
Elisa yang menggunakan motor gedenya itu, sangat Cool tak akan ada yang tahu jika yang mengendarai motor tersebut adalah seorang wanita. Terlihat Resti yang mengendarai sepeda motor Cewe, terlihat sedang menuju kampus juga. Elisa tahu jika yang ada di depannya itu adalah temen yah. Ia membuntuti Resti, dan memepetnya. Otomatis membuat Resti ge-er dikira pemilik motor itu cowok yang naksir dia, yah Resti tipe cewe yang mudah jatuh cinta dan mudah lupa cowok yang dia suka. Kecuali, jika dia bener-bener kekasihnya.
"Eeeh apa-apa sih tuh motor, main memepet-memepet aku. Cih, kalau suka bilang dong! Nggak usah banyak gaya kayak gitu, mau kenalan juga boleh bang!" ucap Resti cekikikan sendiri.
Sesampai di halaman kampus, ia memarkirkan motornya, dan motor Elisa melewati resti yang akan memarkirkan motornya. Resti kaget, ternyata motor cowok cool yang tadi ternyata akan parkirkan juga.
"Loh, itukan cowok pakai motor tadi kok bisa di kampus ini sih. Apakah jangan-jangan dia juga salah satu mahasiswa disini kalinya, apakah pengagum rahasia aku? Aaaah... nggak tahu deh! mendingan aku samperin aja tuh, sekalian kenalan kan. Hihihi..." Dumalan Resti cekikikan lagi.
Akhirnya Resti berjalan menuju motor Elisa yang saat ini sedang memarkirkan motornya, Resti tidak tahu jika itu adalah Elisa dia langsung pura-pura marah-marah karena telah berani memepetnya di jalan, iya itu hanya alasan Resti sih.
"Eh! kamu kan yang memepet aku di jalan ia kan, kamu kenapa sih kayak gitu. Kan bahaya, gimana kalau aku sampai jatuh tadi, apakah kamu mau tanggung jawab? Hah!" ucap Resti yang pura-pura marah, tangan ia bentangkan di pinggang.
Elisa terdiam saja, sambil merapikan tas bag yah. Resti yang melihat tas ala cewek itu membuat Resti tiba-tiba ilfil. Cowok kok pakai tas cewek, nah itu dalam fikiran Resti.
"Ih, cowok keren ternyata guy ya?" Dumal bisik Resti.
Elisa di balik helm malah cekikikan sendiri, karena melihat Ekspresi wajah Resti yang berubah-ubah sesuai yang dia lihat, tadi marah-marah. Terus merona, dan sekarang malah ilfil.
"Idih, cowok kok lekong si mas. Motor keren kayak gini malah tasnya pink, kayak cewek!" sindiran keras Resti.
Elisa ketawa terbahak-bahak tak kuat menahan tawanya lagi, sampai terpingkal-pingkal Elisa ketawa. Membuat Resti kebingungan, kenapa dia malah tertawa.
"Apa yang lucu sih, sampai kamu tertawa seperti itu. Woy, kamu ini ngetawain apa sih. Udah gila ya, makanya ketawa gak jelas gitu" ucap Resti yang agak kesal dengannya.
"Nggak kok, aku malah ketawain kamu tahu gak!" ucap Elisa yang langsung membuka helm nya, membuat Resti syok ternyata bukan cowok ganteng atau cowok lekong, itu sahabatnya sendiri yaitu Elisa.
Resti seketika agak kecewa, ya Resti yang ge-er an ini suka banget jatuh cinta sama cowok-cowok bening yang Cool, walau seperti itu Resti tipe cewek yang setia kok.
Resti, pacaran dengan Bobby tapi karena si cowok selingkuh. Resti memutuskan sendiri hubungan yah, karena Bobby telah mengkhianatinya. Walau pacaran mereka sudah 3 tahun, sampai sekarang Resti belum mendapatkan kekasih baru. Itu yang membuat Resti gencar mencari sinyal yang kuat, untuk menandai pencari yah.
"Elisa! Aku pikir kamu siapa? ternyata kamu..." ucap Resti yang agak frustasi.
"Ha-ha-ha sorry bestie, aku kecewain kamu yah! Pasti nyangkanya aku cowok ganteng yah. Ya btw kalau aku jadi cowok, kamu mau gak jadi pacar aku Resti?" ucap Elisa sambil menepatkan tangannya di punggung Resti.
"Idih, ogah kalau cowoknya model kayak kamu el" ucap Resti yang menepis tangan Elisa.
"Eh, bener kamu akan tolak aku jika aku cowok re, aku pasti akan jadi cowok yang setia loh." ucap Elisa yang promosi.
"Walau di dunia ini ada 1 cowok, dan cuman kamu aku gak mau lah. Orang kamu cowok jadi-jadian, masa iya jeruk ketemu jeruk. Eke masih normal bo." ucap Resti yang agak lebay.
"Hahahaha... Kan semisal aku jadi cowok tulen cuy, bukan transgender. Aduh! kamu ini ada-ada Jeh. Imajinasi kamu sungguh luar biasa Resti, tapi aku bangga kok sama kamu" ucap Elisa yang merangkul sahabatnya itu.
Seraya berjalan menuju ruang kelas, mereka sambil ngobrol. "Apa sih, nggak lucu tahu gak. Aku tadi udah senang banget, kalau ada pengagum rahasia, Eh.. Tahunya, malah ekspetasi di hancurkan oleh temanku sendiri, jahat bener sih El" ujar Resti yang agak kesal.
"Ha-ha-ha, aku minta maaf Rasti" ujar Elisa yang berjalan sejajar dengan Resti.
"Itu motor kamu?" tanya Resti yang masih mengagumi kendaraan Elisa.
"Bukan, itu punya adikku" jawab Elisa ya memang itu punya Azril yang dia ingin belikan cuman, Azril malah mengembalikan karena dia kuliah di Amerika.
"Ouh, adikmu cowok?" Tanya Resti yang sangat penasaran.
"Iya, adikku cowok!" jawab singkat Elisa yang melihat keadaan ruangan kelas kedokteran.
"Sekarang ada di mana?" Tanya Resti yang melihat Elisa yang sedang menatap arah lainnya.
"Eh, Resti aku jadi kepikiran hal gila. Kamu mau nggak jadi adik ipar aku?" ucap Elisa yang semangat banget.
"Ide konyol tahu gak el. Tapi dengan syarat, kalau adik kamu mau?" ucap Resti yang menujuk 1 jari.
"Dia pasti mau lah. Adik aku kalau aku paksa, pasti akan mau sama kamu. Dia anak yang penurut kok, dan anak yang gak bisa nolak permintaan aku, dia anak yang bijak dan sangat dewasa. Pemikiran dia juga sangat kuat, anak pinter lagi. Bertanggung jawab, dan plus ganteng. Mau lihat fotonya gak, bentar yah aku cari dulu" ucap Elisa yang antusias mempromosikan adiknya.
"Eleleh, aku gak mau cinta yang terpaksa, aku mau yang tulus" jawab Resti yang melirik dari ekor mata, saat Elisa mengambil hp dan mencari foto Azril adik ya. Resti sebenarnya juga sangat penasaran, tapi sok jual mahal.
"Eh bentar dulu, jangan langsung ambil kesimpulan gitu dong. Kamu kan belum lihat adik aku, masa udah bilang begitu" ucap Elisa yang agak terima.
Elisa menujukan foto terbaru adiknya saat sedang di suatu tempat dengan foto terbaik dan terbarunya, Elisa yang selalu saja pemaksaan jika meminta sesuatu, dan sang adik yang tak bisa menolaknya.
Elisa menujukan foto adiknya yang beberapa hari lalu baru dia kirimkan, dengan sekali jepret adiknya yang sedang ada di sebuah villa milik Andre untuk tempat tinggal di Amerika selama masa kuliah.
"Gimana cakep kan, oke loh anak yah" ucap Elisa yang menujukan foto adiknya pada Resti.
__ADS_1
"Ih ganteng banget ini mah El. Kok gak mirip sama kamu sih?" ucap Resti yang menyamakan Elisa dengan adiknya.
"Iya, dia mirip ibu. Aku mirip ayah, jadi begini." ucap Elisa yang menjelaskan.
"Ha-ha-ha gitu yah, tapi keliatannya anak yang tertekan sama kakaknya deh!" Ucap Resti.
"Sembarangan kalau ngomong, dia cuman gak bisa nolak permintaan aku aja kok" ucap Elisa yang nggak mau di salahkan.
"Hahaha iya deh iya" ucap Resti pasrah gak mau berdebat dengan Elisa.
"Jadi gimana mau gak!" ucap Elisa yang masih sibuk menyoblangin adiknya, dengan Resti. Karena umur Resti dan Azril hanya terpaut 2 Tahun, Resti lebih tua dari Azril.
"Berapa umurnya?" Tanya Resti yang sangat penasaran.
"19 tahun, cuman beda 5 tahun dari aku. Gimana? kalau mau, nanti aku bilang sama dia. Bulan depan katanya dia pulang, mau menghabiskan liburan awal bulan ramadhan sama kita di Indonesia." ucap Elisa yang sangat semangat.
"Nanti aja deh! Aku mikir-mikir dulu El, karena aku masih agak ragu kalau harus menjalin hubungan lagi" ucap Resti yang masih agak trauma sama cowok.
"Yaudah, aku bantuin kamu cari gimana?" ucap Elisa yang masih semangat.
"Mau cari dimana?" ujar Resti yang kebingungan.
"Di Pasar loakkan, atau pasar malam kali aja ada yang jual disana?" candaan Elisa menghilang kesedihan Resti.
"Lah emang bisa di jual?" Polosnya Resti mau aja di bohongi oleh Elisa.
"Iya kali aja ada kan, kita gak tahu di pasar jualan apa saja?" Ujar Elisa yang masih melanjutkan obrolan candaan ya.
"Hehehe iya juga yah. Jadi kapan!" Resti malah ikut sengkle kayak Elisa. Virus-virus otak sengkele Elisa malah di sebarkan pada sahabatnya itu.
"Maunya hari apa?" Tanya Elisa menekan.
"Sekarang!" jawab singkat.
"Eh, jangan sekarang re. Kan kita masih kuliah, jam pelajaran akan di mulai jadi nanti dulu lah" ucap Elisa yang menjelaskan.
"Oke-oke pulang kuliah yuk!" Ujar Resti kembali dengan antusias.
"Kan pasar malam re. Bukan ya pasti siang, gak ada yang jualan di siang bolong nantinya" penjelasan Elisa.
Sesampainya di ruang kelas, terlihat dua temannya Nacly dan Diana sudah duduk di kursi mereka, sambil menunggu Elisa dan Resti yang belum datang.
"Kalian baru berangkat?" ucap Nacly yang sudah membuka buku disana.
"Iya terus, lagian masih jam setengah 8 kok" ucap Resti yang melihat jam tangannya.
"Tadi kata ketu pak Jeje gak masuk. Tapi, ngasih tugas, bikin makalah. Tinggal pelajaran Ibu mika sama Pak killer." ucap Nacly yang menjelaskan.
"Wah gila nih, dosen yang kita idam-idamkan malah gak berangkat." ucap Resti yang agak frustasi.
"Pak Tomy dosen killer itu?" ujar Elisa yang langsung duduk di samping Nacly.
"Cih, nyebelin juga yah. Gak ada refreshing di awal, tiba-tiba jadi dosen killer yang menghancurkan dunia ku" Sambung Diana yang agak jengkel.
"Hahaha... Bisa aja kamu Diana, emangnya kamu mau siapa dosennya?" ucap Elisa yang sangat penasaran.
"Minimal cowok ganteng kek, biar manjadi semangat belajar gitu!" sambung Resti yang pengen banget.
"Woy res sadar, kamu lagi gak masuk dunia novel atau cerita dongeng, yang akan ada pangeran yang akan menjemput kamu." ucap Nacly yang agak protes garis keras.
"Ha-ha-ha iya juga sih!" ucap Diana yang ikut nyambung dengan apa yang di katakan.
"Aku pengen bangun tapi, sulit buat buka mata ku, gimana dong guys?" candaan Resti yang saat ini sedang menatap semua temennya.
"Eleleh kamu ini lebay deh!" ucap Diana yang ikut bercanda juga.
"Kalau gak bisa buka, sini aku belek pakai pisau cukur bulu ketekku." Nacly yang jengkel dengan candaan mereka.
Elisa hanya tersenyum melihat kelakuan teman-temannya itu, yah mereka sangat konyol dan kocak. Hingga sebuah bel masuk, tapi karena pak Jeje gak hadir maka jam kosong di isi dengan pembentukan kelompok, untungnya kelompok di pilih sendiri makanya Elisa, Diana, Nacly dan Resti dalam satu kelompok. Karena kurang satu personil, mereka mencari temen yang sendirian.
Tapi, semua pas. Hingga cari yang gak berangkat siapa, tapi tanya udah ada kelompok yah. Lalu ketua kelas menulis di papan tulis, membagi bab materi untuk kelompok.
"Oke temen-temen, siapa yang mau bab 1. Kelompok mana nih, cung!" tanya ketua kelas.
__ADS_1
Setelah bab 8 Baru Elisa dan kawan-kawan mengacung, karena disana ada 10 bab. Jumlah mahasiswa di ruang kelas Elisa saat ini, ada 49 orang. Jadi otomatis, 1 kelompok akan kurang 1 anggota, yah kelompok Elisa ini.
Mereka langsung sibuk memikirkan tempat buat ngerjain tugas makalah mereka, semua meremukkan tempat yang asik dan nyaman.
"Oke gak apa-apa guys, kita berempat aja bisa kok ngerjain tugas ini. Yaudah, kita mau ngerjain dimana nih" Tanya Nacly pada temen-temen untuk meminta masukan.
"Kafe, atau rumah salah satu dari kita!" Sambung Resti yang punya usulan.
"Kalau kerumah salah satunya, kelamaan. Juga pada jauh-jauhkan, aku kerja cuy!" ucap Diana yang keberatan.
"Yaudah restoran atau tempat tongkrongan gimana?" sambung Resti lagi.
"Aku setuju, tapi btw tempat mana yang asik?" ucap Nacly yang membuat binggung lagi.
"Iya juga yah!" Semua pada berfikir soal tempat mana yang akan di tongkrong mereka buat kerjain tugas.
"Yang deket-deket kampus aja, di depan itu ada" Ujar Elisa yang menyahuti.
"Ih males deh! Pelayan gak ramah, di moll gimana?" sambung Resti yang memberikan usulan.
"Terlalu bising tahu gak! yang ada bukan ngerjain tugas, kita malah sibuk shopping ujungnya nanti." ucap Nacly.
"Hahahaha. Itu mah si Resti, El kamu gimana. Apakah ada ide gak!" tanya Diana.
"Eeeh! kok bawa-bawa nama aku sih?" protes Resti yang gak terima.
"Ya kan, kamu yang doyan shopping." ujar Nacly yang menjelaskan.
"Men temen. Aku bingung kalau usulan aku ini agak, hmmm kayak promosi jadi aku gak bisa bilang ini sih!" ucap Elisa yang khawatir.
"Katakan aja El, kalau itu bagus mah" ucap Diana yang menyakinkan Elisa.
"Di bakery. Itu kalau kalian mau sih, tapi terserah aja, jadi gimana?" tanya Elisa yang ragu-ragu.
"Bekery? toko kue?" ucap Resti yang agak bingung.
"Iya, mau gak!" tanya Elisa yang was-was. Jika temen-temen menolak ajakan Elisa itu.
"Toko kue yang mana?" tanya Nacly yang kebingungan.
"Bakery Mega candy!" Ujar Elisa yang menjawab dengan senyuman.
"Eh, toko kue yang lagi viral itu?" ucap Resti yang suka update.
"Belum buka sih, itu cuman iklan aja dulu. Iya bisa di bilang promo awal ha-ha-ha." ucap Elisa yang ketawa garing.
"Kamu punya toko kue?" cetus Nacly.
"Iya. Alhamdulillah, itu usaha kecil-kecilan aja sih, jadi gimana? pada mau gak!" ucap Elisa menawarkan lagi.
"Jauh gak!" tanya Diana yang khawatir akan telat masuk kerja jika jarak yah jauh dari kota.
"Gak kok, di simpang 6 yang bunderan Patung pahlawan itu, depan taman kota. Gimana?." ucap Elisa yang menjelaskan.
"Ouh itu. Ya elah itu mah deket, jadi gimana nih guys! Keputusan yah" ucap Resti memastikan.
"Iya, aku setuju!" ucap Diana.
"Aku juga!" ujar Resti.
"Kita ketok palu ya, di tempat Elisa. Sudah fix kan semuanya?" ucap Nacly yang pakai bolpen untuk digunakan sebagai palu.
"Iya" dengan serempak mereka katakan persetujuan.
Tok Tok Tok.
BERSAMBUNG...
Berikan aku dukungannya, jika suka dengan ceritanya jangan lupa beri saya semangat dengan Vote, Hadiah juga boleh dan komen plus like. Jika tidak mau ketinggalan up-nya bisa klik love favoritkan, simpan di daftar perpustakaan...
Kita akan berjumpa lagi diEpisode Selanjutnya.
Terimakasih banyak, atas kunjungannya.
__ADS_1
Kamis 19 Januari 2023