
Berjalan di lorong fakultas menuju kelasnya yang ada di ujung, hingga langkahnya harus terhenti karena suatu panggilan yang tidak asing terdengar dari arah belakang yang telah memanggil dirinya.
"Elisa," teriakan panggilan namanya, membuat Elisa harus menoleh kebelakang karena suara itu.
"Ouh kamu fan, baru berangkat juga?" tebak Elisa. Fando yang langsung lari dari tempat, setelah memanggil Elisa. Dia melihat wajah wanita yang dia sukai bersinar terang, layaknya mentari pagi.
"Enggak, tadi habis ketemu sama dekan." jawab Fando yang tersenyum tipis-tipis.
"Ngapain? Kamu kok ketemuan sama dekan, apakah ada masalah?" tanya Elisa yang ingin tahu.
"Tidak ada, hanya ingin Konsul saja sama beliau. Ouhnya el! Hmmm- kamu nanti malam ada acara gak?" tanya Fando yang saat ini terlihat berharap.
"Emangnya kenapa kamu nanya gitu?" tanya Elisa yang langsung menyipitkan matanya.
"Hmph, Kalau kamu gak sibuk, niat hati aku mau ngajak kamu jalan." ucap fando yang terang-terangan.
"Hah! Jalan, mau jalan kemana?" tanya Elisa yang bingung sambil menatap fando.
"Iya kesuatu tempat, tapi jika kamu mau sih." ucap fando yang berharap Elisa menyetujui usulannya itu.
Elisa malah terdiam sambil kepikiran, karena dia gak bisa pergi karena suaminya sudah pulang, lagian Elisa juga ingin menghabiskan waktu bersama suaminya lebih lama. Elisa di hadapkan dengan dua pilihan yang sulit, jika Elisa pergi sama Fando, maka waktu berduaan sama Andre akan sedikit.
Aduh gimana ini, kan mas Andre sudah pulang aku gak mungkin keluar. Apa lagi aku harus keluar sama cowok lain yang bukan mahramnya, hmm... Bisa-bisa di gorok ayah, apa lagi didepan sama suami pasti ayah akan menentang keras, walau mas Andre izinkan belum tentu ayah izinkan. Jadi, gimana ini untuk menolak yah. Dalam hati Elisa yang merenung sejenak.
"El, kok kamu bengong sih? Kamu kepikiran yah, hmmm- El kalau kamu nggak bisa, ya jangan kamu paksakan bisa. Jangan kamu pikirkan, bisa lain kali saja, gimana kalau hari libur, sekalian ajak yang lainnya juga." usulan fando, Elisa lalu terdiam lagi.
♉
"Masalahnya aku izinin apa gak fan kalau aku jalan sama kamu, itu sih yang aku pikirkan. Kalau kamu mau ngajak yang lainnya kita bicarakan sama merekanya!" ucap Elisa yang menjelaskan.
Lalu tiba-tiba saat mereka akan melanjutkan perjalanan menuju kelas, terdengar suara spikernya yang mengumumkan sesuatu, membuat mereka menghentikan langkah kembali untuk mendengarkannya.
"Pengumuman-pengumuman, untuk mahasiswa semester 1, di harapkan untuk berkumpul di aula utama kampus. Sekali lagi untuk mahasiswa semester 1, diharapkan berkumpul di aula utama. Sekian terimakasih, atas perhatianya."
Lalu spiker itu berhenti, Elisa dan Fando yang akan melanjutkan perjalanan langsung di hadang sama Nacly dan Diana yang sudah sampai di ambang pintu kelas.
"Hah! Ada apa yah, kok tiba-tiba ada pengumuman gitu!" ucap Nacly yang keluar dari dalam kelas.
"Hmm, kayaknya ada informasi yang penting lagi deh!" ucap Diana yang langsung jalan kedepan Nacly.
"Ouh. Itu Elisa dan Fando." ucap Nacly yang melihat temennya sedang bengong di jalan, sambil fando yang sedang memandangi yah.
"Elisa, Fando ya elah kalian kepergok berdua lagi deh!" panggilan Nacly lagi, seraya berjalan mendekati mereka.
"Apa sih, kita gak sengaja ketemu tahu. Kalian mau kemana?" ucap Elisa yang belum ngeh.
"Hah, kamu masih nanya kita mau kemana, kamu gak denger sama apa yang diumumkan tadi, kita di suruh ke aula utama?" ucap Nacly yang agak keheranan.
"El, kamu gak tidur sambil jalan kan, masa kamu yang dekat sama spiker malah gak tahu sih." ucap Diana.
"Ouh, iya denger sih tapi ku pikir mereka hanya mengatakan untuk semester 1." ucap Elisa yang polos.
"Astaga naga! Sayangku, cintaku. Kita semua ini semester 1, termasuk kamu. Kamu nyangka yah semester berapa hah?" ucap Nacly yang sampai nepok jidatnya.
Diana dan Fando hanya tersenyum melihat kepolosan Elisa dengan wajah bingung itu. "Aku pikir aku kelas 1 deh! Bukan semester 1." jawab polos Elisa
"Aduh sayangku, Kelas 1 kamu mau masih SD. Cih, kamu ini gemesin benget sih. Udah ah! Kamu ini candaan udah keterlaluan tahu gak! Yuk, guys" ucap Nacly yang langsung menarik tangan Elisa.
"Iya, eh... Bentar, formasi kita kok ada yang kurang yah? mana Rere, dia gak masuk?" tanya Elisa, seraya celingukan mencari keberadaan Resti.
"Nggak tahu, gak ada kabar resti dari semalam. Kamu gak di kabari juga sama Rere," jawab Nacly.
__ADS_1
"Diana kamu udah hubungi dia, aku juga semalam menghubungi Resti, sampai kirim pesan, tapi belum di baca juga chatku?" ucap Elisa yang sangat khawatir.
"Sudahlah El, mungkin dia lagi betmood katanya dia habis putus lagi dari pacarnya, palingan dia lagi nangis-nangis di dalam kamarnya." asal tebak Diana.
...----------------...
Berada di aula utama berbondong-bondong para mahasiswa semester awal memasuki aula. Elisa yang sudah duduk di barisan 3 di awal, dengan 2 temen lainnya, sedangkan Fando agak jauh karena tempat duduk pria dan wanita di bedakan.
"Apakah sudah semuanya, baiklah saya akan mulai, kalian juga sudah kenal saya jadi tidak usah saya kenalan lagi yah. Saya dari ketua tim perwakilan ketua mahasiswa, mengucapkan selamat datang untuk rekan-rekan yang sudah bergabung di kampus tercinta kita ini, dengan puji syukur atas kehadiran Tuhan, yang memberikan nikmat dan senantiasa juga mempertemukan kita semua dalam aula ini. Saya tak akan basa-basi lagi, kami para panitia ingin mengadakan acara pemakraban. Kata pepatah bilang, tak kenal maka tak sayang, sologan itu sering kita dengar bukan. Saya dan kawan-kawan dari panitia seleksi pelaksana, ingin menjaga silaturahmi antara kita. Jadi kita akan mengadakan kemping studi tour ke puncak, nanti disana juga akan banyak gemas yang akan di mainkan kita bersama, waktunya hanya 3 hari kapan kita mulainya. Disegerakan, waktu dan tempatnya saya persilakan pada ketua palaksana." ucap Aldi, sang MC yang berpidato di depan.
"Terimakasih untuk ketua Perwakilan Mahasiswa, saya Rizki sebagai ketua pelaksana, ingin membahas waktu dan tempatnya. Tempatnya di daerah pevilician, disana juga ada pemandian air hangat, dan pemandangan yang bagus, buat temen-temen yang khemm! nggak usah saya jelaskan, waktunya hanya 3 hari. Dari mulai hari Sabtu, Minggu dan senin. Pulang pada sore hari, tanggal 18 sampai 20. Sabtu depan, jadi diharapkan semua mahasiswa baru, di wajibkan untuk ikut kemping studi tur ini. Apakah ada pertanyaan? Silakan tanyakan." ucap Rizki yang langsung naik keatas panggung.
"Kak kita bawa apa saja untuk perbekalannya."
"Bawa diri sendiri saja, karena semua sudah di persiapkan kita disana, gak akan bener-bener kemping pada umumnya seperti membuat tenda, dan lain-lain. Karena kita panitia sudah sediakan tempat untuk kalian tinggal, jadi kita akan tinggal di sebuah villa, cewek-cowok akan di pisah." ucap Rizki menjelaskan.
Semua mahasiswa antusias sekali dengan hal itu, Elisa yang malah kebingungan, dia sudah berhasil lolos dari agakkan Fando tapi masalah malah datang lagi.
Ya Allah, banyak banget cobaan yah. Kenapa gini banget sih yang aku terima, kalau kayak gini kapan dong! Hamba senang yah, kok banyak bener alasan untuk membuat aku berpisah sama suami, kapan aku bisa ibadah bersama dia kalau kayak gini. Dalam hati Elisa yang kusut.
"Yess! kita kemping, bisa liburan bebas dari bapak killer, pada hari Senin dan Sabtu, syukurlah." ucap Nacly yang senang banget.
"Kayaknya kamu seneng banget Nacly." ucap Diana.
Lalu melihat wajah Elisa yang kusut. "Hmph! Yang satu seneng yang satu gak seneng. Kamu kenapa El, kepikiran izin sama orang tua kamu." tebak Diana.
"Iya," jawab Elisa lesuh tak berdaya.
"Ya ampun bestie, kamu ini yah! Dibuat ribet tahu gak. Tinggal jujur aja sama ayah kamu, kalau ini tuh acara kampus, kan ada surat edarannya, nanti orang tua bisa baca, kalau kita itu emang bener-bener ada acara kampus." ucap Nacly.
"Iya, bener tuh yang dikatakan oleh Nacly, kita liburan sejenak El, sama seneng-senang dulu. Buat fresh lagi untuk hadapi pak killer, kamu mau pikirmu full wajah sangarnya." ucap diana.
"Bajunya bebas, mau baju kekinian kek, terserah yang penting, saya ingatkan disini, baju tetep masih dalam lingkupan sopan yah. Diharapkan, karena kita dekat dengan pemukiman, satu lagi yang bawa kendaraan ke kampus, harus ditinggal disini. Karena kita akan sama-sama naik bus, jadi tak ada yang naik kendaraan sendiri-sendiri. Ada pertanyaan lagi?" ucap Rizki yang menjelaskan.
"Saya kak! Mau tanya, kalau yang gak ikut gimana? maaf kak, saya harus jagain orang tua di rumah sakit." ucap salah satu mahasiswi, Elisa langsung menoleh ke arah seseorang yang bicara itu.
"Bikin surat keterangan, terus alasan kenapa gak ikut, dan maaf dikenakan biaya denda." ucapan Rizki membuat elisa agak geram.
"Itu keterlaluan Kak Rizki, gak semua orang kaya seperti kamu. Dan orang yang Berada, apakah kakak tuli gak denger tadi, orang tuanya sakit. Masa kamu mempersulit dia, membuat buat surat keterangan saja gak mudah, maaf aku mencela. Coba kamu pikirkan jika kamu ada di posisi dia sekarang, masa iya kamu lakukan hal seperti itu. Aku gak setuju, percuma tahu gak jurusan kedokteran. Tapi, etika dan otak gak di pakai. Mau pemakraban tapi awal saja kau buat kesulitan." ucap Elisa yang membantah itu.
"Elisa, tenang dulu. Kita gak tahu alasannya, udah. Duduk lagi sini, El." bisik Nacly karena semua orang melihat kearah Elisa.
"Kalian butuh biaya buat acara pemakraban ini, kalau butuh bilang. Nggak usah malak sama orang-orang yang tidak bisa membuat pilihan antara keluarga dan acara ini." ucap Elisa yang menatap semua Kakak senior yah dengan tatapan yang tidak suka.
"Kamu salah faham, saya hanya..."
"Cukup kak Rizki, kamu ketuanya panitianya kan, gak usah ada acara kayak gini. Bikin saja buat yang mau, jangan paksa orang-orang harus mengikuti apa yang kalian inginkan, nggak semua temen-temen disini ngagur. Ada yang harus kerja, ada juga yang harus ngurus keluarga, punya kehidupan masing-masing. Seharusnya bisa di mengerti itu, jangan menuntut semua wajib ikutan." ucap Elisa.
...----------------...
Setelah ketengan di dalam aula, semua dibubarkan dengan cepat karena perdebatan semakin besar. Elisa dan temen-temen ya malah sudah berada di kantin sekolah, lalu ia tiba-tiba didatangi oleh anak yang tadi.
"Maaf, boleh ikut gabung gak!" seorang wanita yang tadi ingin minta izin.
"Ouh! kamu anak yang tadi kan, sini duduk." ucap Nacly yang menarik kursinya.
"Kamu hanya pesan ini." tanya Nacly yang spontan.
"Iya, disini cukup mahal." ucapnya berbisik.
"Hahaha, kenapa kamu malah kesini. Seharusnya di kantin bawa aja yang terjangkau." ucap Nacly yang langsung ditatap Elisa dan di tegur oleh diana.
__ADS_1
"Nacly, berisik tahu gak!" ucap Diana.
"UPS, sorry Diana. Elisa maaf. Maaf yah mba, atas ucapanku tadi." ucap Nacly yang tahu ucapan telah menyinggung perasaan orang.
"Iya gak apa-apa." ucap wanita yang duduk di sebelah Elisa.
Sesekali melihat Elisa yang sedang makan dengan sangat lahap, karena dia masih emosi berdebat dengan Rizki dan senior-senior yang ada di aula. 10 lawan 1 orang, alhasil menang Elisa dalam perdebatan itu.
"Tadi kamu cukup berani loh, lawan kak Dio dan Mba Meta. Kak Rizki juga sampai bungkam, terimakasih yah." ucapnya Seraya berterima pada Elisa.
"Namamu siapa?" tanya elisa yang menatap lawan bicaranya.
"Saras, Saraswati." jawabnya.
"Ouh! Aku Elisa anak fakultas farmasi, kalau kamu, Anak fakultas mana?" tanya Elisa.
"Ekonomi manajemen bisnis." jawabnya singkat.
"Ouh! Orang tua kamu sakit apa?"
"Liver,"
"Udah lama?"
"Lumayan, sekitar 3 tahun."
"Dirawat dimana?"
"Awal yah dirumah, karena biaya jadi terhalang pengobatan."
"Sekarang dirawat dimana? Medilika Hospital, tapi katanya harus di rujuk ke rumah sakit besar, yang alatnya memadai." ucapnya.
"Terus kenapa kamu nggak bawa orang tua kamu ke sana?" ucap Elisa.
"Iya bener kamu bawa aja rumah sakit besar." sambung Diana.
"Tapi..."ucapannya terhenti.
"Soal biaya? Itu kan yang kamu pikirkan." ucap Nacly yang langsung tebak.
"Iya, karena pasti butuh biaya yang besar juga." ucap Saras murung
"Eh, tapi katanya rumah sakit milik tuan ANDRILOS itu, gratis gitu kalau kita mahasiswa disini." ucap Nacly yang teringat sama rumor beredar.
"Itu bener gak, nanti hoax lagi. Kasihan Saras." ucap Diana.
"Bener kok, Saras kamu kesana aja dulu dicoba kamu mau aku anter?" sahut Elisa yang menawarkan dirinya.
"Nggak usah Elisa, nanti aku kesana sama kakak aku." ucap Saras.
"Okey," ucap Elisa yang kembali diam.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
Selasa 21 February 2023
__ADS_1