PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS

PEMIMPIN PENERUS ANDRILOS
128. Curhat Hati Seorang Istri.


__ADS_3

Pasangan suami istri yang sedang bercengkrama di kamar mereka, Elisa yang sangat penasaran apakah Andre sangat bahagia atau malah sebaliknya, karena Andre jarang mengekpresikan perasaannya yang bener-bener dia inginkan selama pernikahan mereka. Soal kasih sayang kepada dirinya memang sudah tidak di ragukan lagi, tapi terkait untuk masa depan mereka Elisa masih agak meragukan hal itu.


Elisa yang langsung nemplok di tubuh kekar Andre tersebut, seperti biasa ritual sebelum tidur pasti akan memainkan telinga Andre dan harus di peluk, karena jika tidak seperti itu maka Elisa tak akan bisa tidur dengan nyenyak itu sudah jadi kebiasaan baru Elisa setelah menikah.


"Mas. Boleh Elisa nanya gak? Tapi mas harus jawab jujur yah, jangan bohong" ucap Elisa menegakkan wajah kepada Andre yang matanya sudah memejam.


"Apa!" jawab Andre tanpa melihat, dan tidak membuka matanya.


"Janji dulu kalau kamu gak akan bohong nantinya, karena aku mau dengar ucapan kamu yang sejujurnya dari dalam lubuk hati kamu yang terdalam" ucap Elisa yang menyodorkan jari kelingking di depan wajah Andre.


"Iya gak, mas gak akan bohong" ucap Andre yang masih memejamkan mata.


"Iih, buka dulu matanya Elisa serius ini" ucap Elisa yang mengguncang tubuh Andre.


"Iya apa? kamu ini ya gak bisakah biarkan aku memejam mata sebentar, ada aja" ucap andre yang membuka matanya.


"Oke! Sebenarnya, mas tuh pengen gak si punya anak sama aku?" ucap Elisa bidikan penuh harapan dengan jawaban yang sangat memuaskannya.


"Heh? pertanyaan itu lagi, bosen dengerin ya" ucap Andre yang matanya mulai memejam lagi, karena tak mau selalu di pertanyakan.


"Iih jawab dulu dong! Mas, jangan langsung tidur gitu kamu harus jawab" ucap Elisa yang selalu mengguncang tubuhnya.


"Ampun deh kamu. Menurut kamu si gimana, kamu yakin gak sama apa yang kamu inginkan itu. Jika kamu yakin maka akan terjadi, jika tidak maka tidak akan terjadi" ucapan Andre ini membahas tentang bagaimana keadaan hatinya juga.


Elisa tampak kebingungan dengan pertanyaan di balas dengan pertanyaan kembali, membantu Elisa kesal.


"Lah kok malah balik nanya, aku kan lagi nanya sama kamu? Di jawab dulu dong mas, jangan balik nanya gitu. Kebiasaan deh!" ucap Elisa yang agak kesal sama suaminya itu.


"Harus banget ya aku jawab, bukanya kamu sering denger jawaban dari aku. Apakah kamu gak bosen gitu, aku mah yang jawabnya saja sudah bosen" ucap Andre yang membalikan tubuhnya, memunggungi Elisa.


"Iya sapa tahu aja kamu berubah pikiran gitu, jadi gimana apa jawab kamu. Mas, iiih malah di tinggal tidur, kamu wajib jawab dulu dengan jujur dong" ucap Elisa yang membalikan tubuh Andre untuk menghadapnya.


"Yaudah. Aku jujur, aku gak mau punya anak" ucap Andre dengan tegas.


"KENAPA?" seketika Elisa syok dengan jawaban itu, langsung bangkit dan menatap Andre yang memunggunginya itu.


"Ya gak mau aja, banyak alasan yang tidak bisa aku jelaskan kepadamu. Pokoknya, aku gak bisa aja" ujar Andre yang memunggungi Elisa.


"Sebutkan alasannya, satu saja apa?" ucap Elisa yang sangat penasaran.


"Kamukan sudah tahu jawabannya, kok masih tanya aja. Bukankah kita sudah pernah bahas soal itu, kenapa kamu tak pernah bisa mengerti" ucap Andre yang takut jika dia tak bisa jadi ayah yang baik untuk anaknya.


"Mas tahu gak, kalau seorang anak adalah rezeki. Anak itu anugrah loh mas, kok kamu ngomongnya gitu" ucap Elisa.


"Iya aku tahu! Tapi, apakah kamu mau dibuat repot kalau adanya anak. Ribet punya anak itu, di saat hamil kamu akan kesulitan buat tidur nyenyak apa lagi pas mau lahiran rasanya sakit seperti seluruh tulangmu di patahkan secara bersamaan dalam satu waktu, dan saat udah lahir kamu setiap malam harus bergadang, apakah kamu siap?" ucap Andre yang memberikan penjelasan, membuat Elisa takut.

__ADS_1


"Elisa siap kok apapun itu resikonya, toh kalau kamu gak bisa mengurus dia. Aku aja cukup, aku sanggup. Jadi kamu gak usah ngomong kayak gitu, kalau kamu gak mau mengurusnya denganku tak apa. Jadi kamu gak mau punya anak sama aku, apakah cuman karena alasan itu?" ujar Elisa yang saat ini sangat syok dengan penjelasan Andre.


"Mas gak akan minta itu, mas gak suka melakukan hubungan yang berujung kamu nantinya hamil" ucap Andre yang menegaskan.


"Gak suka punya anak? atau kamu gak suka berhubungan 'begitu' ya?" ucap Elisa yang memperjelas.


"Aku gak mau jika misalnya anak kita jadi korban, dari semua masalah yang keluarga ku perbuat di masa lalu. Aku hanya ingin cukup aku saja orang terakhir yang mengalami siksaan ini, aku tak mau melibatkan nyawa tak berdosa lagi" ucap Andre yang mempertegas.


"Tapi, mas... Jika takdirnya dia harus hadir di kehidupan kita, bagaimana? Kamu tak bisa melawan takdir, karena dia sudah ada di dunia ini" ucap Elisa.


"Yah sebisa mungkin, akan aku hindari. Aku sangat tidak senang dengan usulan kamu itu, aku minta maaf Elisa. Alasan aku gak mau punya anak, karena aku takut nanti dia akan jadi incaran banyak orang, dan membebani dia dengan tanggung jawab yang harus dia terima, kamu tahu gimana rasanya jadi pemimpin penerus ANDRILOS. Ini cukup berat dan aku nggak mau merusak masa depannya itu, aku tidak mau dia berakhir seperti aku."


"Mas. Jalan dan takdir itu sudah ditentukan masing-masing, jika seandainya anak kita menempuh jalan seperti itu. Pasti dia akan lebih kuat menjalaninya, tapi tidak mungkin menekuni apa yang kamu jalani. Apakah harus kamu memutuskan dan menyimpulkan jika dia akan sama seperti mu" ucap Elisa yang langsung membantahnya.


"Iya. Aku yakin dia pasti akan mengikuti jalanku, aku tak mau dia merasakan apa yang aku rasakan dan melalui penderitaan. Mungkin menurutmu aku, paranoid atau berlebihan. Tapi, seandainya kamu mengerti aku, juga tersiksa dengan semua tekanan ini Elisa, aku juga mau seperti orang normal lainnya, aku nggak mau dia juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Apakah kau tahu apa yang ku sesali saat aku melakukannya hubungan suami-istri denganmu. Bukan ini yang aku mau, aku menyakitimu. Jujur aku tidak pungkiri, memang rasanya aku sangat menikmatinya. Tapi setelah itu, ada penyesalan yang mendalam dari diriku, sampai aku mengatakan pada diriku. Apapun jenis senjata yang menekan diriku untuk melakukan hubungan badan denganmu, aku tidak ingin melakukannya lagi. Aku ingin mengontrol diriku sendiri, agar kejadian malam itu tidak aku ulangi lagi."


Ucapan Andre yang panjang itu, hanya membuat Elisa bungkam tak tahu harus mengatakan apapun lagi, seakan kata yang telah di ucapkan itu seperti senjata tajam yang menusuknya.


"Apakah setakut itu dirimu, aku tidak tahu lagi harus ngomong apa sama kamu, aku sudah kehabisan kata" ucap Elisa yang menahan air mata ya.


"Aku bahkan takut jika seandainya, saat kita melakukan itu. Lalu kamu langsung hamil, aku sangat khawatir jika aku menghamili mu. Karena aku tidak punya persiapan sama sekali saat ini, aku belum punya rencana untuk kedatangan dia nanti" ucap Andre yang saat ini juga menahan emosinya.


"Jadi maksud kamu, kamu sekarang lagi senang. Kamu sangat bahagia karena aku nggak jadi hamil, begitu?" ucap Elisa yang tak bisa membendung air matanya.


"Ya bisa dibilang seperti itu, antara senang juga ada rasa yang bercampur juga dalam diriku, ada rasa leganya" ucap Andre.


Elisa tak bisa berfikir secara jerni lagi, tapi dia tak mau menujukan jika dia kecewa sama dengan jawaban Andre.


"Iya, aku memang sangat menyukainya tapi dengan latar belakangku yang seperti ini, apakah bisa aku memberikan kehidupan yang layak padanya. Jadi jangan membuang-buang energimu, hanya karena masalah itu. Karena aku mau membuang semua anganku soal kebahagiaan itu, aku tak punya minat akan memiliki anak. Aku sangat takut jika aku harus kehilangannya, aku tak akan sanggup. Jika nantinya kalian juga meninggalkan aku. Aku tidak bisa harus kehilangan orang-orang tersayang ku lagi." ucap Andre.


"Baiklah. Jika seperti itu, ini seandainya saja. Jika misalnya kita diberikan kepercayaan punya anak, kamu pengennya anak laki-laki atau perempuan?" Elisa masih berharap jika Andre akan merubah keputusannya.


"Laki-laki atau perempuan menurut aku sama aja, karena mereka darah dan dagingku. Jadi tidak masalah dia terlahir jenis Wanita atau Pria sama-sama anak kita, terus apa bedanya? Aku pasti akan menyayangi mereka, sama seperti aku menyayangimu. Tapi, balik lagi aku nggak mau punya itu" ucap Andre yang langsung membaringkan tubuhnya lagi.


"Tapi aku pengen loh Mas, kalau seandainya kita tua nanti, jika kita punya anak sendiri, bisa ada yang kita bisa harapkan dan saat kita wafat nanti ada yang mendoakan kita, iyakan mas" ucap Elisa masih membujuk suaminya.


Andre sudah tak mau berdebat soal itu, Elisa malah di tinggal tidur oleh Andre. Membuat Elisa agak kesal, karena hal tersebut. Elisa juga mencoba membaringkan tubuhnya dan tidur di samping suaminya, tapi mata tak bisa memejam karena rasa kecewa dan sakit dengan ucapan Andre, membuat bergenang air mata.


Akhirnya Elisa keluar dari kamar saat Andre sudah terlelap jauh, duduk di kursi dapur sambil menatap terus gelas putih di atas meja. Hingga suatu suara yang membuat lamunan Elisa buyar, Elisa yang tak tahu jika ibunya berjalan di belakangnya.


"Astaghfirullahalzaim! Elisa, apakah itu kamu nak?" ucap Siti yang terkejut karena setengah sadar, ibunya malah di kagetkan dengan Elisa yang duduk memunggunginya.


"Iya Bu, ini Elisa." buru-buru Elisa mengusap air matanya agar tak ketahuan.


"Kenapa? kok malam-malam masih di sini nggak tidur, udah malam ini teteh" ucap Siti sambil memegangi punggung putrinya itu.

__ADS_1


"Elisa nggak bisa tidur bu" ucap Elisa yang tidak membalikan badan karena tak mau ibunya tahu jika dirinya tengah menitikkan air mata karena rasa sesak di dalam hatinya.


"Kenapa? Apakah teteh sakit perut? ibu bikinin teh anget yah" ucap Siti yang tahu kebiasaan putrinya kalau sakit haid.


"Iya, makasih ya bu. Kok ibu bangun sih, malam-malam" bergegas Elisa menghapus air matanya kembali, agar ibunya tidak tahu.


"Iya, ibu mau ke WC, terus lihat teteh" ucap Siti yang menyalakan kompor untuk bikin air anget.


"Yaudah ibu ke toilet dulu, itu di tinggal aja" ucap Elisa yang menyuruh ibunya segera ke toilet.


"Bentar ya teh!" ucapnya seraya masuk kedalam toilet.


Setelah keluar dari dalam toilet, dan menunggu air mendidih Siti tahu jika putrinya tengah menangis. Tapi, siti menunggu waktu yang tenang agar putrinya mau menceritakan segalanya padanya.


"Ada apa teteh, kamu baik-baik aja. Mood teteh lagi gak bagus ya, masih kepikiran soal tadi saat nak Andre di godain Lita?" tebak Siti, untuk mengecek kondisi Elisa.


"Nggak bu, Elisa tahu Mpok Lita cuman bercanda doang. Elisa cuman lagi banyak pikiran aja sama sakit hati juga, rasanya sakit banget rasanya nyampe ke ulung hati teteh bu, sesak banget rasanya. Elisa gak kuat kalau kayak gini, kalau terus-terusan meminta hal yang sama tapi di respons dengan baik padahal Elisa cuman pengen dia juga bahagia Bu, dan merasakan seperti orang lainnya."


"Kenapa sih nak? Ada masalah apa, kamu lagi berantem sama nak Andre?"


"Nggak, Elisa cuman kesel aja sama diri Elisa. Gini banget ya bu rasanya, ternyata gak mudah benget jadi seorang istri bagi Andre. Dulu saat elisa punya pacar, sering banget kayak disakitin sama cowok, diselingkuhin, ditinggal nikah, sampe ditinggal merantau. Pas punya suami kok kayak gini, tapi aku cukup bersyukur Alhamdulillah banget, dia orangnya gak neko-neko, dia juga orangnya baik banget, penyayang, nggak pelit. Pokoknya suami idaman deh! Dia tuh suami yang perfeksionis banget tapi..." Elisa tak melanjutkan ucapannya, karena isak tangisnya kembali jika mengingat ucapan Andre.


"Tapi kenapa teh! Nak Andre bikin masalah, bikin kamu nggak enak?" siti meraih tangan putrinya untuk menenangkannya.


"Mas Andre bilang sama aku... Aku gak bisa ngomong bu, sakit banget rasanya kalau aku inget omongan dia" ucap Elisa yang tak kuat untuk mengatakan ya.


"Hei nak kok malah nangis sih, udah pelan-pelan ngomong ya sama ibu, gak apa-apa ibu akan dengerin kok" ucap Siti.


"Bu aku tahu menikah itu bukan tujuan sekedar pengen punya anak doang, punya keturunan atau masalah kayak gitu. Biar bisa punya teman hidup yang bisa diajak ngobrol dan carita, pokoknya bisa jadi teman hidup sampai maut yang memisahkan. Menjalani suka dan duka bersama, tapi kenapa ya bu. Semakin di pikirkan terus Elisa dengerin ya sakit banget, aku sebenarnya gak mau ngomong soal ini ke ibu karena ini masalah rumah tangga Elisa, tapi Elisa binggung mau curhat sama siapa lagi kalau bukan sama ibu."


"Yaudah pelan-pelan aja teteh ngomong ya, ibu disini kok buat teteh."


"Ibu, apa salah ya sih jika aku minta dia untuk segera memenuhi kebutuhan batinku, dari pada kebutuhan lahirku. Karena kebutuhan lahir yang dia berikan sudah memenuhinya, tapi aku juga butuh dia itu romantis. Pengen mas Andre bilang, kalau dia juga mau punya anak. Tapi, ini malah sebaliknya dia nolak mentah-mentah permintaan Elisa. Gini banget rasanya, kayak di pecahin berkeping-keping, rasanya gak bisa aku katakan sakit banget hati aku bu, kayak jatuh dari ketinggian setelah dibuat melayang melambung."


"Nak, punya anak atau tidak itu bukan kewajiban, itu adalah amanah. Ada kok yang sudah lama menikah tapi belum punya anak, karena anak adalah rezeki titipan dari Allah, jadi punya posi masing-masing. Bukan hanya karena kamu inginkan terus langsung dapat, mungkin nak Andre punya alasannya yang tidak bisa jelaskan, bisa saja karena trauma yang buat dia kau nggak mau hal itu terjadi, coba kamu pelan-pelan ngomong sama nak Andre yah."


"Udah bu udah. Tapi jawabannya itu tetap kekeh, padahal dia tuh suka banget sama anak kecil. Kalau aku ngeliatin dia di rumah sakit, dia itu suka benget liatin anak kecil. Di ajak bercanda, suka main sama anak-anak, bikin mereka tersenyum. Mas Andre juga udah pinter banget gendong bayi yang baru lahir, saat dia tersenyum saat gendong bayi juga bu lihatnya aku tuh adem banget. Tapi kenapa bu, dia gak mau gitu punya anak. Itulah alasan kenapa elisa keluar kamar, dan malah duduk disini, karena kalau Elisa di sana malah gak bisa tenang pikiran Elisa malah tambah kacau, lihat wajah itu kesel banget."


"Harus sabar teh, nak Andre itu bukanya gak mau punya anak. Hanya saja ada alasan yang tidak dapat dia jelaskan sama kamu, takut buat kamu down. Nak Andre itu anaknya pengertian banget loh, gimanapun juga nak Andre anak yang lembut hatinya. Iyakan, jadi harus banyakin sabar minta sama Allah jalan keluarnya, karena gak semua bisa berjalan dengan lancar, semua butuh proses yang panjang, insyaallah tahun depan semoga Allah pemudah jalannya dan ada jawab dari semua itu pertentangan antara teteh sama nak Andre, semoga di beri kelancaran." ucap Siti.


BERSAMBUNG...


Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...


Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih banyak, atas kunjungannya.


Selasa 20 Desember 2022


__ADS_2