Ki. Biar di kira kamu cowok yang peduli, sok-sok kan jadi pahlawan di depan cewek."
"Apa-apa sih kamu, kok jadi ngomong gitu! Bener-bener nih orang, di jaga ya tuh ucapan. Aku gak tebar-tebar pesona seperti apa yang kamu katakan itu, lain kali kalau punya harus di sekolahin yang bener. Elisa kita mending keluar aja yuk! Dari pada di sini sama orang aneh, biasa cuman menghina dan merendahkan orang saja." ucap Rizki.
Akhirnya mereka pergi dari tempat, karena ada orang yang mulutnya suka banget bikin kesel orang, Elisa yang berjalan beriringan dengan Rizki hanya diam.
Berjalan-jalan menyusuri lorong fakultas kedokteran, Rizki yang sangat malu atas apa yang di katakan oleh Temannya itu membuat dia agak bingung harus ngomong dari mana dengan Elisa saat ini.
"Kok diam aja sih? Tadi kamu bisa masuk kedalam ruangan ada apa yah?" tanya Rizki yang memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.
"Katanya kak Rizki yang memanggil aku ke dalam." tanya Elisa.
"Eh aku? Kata siapa. Aku nggak merasa jika aku memanggil kamu Elisa, ada orang yang iseng kamu kali?" ujar Rizki yang menjelaskan.
"Lah berarti aku di kerjain dong? sudah aku duga sih, gak mungkin juga aku di panggil keruangan yang agak asing bagiku." ucap Elisa yang agak kecewa dan kesel juga.
"Emang kata siapa kamu di panggil sama aku Elisa, apakah dari kakak tingkat?" tanya Rizki yang ingin tahu.
"Aku lupa kak nanya nama yah kak, agak pendek orang yah? Pakai tas abu-abu bandul tengkorak, dan jam tangan merek Ester" ucap Elisa yang menjelaskan ciri-ciri orangnya.
"Hmmm- Bentar, kayaknya aku pernah lihat ciri-ciri orangnya. Pasti kalau bukan Samsul, pasti Toni. Emang dua orang itu biang usil, dasar mereka itu. Udah kamu gak usah khawatir nanti aku marahi mereka, karena sudah membuat kamu seperti ini. Tapi, ngomong-ngomong kamu dari mana?" tanya Rizki yang melihat Elisa saat ini.
"Dari kelas, mau ke TU ada urusan" ucap Elisa menjelaskan.
"Ouh! Terus udah ke TU yah!" ucap Rizki yang menujuk pintu TU.
__ADS_1
"Udah kok, cuman gak tahu temen aku. Tadi datangnya sama temen sih, karena aku di panggil sama kak Rizki jadi mereka deh yang masuk kedalam."
"Ouh gitu yah, aduh maaf ya Elisa aku jadi gak enak nih sama kamu, mereka suka banget deh bikin aku malu."
"Eh iya kak, gak apa-apa lagian ini bukan salah kak Rizki juga," ucap Elisa yang membela.
"Tapi, anehnya kok mereka bisa tahu tentang kamu yah? padahal kamu kan anak baru gak mungkin lah dia tahu kamu, mereka tahu kamu dari mana yah?"
"Mana aku tahu kak, kok malah balik tanya sih. Kakak aja bingung apa lagi aku, tambah pusing."
"Yaudah deh! Gak usah dibahas, nanti aja aku tanya langsung sama orangnya, ngomong-ngomong kok masih keluyuran gak ada MK kah?" tanya Rizki.
"Ada kak cuman gak tahu deh, dosen masuk apa gak" ucap Elisa yang berjalan menuju ujung lorong jalan perbatasan.
"Ouh gitu yah, kalau kamu nggak sibuk nanti sore mau ikut nggak? kita lagi ngadain penyuluhan sosial nih secara umum sih?" ajakan Rizki pada Elisa.
"Aduh maaf banget Kak, kalau sore aku nggak bisa, karena Mama aku pasti akan nggak akan Izininin, papah aku juga pasti gak akan setuju? Walau ini kegiatan kampus, tapi aku nggak bisa, sorry banget ya Kak!" ucap penolakan Elisa secara halus, karena nggak mau dia menghabiskan waktu di luar saat suaminya sudah ada di rumah.
"Nggak apa-apa sih Elisa, aku cuman ngajak kamu kok, kalau kamu nggak bisa ya nggak apa-apa! nggak usah kamu jadi beban."
"Ya Udah nih Kak. Karena berhubung kita juga udah nggak ada lagi yang mau dibicarain, Elisa balik ke kelas yah, takut dosen udah masuk."
"Ouh iya, Ya udah kamu hati-hati ya!" ucap Rizki yang melambai tangan.
"Yaelah kak cuma beberapa langkah doang! sampai segitunya, tuh kelas aku di sana, gak jauh" protes Elisa.
"Iya walaupun beberapa langkah, kalau kamu nggak hati-hati, kamu bisa mungkin jatuh atau hal yang tidak diinginkan juga, nanti kena masalah kan."
Rizki yang selalu menatap Elisa, tinggal Elisa menghilang di balik pilar-pilar fakultas farmasi. Rizky juga kembali ke ruang kelasnya yang berdampingan dengan ruang kedokteran B.
Berada di ruang kelas, Diana Nacly dan Resti Ya sudah mendapatkan nomor kontak Fando, sedang berusaha menghubunginya? tapi tidak ada jawaban sama sekali dari ponselnya itu. Membuat mereka juga merasa kebingungan, kenapa Fando aktif tapi panggilannya tidak diangkat.
"Loh El kok bentar banget, tadi ngobrol apa sama Kak Rizky, ngajakin dinner ya?" asal tebak Diana.
"Dinner matamu, orang aku kena prank tahu gak! Sialan tuh kakak tingkat belum pernah makan tinju ku apa, sumpah aku malu banget pas ketemu sama Kak Rizki, ternyata ruangan itu ruang rapat guys. Aku sampai di hina banget di situ, sampai dibilang cewek nggak tahu diri lah modus." penjelasan Elisa pada teman-temannya.
"Sumpah kamu El! Siapa yang berani ngatain kamu kayak gitu, sini bilang sama aku biar aku printer telinganya sampai jadi 4." Lagaknya Resti yang sok jagoan.
"Eleh! Emangnya situ berani melawan kakak tingkat?" sindiran keras dari Nacly.
"Iya pastinya nggak berani lah!" ujar Resti yang langsung meleyen mentalnya.
"Huh! Laganya kamu ini sok jagoan banget sih re-re, udahlah jangan banyak gaya." ucap Nacly yang selalu menyindir Resti.
"Tapi ngomong-ngomong, dia tahu dari mana nama kamu El?" sambung ucapan Diana yang curiga sama orang yang telah ngerjain Elisa.
"Mana aku tahu, kak Rizki aja ke bingung pas temen yah tahu nama aku, apa lagi aku!" ucap Elisa yang mengerakkan bahu yah.
"Iya juga sih, fix kamu punya fans rahasia rupanya" ucap Nacly.
__ADS_1
"Hahaha bener benget nih, waduh sebelum terkenal, boleh lah kita Selfi dan minta tanda tangan dulu nih." ucap Resti yang mengeluarkan Hp miliknya.
"Apasih re, kamu ini lebay banget deh! kalau aku terkenal pun kalian pasti aku inget kok, jadi gak usah khawatir yah" ujar elisa yang menegaskan.
"Udah ah- dari pada bahas itu, mending bahas hal lainnya?" ucap Diana yang masih sibuk.
"Gimana apakah sudah bisa di hubungi?" ucap Elisa yang sangat penasaran.
"Nggak bisa dari tadi? apa kita ke rumahnya aja kali ya, ada apa-apa gitu di rumahnya" ucap usulan dari Nacly.
"Aku setuju banget soal itu, kita ke rumahnya pulang kampus ya?" ucap Resti yang semangat 45.
"Kamu gimana El, mau ikut atau kau balik?" tanya Diana.
"Tentu aku ikutlah, kan kita Bast friend setia kawan, masa iya gak ikut. Teman-teman aku pergi, akunya nggak ikut. Bukan elisa itu, jadi kalian gak usah khawatir yah" ucap Elisa yang langsung menyetujui tanpa pikir panjang.
Tentu saja aku harus ikut juga, karena aku sangat penasaran sama alamat rumahnya, siapa tahu itu akan meringankan beban suamiku, dan kalau aku tahu bisa ku beri tahu. Aku ngomong sama Mas Andre, dan bisa nangkap mereka berdua, akhirnya Mas Andre akan full sama aku. Dalam hati Elisa yang berharap jika suaminya meluangkan waktu bersamanya lebih lama.
"Udah dapet sih, kenapa yah kok susah banget di hubungi nih. Dari tadi nomernya gak aktif-akrif!" ucap kesel Diana.
"Aduh tuh anak kemana yah? kayak ada masalah deh sama tuh orang!" tebak Elisa.
"Coba cek alamat itu, dekat gak!" ucap Nacly yang meminta alamat pada Diana.
"Nggak tahu, coba kamu cek Nacly, aku sama Elisa coba hubungi dia. Coba El pakai no kamu, sapa tahu aja kalau nomer kamu pasti di angkat" ucap Diana.
"Lah apa bedanya, sama aja kali diana. Kamu ini ada-ada saja deh! Yaudah kalau susah di hubungi kita fix ke rumahnya aja!" saran masukan Elisa antusias.
Singkat cerita, akhir hari ini selesai dengan baik, semua pelajaran juga di ikuti dengan baik. Hingga jam waktu pulang, pelajaran juga sudah selesai. Mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke alamat rumah fando, merasa naik motor sendiri-sendiri.
Berjalan menyusuri jalanan mengikuti maps arah tujuan rumah yang minta dari TU, jalanan itu seakan Elisa kenal, tempat itu jauh dari pemukiman. Hingga sampailah mereka di sebuah gedung tua yang terbengkalai, mereka semua pun merasa bingung dan heran kenapa maps malah mengarahkan mereka ke tempat seperti itu. Tapi mereka tidak merasa curiga mungkin maps yang salah padahal pandu yang tidak mencantumkan alamat dengan benar.
"Loh kok malah ke sini sih, coba deh kamu cek lagi. Ini yang bener aja dong Nacly, Coba kamu cek kembali maps-nya, salah tuh. Kita malah di arahin ke tempat antabrata kayak gini, ini di mana coba?" ucap Diana yang agak kesel.
"Guys! Mungkin aja maps-nya ini salah deh! Nggak mungkinlah kita di pelosok-pelosok ke tempat kayak gini, aku pernah loh nyari alamat rumahnya bude aku, ternyata Maps yang salah, ngasih jalannya. Mungkin aja rumahnya Fando kayak gitu, nggak di sini alamat maps-nya, jadi maps itu yang nggak bener." sambung Resti.
"Aduh, sorry banget yah guys! Aku juga nggak tahu nih gimana dong Sekarang kita balik aja?" ucap Nacly.
Kayaknya bukan maps-nya deh yang salah, tapi emang Fando aja yang nggak ngasih alamat sebenarnya, kalau dia nyantumin alamat yang bener. Mungkin sudah di lacak, hmm- dasar elisa kamu ini berharap apa sih. Kayaknya aku harus ngomong deh, sama mereka. Tapi kayak mereka juga gak akan percaya juga, ya udahlah ngapain aku ngomong, tok mereka nggak akan mau dengerin juga, kalau Fando itu seorang hacker. Dalam hati Elisa yang mendumal.
"Ya udah yuk guys, kita balik aja udah sore nih, aku udah shift malam." ucap Diana yang udah kesel banget.
"Iya yuk! aku lapar juga nih" sambung Resti yang juga ikutan putar balik arah.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Selasa 24 Januari 2023