
Tanpa terasa waktu juga sudah berjalan dengan sangat cepat, Elisa juga langsung di jemput oleh pak Sofyan kembali, dan terlihat adiknya juga sudah ada di dalam sana. Sedang menunggu tetehnya keluar dari kampus, hp Elisa tiba-tiba saja berdering.
"El, kamu mau nebeng gak!" tanya Nacly yang saat ini akan berjalan menuju tempat parkiran.
"Nggak usah deh, aku udah di jemput sama adik gue tuh!" ucap Elisa yang menujuk sebuah mobil Van hitam sudah berada di halaman.
"Kamu juga hati-hati El, jangan sampai kamu di culik lagi, nanti kamu absen lagi dari kampus." Sambung Diana.
"Iya siap. Resti, kamu masih nunggu jemputan?" ucap Elisa bergantian.
"Iya. Tapi, katanya udah nyempe sih. Eh itu, orangnya. Aku duluan ya guys. Daah." ujar Resti yang berjalan menuju mobil merah.
"Daah Resti." ucap serempak Elisa, Diana dan Nacly.
Resti yang berjalan agak cepat menuju mobil yang diluar gerbang, ada seorang wanita yang ada disana menunggu dirinya.
"Mobilnya baru lagi yah, karena aku baru lihat tuh mobil, tapi dia di jemput sama siapa? itu bukannya supir yang biasa." tanya Nacly, seraya melihat dengan teliti.
"Itu mobil kakak perempuannya." ucap Diana, menjawab pertanyaan Nacly.
"Emangnya dia punya kakak berapa sih?" Nacly yang sangat penasaran.
"2, Karena bapaknya Resti sebelum nikah sama emaknya, ternyata sudah duda anak satu, iya itu kakak ceweknya." penjelasan Diana.
"Ouh gitu, jadi berapa bersaudara sih. kayaknya banyak banget, kakaknya." tanya Nacly yang sangat penasaran.
"4, kalau sama Kaka tirinya. 1 cewek Kakak tiri, kakak cowok terus Resti lalu ada adiknya." penjelasan Diana.
"Ouh gitu! Adiknya yang cowok itu kan, masih anak SMA?" tebak Nacly.
"Iya." jawab singkat Diana.
"Waah enaknya punya kakak cewek, seru tuh. Aku juga mau punya kakak perempuan, tapi sayang aku anak satu-satunya." ucap Nacly sempat melihat kakak perempuan Resti.
"Apa enaknya, punya kakak cewek. Enggak enak kata aku mah, enak juga punya kakak cowok, ada yang jagain." sambung Elisa.
Kedua temennya langsung saling menatap satu sama lain sebelum kepada Elisa, lalu mereka saling memandang Elisa tajam. "El, kamu sadar gak! Kalau kamu itu ngomong kayak gitu?" ujat Nacly sangat penasaran.
"Sadar kok, emang kenapa, salah kah apa yang aku katakan itu?" tanya Elisa melihat wajah heran temen-temen.
"Lah enak punya kakak cewek El, bisa mengerti kondisi kita kalau lagi curhat. Kakak cewek juga bisa jadi temen, kalau ada yang mau dicurahin." ujar Nacly.
"Iya aku setuju banget itu sama apa yang dikatakan oleh Nacly, karena kalau punya kakak cewek itu asik. Bisa di ajak shopping, dan fan bareng, apa lagi kalau curhat bisa tukar pikiran kita. Kalau sama ibu kita mah ujung-ujungnya ngasih saran, dan masukan, alhasil kita juga yang dengerin omelan beliau, dan berujung nanti debat." Ucap Diana menjelaskan.
"Iya juga sih." ucap Elisa yang juga pernah merasakan hal itu.
Karena gak punya kakak cewek, dia selalu curhat apapun sama ibunya. Berakhir dia juga harus diomelin sama ibunya, dan malah Elisa sendiri yang kesel dan jengkel sendiri.
"Iya gitulah, ada kekurangan dan kelebihan yah juga sih kalau curhat sama ortu. Enaknya bisa berbagi ilmu, dan pengetahuan. Nggak enaknya yah kayak gitu." ucap Nacly.
Hmph! Pemikiran Nacly sama Diana kok bisa sama persis kayak mas Andre. 'Kakak cewek yah?'. Iya juga si kalau punya kakak cewek, pasti aku juga akan enak kali yah. Btw, aku bulan ini kok belum Haid yah? Apakah jangan-jangan... Nanti aku cek ah!. Dalam hati Elisa yang ingat.
Setelah lama berbincang-bincang dengan temen-temen di halaman, Elisa akhirnya langsung masuk ke dalam mobilnya. Azril yang melongo melihat wajah tetehnya melamun setelah masuk mobil, dia juga sangat heran karena tetehnya.
"Kenapa teh, kok mukanya di tekuk gitu! Teteh laper?" tebakan Azril pada tetehnya.
"Nggak zril." jawab singkat Elisa seraya melihat hp miliknya.
"Terus kenapa, dari tadi diem aja, sakit perut?" tebakkan Azril lagi.
"Nggak, teteh bingung kok via pesan teteh belum di baca yah sama mas Andre." ucap Elisa yang melihat hpnya.
"Lagi sibuk kali mas Andre. Mau ke rumah sakit? Buat lihat mas Andre sedang apa?" Tawaran Azril.
"Hm- boleh deh! Bisakan pak Sofyan, kita ke rumah sakit." ucap Elisa pada pak Sofyan.
"Beres neng. Kita berangkat ke rumah sakit," ucap pak Sofyan yang langsung melajukan mobilnya menuju RS.
"Iya pak, maaf ya merepotkan pak sofyan." ucap Elisa.
"Ah! nggak kok neng, inikan emang pekerjaan bapak."
...----------------...
Dirumah sakit Andre yang saat ini akan masuk ke ruang operasi, karena ada pasien yang harus dia tangani sendiri, Andre juga sedang di sibukkan dengan pencarian dokter-dokter baru, untuk cabang rumah sakit yah juga.
"Dokter Andre, pasien sudah di bius." ucap suster yang berkerjasama dengan Andre di ruangan.
Terlihat Try juga sangat sibuk dengan pekerjaan dirinya yang semakin banyak, karena belum adanya pengganti yang cocok untuk menjadi asisten laboratorium.
__ADS_1
"Mau kemana Rudi? Apakah kamu mau keruangan Andre, dia kayaknya lagi berada di ruang operasi." ucap Try yang berpapasan dijalan.
"Hmph- gitu. Niatnya mau ngasih ini ke Andre. Tapi, nanti aja deh!" ucap Rudi memperlihatkan dokumen laporan.
Tak lama Elisa yang sudah sampai di rumah sakit melihat dua pria itu berdiri berhadapan, Elisa menghampiri saja mereka.
"Hallo dokter Try, mas Rudi apa kabar kalian." sapaan Elisa yang penuh semangat.
"Alhamdulillah baik." jawab Rudi.
"Aku juga baik." jawab Try.
"Wah! Aku udah lama gak kesini, semua tampak berubahnya? keren nih." ucap Elisa yang sangat takjub dengan RS, yang sekarang tampilannya sudah agak megah dan mewah.
"Elisa, kamu sudah baikkan. Aku dengar kabar kalau kamu di culik, gimana bisa?" ucap Rudi yang langsung menatap Elisa.
"Hmph, aku baik-baik saja kok. Iya, aku syok sih awalnya, tapi sekarang sudah membaik kok." ucap Elisa penuh semangat.
"Cih dasar kamu ini, gak berubah yah! Walau sudah jadi nyonya Andrilos." ucap Rudi yang sangat bangga.
"Apa sih mas Rudi, aku belum di Lantik tahu. Lagian aku gak minat ah, karena takut di culik lagi." Candaan Elisa.
"Hahaha iya juga sih, resiko tingkat tinggi yah Lis." ucap Rudi yang tertawa renyah.
"Nah tuh mas Rudi faham." jawab Elisa.
"Ouh ya Elisa, kamu tumben datang kesini gak bawa apa-apa. Kamu gak bawa bekal makan siang buat andre, biasanya kamu membawanya?" tanya Try yang heran.
"Ouh iya, hari ini mah aku nggak bawa! karena tadi aku dari kampus kesini, jadi gak sempet masak. Mas Andre yah ada?" tanya Elisa.
"Ada, tapi di ruang operasi." jawab Try.
"Hmm! Pantesan Pesan dan telfon aku gak dia bales dan nggak di angkat juga, dia sibuk banget yah." ucap Elisa yang agak lesuh.
"Ditunggu saja Lis, aku juga mau ketemu sama Andre nih." Ucap Rudi.
"Maaf nih Elisa, aku sepertinya gak bisa ikutan menunggu, aku mau ke leb dulu. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan, saya tinggal yah." ucap Try.
"Ouh iya gak apa-apa Dokter Try, silakan lanjutkan saja pekerjaan yah."
"Rud aku duluan yah, maaf ya Elisa." seraya berpamitan pada kedua orang tersebut.
"Nunggu di apotek saja yuk!" ucap Rudi yang berjalan duluan di depan.
"Mas Rudi duluan saja, aku mau keliling dulu deh! Mau lihat suasana yang baru ini, keren nih arsitektur yah." ucap Elisa yang mau cek tempat baru.
Rumah sakit itu sudah di perbesar oleh Andre, jadi tempatnya sekarang sudah di perluas dan sudah ada beberapa lantai keatas. Elisa juga sangat takjub dalam waktu beberapa bulan sudah sebesar itu, lalu Elisa tidak sengaja melihat Medina. Langsung ia mengikuti medina hingga akan masuk ruangannya, saat di ambang pintu.
"Door! Hai Dokter Medina." ucap Elisa yang mengagetkan Medina.
"Iya ampun Elisa, kamu ngagetin deh!" seraya memegangi dadahnya yang kaget.
"He-he-he maaf mba. Mba medina sehat, aku kangen banget nih!" seraya memeluk erat.
"Iya, kamu jarang kesini semenjak Andre jadi Tuan ANDRILOS. Kamu sekarang sibuk apa sekarang, kok jarang kesini? Aku dengar kamu juga kuliah yah, terus baru-baru ini aku juga dengar kamu habis di culik? Beneran itu." pertanyaan bertubi-tubi dari medina yang sangat penasaran.
"Iya mba, semua yang mba dengar itu benar kok. Aku di culik iya, aku kuliah iya. Mas Andre maunya aku harus lanjut kuliah." ucap Elisa.
"Iya baguslah, berarti dia memperlakukan kamu dengan baik Elisa. Kak Andre bertanggung jawab banget atas kamu, keren sih. Btw kamu datang kesini mau ketemu sama Dokter Andre yah!" tebak Medina.
"Nggak kok, tujuan aku awalnya emang mau ke mas Andre, cuman pas lihat mba. Aku jadi pengen ketemu mba, kalau boleh tanya nih. Mba lagi sibuk nggak?" ucap Elisa.
"Nggak sih El, lagian mau jam pulang juga, aku lagi siap-siap mau pulang aja kok. Emang ada apa Elisa, kamu ada perlu sama aku." penjelasan Medina yang penasaran.
"Iya mba, kalau gak keberatan ini mah. Aku boleh minta tolong gak mba, mau cek kesehatan rahim aku." ucap Elisa agak ragu-ragu.
"Ouh, boleh. Kenapa kamu takut-takut gitu sih, udah gol yah?" ucap Medina membuat Elisa malu.
"Udah mba, makanya aku mau cek. Karena udah telat haid, hampir sebulan sih." ucap Elisa.
"Ouh, gitu. Iya udah, sini rebahkan di kasur biar aku cek. Aku siapin alatnya dulu yah!" ucap Medina.
"Iya mba." Elisa yang langsung merebahkan diri di ranjang periksa.
Medina yang sibuk merapikan alat pengecekan, setelah semua sudah terpasang. Medina membalurkan sebuah cairan ke perut Elisa, lalu alat lainnya di tempelkan di perut.
"Gimana Mbak, ada nggak?" Elisa yang berharap agar ada secarik kehidupan disana.
"Belum ada Elisa, tapi kayaknya udah deket nih. Karena rahim kamu sudah matang, kayaknya sekali lagi deh! InsyAllah berhasil, ikhtiar dan terus usaha lebih banyak lagi." ucap medina yang saat ini menepuk-nepuk lengan Elisa.
__ADS_1
"Tapi, mba aku kok bisa udah telat haid." ucap Elisa yang menjelaskan.
"Itu karena banyak faktornya Elisa. Bisa karena kamu stress, terus bisa juga pola makan kamu yang nggak teratur, atau karena kamu tekanan batin bisa jadi, kurangi olahraga juga mempengaruhi." ucap penjelasan.
"Gitu yah mba, hmph! Gimana ini cara untuk bujuk dia lagi. Hah, akan sangat susah ini mah mba." ucap Elisa yang saat ini kebingungan.
"Ekstra Sabar Elisa, emang ada yang cepet ada yang lambat. Kamu sama kak Andre sudah mau setahun yah." ucap medina.
"Iya mba, Alhamdulillah. Kalau soal menikah mah 2 bulan lagi aku genap mba" ucap Elisa.
"Wah selamat ya Elisa, yaudah nikmatin aja jadi sepasang kekasih, apa lagi kalian gak pernah melakukan proses pdkt kan. Kayaknya kamu butuh liburan berdua deh! Agar kamu gak stress Elisa."
"Makasih mba, iya kayaknya aku stres deh Mbak, kan aku habis diculik juga. Jadi pikiran aku udah semrawut banget, apa lagi di tambah beban tugas kuliah yang numpuk." ucap Elisa.
"Bisa jadi tuh Elisa, kamu gak boleh putus harapan, semoga tahun depan insyAllah kamu bisa ngisi dan di berikan kepercayaan untuk di titipkan seorang anak." ucap Medina yang memberikan semangat.
"Aamiin mba. Terimakasih mba, semoga doa dari semua orang buat aku ini sampai ke Arsy ya Allah."
"Aaminn"
...----------------...
Di ruang apotek, Azril yang masuk begitu saja ke ruangan Rudi. Ternyata dia juga tidak menemukan tetehnya disana. "Mas Rudi."
"Eh, Azril. Kamu datang juga, ada apa?" Tanya Rudi.
"Tahu teteh gak! Kok di ruangan mas Andre sepi?" tanya Azril yang baru turun dari ruangan kantor Andre.
"Teteh kamu lagi keliling katanya, entah kemana? Tunggu saja disini nanti juga kesini kalau sudah selesai keliling yah." ucap Rudi.
"Aku di minta sama ibu buat jagain teteh mas, kalau ada apa-apa lagi sama teteh bisa gawat nantinya." ucap Azril menegaskan.
"Iya aku tahu, di telfon saja zril." saran Rudi.
"Ouh iya yah kok aku gak kepikiran soal itu, aku telfon aja deh!" ucap Azril yang saat ini akan menelfon tetehnya.
Tapi pintu ruangan terbuka, terlihat wajah lesu Elisa terlihat sangat jelas. Azril khawatir dengan teteh, yang datang dengan wajah yang ditekuk.
"Teteh dari mana sih, kok main ilang-ilang aja!" ucap Azril yang agak kesal.
"Iya aku minta maaf, habis aku gak sabar mau keliling." ucap Elisa ngeles.
"Ada apa Teteh, kok mukanya di tekuk gitu, ada yang buat teteh gak nyaman." ucap Azril yang khawatir.
"Nggak ada kok, cuman agak kesal sama diri sendiri saja." ucap Elisa yang langsung berjongkok di depan adiknya.
"Kesel kenapa teh!" tanya sangat penasaran.
"Nggak apa-apa, kita pulang aja yuk!" ucap Elisa yang langsung bangkit kembali.
"Eh, sekarang? Nggak mau ketemu sama mas Andre dulu." Tanya Azril.
"Nanti juga ketemu di rumah, yuk! Aku capek, pengen rebahan." ucap Elisa yang langsung berbalik badan dan meninggalkan tempat.
"Mas Rudi kami duluan yah" ucap Azril yang melambai tangan yah.
"Iya kalian hati-hati yah" ucap Rudi yang melambai tangan juga.
"Ada apa yah sama Elisa, pas datang dia senang dan sangat semangat, tapi kok pas habis keliling kok mukanya ditekuk, dsn murung." Dumalan Rudi.
Mereka akhirnya kembali ke rumah orang tuanya, saat di perjalanan Elisa hanya bisa diam. Tak bicara apapun, adiknya tanya juga di abaikan. Elisa tak merespon apapun sekarang, dia hanya melamun menahan kesel dalam dirinya.
"Teh, dari tadi teteh kok diem aja. Teteh sakit?" tanya Azril.
Elisa hanya menggelengkan kepala yah saja, hp Elisa juga berdering tapi tidak di angkat.
"Itu hp bunyi teh, gak di angkat." ucap Azril lagi.
Elisa tak merespon, dia masih asik melihat keluar jendela mobil. Pak Sofyan juga ikut bingung saat ini, karena melihat Elisa agak aneh seperti itu, tapi dia masih fokus menyetir.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Rabu 22 MARET 2023
__ADS_1